NovelToon NovelToon
SCARLET MEMORIES

SCARLET MEMORIES

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muffin

“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”

Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.

Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.

Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.

Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.

Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Menemukanmu!

.......

.......

...🍓🍓🍓...

“Atas nama Diana Rosemary Falika?"

Diana menatap pria setengah baya yang berdiri di depannya dan mobil pick-up butut yang berhenti tepat di depan pagar rumah Mbok Sarmi.

“Ya. Betul, saya Diana," jawabnya ragu.

"Mau kirim kulkas, Mbak? Mau diturunkan sekalian?" Pria itu menunjuk ke bak belakang dengan jempolnya.

Diana melirik kardus besar yang masih bertengger di atas bak mobil. Ia menggeleng cepat. "Mas, saya nggak lagi pesan kulkas. Mas salah alamat mungkin?"

Pria itu menggeleng. "Alamatnya benar, Mbak. Disini tertera Mbak Diana menang undian dari kemasan minuman yang mbak kirimkan," sahut pria itu santai.

"Tapi saya beneran nggak pernah ikut undian apa pun," protes Diana bingung. Alisnya bertaut rapat. Membeli minuman kemasan saja jarang, apalagi sampai mengirimkan kupon undian.

"Nama Mbak Diana keluar sebagai pemenang undian elektronik wilayah Sumberwangi. Ini buktinya," desak petugas itu. Ia menyodorkan sebuah papan klip.

Diana menerima papan itu dengan tangan sedikit gemetar. Di sana tertera nama lengkapnya, alamat Mbok Sarmi, hingga nomor kartu identitasnya secara detail. Kop surat perusahaan minuman itu terlihat sangat resmi, lengkap dengan stempel hologram yang berkilau diterpa matahari.

“Tanda tangan di sini ya, Mbak. Biar teman saya segera turunkan barangnya, sudah ditunggu pengiriman lain soalnya," ucap pria itu lagi sambil menyodorkan pulpen.

Diana menatap kertas itu sekali lagi. Kepalanya pening. Logikanya berkata ini mustahil, tapi semua data di atas kertas itu adalah dirinya.

"Nduk, ada apa?" Mbok Sarmi muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan kain jariknya. Begitu melihat kulkas besar diturunkan, matanya membelalak. "Walah! Kulkas siapa ini?"

"Katanya aku menang undian, Mbok. Tapi aku nggak merasa ..."

"Rezeki itu jangan ditolak, Nduk! Mungkin ini rezekinya si galeo. Biar bisa simpan ASI-nya," sahut Mbok Sarmi cepat dengan wajah sumringah.

Tanpa sempat Diana memprotes lagi, kulkas itu sudah digotong masuk oleh petugas. Diana hanya bisa menghela napas panjang, membubuhkan tanda tangan dengan perasaan yang masih mengganjal

.

"Sudah ya, Bu. Sekali lagi, selamat ya!" Petugas itu langsung masuk kembali ke kabin mobil dan berlalu, menyisakan Diana yang masih berdiri terpaku di depan pintu.

"Sudah, jangan dipikir terus. Ayo cepat ke balai desa, nanti kita telat ikut penyuluhan!" ajak Mbok Sarmi sambil menarik lembut lengan Diana.

Disisi lain, di Balai Desa Sukojati, suasana sudah mulai riuh. Warga berkumpul mendengarkan penjelasan dari tim perusahaan.

Di meja depan aula, sebuah spanduk besar terbentang.

PENYULUHAN PROGRAM DISTRIBUSI HASIL PANEN PETANI

Di depan spanduk itu, Rangga berdiri dengan mikrofon di tangan. Kemeja putihnya sudah sedikit kusut karena panas dan banyak bergerak sejak pagi.

“Dengan adanya gudang logistik ini,” ujar Rangga lantang, berusaha mengalahkan riuh suara warga, “Bapak dan Ibu tidak perlu lagi menjual hasil panen melalui banyak perantara.”

Di sampingnya, Adit berdiri sambil sesekali mengklik remote kecil yang mengganti slide pada layar proyektor.

Slide berganti menampilkan bagan distribusi.

“Selama ini hasil panen dari desa harus melewati tengkulak, pengepul, baru sampai ke distributor besar,” lanjut Adit mengambil alih penjelasan. “Setiap rantai mengambil margin. Akhirnya yang paling kecil keuntungannya justru petani.”

Beberapa warga mulai mengangguk-angguk.

Seorang bapak berpeci dari barisan tengah mengangkat tangan.

“Mas, kalau gudang itu jadi, apa kami bisa langsung jual ke perusahaan?” tanyanya dengan suara cukup keras.

“Betul, Pak,” jawab Rangga cepat. “Itulah tujuan utama proyek ini. Gudang logistik akan menjadi pusat distribusi, jadi hasil panen dari desa bisa langsung masuk ke sistem kami.”

“Berarti nggak lewat tengkulak lagi?” sahut seorang ibu dari belakang.

