Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kamu kenapa Intan...?
Akhirnya Intan menuruti apa kata Tantri untuk pulang dengan Dirga. Sedangkan Tantri pulang menggunakan sepeda motornya. Iya, tidak enak juga kalau Intan menolak ajakan Dirga, apa lagi Dirga bilang dia ingin bertemu dengan Arkan.
"Minggu ini Aldy nggak pulang, Intan...?'' tanya Dirga ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Intan.
"Nggak mas... mungkin bulan depannya lagi...'' jawab Intan sekilas menoleh ke arah Dirga kemudian kembali menatap lurus ke depan.
Dirga menghela nafas, entah apa yang dia pikirkan setelah mendengar jawaban Intan.
"Kok jawabannya mungkin sih...? Kayak nggak pasti gitu...?'' Dirga melirik Intan lalu kembali fokus mengemudi.
"Mas Aldy kan memang begitu mas, nanti kalau dia mau pulang baru ngabarin..." jawab Intan.
"Kamu nggak protes...?'' tanya Dirga.
"Protes kenapa ...?'' sahut Intan menoleh pada sang kakak ipar.
"Ya protes karena Aldy jarang pulang..." jawab Dirga.
"Ya...pernah sih, tapi kan mas Aldy nya yang nggak bisa...dia banyak kerjaan di sana..." jawab Intan.
"Kamu yang sabar ya Intan..." tiba- tiba Dirga mengusap lengan Intan.
"I...iya mas..." jawab Intan sedikit canggung.
Mereka berdua lalu saling diam beberapa saat sibuk dengan pikiran mereka masing- masing.
"Ehm... Mas...'' ucap Intan memecah keheningan di antara mereka.
"Iya..." jawab Dirga sambil menoleh sekilas pada Intan.
"Ehm... gimana kabar mbak Inggit...?" tanya Intan.
"Ya... Masih begitu aja...masih harus cek up ke dokter dua minggu sekali..." jawab Dirga sambil menatap lurus ke depan di mana di sana banyak kendaraan yang sedang melaju.
Intan kembali menoleh ke arah Dirga dan menatap wajahnya dari samping.
Iya, Intan bisa melihat dari ekspresi kakak iparnya itu ada kesedihan jika membahas soal mbak Inggit yang sakit- sakitan selama tiga tahun terakhir ini.
"Kenapa Intan...? Kamu lihatin mas seperti itu...?'' Dirga menoleh sekilas pada Intan lalu kembali menatap ke depan sambil tersenyum.
"Ehm...eng...enggak kok..." Intan merasa malu karena ketahuan sedang menatap kakak iparnya.
"Mas Dirga harus sabar ya, insya Alloh mbak Inggit pasti akan sembuh seperti sedia kala. Hanya butuh waktu saja..." ucap Intan.
Iya, Intan tahu mbak Inggit orang yang baik. Dengan Intan pun dia ramah. Inggit tidak pernah ikut- ikutan membenci Intan seperti umi Fatimah dan Wulan. Karena bagi Inggit, dia tidak perlu ikut campur urusan pribadi Intan.
Tentang masa lalu Intan yang dianggap sebagai pel*cur oleh ibu mertua dan adik iparnya pun , Inggit tidak mau ikut berkomentar karena itu merupakan ranah pribadi Intan.
"Sepertinya kita harus sama- sama menguatkan untuk sabar ya Intan. Kamu harus sabar menghadapi Aldy yang jarang pulang. Mas juga harus sabar mengurus istri yang sakit- sakitan..." ucap Dirga lagi- lagi sambil tersenyum.
"Iya mas..." Intan pun membalas senyuman sang kakak ipar.
Tak lama kemudian mobil Dirga sudah sampai di depan rumah Intan. Dirga pun mampir untuk bertemu dengan Arkan. Iya, sebagai pakde dari Arkan, Dirga memang cukup dekat dengannya. Apalagi Dirga tidak punya anak laki- laki, karena kedua anak hasil pernikahannya dengan Inggit semuanya perempuan.
Anak pertama sudah duduk di bangku SMA kelas dua, sedangkan anak ke dua SMP kelas tiga. Mereka sudah besar, jadi tidak ada lagi yang dimanja dan diperlakukan seperti anak kecil oleh Dirga. Oleh karena itu Dirga senang jika bertemu Arkan yang masih kecil dan bisa diajak main dan bercanda.
