Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Taman kota
Amel memegang pundak Revan lalu melangkah turun dari boncengan itu.
"Wah ternyata di tempat ini kalau sore ramai ya?!" Mata indah Amel berbinar cerah saat melihat penampakan pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka ragam makanan itu.
"Ya emang kayak gini sih penampakan taman kota kalau sore! Emang kamu nggak pernah main kesini, Ney?" tanya Revan sambil menggandeng tangan Amel dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Aku mana pernah kelayapan ke tempat kayak gini! Sasi sukanya main ke mall, ke tempat kayak ginian dia anti pati!"
"Asyik lagi, apalagi kalau lagi suntuk!"
"Dih, suntuk mah enaknya molor di rumah, kalau ngelayap ke tempat kayak beginian tambah suntuk!"
"Apalagi sambil main kelereng ya, Ney?" Revan tertawa lebar.
"Revan ih! Yang diomongin cuman main kelereng doang!" omel Amel sambil cemberut.
"Habis enak banget sih, Ney!"
Setelah mengatakan hal itu Revan kabur untuk memesan cilok. "Dua, Bang! Jangan pedes-pedes!"
"Siap, Mas!" Si abang langsung meracikkan pesanan Revan.
"Berapa, Bang?" tanya Revan sembari menerima ciloknya.
"Dua puluh ribu, Bang!"
Revan menyerahkan pembayaran, uang pas dan tanpa kembalian. Sekalian sebelum kembali ke Amel, Revan membeli air mineral untuk mereka berdua, belinya satu botol buat berdua biar mereka semakin terlihat romantis.
"Cobain deh, Ney! Cilok si abang ini paling enak di seantero taman kota ini!" Revan menyerahkan plastik berisi cilok itu kepada Amel.
Amel terkekeh mendengar pujian suaminya kepada abang cilok itu.
"Berarti kamu suka nongkrong di sini? Sama siapa?" tanya Amel mulai menusuk cilok dalam plastik itu memakai tusuk sate yang dikasih sama abang penjualnya.
"Kalau suntuk tuh enaknya nongkrong sendiri, nggak usah bawa temen apalagi gebetan, dunia semakin ruwet kalau mereka ada!" jawab Revan santai.
Amel mengangguk paham dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya itu. Memang terkadang kalau pikiran lagi suntuk tuh enaknya menyendiri dan menjauh sementara dari keriuhan dunia.
"Tapi ini emang beneran enak sih, beda sama abang-abang yang lain!" Amel mengangguk setuju dengan pendapat Revan tentang cilok yang mereka makan itu.
"Apalagi kalau kamu makan ciloknya suami tuh si ibu gendut yang tadi ngelabrak kamu! Mau ngecium baunya aja pasti langsung mual!" ucap Revan sambil membuang plastik pembungkus cilok yang isinya sudah pindah ke perut Revan itu.
Amel sampai melotot mendengar suaminya kembali mencaci maki suami tetangganya yang tadi pagi datang ke rumah mereka dan menuduh mereka kumpul kebo.
Amel baru tahu ternyata selihai itu suaminya meroasting seseorang yang dia benci.
"Jangan suka ngehina kayak gitu ah, nanti kalau aku hamil bisa-bisa mukanya mirip si ibu gendut itu atau malah mirip suaminya!" tegur Amel.
Revan menatap Amel tak setuju."Gue yang bercocok tanam kenapa anak gue didoain jadi mirip mereka?!"
"Kata orang tua sih gitu, jangan terlalu membenci seseorang takutnya kita jadi kayak mereka!" jawab Amel.
"Nggak paham aku!" Revan menggeleng sambil membuka tutup botol air mineral itu dan menyerahkan kepada Amel.
Keduanya masih asyik berbincang sampai telinga mereka mendengar perdebatan sengit dari dua orang pria yang duduk di sebelahnya.
"Gue yang kenal lebih dulu sama Lula, lo tuh orang belakangan, janganlah sesama pemakai saling menyerobot gitu!" tegur laki-laki yang bernama Sandi itu.
