Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belum pantes jadi bapak.
Hari ganti hari. Tapi pertanyaan Cikal masih itu-itu aja.
"Paman jahat sama wanita jahat malem itu lagi apa?"
Pertanyaan itu kaya kaset rusak di kepalanya. Bangun tidur nanya. Makan nanya. Mau bobo nanya lagi.
Efek pornografi rusak banget buat anak. Sekali liat, nempel di otak, susah dihapus. Apalagi umur 4 tahun, otaknya kaya spons. Nyerap semua, nggak tau mana yang kotor.
Nggak ada yang bisa jawab. Arjuna kabur ke markas. Chandrawati pura-pura budek. Para selir cuma bisa ngelus dada.
Cuma Anna yang jawab, "Ah itu mah urusan orang dewasa, Cikal. Nggak usah dipikirin."
Tapi Cikal nggak kalah pinter. Dijawab gitu bukan diem, malah makin semangat nanya. Matanya melotot, alisnya naik.
"Urusan orang dewasa itu apa aja, Ma? Cikal udah dewasa. Cikal kan juga nenen ke Mama. Cikal bisa buka botol sendiri. Cikal bisa pasang kaos kaki sendiri."
Omongan anak 4 tahun nggak difilter. Polos, tapi nusuk ke jantung Anna. Nenen. Dia nyamain “dewasa” sama nenen. Rusak sudah definisi.
Beberapa hari ini Anna hindarin Chandra sama Ratna. Dua manusia yang kelakuannya kaya setan, nggak punya rem, nggak punya malu.
Lewat di lorong aja Anna muter. Makan bareng? Nggak. Dia bawa piring ke kamar, suapin Cikal di lantai.
Kalaupun hari itu bukan Cikal yang liat, tapi para selir atau Komandan Arjuna, emang nggak malu? Emang wibawa Jendral ditaruh mana? Di dengkul?
Buat hindarin pertanyaan Cikal yang terus ngulang, yang tiap malem bikin Anna nggak bisa tidur, akhirnya Anna nyerah.
Dia bawa Cikal ke rumah ayahnya. Rumah Komandan Rangga, di kota sebelah. 6 jam naik mobil.
Biarin Cikal lupa dulu. Biarin Cikal nggak bayangin lorong itu, pintu itu, kasur itu. Biarin Cikal nggak nganggep rumah Jendral itu lebih mirip tempat mesum daripada rumah.
Udah beberapahari Anna di kota sebelah. Di rumah ayahnya. Rumah kayu tingkat, halamannya luas, ada pohon mangga.
Sekarang selain ke markas, Rangga punya kegiatan baru: jadi kakek full-time. Ajak cucunya main perang-perangan, mandiin pake gayung, nyuapin bubur sampe belepotan. Ketawanya Rangga yang udah lama nggak kedengeran, sekarang tiap jam muncul.
Cuma nggak berani bawa Cikal ke markas. Trauma. Takut Cikal ngira granat itu mainan. Takut Cikal ledakin bom cabe lagi kaya di markas jendral semingguan lalu. Satu markas batuk-batuk.
Rumah tanpa Rukmini dan Ratna kayanya nyaman banget. Nggak ada sindiran. Nggak ada tatapan sinis. Nggak ada suara poci pecah. Cuma ada suara ketawa Cikal sama suara Rangga marah-marah tapi sayang: "Awas jatuh, Le!"
Tapi biarpun rumahnya tenang, ingatan masa lalu Anna kadang muncul tiba-tiba. Nggak permisi.
Muncul di kamar yang dulu selalu ngurung dia. Kamar tapi rasanya kaya penjara. Muncul di dapur, yang jadi tempatnya disuruh kerja dari subuh sampe malem, tangannya lecet-lecet. Muncul di kamar mandi, tempat ia selalu nangis jongkok, pelan, biar nggak kedengeran.
Bikin sakit kepala. Bikin ulu hati perih. Bikin Anna pengen cepet-cepet ngalahin Ratna. Bukan karena rebutan Chandra. Tapi karena mau Cikal punya rumah yang bersih. Bukan cuma bersih dari debu, tapi bersih dari adegan dewasa.
Sore itu, Rangga lagi nyeruput kopi di teras. Liat Anna bengong natap kebun sambil nyisir rambut Cikal yang udah tidur di pangkuannya.
"Na," ucap Rangga. Nggak nengok, tapi tau anaknya lagi perang sama pikiran. "Daripada di rumah terus ngelamun, bawa Cikal jalan-jalan. Ajak refreshing. Biar lupa kelakuan ayahnya."
Rangga narik napas. "Bawa ke taman. Ke alun-alun. Belikan es krim. Naik odong-odong. Biar otaknya keisi es krim, bukan pintu kebuka."
Anna cuma ngangguk. Pelan. Tanda setuju. Matanya masih di rambut Cikal yang lepek keringetan.
Bukan cuma Cikal yang butuh refreshing. Dia sendiri juga butuh. Butuh napas. Butuh lupa suara pintu dibanting. Butuh lupa wajah Ratna pake sutra merah. Butuh lupa Chandra yang... ah sudahlah.
"Makasih, Yah," jawab Anna lirih. "Besok Anna ajak Cikal ke taman kota."
Rangga ngangguk. Tangannya yang kapalan ngelus kepala Anna sekali. "Kamu itu kuat, Nduk. Sama kaya ibumu. Tapi kuat bukan berarti harus nanggung semua sendiri."
Anna diem. Tahan nangis. Dari kecil sampai punya anak, baru kali ini ada yang bilang gitu ke dia.
Malamnya, pas Cikal udah tidur di kamar tamu, Anna duduk di ranjang sendirian. HP di tangan. Ada 12 missed call dari Chandra. Nggak diangkat satu pun. Ada 3 WA dari Chandrawati: _Anna, kamu nggak apa-apa? Pulang ya kalau udah tenang. Kami kangen Cikal._
Anna nggak bales. Dihapus.
Dia buka galeri. Foto Cikal. Cikal ketawa di pasar. Cikal tidur di dada Rangga. Cikal makan rengginang.
Terus keinget lagi pertanyaan tadi siang: "Paman jahat sama wanita jahat malem itu lagi apa?"
Tangan Anna gemeter. Rahangnya keras.
"Jawabannya gampang, Le," bisiknya ke foto Cikal. "Jawabannya: Paman jahat itu belum pantes jadi Papa kamu."
80 an ada WA?, tau author salah, author ngarang.
…
Kapan ya paman jahat pantes jadi papanya Cikal?, komen donk onty.
lnjut thor