Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perilaku Aneh
Hanif mengangkat dagu istrinya. Ia tatap dengan senyuman cukup menggoda.
"Sebelum kamu keluar rumah, Aa akan buat kamu kapok."
Lelaki itu menarik pinggang istrinya, semakin dekat lalu mendekap.
Hanif mengecup kening istrinya, lalu pada pipi dan seluruh wajahnya—Riyani sempat mendorong suaminya dengan kekehan.
"Geli ih!" protes Riyani.
Hanif menahan senyumannya.
Dengan cepat Hanif menarik istrinya menuju tempat tidur.
"Aa!!!!!" Riyani protes. Namun, wanita itu tetap mengikuti langkah suaminya.
...----------------...
Keesokan paginya, Riyani baru saja terbangun. Ia meringis, pada pinggang yang rasanya seperti remuk karena suaminya semalam.
(Gila banget pak dokter!)
(Udah kayak harimau kelaparan aja)
Hanif baru saja kembali dari dapur. Lelaki itu menghampiri dan duduk pada tepian kasur di samping istrinya.
"Sudah bangun ternyata!"
Riyani menekuk wajahnya.
"Pinggang aku sakit," keluhnya lalu memukul dada bidang suaminya.
Hanif terkekeh. "Maaf Sayang! Aa gak sengaja. Lain kali bakalan pelan-pelan."
Riyani tiba-tiba merubah ekspresinya.
"Aa, gimana kalau Neng hamil? Kan kita begitu-begitu tanpa pengaman."
"Neng juga gak kb dari awal pernikahan."
Hanif mencubit pipi istrinya dengan kekehan.
"Ya gak apa-apa. Kalau hamil berarti usaha Aa bagus dong."
Riyani kembali memukul dada suaminya. "Bukan gitu."
"Terus gimana, Sayang?" tanya Hanif, "kamu belum siap kalau hamil emangnya?"
"Lagian kamu punya suami juga. Ngapain khawatir kalau hamil."
"Emangnya Aa gak apa-apa kalau gak menunda kehamilan?"
Hanif terkekeh mendengarnya. "Ya gak apa-apa dong. Aa justru seneng. Sebenernya mau dikasih awal ataupun enggak, Aa gak keberatan asal itu sama kamu."
Riyani memeluk suaminya dengan erat. "Ya ampun!! Aku udah lakuin apa di kehidupan sebelumnya sampe dapet suami yang super baik begini."
Hanif salah tingkah dibuatnya. Ia mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Sekarang bersih-bersih dulu gih. Terus sholat subuh, udah adzan tuh."
Riyani mengangguk. Wanita itu dengan manja merentangkan kedua tangannya pada Hanif untuk membantunya ke kamar mandi. Dengan santai, lelaki itu mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Mau Aa bantu mandinya!" goda Hanif.
"Enggak ya! Yang ada beres nanti pas dhuha," tolak Riyani.
Hanif terkekeh mendengarnya. "Ya udah. Aa tunggu di luar ya."
Riyani mengangguk.
Setelahnya, pasangan suami istri itu sholat subuh berjamaah, bersih-bersih rumah dan mulai memasak sarapan bersama.
Hari ini, Hanif libur bekerja.
Hanif memeluk istrinya dari belakang.
Riyani tersenyum. "Aa jangan peluk begini! Nanti tangan kamu kecipratan minyak."
"Terus peluknya harus gimana? Dari depan?" tanya Hanif dengan godanya.
Riyani memukul tangan suaminya. "Ada aja ide godain aku. Mending tolong potongin kangkung, biar cepet beres masak sarapannya."
Hanif dengan cepat duduk di kursi meja makan, memotong kangkung yang sudah disiapkan Riyani sebelumnya.
...----------------...
Tahu goreng, Ayam goreng kremes, sambal bawang, dengan cah kangkung sudah tersaji di meja makan. Ditambah nasi liwet yang dibuat Hanif sebelumnya.
"Aa ayo makan dulu!" ajak Riyani dari dapur.
Hanif yang sedang mengerjakan laporan di ruang tengah langsung menutup laptopnya dan pergi ke dapur.
"Wahhhhh..... makan enak pagi ini."
"Emang biasanya makanan aku gak enak?" tanya Riyani.
Hanif menepuk mulutnya sendiri.
"Bukan gak enak, Sayang. Sama enaknya, cuman maksudnya ini makan nikmat."
Riyani terkekeh pelan.
"Ya udah ayo makan!"
Hanif mengangguk.
Riyani mengambil nasi liwet, dada ayam goreng dengan kremes, sambal bawang, tahu goreng, dan cah kangkung yang dibuatnya untuk Hanif.
"Makasih Sayangku!!" ungkap Hanif dengan senyuman.
"Sama-sama, Sayang."
Hanif terdiam mendengarnya.
"Kenapa A? Gak enak ya?" tanya Riyani bingung.
