NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

Langit masih diselimuti warna keabu-abuan saat pintu kamar Nara diketuk perlahan.

"Nona ... sudah pukul enam pagi," suara lembut seorang maid terdengar dari balik pintu.

Di atas ranjang besar, Nara bergerak pelan. Wanita itu membuka matanya perlahan dengan wajah yang masih terlihat lelah. "Masuk," ucapnya lirih.

Pintu kamar terbuka hati-hati. Seorang maid senior melangkah masuk bersama dua maid lainnya yang membawa nampan berisi teh hangat dan tablet jadwal kegiatan pagi itu.

"Selamat pagi, Nona," sapa mereka sopan.

Nara hanya mengangguk kecil sambil bangkit duduk. Rambut panjangnya tampak sedikit berantakan jatuh di bahunya.

Maid senior mendekat. "Air untuk Nona berendam, sudah disiapkan."

"Hmm."

Nara turun dari tempat tidur. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai kamar. Deretan pakaian mewah, tas bermerk, serta sepatu berjejer rapi memenuhi ruangan itu.

Sementara itu, di dalam kamar mandi marmer luas, air hangat sudah memenuhi bathtub besar Aroma lavender lembut memenuhi udara, membuat suasana terasa tenang.

Nara berjalan masuk tanpa banyak bicara. Seorang maid membantu menyiapkan handuk, sementara maid lainnya meletakkan beberapa produk perawatan kulit di dekat wastafel.

Setelah berendam hampir dua puluh menit, Nara akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe putih. Para maid segera menyiapkan penampilannya pagi itu.

"Untuk sarapan bersama Tuan besar, Nona ingin mengenakan yang mana?" tanya salah satu maid sambil menunjukkan beberapa pilihan pakaian.

Tatapan Nara bergerak sekilas. "Yang itu."

Ia menunjuk setelan dress putih elegan dengan blazer tipis berwarna krem.

"Baik, Nona."

Tak lama kemudian, seorang maid lain membuka kotak aksesoris berisi jam tangan, anting berlian kecil, dan beberapa pilihan parfum mahal.

Nara duduk di depan meja rias besar sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya kembali terlihat sempurna seperti biasa. Dingin, elegan, sulit ditebak. Namun, ditengah maid yang sibuk menata rambutnya, pikiran Nara entah melayang ke mana.

"Nona?" panggil salah satu maid hati-hati, menyadarkan lamunannya.

"Ada apa?"

"Apakah model rambut ini sesuai?"

Nara menatap pantulan dirinya beberapa detik sebelum mengangguk singkat. "Ya."

Tak lama setelah semuanya selesai, seorang maid kembali masuk ke kamar.

"Tuan besar sudah menunggu di ruang makan."

Nara mengangguk pelan. Ia lalu melangkah keluar dari kamarnya dengan tenang. Suara heels miliknya menggema pelan di sepanjang koridor lantai dua Mansion yang masih terasa sepi pagi itu.

Beberapa pegawai Mansion yang berpapasan langsung menundukkan kepala hormat.

"Selamat pagi, Nona."

Nara hanya mengangguk kecil sebagai balasan.

Lift membawanya turun menuju lantai utama Mansion. Begitu pintu lift terbuka, aroma makanan hangat langsung menyambut indra penciumannya.

Ruang makan Mansion Dhanubrata tampak luas dan megah. Meja panjang berbahan kayu mahal membentang di tengah ruangan dengan lampu kristal menggantung di atasnya.

Di ujung meja, seorang pria tua berwibawa duduk sambil membaca koran pagi.

Tuan Dhanubrata. Meski usianya sudah melewati kepala tujuh puluh, tatapan matanya masih tajam dan penuh kharisma. Rambutnya yang memutih justru menambah kesan wibawa pada dirinya.

Di sisi kanan meja, Han Seokjin sudah duduk lebih dulu sambil menikmati kopi paginya.

Begitu melihat Nara datang, Tuan Dhanubrata menurunkan korannya sedikit. "Kau terlambat tiga menit."

Nara menarik kursinya pelan lalu duduk di tempat biasa miliknya. "Masih dalam batas toleransi," jawabnya datar.

Seokjin terkekeh kecil mendengar jawaban itu. Hanya Nara yang berani menjawab Tuan Dhanubrata setenang itu.

