Kevin Sanjaya dulunya adalah seorang kurir Ojol pengantar makanan dengan kehidupan keluarga yang penuh dengan kemiskinan. akhirnya dia menemukan sistem pengantaran terhebat.
Sistem tersebut membuat dirinya bisa mendapatkan kekayaan dengan melakukan pengantaran makanan, bahkan wanita cantik pun beramai-ramai mendekatinya.
saat sistem bekerja, ulasan terbaik adalah prioritas atas segalanya. akhirnya kekuatan dan pengaruh telah ia dapatkan, namun tuntutan sistem akan semakin menekan.
bahkan kekuatan penguasa - penguasa akan dia lawan, juga wajah - wajah baru akan dia temui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Rasa Terima Kasih Nona Melati!
“Ahh, tanganku!”
Rasa ngeri yang dirasakan si penembak bahkan jauh melampaui rasa sakitnya, saat ia melihat lengannya hancur berkeping-keping oleh pukulan dahsyat Kevin.
Namun Kevin sama sekali tidak tergerak.
“Kau berani menembakku, tapi masih sempat berteriak kesakitan?” ucapnya dingin. “Menembak tanpa pikir panjang… Aku yakin tanganmu ini sudah melukai banyak orang, ya? Kalau begitu, biar aku saja yang mengambilnya sekarang.”
Begitu kata-kata itu terucap, Kevin memutar kepalan tangannya dan menghantamkan pukulan lagi ke tangan pria tersebut.
Boom!
Ledakan kedua terdengar, kedua lengan pria itu hancur seketika, dan darah berhamburan ke segala arah.
Ia menjerit kesakitan, tubuhnya menggeliat di genangan darah merah. Namun Kevin tetap acuh tak acuh. Dengan satu gerakan jari yang presisi, ia menyegel pembuluh darah pria itu menggunakan energi seperti jarum, mencegahnya agar tidak mati kehabisan darah.
Bukan karena Kevin tidak bisa membunuhnya—hanya saja, membunuh sampah seperti itu tidak sepadan dengan masalah yang akan ditimbulkan.
Lagipula, kehilangan kedua tangan adalah nasib yang jauh lebih buruk daripada kematian.
Di sisi lain, Muel dan anak buahnya yang menyaksikan kekuatan brutal Kevin, langsung kehilangan keberanian mereka.
Mereka berlutut satu per satu, memohon dengan suara gemetar,
“Kami salah, Kak! Tolong ampuni kami!”
“Ampuni kalian?”
Sudut bibir Kevin terangkat membentuk seringai tipis saat ia menatap Muel.
“Di jalan barang antik ada aturannya: berani bertaruh, harus berani kalah. Di dunia bawah juga ada kode etik: mencuri harta boleh, tapi jangan merampas martabat. Kalian telah melanggar keduanya!”
Tatapannya menjadi semakin dingin.
“Dan kalian bahkan hampir menodai Nona Melati yang begitu cantik. Kalau aku, Kevin, membiarkan kalian pergi tanpa luka, bukankah itu sama saja menghina kemampuanku?”
Begitu selesai berbicara, sosok Kevin seketika menghilang dari tempatnya.
Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan Muel.
Thud! Thud! Thud!
Kali ini, kakinya yang bergerak. Ia menginjak tangan Muel hingga hancur, dan nasib yang sama menimpa yang lainnya.
Kevin tidak pernah menunjukkan belas kasihan pada para penjahat dan penindas.
Ia bukan orang suci, bukan pula pahlawan yang pura-pura mulia.
Siapa pun yang berani melawan Kevin hanya akan menghadapi satu akhir, yaitu akhir yang mengerikan.
“Ini…!”
Nona Melati hanya bisa terpaku, matanya dipenuhi kekaguman saat melihat Kevin menangkap peluru dengan tangan kosong dan melumpuhkan para penjahat dalam sekejap.
Pemandangan itu benar-benar luar biasa!
Namun yang ia rasakan bukan hanya keterkejutan—melainkan juga gelombang kegembiraan dan rasa syukur yang meluap-luap.
“Kevin Sanjaya!”
Dipenuhi kebahagiaan karena lolos dari maut, Nona Melati berlari ke arahnya tanpa ragu, lalu memeluknya erat. Air matanya mengalir deras.
“Terima kasih… terima kasih sudah menyelamatkanku… hiks… hiks…”
“Tenanglah......!”
Kevin terkejut dengan luapan emosi yang tiba-tiba. Ia merasakan kehangatan pelukan gadis itu, lekuk tubuhnya yang menempel erat, membuat hatinya berbunga-bunga.
“Hehe… ini pasti balasan dari alam semesta karena aku berbuat baik!” pikirnya bangga.
Sambil menikmati aroma lembut dari Nona Melati, ia tersenyum hangat.
“Sudah tidak apa-apa. Semua sudah berakhir! Mereka sudah aku bereskan.”
“Hiks… hiks…”
Dalam pelukan Kevin, rasa aman yang dirasakan Nona Melati melonjak tajam, seolah meledak dalam dadanya. Perasaannya terhadap pria itu pun meluap seperti bendungan yang jebol.
Cinta memang sering tumbuh di tengah pusaran emosi seperti ini.
Kini, Nona Melati benar-benar menyadari bahwa tanpa sadar ia telah jatuh hati pada pahlawan pengantar yang tampan itu—Kevin Sanjaya!
Kesadaran itu membuat jantungnya berdebar kencang.
Memeluk Kevin semakin erat, ia merasakan manisnya perasaan yang memenuhi dadanya.
“Ini…”
Merasakan pelukan penuh gairah dan detak jantung Nona Melati yang semakin cepat, Kevin pun terkejut sekaligus senang.
“Jangan-jangan… Nona Melati jatuh cinta padaku? Kalau begitu, bukankah aku pria paling beruntung di dunia?”