Lelaki itu menghadap pada istrinya. "Kamu panggil Aa apa tadi?"
"Apa?" tanya Riyani pura-pura.
"Sayang, gak usah pura-pura deh. Panggil lagi coba, Aa pengen denger lebih jelas."
"Sayang!?" panggil Riyani.
Hanif tersenyum. Lelaki itu malah mencium istrinya dengan mesra.
"Aa suka panggilan itu."
Riyani mendecak. Ia memukul dada bidang hanif. "Udah ah, kita sarapan dulu."
"Oh berarti udah sarapan dilanjut?"
"Bukan itu maksud aku,"
"Terus maksudnya gimana?"
Riyani mengerucutkan wajahnya. "Ih Aa!!! masa tega sama Neng, pinggang neng masih sakit."
Hanif terkekeh pelan. Ia mengusak rambut istrinya, "bercanda, Sayang."
"Ayo lanjut sarapannya!" ajak Hanif diangguki Riyani.
...----------------...
Hari sudah mulai siang, Hanif menemani istrinya untuk pergi ke rumah nenek. Berkunjung sekedar menanyakan kabar dan memastikan keduanya baik-baik saja. Setelahnya pergi ke rumah mertuanya untuk menginap.
Ibu dan Ayah Hanif benar-benar memanjakan Riyani. Selayaknya orang tua kandung yang memperlakukan anaknya dengan baik. Begitupun dengan Seyila, gadis itu selalu berlaku baik sebelum dan sesudah Riyani menikah dengan abangnya. Tidak berbeda sedikitpun, terkecuali panggilan baru pada Riyani—'Teteh'.
Riyani sempat menolaknya. Tapi sudah menjadi keputusan Seyila untuk memanggil teteh sebagai istri abangnya.
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 11 malam, Riyani masih belum bisa tertidur. Wanita itu menyamping kesana-kemari, berbalik badan pada suaminya yang kini sudah terlelap dengan pelukan hangat pada perut riyani.
Merasa pergerakan istrinya, Hanif pada akhirnya terbangun.
"Sayang kenapa belum bobo?" tanya Hanif dengan suara beratnya.
"Gak tau Aa. Neng gak bisa bobo," jawab Riyani. Bedanya, kenapa dengan tangisan?
Hanif langsung mendekapnya, "kenapa? ada yang di pikirin? Kok nangis."
"Gak tau. Neng pengen bobo, udah ngantuk tapi gak bisa bobo," keluh Riyani dibalik dada bidang suaminya.
"Syutttt......" Hanif menenangkannya. Ia usap punggung istrinya hingga mulai terlelap pada tubuh suaminya.
(Neng, kamu kenapa sih?)
(Tiba-tiba nangis aja, padahal cuman ngantuk. Kayak bayi)
Hanif tersenyum tipis, lalu memeluk istrinya dengan erat dan mulai tertidur.
...----------------...
Pagi berikutnya, Riyani berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan semua isian perutnya, merasa mual dan sedikit lemas.
(Ini kenapa ya?)
(Kok bisa mual pagi-pagi begini)
(Padahal malamnya kan makan juga)
Ketukan pintu kamar mandi terdengar.
"Sayang!?"
"Kenapa?"
Riyani membasuh wajahnya. Ia buka pintu kamar mandi dengan senyuman pada Hanif.
"Gak apa-apa kok, A. Tadi cuman kebelet pipis."
(Kayaknya gak perlu bilang aja deh sama suami tentang mual ini. Nanti dia suruh aku berobat)
"Dikira Aa kenapa. Soalnya semalem kamu nangis, terus barusan bangun tiba-tiba pergi gitu aja ke kamar mandi," ucap Hanif.
Dengan manja Riyani memeluk pinggang suaminya.
"Aa keberatan ya kalau Neng manja?"
Hanif terdiam. Biasanya Riyani malu-malu melakukan hal intim bersamanya.
"Aa keberatan ya? Beneran?" tanya Riyani. Wanita itu melepaskan tangannya, "kalau gitu Neng gak bakal manja—"
"Enggak keberatan, Sayang. Aa cuman heran aja,"
"Heran kenapa?" tanya Riyani.
Hanif menggeleng.
(Kayaknya gw gak bisa menyimpulkan gitu aja)
(Biarin aja lah dulu)
Matahari baru saja terbit, tapi Riyani sudah merengek pada suaminya.
"Iya nanti siang, Aa belikan,"
"Gak mau pengennya sekarang," pinta Riyani.
Ibu yang mendengarnya langsung bertanya, "neng pengen apa? Ibu bikinin aja ya kalau Hanif gak mau belikan."
Riyani menggeleng.
"Neng pengen rujak yang di samping pom bensin depan, Bu. Tapi Aa bilang siang nanti belinya, kan pengennya sekarang."
"HAH? kamu pengen makan rujak jam segini? Gak mimpi kamu, Neng?"