"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"
Anisa Rahmawati
Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
** Terimakasih banyak buat yang sudah menyempatkan diri mampir di cerita receh aku ini. aku senang banget view Everything About You naik drastis. Oh iya, aku juga lagi sedang menulis novelku "Gadis Satu Malam" jika ada yang belum baca, boleh deh mampir dan meninggalkan like disana 😁 Sekali lagi terimakasih banyak dan Love banyak-banyak buat kalian 💙 Tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan jika keluar rumah dan selamat membaca semuanya 😊🤗 **
Gadis kecil yang terlelap di dada Ibunya mulai terusik karena tangan jail sang Ayah. Dimas tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menoel pipi menggemaskan putrinya yang sedang terlelap. Zia menggeliat pelan lalu mata kecilnya mulai terbuka perlahan. Senyum manis dari gadis kecil itu terlihat di bibir mungilnya saat ayahnya mengecup pipi bulatnya.
"Ayah." Ucap Zia.
"Iya nak ini Ayah." Jawab Dimas pelan agar tidak mengganggu tidur lelap Anisa.
Anisa masih terlelap, entah sudah berapa puluh menit waktu yang terlewati, mereka masih berada di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah.
Zia sudah mengulurkan tangan mungilnya, meminta sang ayah memeluknya dan memaksa melepaskan diri dari pelukan ibunya, dan gerakan tubuh kecil itu membuat Anisa terjaga. Matanya megerjap perlahan, menghirup oksigen yang ada di dalam mobil sambil mengumpulkan kesadarannya.
" Kita sudah sampai ya ?." Ucap Anisa tidak enak, Lalu menyerahkan tubuh putrinya yang sudah mengulurkan tangan mungilnya ke arah Dimas. " Apa sudah dari tadi ? maaf Mas aku ketiduran." Ucapnya lagi.
"Baru saja sampai." Jawab Dimas berbohong. Mereka sudah menghabiskan waktu hampir satu jam di dalam mobil ini. Dimas meraih tubuh kecil putrinya lalu mulai menghujani ciuman di wajah Zia yang sedari tadi membuatnya gemas. Gadis kecil itu tertawa geli saat Dimas mencium tubuh kecilnya.
"ayo turun." Ajak Dimas. Dengan perlahan Dimas membuka pintu mobil disampingnya lalu keluar sambil membawa tubuh putrinya menuju rumah.
"Mas koper aku." Ucap Anisa sambil melihat ke arah bagasi mobil.
Dimas menhentikan langkahnya lalu melihat ke arah mantan istrinya yang masih berdiri di samping mobil.
"Biarkan saja dulu, aku akan mengambilnya nanti." jawab Dimas. Anisa mengangguk patuh lalu ikut masuk kedalam rumah.
"Tidur saja di kamarku Nis." Ucap Dimas saat mereka sudah berada di depan pintu kamar tamu tempat Anisa beristirahat siang tadi.
"Tapi..."
"Aku yang akan tidur di kamar tamu, kasihan Zia di sana masih banyak debu karena tidak ada yang menggunakan kamar itu." Ujar Dimas menyela. Dia tahu apa yang kini ada di fikiran Anisa. "Aku sudah membuang foto yang tidak ingin kamu lihat." Ucap Dimas lagi dengan lirih.
Anisa menatap Dimas, dia merasa tidak enak jika seperti ini. Sungguh dia tidak berniat menyakiti siapapun. Namun entah mengapa dia merasa tidak nyaman saat melihat foto pernikahan mereka masih menggantung disana. Pernikahan mereka sudah berakhir jadi tidak ada gunanya lagi foto itu masih ada disana.
"Maaf jika sudah menyinggungmu." Ucap Anisa tulus.
"Lupakan saja, ayo aku antar kalian ke kamar." Ajak Dimas dan Anisa mengangguk lalu mengikuti langkah Dimas menuju kamar yang ada di lantai dua rumah mewah ini.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk, keduanya tetap melangkahkan kaki menuju kamar Dimas. Menaiki satu persatu anak tangga menuju pintu kayu kamarnya. Dimas masuk lebih dulu lalu membawa putrinya ke atas ranjang besar miliknya. Kembali menghujani Zia dengan ciumannya. Ah sungguh ini adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Saat bersama dengan putri kecilnya ini, seakan waktu beralalu begitu saja.
Anisa masih berdiri di ambang pintu kamar, dia sedikit tidak nyaman dengan suasana di dalam kamar ini. Sungguh mereka tidak lagi memiliki hubungan hingga harus sedekat ini. Bahkan kini berada di dalam kamar yang sama. Sejak dulu mereka hanyalah orang asing yang terhubung dengan ikatan pernikahan dan kini kembali terhubung dengan gadis kecil yang sedang tersenyum geli saat mantan suaminya menghujani putrinya itu dengan ciuman di tubuh kecilnya yang terbaring di atas ranjang.