Rangga tersenyum. “Bapak Ibu tetap bebas menjual ke siapa saja. Tapi kami menawarkan jalur yang lebih pendek dan harga yang lebih stabil.”

Tepuk tangan warga membahana memenuhi ruangan yang gerah itu. Harapan-harapan baru mulai tumbuh di wajah warga yang selama ini tercekik utang.

Suasana kian riuh saat panitia mulai membagikan konsumsi. Suara tawa, geseran kursi, dan obrolan antartetangga menyatu menjadi kebisingan yang memekakkan telinga. Di tengah hiruk-pikuk itu, Adit sedikit membungkuk, merapat ke arah Rangga sambil sesekali melirik jam tangannya.

"Ngga, Pak Tibra kemana ya? Lama amat dia pergi," bisik Adit dengan nada cemas yang tertahan.

Rangga, dengan wajah yang masih menampilkan senyum profesional ke arah warga, menjawab tanpa menoleh. "Udah, kita lakuin sebisa kita aja dulu," ucapnya tenang, meski sebenarnya ia juga mulai bertanya-tanya apa yang sedang dikerjakan bosnya itu di tengah desa antah-berantah ini.

Sementara yang dibicarakan justru sedang mendengus kesal. Tibra memacu mobilnya dengan napas memburu. Instruksi Lukman bergema di kepalanya: rumah paling ujung, mepet sawah. Jantungnya berdentum keras, antara takut dan rindu yang membuncah.

Begitu ia melihat sebuah hunian kecil di ujung gang, ia segera menginjak rem hingga ban mobilnya mencit nyaring, menciptakan kepulan debu yang menutupi pandangan.

Namun, yang ia dapati bukanlah sosok wanita yang ia cari.

“Sial!” Tibra mengumpat, memukul kemudi dengan keras. “Mana ada rumah reyot? Apa gue salah gang?”

Ia menatap sekeliling dengan frustrasi. Di depannya hanya ada aktivitas kuli angkut yang sibuk memasang kabel di sebuah tiang listrik yang miring. Tidak ada tanda-tanda Diana. Dengan geram, ia memutar balik kemudinya, merasa dipermainkan oleh firasatnya sendiri.

Tepat saat ia hampir sampai di balaidesa ia melihat dua orang berjalan di sisi jalan satu perempuan memghendong bayi.

Ia memelankan mobil nya, matanya menyipit begitu melihat lekuk tubuh yang sangat ia hafal dari cara berjalan dan tertawanya wanita itu.

Jelas itu diana.

“Itu .. diana”

SREEEETTTTT CIIITTTT!

Ia berhenti menyerong, memotong jalan mereka. Debu jalanan beterbangan hingga Diana harus menutupi wajah Galeo dengan ujung selendang.

"Walah, siapa toh ini? Nyetir kok nggak pakai aturan!" omel Mbok Sarmi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

Pintu mobil terbuka kasar. Seorang pria turun dengan napas yang memburu, kemejanya berantakan seperti orang yang habis berlari maraton.

"Di ..." suara pria itu parau, hampir hilang ditelan deru angin sore.

Diana membeku. Seluruh persendiannya mendadak lemas. "Tibra?" bisiknya, sangat lirih hingga nyaris tak terdengar.

"Aku cari kamu ke mana-mana, Di. Ternyata kamu di sini ..." Tibra melangkah mendekat, matanya merah menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rindu, marah, dan—lega.

"Jangan mendekat!" teriak Diana tiba-tiba. Ia mundur satu langkah besar, mendekap Galeo semakin erat ke dadanya. "Mau apa lagi lo?"

"Di, tolong ... kita harus bicara. Aku bisa jelasin semuanya."

"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi! Lo jahat, Bra! Lo ninggalin gue sendirian! Sekarang pergi! Gue nggak mau lihat muka lo lagi!" Diana mundur.

Galeo menangis di gendongannya, seolah ikut merasakan guncangan yang dirasakan ibunya.

"Aku nggak akan pergi sebelum kamu dengerin penjelasan aku, Di!" Tibra berusaha meraih lengan Diana, namun Diana menepisnya dengan kasar.

"Gue udah anggep lo mati, Bra! Pergi! Jangan ganggu hidup gue sama anak gue!"

Diana langsung berbalik, ia berlari setengah menyeret langkahnya menjauh dari jalan raya.

"Diana! Tunggu, Di!" teriak Tibra sambil mengejarnya.

Tepat saat itu, sebuah mobil HRV hitam milik Raka melambat. Alisnya bertaut tajam melihat pemandangan di depannya: seorang wanita yang ia kenal sedang berlari ketakutan, dikejar oleh pria yang seharusnya sedang memimpin penyuluhan di balai desa.

“Falika … kenapa dia lari ketakutan?”

Raka menekan klakson keras, lalu berhenti tepat di samping Diana. Ia menurunkan kaca mobil. “Ayo, masuk!” perintahnya tegas.