"Kepalamu masih pusing?" tanya Seokjin sambil meliriknya.

"Sudah lebih baik."

Seorang maid segera menuangkan teh hangat ke cangkir Nara. Sementara beberapa pelayan lain mulai menyiapkan sarapan pagi.

Belum sempat mereka mulai makan, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Tak lama kemudian, sepasang suami-istri paruh baya masuk ke ruangan makan dengan suasana santai.

Pria itu memiliki wajah teduh dengan senyum ramah yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Sementara wanita di sampingnya tampak elegan dan hangat dengan penampilan khas sosialita kelas atas.

"Tampaknya kami terlambat," ucap pria itu santai.

"Terlambat lima menit," sahut Tuan Dhanubrata tanpa mengalihkan pandangan dari korannya.

Pria itu langsung tertawa kecil. "Ayah masih sama saja."

Nara menoleh sekilas ke arah pasangan itu. Mereka adalah Tuan Wirahadi dan istrinya Nyonya Marsella. Keduanya adalah pasangan yang menikah karena perjodohan keluarga puluhan tahun lalu. Meski begitu, hubungan keduanya justru terkenal harmonis dan jauh dari drama.

Tuan Wirahadi sendiri bukan anak kandung Tuan Dhanubrata. Ia adalah anak bawaan dari mendiang istri Tuan Dhanubrata sebelum wanita itu menikah lagi dengan sang pengusaha besar. Namun, sejak kecil, Tuan Dhanubrata membesarkan Wirahadi seperti anaknya sendiri tanpa pernah membedakan sedikit pun dengan dua anak kandungnya. Namun, saat kecelakaan pesawat itu terjadi. Tuan Wirahadi dan istrinya sedang berada di luar negeri. Sehingga pasangan suami istri itu selamat.

"Pagi, Nara," sapa Nyonya Marsella lembut sambil duduk di kursinya.

"Pagi, Tante," balas Nara sopan.

Nyonya Marsella memperhatikan wajah Nara beberapa detik lalu tersenyum kecil. "Kau terlihat lebih segar hari ini."

"Begitu?"

"Hmm. Biasanya wajahmu lebih dingin dari kulkas."

Seokjin langsung tersedak kecil menahan tawa. Bahkan Tuan Wirahadi ikut tertawa pelan. Sementara Nara hanya memandang datar tanpa reaksi berarti. Namun, sebelum suasana santai itu berlangsung lama Tuan Dhanubrata akhirnya melipat korannya.

Tatapan tajam pria tua itu jatuh pada Nara. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ucapnya tegas.

Suasana meja langsung berubah serius.

***

Di sisi lain, kehidupan Sagara berjalan seperti biasa.

Pagi-pagi sekali, suara alarm ponselnya sudah berbunyi nyaring di rumah kontrakan sederhana itu. Sagara mengerjap perlahan sebelum meraih ponselnya dan mematikan alarm. Cahaya matahari pagi masuk samar dari celah jendela kecil di samping kasurnya.

Ia bangkit, merapikan selimut tipisnya sendiri, lalu berjalan ke kamar mandi kecil di sudut ruangan.

Beberapa menit kemudian, Sagara keluar dengan kaus hitam dan celana jeans sederhana. Rambutnya masih sedikit basah. Ia mengambil dompet, kunci motor, dan helm sebelum keluar dari kontrakan.

Udara pagi masih terasa sejuk.

Sagara menstarter motornya lalu melaju santai menuju warung makan langganannya. yang berada tidak jauh dari gang kontrakan.

Warung sederhana itu sudah ramai oleh pelanggan pagi. Aroma nasi uduk, gorengan hangat, dan kopi hitam langsung menyambut begitu Sagara turun dari motor.

"Eh, calon mantu datang!" seru seorang ibu dari balik etalase.

Sagara langsung menghela napas panjang tanpa perlu melihat siapa yang bicara. "Pagi juga, Bu Mira," balasnya pasrah.

Bu Mira, pemilik warung, terkekeh puas. "Biasanya anak muda kalau digodain malu. Lah. Mas Aga mukanya datar aja."

"Karena tiap pagi digituin terus," jawab Sagara sambil duduk di bangku plastik.