Melihat pak de nya datang Arkan terlihat senang. Dia antusias sekali berbincang mengenai banyak hal. Iya, tentu saja karena sang papa jarang pulang, Arkan cukup merasa kesepian dan rindu akan sosok papa. Maka dari itu Arkan akan senang jika bertemu dengan Dirga ataupun kakeknya. Arkan menganggap kedua orang tersebut sebagai pengganti papa jika sedang tidak ada rumah.
Setelah puas ngobrol dengan Arkan, Dirga pun pamit karena hari sudah menjelang waktu maghrib.
"Intan, mas pulang ya... Kamu baik- baik di rumah sama Arkan..." ucap Dirga sambil menatap wajah cantik Intan.
"Iya mas... Makasih ya udah mampir, udah ngajakin Arkan ngobrol. Arkan seneng banget kalau ada teman ngobrol..." sahut Intan sambil tersenyum.
Dirga mengangguk sambil membalas senyum Intan.
"Arkan... Pak de pamit ya... Oya ini buat Arkan..." Dirga memberikan uang pecahan seratus ribu rupiah sebanyak dua lembar.
"Makasih pak de..." Arkan nampak girang.
"Mas... Banyak banget ngasihnya..." ucap Intan merasa tidak enak karena setiap Dirga ketemu Arkan pasti selalu memberinya uang.
"Nggak papa, sebagian nanti ditabung, sebagian lagi buat jajan..." sahut Dirga sambil mengusap kepala Arkan.
"Iya pakde..." jawab Arkan.
"Mama... Arkan mau taruh uangnya di celengan ya..." ucap Intan.
"Iya sayang...." jawab Intan sambil tersenyum pada Arkan.
Arkan lalu lari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"Mas... Makasih ya..." ucap Intan.
"Makasih untuk apa lagi...?'' tanya Dirga lagi- lagi sambil menatap Intan.
"Untuk hari ini... Mas udah nganterin Intan pulang, ngajak Arkan ngobrol, dan ngasih uang juga. Makasih banyak ya..." jawab Intan.
Beberapa saat mereka saling menatap sambil tersenyum.
"Ya sama- sama Intan... Mas Pulang ya..." Dirga mengusap lengan Intan lalu dia berjalan menuju mobilnya yang di parkir di pinggir jalan depan rumah Intan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Bulan berikutnya Aldy pun pulang ke rumah. Iya, itu artinya dua bulan Aldy tidak bertemu dengan istri dan anaknya. Aldy bilang dia ditugaskan keluar kota selama dua minggu, jadi dia mengundur waktu kepulangannya.
Tapi walaupun begitu Aldy tetap menghubungi Intan dan Arkan lewat sambungan telpon untuk menjaga komunikasi.
"Mas... Kenapa sih, mas Aldy pulang di saat aku lagi datang bulan...? Mas Aldy sengaja ya , biar mas nggak harus menyentuhku...!'' Intan yang duduk di tempat tidur terlihat kesal begitu sang suami keluar dari kamar mandi dan mereka hendak tidur.
"Kamu ini ngomong apa sih Intan... Memangnya aku tahu kalau kamu lagi datang bulan..." sahut Aldy yang heran kenapa dia harus disalahkan.
Padahal menurut Aldy dia pulang ke rumah karena memang sudah waktunya untuk pulang.
"Halah sudahlah mas... Nggak usah pura- pura... Dikira aku nggak tahu apa, kalau mas Aldy beberapa bulan belakangan ini memang sengaja menghindariku..." sahut Intan masih dengan perasaan kesal dan jengkel.
"Menghindari kamu bagaimana...?'' Aldy lalu duduk di samping Intan.
"Apa mas Aldy nggak sadar kita sudah lima bulan lebih nggak melakukan hubungan suami istri. Mas Aldy lupa, kalau mas Aldy selalu saja menolak ketika aku meminta hakku sebagai istri dengan berbagai alasan. Capek lah, ini lah, itu lah..."jawab Intan dengan dada naik turun karena emosi.
"Kalau seperti ini terus, lama- lama aku nggak bisa percaya lagi sama kamu mas... Jangan- jangan kecurigaan aku selama ini benar, kalau kamu di luar sana punya selingkuhan... " sambung Intan langsung mengeluarkan unek- uneknya.
