NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan di Balik Air Mata

Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama rumah sakit swasta yang megah di gerbang kota. Isaac segera mematikan mesin, namun ia tidak langsung turun. Ia menoleh ke arah Luna, yang masih menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata terpejam dan napas yang pendek-pendek.

"Kita sudah sampai, Luna. Ayo, kita periksa sebentar di dalam," ujar Isaac dengan suara selembut mungkin.

Luna membuka matanya perlahan, menatap bangunan putih besar di depannya dengan tatapan nanar. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun rasa nyeri di tulang ekornya seolah mengunci seluruh saraf di bagian bawah tubuhnya. Ia meringis, cengkeramannya pada sabuk pengaman mengerat.

"Mas... aku tidak mau turun," bisik Luna parau. "Kakiku terasa lemas sekali. Aku takut... aku takut akan jatuh kalau berjalan."

Isaac menatap istrinya dengan sorot mata penuh empati. Ia tahu Luna tidak sedang bermanja-manja; kelelahan perjalanan dua jam dan beban di perutnya benar-benar telah menguras kekuatannya. Tanpa banyak bicara atau mendebat keinginan Luna, Isaac mengusap pipi istrinya singkat.

"Tetaplah di dalam. Jangan bergerak sedikit pun. Aku akan mengambil kursi roda," perintah Isaac tenang.

Ia keluar dari mobil dan setengah berlari menuju lobi. Tak sampai lima menit kemudian, Isaac kembali dengan seorang petugas medis yang mendorong kursi roda. Isaac membuka pintu penumpang, melepaskan sabuk pengaman Luna, dan dengan gerakan sigap namun sangat hati-hati, ia menggendong tubuh istrinya. Luna secara refleks melingkarkan lengannya di leher Isaac, sementara tangan lainnya tetap protektif mengusap-usap perutnya yang tampak menonjol besar di balik dress biru mudanya.

Begitu Luna didudukkan di kursi roda, Isaac mengambil alih pegangan dari petugas medis. Ia mulai mendorong kursi itu perlahan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin.

"Luna, kau lapar? Atau kau merasa pusing?" tanya Isaac sembari terus berjalan.

Tidak ada jawaban. Isaac sedikit mengerutkan kening. Ia mencoba memajukan kepalanya untuk melihat wajah Luna dari samping, namun Luna menunduk dalam. Saat itulah Isaac menyadari sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Bahu Luna bergetar hebat. Tubuhnya yang mungil tampak terguncang kecil dalam ritme yang tidak teratur.

Isaac segera menghentikan kursi roda itu di tengah lorong yang agak sepi. Ia berjalan ke depan, berlutut di hadapan Luna, dan mengangkat dagu istrinya. Benar saja, wajah Luna sudah basah oleh air mata. Ia menangis tanpa suara, bibirnya terkatup rapat seolah sedang menelan rasa sakit yang luar biasa. Matanya yang merah menatap Isaac dengan tatapan yang sangat menyayat hati.

"Sayang... kenapa? Mana yang sakit?" tanya Isaac, suaranya bergetar. Melihat Luna menangis diam-diam seperti ini jauh lebih menyakitkan bagi Isaac daripada mendengar Luna berteriak marah. Rasanya seperti ada belati yang mengiris ulu hatinya. Perjuangan Luna membawa nyawa di dalam rahimnya benar-benar nyata, dan Isaac merasa sangat tidak berdaya saat ini.

"Sakit, Mas... punggungku sakit sekali," bisik Luna di sela isakannya yang tertahan. Ia terus mengelus perutnya dengan gerakan tak sadar. "Aku hanya lelah... aku ingin segera sampai."

Isaac mengusap air mata di pipi Luna dengan ibu jarinya, tangannya sendiri ikut gemetar. Ia ingin ikut menangis, namun ia tahu ia harus menjadi tumpuan. "Maafkan aku, Luna. Maafkan aku harus membawamu sejauh ini. Kita akan menyelesaikannya dengan cepat, ya?"

Isaac berdiri kembali dan mendorong kursi roda itu dengan langkah yang lebih cepat menuju meja administrasi. Di sana, seorang perawat tampak sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya.

"Selamat siang, Sus. Istri saya butuh pemeriksaan dokter kandungan segera. Kondisinya sangat lemah," ujar Isaac dengan nada mendesak.

"Selamat siang, Pak. Silakan ambil nomor antrean terlebih dahulu dan isi formulirnya. Untuk dokter spesialis, saat ini sedang ada tiga pasien yang menunggu," jawab perawat itu tanpa menoleh, tetap fokus pada komputernya.

Isaac menarik napas tajam. Ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam (Black Card), meletakkannya di atas meja perawat itu dengan denting pelan. "Saya tidak punya waktu untuk antrean reguler. Istri saya kesakitan. Tolong prioritaskan dia."

Perawat itu mendongak, matanya membelalak melihat kartu elit tersebut dan juga melihat kondisi Luna yang bersandar lemas di kursi roda. Namun, sebelum perawat itu sempat menolak atau menjelaskan prosedur lebih lanjut, seorang perawat lain dari arah lorong ruang kandungan mendekat.

"Sus, ruang periksa dokter spesialis sedang kosong. Pasien berikutnya baru akan tiba lima belas menit lagi," lapor perawat kedua.

Perawat di meja administrasi segera mengangguk. "Baiklah. Bapak, kebetulan ruangannya sedang siap. Mari saya bantu arahkan."