Anisa memilih berbalik meninggalkan kamar Dimas. Hatinya mulai runtuh, bagaimana bisa dia membawa Zia pergi saat gadis itu begitu nyaman bersama Dimas. Namun dia pun tidak lagi punya keinginan untuk menjadi dekat dengan mantan suaminya ini.
Dengan segelas air putih untuk membasahi tenggorokan juga mengurangi gejolak di dalam dada, Anisa memilih untuk duduk di kursi makan yang ada diasana. Fikirannya mulai menjelajah kehidupannya yang seakan kini mulai berbalik arah menuju masa lalu. Dimas hanya masa lalunya yang bersuaah payah ingin dia hapus namun kini dia mulai kembali melangkah ke arah laki-laki itu.
"Kenapa belum istirahat nak ?" Tanya Ibu Mirna saat mendapati Anisa kini termenung di dapur dengan segelas air putih yang ada di tangannya.
"Haus bu." Jawab Anisa singkat.
"Mau pulang kapan ke Bandung ?" Tanya Ibu Mirna.
"Rencananya besok bu, tapi nanti di lihat situasi. Mungkin mas Dimas masih ingin menghabiskan waktu bersama Zia, Nisa akan memberinya waktu itu sebelum kami kembali ke Manchester. " Jawab Anisa.
"Dimas berhutang banyak terimakasih pada Ayah karena sudah memberikan perempuan terbaik dalam hidupnya. Dia menyesali semuanya, dia menyesal karena melukaimu." Ujar Ibu Mirna kini sudah duduk di kursi di samping Anisa. Menatap mantan menantunya yang kini hanya menuduk dalam.
"Semua sudah berlalu bu, Nisa tidak lagi ingin mengingat hal-hal yang akan kembali membuka luka lama." Ujar Anisa.
"Jika Dimas memintamu kembali, apa kamu masih bersedia memberinya kesempatan ?" Tanya Ibu Mirna memberanikan diri. Dia tahu watak putranya, laki-laki itu pasti belum mengutarakannya. "Dia mencintaimu Nisa, namun takut mengutarakannya, takut semua yangbdia katakan akan membuatmu menjauh." sambung ibu Mirna.
Anisa menggeleng tegas.
"Nisa yakin Mas Dimas tidak akan meminta itu, Nisa tahu siapa yang sejak dulu dia inginkan untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya, dan itu bukan Nisa bu. Mungkin apa yang dia lakukan sekarang karena benar-benar merasa bersalah pada kami." Ujar Anisa.
Sungguh dia tidak ingin lagi terpengaruh hingga membuat hatinya semakin goyah. Meskipun sedikit sesak karena laki-laki yang namanya masih tercetak rapi di dalam hatinya tidak akan bisa dia miliki namun itu jauh lebih baik dari pada harus kembali memiliki hubungan namun wanita lain yang akan kembali memenangkannya. Mereka adalah orang asing, dan cinta Dimas sejak dulu memang bukan tertuju padanya.
"Dan jika dia meminta itu, apa kamu akan menolaknya nak ?" Tanya Ibu Mirna lagi.
Anisa terdiam, dia tidak lagi menjawab. Hatinya gamang namun tetap terus dia kuatkan agar tidak goyah.
"Kamu butuh berfikir, kamu tidak perlu khawatir ibu yang akan menjamin jika dia tidak akan lagi menyakitimu." Ujar Ibu Mirna yakin. Dia tahu putranya sangat mengharapakan agar bisa bersama Anisa, hanya saja kepercayaan diri Dimas yang selama ini tertanam dalam dirinya entah sudah pergi kemana.
Ibu Mirna beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari dapur. berniat untuk naik menuju kamar putranya, namun langkah kakinya terhenti saat mendapati putranya sedang berdiri tidak jauh dari pintu dapur sambil memegang koper.
Dimas menatap sedih pada sang ibu, dia mendengar dengan jelas semua pembicaraan ibunya dengan Anisa tadi.
"Bu, jangan membuatnya tidak nyaman berada disini, sudah mengizinkan kita melihat Zia itu jauh lebih dari cukup bu. Jangan memaksanya jika dia tidak ingin kembali." Ucap Dimas pelan. Berharap wanita yang ada di dalam sana tidak bisa mendengar kalimatnya.
"Ibu tidak memaksanya, namun memberinya waktu untuk berfikir. Ini juga demi Zia, cucu ibu itu akan lebih bahagia jika memiliki orang tua yang utuh nak. Kalian tidak harus menikah sekarang, namun bisa saling mengenal dulu. Ibu tidak ingin kesalahan yang di lakukan ayahmu dulu akan kembali terulang. " Jawab Ibu Mirna. Dia mengerti kekhawatiran Dimas.
Dimas terdiam, kini tatapannya sudah mengarah pada wanita yang kini berdiri di belakang ibunya. Wanita yang sudah empat tahun ini memenuhi hati dan fikirannya ini juga sedang menatap kerahnya.
Ibu Mirna menyadari mantan menantunya sudah berada di ruangan tempatnya berdiri. Dengan langkah pelan dia meninggalkan Dimas dan Anisa yang masih berdiri mematung disana.