Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Suasana acara keluarga itu masih bergulir hangat, seperti aliran waktu yang sengaja diperlambat agar semua orang bisa menikmati setiap detiknya. Lampu-lampu kuning yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya lembut, menciptakan kesan akrab dan nyaman. Aroma makanan bercampur dengan wangi parfum para tamu, menyatu menjadi latar yang nyaris sempurna.
Tawa pecah di berbagai sudut. Obrolan ringan mengalir tanpa jeda. Dari luar, semuanya terlihat seperti potongan kehidupan yang ideal, keluarga besar yang rukun, pasangan-pasangan yang tampak saling mencintai, dan hubungan yang berjalan tanpa retakan.
Dan di tengah semua itu, Fania dan Ronald duduk berdampingan lebih dekat dari sebelumnya. Namun hanya untuk dilihat. Fania menjaga posturnya tetap anggun. Senyum tipis tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.
Setiap kali seseorang menyapanya, ia merespons dengan sopan, memberikan jawaban yang cukup, tertawa kecil di waktu yang tepat. Semua terasa otomatis, seperti gerakan yang sudah dihafal di luar kepala.
Di sampingnya, Ronald tidak jauh berbeda. Pria itu tampak tenang dan terkontrol. Ia berbicara seperlunya, menimpali percakapan dengan nada yang stabil.
Sesekali, tanpa banyak gerakan, matanya melirik ke arah Fania singkat, hampir tak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tetap sadar akan keberadaan wanita itu di sampingnya. Sempurna, terlalu sempurna seolah tak ada yang pernah berubah.
“Lihat, mereka masih tampak mesra” bisik salah satu kerabat dengan nada kagum, cukup pelan untuk terdengar sebagai rahasia kecil, namun cukup jelas untuk sampai ke telinga yang dituju.
Fania mendengarnya dan tanpa sadar senyumnya sedikit menegang. Hanya sepersekian detik, namun ia cepat mengendalikannya kembali, mengembalikan ekspresi itu ke bentuk semula. Tidak ada yang boleh melihat celah sekecil apa pun.
Ronald menangkap perubahan itu, sangat halus hampir tak terlihat. Namun ia tahu. Tangannya bergerak perlahan di atas meja. Tanpa tergesa, tanpa menarik perhatian, ia menyentuh punggung tangan Fania. Singkat dan begitu ringan, namun cukup untuk terlihat oleh orang lain.
Fania sedikit terkejut. Refleks tubuhnya hampir menarik diri, namun ia menahannya. Ia hanya melirik sekilas ke arah Ronald. Pria itu tetap menatap lurus ke depan, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah sentuhan itu bukan apa-apa. Namun bagi Fania, sentuhan itu masih terasa. Hangat.
Dan anehnya familiar. Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia kembali menghadap ke depan, menegakkan bahunya, menjaga ekspresi. Menjaga peran yang harus ia mainkan.
Acara berlanjut dengan sesi foto keluarga. Semua orang berkumpul, saling memanggil, saling menarik agar masuk ke dalam frame. Tawa kembali pecah saat posisi diatur, saat ada yang bercanda, saat fotografer mencoba mengarahkan semua orang agar terlihat rapi.
Fania berdiri di samping Ronald, jarak mereka sangat dekat, lebih dekat dari yang seharusnya.
“Lebih mendekat, supaya terlihat akrab,” ujar fotografer dengan nada santai.
Ronald tidak banyak bicara. Tangannya terangkat, menarik bahu Fania sedikit mendekat. Gerakan itu terasa natural, terbiasa seperti sesuatu yang dulu sering ia lakukan tanpa berpikir.
Fania menegang sejenak namun tidak menolak. Tangannya secara refleks menyentuh sisi jas Ronald, jari-jarinya mencengkeram ringan, seolah mencari keseimbangan. Seperti dulu, seolah tubuhnya masih mengingat sesuatu yang pikirannya coba lupakan.
“Ya, senyum!” seru fotografer.
Klik.
Momen itu tertangkap, sebuah potret yang akan dilihat banyak orang sebagai gambaran kebahagiaan. Padahal di baliknya, ada jarak yang tak kasat mata.
Setelah sesi foto selesai, kerumunan mulai terpecah. Beberapa orang kembali ke meja, sebagian lain berpindah tempat, membentuk lingkaran-lingkaran kecil percakapan baru. Fania berjalan pelan menuju meja minuman. Langkahnya ringan, namun pikirannya tidak. Tangannya meraih segelas air.