Di dalam ruang periksa yang tenang dan beraroma lavender, Luna dibantu untuk berbaring di atas ranjang. dr. Hermawan, seorang dokter paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, menyambut mereka dengan ramah.

"Selamat siang, Bapak Isaac dan Ibu Luna. Jadi, ada keluhan apa?" tanya dokter sembari menyiapkan gel untuk USG.

"Istri saya merasa nyeri tulang ekor yang hebat dan kelelahan luar biasa setelah perjalanan jauh, Dok. Selain itu, mualnya masih sering muncul meski sudah masuk bulan keempat," jelas Isaac sembari berdiri di samping Luna, menggenggam tangannya erat.

Dokter Hermawan mengangguk-angguk. Ia mengoleskan gel dingin ke perut Luna. Begitu alat pemindai itu menyentuh kulit perut Luna yang mulai kencang, layar monitor di samping mereka mulai menampilkan gambar hitam putih yang berdenyut.

"Kita lihat dulu kondisinya ya..." Dokter Hermawan menggerakkan alat itu ke sisi kiri, lalu ke kanan. Tiba-tiba, gerakannya berhenti. Matanya menyipit menatap layar.

"Dok? Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Isaac dengan nada panik yang mulai muncul kembali.

Dokter Hermawan tersenyum lebar, ia memutar monitor agar Isaac dan Luna bisa melihatnya dengan jelas. "Tidak ada yang salah, Pak Isaac. Justru ini luar biasa. Pantas saja Ibu Luna merasa sangat terbebani dan punggungnya nyeri luar biasa."

"Maksud Dokter?" tanya Luna pelan.

"Lihat ini. Ini detak jantung pertama," dokter menunjuk sebuah titik. Lalu ia menggeser alatnya sedikit ke arah atas. "Dan ini... ini detak jantung kedua. Selamat, Ibu Luna, Pak Isaac. Kalian mengandung anak kembar."

Suasana ruangan seketika menjadi sangat sunyi. Luna ternganga, tangannya yang semula mengusap perut kini membeku. Isaac sendiri tampak seperti patung. Anak kembar? Di garis keturunan mereka tidak ada riwayat kembar yang menonjol, dan ini adalah kejutan yang benar-benar tidak terduga.

"Kembar, Dok? Dua?" tanya Isaac dengan wajah polos, suaranya terdengar sangat lucu karena nada kewibawaannya menghilang seketika.

"Iya, Pak. Dua janin yang sehat. Itulah kenapa perut Ibu Luna terlihat jauh lebih besar dari usia kandungan empat bulan pada umumnya. Bebannya dua kali lipat, kebutuhan nutrisinya dua kali lipat, dan tekanan pada tulang belakangnya juga tentu lebih besar," jelas dr. Hermawan.

Isaac menatap perut Luna dengan pandangan tak percaya. Dalam hatinya, ia bergumam sendiri, "Ternyata bukan karena bayinya yang gemuk atau Luna yang terlalu banyak makan... tapi memang ada dua di dalam sana." Isaac sempat merasa bodoh karena selama perjalanan ia hanya berpikir bahwa perut Luna membesar karena bayinya bertumbuh sangat pesat atau mungkin obesitas janin. Untungnya, ia tidak sempat menyuarakan isi pikirannya itu pada Luna, atau Luna pasti akan semakin menangis.

Luna kembali meneteskan air mata, namun kali ini air matanya terasa berbeda. Ada rasa syukur yang luar biasa menembus rasa sakitnya. "Dua, Mas... kita akan punya dua bayi sekaligus."

Isaac membungkuk, mencium kening Luna dengan sangat dalam dan lama. "Terima kasih, Luna. Terima kasih banyak. Maafkan aku yang tadi sempat berpikiran kalau bayinya hanya satu yang sangat besar. Aku benar-benar bodoh."

"Apa Bapak tadi bilang?" dr. Hermawan tertawa kecil.

"Bukan apa-apa, Dok," sahut Isaac cepat, wajahnya sedikit bersemu merah. "Jadi, apa yang harus kami lakukan agar nyeri punggung Luna berkurang?"

Dokter Hermawan memberikan beberapa instruksi tentang latihan posisi tidur, penggunaan bantal hamil, dan vitamin tambahan. Namun bagi Isaac, informasi tentang anak kembar ini adalah hal yang paling mengubah segalanya. Ia merasa tanggung jawabnya kini berlipat ganda.

Setelah pemeriksaan selesai, mereka keluar dari ruangan dengan perasaan yang jauh lebih ringan meski Luna masih harus menggunakan kursi roda. Isaac mendorong kursi itu menuju parkiran dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya.

"Kita akan sampai di apartemen sebentar lagi, Sayang. Aku akan memesan dua tempat tidur bayi paling mewah besok," ujar Isaac penuh semangat.

Luna tertawa kecil di tengah sisa isakannya. "Mas, mereka masih di dalam perut. Jangan terburu-buru."

"Tidak ada kata terlalu dini untuk anak-anak kita, Luna," balas Isaac mantap.

Perjalanan yang tadi terasa seperti siksaan, kini berubah menjadi sebuah awal baru yang penuh kejutan. Di tengah riuh rendah kota besar yang mulai mereka masuki, ada rahasia besar yang tersimpan di dalam perut Luna—dua nyawa kecil yang akan menjadi penerus kejayaan The Dendra Foundation.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!