Diana menatap Tibra yang semakin mendekat, wajah pria itu penuh dengan keputusasaan. Tanpa pikir panjang, Diana membuka pintu mobil Raka dan menghambur masuk, mendekap Galeo erat-erat. Tibra sampai di samping mobil tepat saat Diana menutup pintu. Pria itu menggebrak-gebrak kaca jendela Raka dengan beringas.

“Di! Keluar! Please, kasih gue kesempatan!” raung Tibra.

Raka menatap Tibra dengan tatapan dingin melalui spion tengah. Tanpa keraguan, ia menginjak pedal gas sedalam mungkin. Mesin menderu garang, meninggalkan kepulan debu yang menyelimuti pria itu di tengah jalan yang gersang.

“Aaaaarrrghhh, brengsek!” umpat Tibra, suaranya pecah ditelan bising jalanan. Ia melampiaskan amarahnya dengan menendang kerikil sekencang mungkin ke arah mobil yang kian menjauh.

Namun, di ujung jalan yang sepi, seseorang tanpa sengaja melintas lalu mengangkat ponsel, membidik tepat ke arah kekacauan itu. Cekrek.

Layar benda itu masih menyala, menampilkan serangkaian foto yang baru saja terambil dengan sangat jelas.

“Wah, ini bakal jadi gosip panas nih,” gumamnya sambil menyeringai puas.

...Halo semuanya! Lama tak jumpa ya. Bagaimana kabarnya? Pasti lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan hari raya, nih. 🍓🍓🍓...

...Sekalian aku mau kasih tahu, sepertinya aku akan sedikit melambat untuk update cerita karena sudah mendekati momen Lebaran. Jadi, mohon bersabar dan stay tuned terus, ya! ...

...Maaf banget kalau belum bisa kasih banyak bab baru sekaligus, tapi aku usahakan cicil pelan-pelan supaya nanti bisa langsung kalian nikmati....

...Selamat menjalankan ibadah puasa terakhir bagi yang merayakan! Untuk teman-teman yang akan mudik, hati-hati di jalan ya, semoga selamat sampai tujuan....

...Sampai ketemu lagi setelah Lebaran! See you!...

1
Lisa Halik
ada sambungan ke cerita ini thor...tergantung
Lisa Halik
cerita tergantung....
Lisa Halik
cerita tergantung..huhuhuhu
Lisa Halik
cerita tergantung
Lisa Halik
kapan lagi mau di update ni cerita...huhuhh..sampai lupa jln ceritanya
Santai Dyah
hadir kk wah akan ada konflik besar nih karena vdi perjodohan itu
Lisa Halik
😍😍
Lisa Halik
dalam seminggu 2 kali thor update....selamat hari raya aidil fitri..maaf zahir&batin
Mak Lis
update hari Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu ✌🏼☺️
Dini Anggraini
Saya tim raka dan diana kak karena tibra selama ini pengecut ke mana saat diana muntah, mual dan hamil sampai diana dan anak kandungnya galeo di hina orang2 dia lebih pentingkan perusahaan ayahnya daripada ajak diana pacarnya yang dia hamili saat itu ke rumah ayahnya juga. greget banget sama tibra kak 😡😡😍😍
Mak Lis
pak kades pas shock dg pengakuan Diana
Mak Lis
semoga Jenar tidak melakukan tindakan yg membayangkan Diana.. tapi kayaknya mustahil..tongkrongan kayak Jenar biasanya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yg diinginkan, apalagi dg dukungan kekuasaan pak camat
Ilfa Yarni
klo up date ga bisa tiap hari 3 kali seminggu ga papa akhirnya diana kasih tau siapa pria yg mengejarnya gmn tanggapan raka ya
Oma Gavin
good diana lari yang jauh jgn sampai diketemukan tibra lagi pokok nya kamu jgn mau balikan sama tibra kehidupan tibra sudah ruwet dari asalnya jadi ngga usah kamu ikutan diajak ruwet
Mak Lis
wadduh..kok ada paparazi..apa coba maksudnya.. kalo tau anak pak camat bisa ngreog karena cintan tak terbalas..dan keselamatan Diana bisa terancam
☠️⃝🖌️M⃤ Muppin🍓: Bahaya sih tapi kan diana punya raka hihi aman lah
total 1 replies
Mak Lis
pak kades jadi pahlawan tak bertopeng, datang di waktu yg tepat tanpa sengaja..
Mak Lis
oalah..kirain yg datang Tibra, ternyata kurir ngirim kulkas.. pak kades ada aja akalnya..😊🤭
GiZaNyA
yang ambil foto pasti tetangga julid.... 🤣🤣
GiZaNyA: nahhh bener ituuu... 🤣🤣
total 2 replies
Lisa Halik
sudah bagi gift thor...kapan2 double up arr thor
Lisa Halik: sama2
total 2 replies
Lisa Halik
diana bodoh tak dengar penjelasan tibra..huhuhu....di lanjut nanti yaa...salam lebaran juga utk author&sahabat semua
Lisa Halik: hahaha
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!