Namun sebelum sempat menyentuhnya, seseorang sudah lebih dulu mengambil dan memberikannya. Ronald. Fania menatapnya sekilas.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Ronald hanya mengangguk kecil. “Hm.” Singkat, seperti biasa.
Namun entah kenapa, kali ini tidak sepenuhnya terasa dingin. Mereka berdiri berdampingan, tidak berbicara namun juga tidak menjauh. Rupanya beberapa pasang mata memperhatikan dari kejauhan.
“Mereka sangat cocok,” bisik seseorang lagi.
Kalimat itu kembali sampai ke telinga Fania. Dan kali ini, dadanya terasa sesak. Jika semua orang melihat mereka seperti itu lalu kenapa rasanya berbeda? Kenapa yang ia rasakan justru seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan? Kenapa ia tak merasakan bahagia bersama pria yang sudah tiga tahun hidup satu atap bersamanya.
Fania menunduk sedikit, menyeruput air di tangannya. Gerakan kecil itu menjadi cara untuk menyembunyikan apa yang bergejolak di dalam dirinya.
Di sisi lain, Ronald berdiri dengan tenang, namun pikirannya tidak setenang itu. Ia tahu semua ini hanyalah peran, sebuah penampilan dan ilusi yang mereka jaga bersama. Namun tubuhnya masih bereaksi seperti dulu saat berada dekat dengan Fania, terbiasa dan terikat.
Dan itu membuatnya lelah. Lelah karena tidak bisa sepenuhnya melepaskan, namun juga tidak bisa kembali seperti sebelumnya. Wanita yang ia cintai tak lagi mencintainya.
“Ronald.” Suara seseorang memanggil.
Ia menoleh, memberikan respon singkat, lalu berjalan menjauh, meninggalkan Fania untuk beberapa saat.
Fania kembali sendiri, seperti sebelumnya. Ia mengangkat pandangannya, menatap sekeliling. Matanya menangkap pasangan-pasangan lain yang tertawa lepas, yang saling menyentuh tanpa ragu, yang terlihat benar-benar hadir satu sama lain.
Bukan seperti dirinya yang hanya berpura-pura. Mau bagaimanapun ia tak bisa memaksakan hatinya yang mulai lelah dengan kebersamaannya bersama suaminya. nIa menghela napas pelan, menahan sesuatu yang terasa berat di dadanya.
“Fan.”
Ia menoleh. Chaerlina berdiri di sana, dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya ringan. Ya, tentu saja Chaerlina akan hadir, mengingat calon suami sahabatnya itu juga salah satu kerabat keluarga Andana.
“Kau terlihat lelah,” ujarnya.
Fania tersenyum. “Acara keluarga memang begitu.”
Chaerlina mengangguk pelan, namun matanya tidak melepaskan Fania. Semakin besar rasa penasarannya pada masalah yang tengah dihadapi sahabatnya. Namun ia berusaha untuk menahan dan tak ikut campur kecuali Fania yang mengutarakan semuanya sendiri.
“Bukan itu maksudku.”
Fania terdiam, ada jeda yang menggantung.
“Di depan orang kalian bagus,” lanjut Chaerlina pelan. “Tapi aku sangat mengenalmu.”
Fania menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.
“Aku baik,” jawabnya.
Jawaban yang sama, yang sudah terlalu sering ia gunakan.
Chaerlina menghela napas. “Livia sudah mengatakan tentang kesepakatanmu dan suamimu.”
Kalimat itu jatuh pelan, namun terasa tajam dan menusuk. Fania tidak membalas dan hanya diam, membiarkan kata-kata itu menggantung di antara mereka. Hingga Chaerlina melanjutkan.
“Awalnya aku berpikir, kalau Ronald mungkin saja selingkuh. Tapi saat aku membicarakan hal ini pada kekasihku, dia yakin Ronald bukan pria seperti itu. Ronald terlalu mencintaimu. Tapi mengingat kesepakatan diantara kalian, apa mungkin kau yang selingkuh, Fan?” tanyanya dengan nada sarkas.
Sontak hal itu mengundang tawa sinis Fania. “Apa aku terlihat seperti wanita haus belaian hingga kalian menuduh aku begitu?” sarkas Fania merasa tersinggung.
“Bukan maksudku begitu, tapi masalah kalian …” kalimat Chaerlina terputus oleh ujaran Fania.
“Tolong, biarkan aku selesaikan masalahku sendiri. Jangan khawatir, kami baik-baik saja dan tak ada pengkhianatan.” Tegas Fania dengan yakin.
NEXT …….