NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan

Ziano berdiri di atas jembatan cor-coran menghadap ke solokan di bawahnya. Airnya begitu jernih, tanah serta batu-batu kecil yang berada di dasar air saja bisa ia lihat dengan jelas, bahkan beberapa ikan kecil yang berlalu juga tak lepas dari pandangannya. Di sebelah kanannya berdiri bangunan yang mayoritas berbahan bambu dengan selimut plastik di sekelilingnya. Ziano tak bisa mengatakan jika bangunan itu kokoh karena tak terlihat meyakinkan. Disana ada dua orang yang sibuk keluar masuk sambil membawa karung bergambar ayam betina, mungkin apakan ayam.

"A, mau sampe kapan berdiri disitu? udahan belum muntahnya?" teriak Ara yang tengah mengisi toren air di samping kanan kandang.

"Kalo pusing mending tunggu di rumah aja." lanjutnya seraya menunjuk bangunan di samping kiri kandang. Tempat yang biasa digunakan istirahat oleh karyawan yang mengurus ayam milik abah. Kadang  abah juga tidur di sana saat ayam-ayamnya masih sangat kecil dan butuh di pantau terus-menerus.

"Tenang aja, ada kasur, bantal, dispenser, kulkas juga ada." lagi-lagi Ara berteriak karena Ziano masih mematung di atas jembatan.

Setelah selesai mengisi air, Ara menghampiri Ziano dan menarik tangannya.

"Tunggu di rumah aja, A. Lusi masih lama, kalo yang kerja belum selesai dia nggak mau pulang."

Baru sampai teras bangunan saja Ziano langsung balik kanan dan memilih kembali ke jembatan. Bau yang keluar dari bangunan itu tak kalah dengan bau kandang ayam.

Ara mengikuti Ziano ke jembatan dan duduk disana, kakinya mengayun di atas air.

"Bau juga yah? pengen muntah lagi?" tanya Ara sambil mendongak menatap Ziano yang berdiri sambil bersilang tangan di dada.

Huh! Ziano menghembuskan nafas kasar dan ikut duduk di samping Ara. "Banget."

"Disini nggak ada pencemaran udara karena kendaraan atau pun pabrik, bahkan air solokan aja sejernih ini. Tapi ternyata punya senjata pemusnah alami."

Ara menoleh sambil ternsenyum sinis, "jadi Aa nganggap kandang ayam abah ini sebagai senjata pemusnah alami gitu?"

"Ya lah, gue bisa mati kalo kelamaan disini."

"Gitu?" ledek Ara dengan senyum mencibir.

"Iya lah. Bau banget sampe gue muntah. Kalo kelamaan disini, gue muntah terus, dehidrasi, mati deh." kelakar Ziano.

"Lebay!" cibir Ara.

"Aa beruntung aku yang denger, kalo abah? pasti Aa langsung diusir."

Ara menatap Ziano penuh tanya dengan wajah tenang. Sesekali hembusan angin membuat poni panjangnya menutup wajah.

Ara menyelipkan rabutnya ke samping, "emangnya sekaya apa sih kehidupan Aa sampe bilang peternakan abah senjata pemusnah?"

"Aa tau nggak? kalo dari tempat yang Aa bilang senjata pemusnah itu banyak ngebantu perekonomian warga?"

"Aa tau nggak? barang yang Aa bilang bau itu bisa jadi pupuk kompos? bikin padi-padi di lingkungan kita bebas dari pupuk kimia, yang tentu harga padinya bakal beda sama yang pake kimia."

"Aa lihat Amang yang dari tadi manggul pakan kan? Amang di PHK waktu corona, pulang kampung hampir bundir gara-gara nggak tau lagi harus gimana menuhin kebutuhan keluarganya. Berkat kandang ayam abah sampe sekarang si Amang bisa menuhin kebutuhan keluarganya."

Ziano hanya diam, mendengar penuturan Ara. Semua ucapan gadis itu benar. Bahkan bukannya tak tau, perkara seperti itu ia paham betul, tapi kehidupannya tak pernah seperti ini. Tadi ia hanya asal bicara mengungkapkan kekesalannya karena dibawa ke tempat yang menurutnya kotor dan tentu bau.

Membantah? menjelaskan? tak perlu. Jika ia melakukannya justru hanya akan membuat dirinya tampak kekanakan di depan Ara.

Saat Ziano masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, Ara sudah pergi menyusul Lusi ke dalam kandang ayam. Dari luar ia bisa melihat Ara menggendong Lusi. Tanpa ia sadari kini dirinya sudah berada di depan pintu kandang, menahan senyum melihat interaksi Ara dan gadis yang kini selalu memanggilnya papi. "Seumuran Jeli tapi kok pikirannya udah dewasa banget." batinnya.