"Cepat katakan padaku mas, perempuan murahan mana yang sudah kamu ajak selingkuh...? Apa kamu kenal dia di tempat hiburan malam juga sama seperti ketika kamu bertemu denganku...?'' tanya Intan menatap lekat wajah sang suami.
"Intan...! Tutup mulut kamu...! Bisa- bisanya kamu bicara seperti itu sama suamimu sendiri...!'' Aldy tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Intan.
"Kenapa kamu marah mas...! Istri mana pun bakalan curiga kalau seorang suami tidak menyentuh istrinya selama berbulan- bulan...!'' sahut Intan tak mau kalah.
"Intan... Tanpa aku menjelaskan kenapa aku tidak menyentuhmu, harusnya kamu introspeksi diri...! Selama ini kamu selalu mencari gara- gara yang membuat kita akhirnya harus bertengkar kan...!'' jawab Aldy tidak kalah emosinya dari Intan.
Lalu Aldy menjelaskan pada Intan bahwa sikap Intan sendiri lah yang membuat mereka selalu bertengkar hingga urusan kebutuhan batin mereka terabaikan.
"Kamu lupa, kalau setiap aku pulang ke rumah, kamu selalu memancing emosiku. Kamu bertengkar dengan umi hingga umi sakit dan harus dirawat rumah sakit...'' ucap Aldy.
"Kamu juga mencurigaiku hingga akhirnya kita bertengkar. Bagaimana aku bisa menyentuhmu jika kamu sendiri membuat masalah terus- terusan. Yang ada mod ku juga hilang, Intan..." sambung Aldy.
"Aku capek Intan... Aku capek karena harus bertengkar terus sama kamu. Tolong deh, kalau aku pulang tuh jangan bikin masalah. Kamu menuntut hakmu sebagai istri, tapi di sisi lain, kamu kamu terus mencari masalah..."
Intan menggeleng- gelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Aldy. Karena bukannya dia meminta maaf, malah justru Aldy yang menyalahkannya sebagai biang pembuat masalah.
"Kok mas Aldy jadi menyalahkanku sih...? Yang capek itu seharusnya aku mas... ! Mas Aldy jarang pulang, setiap aku membutuhkanmu, kamu selalu tidak ada. Dan sekarang kamu menuduhku sebagai pembuat masalah...?'' sahut Intan sambil tersenyum sinis.
"Dengar ya mas...masalah yang terjadi di antara kita itu, penyebabnya kamu dan juga keluarga kamu mas...! Kalau keluarga kamu tidak memulainya lebih dulu, aku juga nggak akan bereaksi...!'' seru Intan.
"Stop Intan...! Jangan bawa- bawa nama keluargaku...!" bentak Aldy.
Setelah dibentak oleh Aldy, Intan langsung terdiam. Hanya air matanya yang kemudian turun membasahi kedua pipinya. Iya, Aldy memang begitu, dia paling tidak suka jika Intan menjelek- jelekkan keluarganya.
Melihat Intan menangis dalam diam, Aldy terlihat merasa bersalah dan menyesal telah membentaknya.
"Intan... Maaf...maafkan aku...aku nggak bermaksud..." Aldy meraih pundak Intan.
Namun dengan cepat Intan menepis tangan sang suami. Iya, Intan merasa tidak sudi disentuh oleh Aldy setelah dia membentaknya denga kasar.
"Jangan sentuh aku mas...!'' Intan segera bangun dari duduknya dan segera keluar dari kamar.
"Intan... Intan...tunggu..." Aldy mengejar Intan yang berjalan cepat menuju kamar Arkan.
"Intan... Aku minta maaf, aku ngaku salah, kamu mau ke mana... Ayo kita bicara baik- baik Intan, jangan seperti ini..." Aldy terus mengikuti Intan.
"Cukup mas...! Aku males ngomong sama kamu...! Kamu itu egois... ! Kamu bisanya hanya salah- salahin aku, tapi nggak pernah sadar dengan kesalahan sendiri...!" Intan lalu masuk ke kamar Arkan lalu menutup dan mengunci pintunya.
"Intan...buka pintunya..." Aldy mengetuk- ngetuk pintu kamar Arkan.