Belum sempat ia memesan, seorang gadis keluar membawa segelas teh hangat.

"Mas Aga, air hangatnya," ucap gadis itu pelan sambil tersenyum malu.

Sagara menerimanya biasa saja. "Makasih, Dina."

Dina adalah anak Bu Mira. Gadis seusianya yang sudah beberapa bulan terakhir terus dijodoh-jodohkan dengannya. Dan Sagara tahu betul siapa dalangnya.

"Ngga sekalian nikah aja kalian?" celetuk Bu Mira sambil membungkus nasi.

"Bu!" Dina langsung memprotes malu sampai wajahnya memerah. Sementara Sagara malah terkekeh kecil.

"Kasihan Dina, Bu. Takutnya nanti malah nyesel kalau nikah sama saya," jawab Sagara santai.

"Nyesel kenapa? Yang ada ya malah bersyukur, bisa dapetin suami pekerja keras. Bonus ganteng lagi," balas Bu Mira cepat.

"Iya ... Mas Aga juga baik," sahut Dina lirih nyaris tak terdengar.

Sagara pura-pura tidak mendengar ucapan terakhir itu. Ia justru sibuk mengambil sendok. "Biasa, Bu. Nasi uduk sama telor balado."

"Iya, lho. Kalian tuh cocok banget. Mas Aga yang ganteng sama Neng Dina yang cantik," celetuk seorang ibu pelanggan lain yang tengah menunggu pesanannya dibungkus.

"Doa'in ya, Bu. Siapa tau Mas Aga beneran jadi mantu saya," timpal Bu Mira sambil terus melanjutkan membungkus nasi.

"Kalau ternyata nggak jodoh sama Neng Dina, ya berarti jadi jodoh anak saya, Si Wati," sahut ibu lainnya tak mau kalah.

Warung kecil itu langsung berubah dipenuhi suara tawa.

Sagara hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Godaan seperti itu sudah seperti menu wajib setiap pagi baginya. Ia bahkan pernah berniat berhenti membeli sarapan diwarung itu. Namun, niat tersebut selalu gagal karena makanan Bu Mira terkenal enak, murah, dan sangat cocok dengan kondisi dompetnya saat ini.

Dina diam-diam melirik Sagara yang makan dengan tenang. Wajah gadis itu masih sedikit merah karena godaan ibunya sejak tadi. Sementara Sagara sama sekali tampak tidak terganggu. Ia justru makan cepat karena tahu sebentar lagi bengkel pasti ramai.

Benar saja.

Baru beberapa suap, ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama "Pak Yanto Bengkel" muncul di layar.

Sagara langsung mengangkat telepon itu. Suara Pak Yanto di sebrang mengisyaratkan agar ia segera berangkat ke bengkel.

Begitu panggilan itu di tutup. Sagara langsung meraih air mineral hangat dan meminumnya sedikit. Ia lalu berdiri terburu-buru sambil meraih dompetnya.

"Lho, baru juga makan," protes Bu Mira.

"Dipanggil bengkel, Bu."

"Yaelah ... kerja mulu. Kapan lamar anak sayanya?" goda Bu Mira lagi.

"Kapan-kapan aja, Bu," jawab Sagara santai sambil mengenakan jaketnya.

"Biar suruh kerja dulu, Bu. Ngumpulin duit buat persiapan lamar anak Ibu," celoteh ibu lain.

Sagara hanya terkekeh kecil. Ia lalu meletakkan dua lembar uang berwarna merah di meja. "Saya duluan," pamitnya kemudian.

"Nak Aga. Ini duitnya kebanyakan," teriak Bu Mira setelah melihat dan mengambil uang itu.

"Buat bayarin ibu-ibu lain juga," jawab Sagara sedikit berteriak karena jarak yang cukup jauh. Ia sudah berada di atas motornya.

Ibu-ibu yang masih menunggu pesanannya langsung bersorak riang dan mengucapkan terimakasih sambil berteriak.

Sagara sendiri hanya menjawab dengan senyuman, lalu kembali melajukan motornya menuju bengkel. Uang tip yang ia dapatkan dari Nara melalui 'Pak Bos' tempo hari sengaja ia bagikan kepada ibu-ibu yang selalu bersikap ramah kepadanya.

*** bersambung.

Tuan Dhanubrata.

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!