"Papi..." panggilan Lusi membuat Ara yang menggendongnya ikut menoleh ke arah Ziano.

"Papi sini masuk. Ayamnya banyak banget, lihat..." belum sempat Ziano melangkah masuk, Ara lebih dulu keluar dan menutup pintu.

"Tebi kok malah keluar sih? Papi kan mau lihat ayam." bibir gadis di gendongannya sedikit mengerucut tak suka.

"Papi Uci nggak suka ayam, katanya bisa mati kalo lama-lama di kandang ayam." sindir Ara.

Lusi menatap Ara dan Ziano bergantian. Bingung. Baru kali ini ia dengar orang bisa mati kalo kelamaan di kandang ayam.

"Emang iya, Pi? Tapi Uci sering ke kandang ayam nggak mati? Abah juga setiap hari ke kandang ayam masih hidup."

"Amang Adang juga tuh." belum sempat Ziano menjawab gadis itu terus nyerocos.

"Kalo kelamaan di kandang ayam bisa bikin mati harusnya Amang Adang udah mati duluan dong?" tanyanya kemudian.

Amang Adang yang lewat sambil memanggul pakan jadi reflek berhenti, "Amang mati?"

"Jangan di dengerin Amang, Uci ngasal." sela Ara.

"Udah yuk! kita beli sate yang deket pangkal ojeg aja." lanjutnya seraya beranjak dari sana lebih dulu sementara Ziano mengikuti dengan pasrah dari belakang.

"Uci mau sama papi." Ziano langsung mengambil alih gadis kecil itu.

"Jalan aja, Uci! jangan minta gendong, ntar papi kamu bisa mati." sindir Ara sinis, padahal Ziano sudah memposisikan diri untuk menggendong Lusi.

"Papi gendong aja, nggak apa-apa." Ziano tak membiarkan Lusi turun.

"Uci turun aja, nanti papi mati." mata lusi berkaca-kaca.

"Tebi cuma bercanda, Uci. Papi Ano kuat kok, Uci boleh minta gendong." Ara langsung meralat kalimatnya. Gara-gara fokus nyindir Ziano ia sampai lupa jika keponakannya begitu trauma dengan kata mati.

"Uci jalan aja. Papi jangan mati yah, jangan tinggalin Uci lagi..." ucapnya lirih.

Ziano yang tak tau apa-apa hanya mengelus sayang kepala Lusi sambil menurunkannya, "kalo gitu jalannya pegangan sama papi."

Matahari sudah mulai naik, Ziano yang jarang berjalan kaki jauh mulai merasa lelah tapi anehnya gadis ia tuntun bersama Ara tak kelihatan lelah sama sekali.

"Masih jauh nggak sih?"

"Nggak, A. Di depan, paling lima dua ratus meter lagi." jawab Ara.

"Tau gini tadi pake motor aja, kan cepet, nggak cape juga."

"Kali-kali jalan biar sehat." jawab Ara sekenanya.

Ketiganya reflek menoleh saat menengar klaksok berulang kali padahal posisi jalan mereka sudah di pinggir. Marcel berhenti tepat dibelakang mereka.

"Pasti mau ke sate mang Didi?" tebaknya tanpa turun dari motor.

"Iya." jawab Ara.

"Barengan aja yuk! kebetulan gue mau ke SPBU Ini, kan kelewatan."

"Aku bertiga, Cel. Nggak cukup motornya."

"Atuh kamu sama Uci aja. Si amang mah suruh jalan." jawab Marcel yang sudah turun dari motor dan mengajak Lusi naik. Sialnya gadis kecil itu nurut ke Marcel. " Nggak apa-apa kan mang?" lanjutnya pada Ziano.

"Uci nggak mau barengan sama papi aja?" tanya Ziano. Enak saja dirinya harus jalan sendiri, kalo Lusi menolak maka mau tak mau Ara juga harus jalan kaki.

"Uci bareng A Macel aja yah, biar kita duluan sampe terus bisa pesenin papi sate sekalian. Jadi pas papi sampe nanti satenya udah siap." belum sempat Lusi menjawab sudah di dahului Ara. Alhasil gadis kecil itu hanya mengangguk sejutu.

"Kita duluan, A." Ara naik ke motor Marcel dan melambaikan tangan.

Ziano menghembuskan nafas kasar. Sepagi ini sudah harus muntah-muntah ditambah harus jalan dan kini malah ditinggal. si al.

1
sum mia
oalah Marcel .... Marcel..... sifat licik dan iri di dalam hatimu itu akan merusak hidupmu sendiri . apalagi kalau sampai Ara tahu dia malah akan membencimu karena ulahmu itu .
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
sum mia: kalau gak sabar bikin cerita si Jeli , ayo lah thor di kebut , crazy up biar cepet kelar dan ganti si Jeli 🤭🤭😅😅😅
total 1 replies
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!