"Mah..." ucap Arkan yang ternyata belum tidur dan tentu saja mendengar pertengkaran kedua orang tuannya.
"Mama bertengkar ya sama papa..?" tanya Arkan sambil duduk di atas tempat tidur.
Intan yang masih berdiri di belakang pintu lalu menoleh ke arah sang putra lalu berjalan menghampirinya.
"Nggak sayang... Mama nggak bertengkar kok. Mama sama papa hanya beda pendapat saja. Maaf ya kalau Arkan kaget mendengar suara mama dan papa yang cukup keras tadi..." Intan mengusap kepala Arkan.
Arkan pun hanya terdiam sambil menatap sang mama yang matanya masih basah karena menangis.
"Tidur sayang... Sudah malam... Malam ini mama mau tidur sama Arkan, boleh ya..." ucap Intan lalu mengusap lengan Arkan.
Arkan pun mengangguk, lalu dia membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur. Walaupun kenyataannnya Arkan tidak bisa tidur karena terngiang- ngiang terus dengan suara pertengkaran kedua orang tuanya.
Ini bukan kali pertama Arkan mendengar mama dan papanya bertengkar. Dan biasanya sang papa yang tidur di kamarnya. Sedangkan kali ini gantian sang mama yang tidur dengannya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya Intan masih mendiamkan Aldy karena dia masih kesal atas kejadian tadi malam. Namun walaupun begitu, Intan tetap melakukan kewajibannya sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga. Intan tetap menyiapkan sarapan pagi dan makan bersama di meja makan.
Pukul sembilan siang, Dirga datang ke rumah Intan. Iya, rupanya Aldy yang mengundangnya agar sang kakak mengecek mobilnya yang sedikit bermasalah dan tidak enak digunakan.
Sebenarnya Aldy mau pergi bengkel sang kakak, tapi melihat Intan yang masih cemberut, akhirnya Aldy memilih sang kakak untuk datang ke rumah.
"Ini harus diperbaiki mesinnya, dan ada komponen yang harus diganti.Ini udah lama kan nggak diganti..." ucap Dirga setelah mengecek mesin mobil.
"Iya, nggak sempet soalnya... Kira- kira lama nggak pengerjaannya mas...? Besok bisa selesai nggak...?'' jawab Aldy.
"Ya nggak bisa cepat lah... Bisa seminggu bahkan lebih. Kamu ini punya mobil tapi nggak pinter merawatnya..." sahut Dirga. Aldy pun hanya nyengir saja.
Dirga lalu mencatat apa- apa saja yang harus diperbaiki dan apa saja yang harus diganti.
"Banyak banget sih mas...?" tanya Aldy.
"Ya banyaklah, kamu nggak rutin servis... Sekalinya ada kerusakan ya merembet ke mana- mana..." sahut Dirga.
Aldy menghela nafas.
"Papa... Ada telpon dari kakek..." ucap Arkan dari pintu ruang tamu.
"Sebentar ya mas..." Aldy lalu masuk ke dalam rumah untuk menerima telpon.
Dan tak lama kemudian Intan keluar membawakan kopi dan juga beberapa camilan untuk Aldy dan Dirga.
"Mas...kopinya..." Intan meletakan kopi dan camilan di atas meja di teras rumahnya.
"Intan..." ucap Dirga sambil menatap wajah adik iparnya.
"Iya mas..." jawab Intan.
"Kamu kenapa...? Kenapa mata kamu bengkak...? Kamu habis nangis...?'' Dirga menelisik wajah Intan.
"Ehm...ng...nggak kok mas..." Intan tergagap.
"Jangan bohong Intan... Ayo katakan sama mas, kamu kenapa...? Kamu pasti habis bertengkar ya sama Aldy...?" tanya Dirga yang yakin telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakan pada Intan dan Aldy.
"Mata kamu nggak bisa bohong Intan..." sambung Dirga terus menatap wajah sendu Intan.
"Mas udah ngomong sama kamu kan, kalau ada apa- apa, bicara sama mas... Mas siap mendengarkan semuanya Intan, jangan dipendam sendiri. Mas nggak mau kamu sakit..." ucap Dirga begitu mengkhawatirkan Intan.
Dirga
Bersambung...