karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kedinginan jeruji besi menjadi saksi bisu kejatuhan seorang Seina Daneswara. setelah badai di mansion mereda, Maudi memutuskan untuk mendatangi penjara. Ia tidak datang sebagai putri yang terluka, melainkan sebagai pemenang yang ingin menutup buku masa lalunya.
Saat Saka dan Eliza pulang, Maudi meminta izin tidak ikut pulang bersama saudaranya, Ia akan ke kantor polisi, Saka dan Eliza sendiri belum berani untuk menemui ibunya karena masih harus menenangkan hatinya yang terkejut oleh rahasia yang bertahun-tahun tertutup kini meledak begitu saja.
____
Seina duduk meringkuk di sudut sel yang lembap dan kotor, lingkungan yang sangat ia benci. Saat mendengar langkah kaki mendekat, ia mendongak dengan harapan di matanya. "Eliza? Saka, itu kalian nak , Nak.....Mama tahu kalian sangat menyayangi mama ?"
Namun, harapannya pupus saat melihat sosok bercadar yang berdiri tegak di balik teruji besi. Maudi melepaskan cadarnya perlahan, memperlihatkan wajah cantiknya yang kini bersih dari krim buruk rupa.
Seina tercengang melihat wajah Maudi yang sebenarnya...."kau.....kau....anak tidak tahu di untung....aku menyesal telah memberikan ASI ku untuk mu, kau penipu....kau menipu semua orang dengan wajah buruk rupamu" teriak Seina tidak terima, kalau sampai Eliza tahu wajah Maudi yang sebenarnya, Eliza pasti akan semakin minder, karena kecantikan Maudi yang tanpa celah.
Maudi tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang membuatnya semakin cantik "Ibu mencari Eliza?" suara Maudi terdengar tenang, namun dingin. "Sayangnya, anak yang Ibu banggakan itu bahkan tidak sudi menyebut nama Ibu lagi. Baginya, Ibu adalah aib yang menghancurkan hidupnya....,ibu tenang saja, aku akan terus menutupi wajah ku ini....jadi ibu tidak perlu khawatir Eliza akan merasa tersaingi" sahut Maudi seakan tahu apa yang ada di pikiran Seina.
Seina merangkak mendekat, jemarinya yang dulu penuh perhiasan kini kotor dan bergetar mencengkeram besi. "Kamu... ini semua gara-gara kamu, Maudi! Kalau saja kamu tetap di pesantren dan membusuk di sana, kami akan bahagia!"
"Bahagia di atas penderitaan orang lain?" Maudi berjongkok agar matanya sejajar dengan Seina. "Ibu lupa satu hal. Doa orang yang terzalimi itu menembus langit. Ibu membuangku ke lumpur, tapi lumpur itulah yang membuatku kuat. Sedangkan Ibu membangun istana di atas pasir, tentu saja itu akan runtuh."
Maudi mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya. Ia menyelipkannya melalui celah jeruji. "Ini dari Eliza. Dia tidak mau datang, jadi dia menitipkan ini padaku."
Seina dengan rakus membuka amplop itu, berharap ada surat cinta atau rencana pelarian. Namun, isinya hanyalah selembar foto, Foto Eliza dan Saka yang sedang berlutut di depan makam Ambar, bersama Doni dan Kakek Harison. Di belakang foto itu tertulis tangan Eliza yang gemetar.
"Jangan pernah cari aku lagi. Ibu sudah membunuh identitasku, dan aku memilih untuk mengubur namamu dari hidupku."
Seina menjerit histeris, merobek foto itu dengan gila. "TIDAK! ELIZA! AKU MELAKUKAN SEMUANYA UNTUKMU!"
"Ibu melakukannya untuk ambisi Ibu sendiri," potong Maudi tajam. "Sekarang, nikmatilah sisa hidup Ibu di sini. Rasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak diinginkan, persis seperti yang Ibu lakukan padaku selama delapan belas tahun."
" sehat-sehat di sini Bu...aku permisi... Assalamualaikum" ucap Maudi lembut meski ada ketegasan di sana....
Seina mencengkeram kedua tangannya sendiri, melihat Maudi menjauh dengan hati yang dipenuhi dendam...." tunggu aku anak pembawa sial, aku pasti akan menghancurkan mu" gumam Seina tersenyum penuh arti, sambil melirik ke arah petugas yang sedari tadi terus mengawasinya.
___
Sekembalinya dari penjara, Maudi disambut oleh suasana yang berbeda. Doni menunggunya di teras dengan wajah yang jauh lebih tenang. Ia tidak lagi melihat Maudi sebagai beban, melainkan sebagai cahaya di rumah itu.
"Maudi, kau dari mana saja?" tanya Doni lembut sambil merangkul pundak putrinya.