"Lo emang yang lebih kenal duluan, bahkan lo juga yang udah memisahkan Lula sama Revan, tapi yang namanya rasa kan boleh berpindah dari satu cowok ke cowok lain. Lula udah bosen sama lo, better sih nggak usah lo kejar-kejar lagi!" laki-laki yang satunya memperingatkan pria bernama Sandi itu.
"Bangsad! Ditegur malah nyeramahin!" ketus Sandi tak terima.
"Sabar deh, nanti kalau gue udah bosen gue balikin sama lo lagi!"
Habis mengatakan hal itu laki-laki tersebut meninggalkan Sandi yang masih memakinya dengan sejuta sumpah serapah.
Amel melirik Revan yang memainkan tutup botol di tangannya dengan santai. Tak ada rasa apapun yang ada di hatinya saat Revan mendengar namanya di sebut oleh kedua laki-laki itu.
"Be..." Amel menggenggam tangan Revan lembut.
Revan menoleh dan menatap Amel dengan lembut. Dia tersenyum dan membalas genggaman itu dengan tak kalah lembutnya.
"Aku nggak papa, bersyukur banget aku nggak kejeblos dalam ke goblokan yang hakiki karena mencintai perempuan itu. Terima kasih banget sama Tuhan aku malah diketemukan sama perempuan secantik, sebaik dan sehebat kamu!"
Amel tersenyum mendengar gombalan receh yang sialnya selalu bisa melambungkan segala harapannya.
"Masih mau disini atau mau muter-muter, Ney?" tanya Revan.
"Bentar aku mau nyobain tahu bulat dulu, Be!" Amel berdiri lalu menghampiri pedagang tahu bulat yang sedang dikerubuti pembeli itu.
"Bang, tahu bulatnya dong!" pinta Amel sopan.
"Mau yang lima ribu apa yang sepuluh ribu, Neng?" tanya si abang sambil menyiapkan kertas pembungkus bekas yang disobek dari buku pelajaran tak terpakai itu.
"Sepuluh ribu dapet berapa, Bang?" tanya Amel karena Amel memang belum pernah beli jajanan itu sebelumnya.
"Sepuluh biji, Neng!" jawab si Abang ramah.
"Ya udah sepuluh biji aja, Bang!"
"Pedes, sedeng atau nggak pedes?" tanya si abang lagi.
"Sedeng aja!"
Si abang menuangkan bumbu dan bubuk cabe itu ke dalam kantong tahu bulat tersebut lalu menyerahkan kepada Amel.
Amel membayarnya lalu berbalik ke arah suaminya menunggu. Amel terkejut saat melihat suaminya sedang berdebat dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Dengan tergesa Amel mendekat dan mendengar topik yang mereka perdebatkan itu.
"Kamu ngikutin Lula sampai sini kan? Ngaku aja nggak usah bohong!" tuduh Sandi sambil menuduh Revan dan menunjuk-nunjuk muka Revan.
"Nggak usah kegeeran, ngapain ngikutin dia? Kayak yang penting aja!" sahut Revan santai.
"Van, kamu masih sayang sama aku?" Lula berbinar-binar saat mengetahui Revan ternyata masih sepeduli itu terhadapnya.
"Sayang sama lo? Jangan ngimpi di siang bolong!" Revan terkekeh pelan mendengar Lula kepedeannya terlalu tinggi itu.
"Buktinya lo ngebuntutin gue sampai ke tempat ini!" ucap Lula sumringah.
"Udah gue bilangin gue kesini sama bini gue! Lagian gue nyampai di sini sebelum si bangsad ini sampai di sini!"
"Gue nggak percaya! Kalau lo masih cinta ama gue, kita bisa mulai lagi semuanya dari awal!" ajak Lula sambil memegang lengan Revan erat.
Revan menepiskan tangan Lula lalu mengelap lengannya yang tadi dipegang Lula dengan jaketnya.
Karena tak tahan juga akhirnya Amel mendekat. "Bebe, ada apa?" tanyanya.
Lula dan Sandi terperanjat saat melihat seorang perempuan mendekati mereka.
"Nggak ada apa-apa! Ayo kita pulang!" ajak Revan lalu menggandeng tangan Amel dan mereka pergi meninggalkan tempat itu.