"Hanya menyelesaikan urusan yang belum tuntas, Pa."
Di ruang tengah, Eliza tampak duduk melamun. Ia tidak lagi memakai pakaian yang mencolok. Matanya yang sembap menatap Maudi dengan rasa bersalah yang amat dalam.
"Maudi..." Eliza berdiri dengan ragu. "Maaf... untuk semuanya. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk menebus kesalahanku."
Maudi menatap Eliza cukup lama. Ia melihat kehancuran di mata gadis itu, sebuah hukuman yang jauh lebih berat daripada penjara. Maudi melangkah mendekat dan memegang tangan Eliza.
"Mulailah dengan menjadi dirimu sendiri, Eliza. Bukan sebagai Cucu Daneswara, tapi sebagai manusia yang punya hati. Kita bisa mulai dari awal sebagai saudara, jika kau mau."
Tangis Eliza pecah. Ia memeluk Maudi, sebuah pelukan yang seharusnya terjadi belasan tahun lalu. Doni dan Saka yang melihat itu hanya bisa menyeka air mata mereka.
Eliza tidak perduli dengan wajah buruk Maudi lagi di balik cadarnya...
____
Malam harinya....Di sisi lain kota, di balik jeruji besi yang seharusnya menjadi tempat Seina menebus dosa, sebuah keributan terjadi saat jam makan malam. Seorang sipir ditemukan pingsan di lorong sel, sementara pintu sel nomor 042 terbuka lebar.
Seina tidak kabur sendirian. Seorang pria misterius dengan setelan hitam menunggunya di balik tembok luar penjara.
"Kau terlambat, Hans !" desis Seina dengan mata merah penuh kebencian. Bajunya kotor, rambutnya kusut, namun ambisinya masih menyala.
"Sstt! Masuk ke mobil!" perintah Hans. "Kau tahu risikonya membantumu kabur dari sini? Aku mempertaruhkan seluruh jaringanku!"
Seina mencengkeram jok mobil dengan kuku-kukunya yang patah. "Aku tidak peduli! Aku kehilangan segalanya! Doni menceraikanku, harta Daneswara melayang, dan Eliza... anak kandungku sendiri berani mengabaikanku demi Maudi!"
Seina tertawa melengking, suara tawa yang terdengar gila dan mengerikan. "Maudi pikir dia sudah menang? Aku akan kembali. Jika aku tidak bisa memiliki kemewahan itu, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya! Aku akan menghancurkan mansion itu beserta seluruh isinya!"
Maudi yang sedang murojaah terkejut ketika jam tangannya yang tergeletak di meja nakas bergetar hebat. Maudi menyelesaikan murojaah nya lalu mengambil jam tangan nya ... Sebuah notifikasi berwarna merah muncul di layar kecilnya,"TARGET SECTOR-1 ESCAPED. LOCATION, UNKNOWN."
Jantung Maudi berdegup kencang. Ia segera mencari menghubungi timnya di Sektor 7.
"Bagaimana bisa dia kabur?! Siapa yang membantunya?" tanya Maudi dengan nada tegas, jauh dari kesan gadis pesantren yang lemah.... Karena ia tahu Seina tidak memiliki apa-apa lagi untuk membayar seseorang..
"Data menunjukkan adanya campur tangan dari sindikat Hans... salah satu kelompok gengster yang kabur dari Amerika, Nona. Hans memiliki dendam dengan Anda karena saat di Amerika Anda menghancurkan markasnya....Sepertinya Seina memiliki kartu as yang belum kita ketahui," lapor agennya di seberang telepon.
Maudi mengepalkan tangannya. Ia melihat Eliza dan Saka yang sedang tertawa kecil di kejauhan, mencoba memulai hidup baru, mereka berdua sedang duduk di taman, Maudi yang berada di balkon kamarnya tersenyum melihat keduanya. Ia tahu, kebahagiaan mereka sedang terancam. Seina yang bebas adalah Seina yang paling berbahaya karena dia tidak lagi memiliki beban untuk bertindak gila.
Setelah Maudi memutuskan panggilannya
Tiba-tiba, ponsel Maudi bergetar lagi. Sebuah panggilan dari nomor rumah sakit.
"Halo? Apakah ini Nona Maudi? Ini Kevin, asisten Tuan Rasya. Tuan Rasya... dia terus mengigau memanggil nama Anda sambil muntah-muntah. Dia bilang, jika Anda tidak datang untuk mensuci-hamakan ingatannya, dia akan menuntut seluruh keluarga Daneswara karena pencemaran lingkungan!"
Maudi memutar matanya. " Astaghfirullah Satu ibu tiri yang gila, dan satu CEO yang terlalu higienis. Hidupku benar-benar berantakan," batinnya
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.