"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Arga
Dua hari kemudian, dokter akhirnya mengizinkan Freya pulang dengan syarat bedrest total selama satu minggu ke depan. Arga tidak membiarkan kaki Freya menyentuh lantai rumah sakit sedikit pun; ia menggendong istrinya dengan protektif hingga ke dalam mobil, mengabaikan tatapan orang-orang di lobi.
Sesampainya di rumah, suasana terasa berbeda. Kamar yang dulunya terasa dingin dan penuh sekat, kini dipenuhi dengan aroma bunga segar dan perlengkapan kesehatan yang disiapkan Arga.
Sesuai janjinya, Arga berdiri di depan ruang rapat komite sekolah. Ia tidak datang sebagai siswa biasa, melainkan sebagai seorang suami dan calon ayah yang murka. Di sampingnya, Raiden berdiri dengan setelan jas gelap, memancarkan aura intimidasi yang membuat para pengurus sekolah tertunduk lesu.
"Jadi," suara Arga memecah keheningan ruangan. "Keputusannya adalah skorsing dua minggu untuk Alice? Hanya karena orang tuanya adalah donatur terbesar gedung olahraga?"
Kepala sekolah berdehem gugup. "Arga, kita harus melihat rekam jejak. Alice adalah siswi berprestasi—"
"Prestasi tidak bisa mencuci tangan yang kotor karena percobaan pembunuhan," potong Raiden dingin. Ia meletakkan sebuah map hitam di meja. "Ini adalah bukti transfer 'donasi' ayah Alice ke rekening pribadi Anda dua hari lalu. Dan ini adalah surat tuntutan pidana yang sudah kami daftarkan ke kepolisian pagi ini."
Wajah kepala sekolah memucat.
Arga maju selangkah, menatap tajam ke arah Alice yang duduk di pojok ruangan bersama pengacaranya. "Alice, kamu pikir uang bisa membereskan segalanya? Kamu salah alamat. Mulai hari ini, namamu masuk dalam daftar hitam seluruh sekolah di kota ini. Dan untuk komite..." Arga beralih ke para petinggi sekolah. "Pilihannya dua: keluarkan dia secara tidak hormat, atau keluarga saya menarik seluruh investasi dan menuntut sekolah ini atas kelalaian prosedur keamanan."
Satu jam kemudian, Arga keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan. Alice menangis histeris di dalam, menyadari bahwa dunianya yang selama ini ia bangun dengan kesombongan telah runtuh seketika.
Arga sampai di rumah saat matahari mulai terbenam. Ia langsung menuju kamar utama. Di sana, Freya sedang bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku, wajahnya sudah mulai merona kembali.
"Sudah selesai?" tanya Freya lembut saat melihat Arga masuk.
Arga melepas dasinya, mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Freya, menghirup aroma vanila yang menenangkan. "Sudah, Re. Semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi yang mengganggumu di sekolah."
Freya mengusap rambut Arga. "Kamu nggak melakukan hal yang berbahaya, kan?"
"Hanya memberi mereka cermin untuk melihat betapa buruknya perbuatan mereka," jawab Arga tulus. Ia mendongak, menatap mata Freya. "Besok aku mulai ikut kelas tambahan supaya bisa lulus lebih cepat. Aku mau fokus mengurus bisnis Papa dan... fokus menjagamu."
Freya tersenyum kecil, sebuah senyuman yang kali ini benar-benar mencapai matanya. "Arga, terima kasih ya."
"Jangan berterima kasih," Arga mengecup telapak tangan Freya. "Ini utang nyawaku padamu dan anak kita."
Tiba-tiba, Freya meringis sedikit, memegang perutnya. Arga langsung panik. "Kenapa? Ada yang sakit? Perlu ke dokter?"
Freya tertawa pelan, air mata haru menggenang. "Nggak, Arga... dia bergerak. Sepertinya dia tahu papanya sudah pulang."
Arga terpaku. Dengan gemetar, ia menempelkan telapak tangannya ke perut Freya. Di sana, ada denyut kecil, sebuah sapaan dari kehidupan baru yang hampir saja hilang. Untuk pertama kalinya, Arga menangis—bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap.
Berita mengenai insiden di toilet dan keterlibatan keluarga besar Arga menyebar seperti api di padang rumput kering. SMA Pelita Bangsa yang biasanya hanya diramaikan oleh gosip remaja, kini mencekam oleh desas-desus kelas berat.
Koridor Sekolah: Bisik-Bisik yang Berubah Arah
Pagi itu, Arga melangkah masuk ke gerbang sekolah. Penampilannya tidak lagi urakan; kemejanya rapi, tatapannya tajam, dan auranya begitu mengintimidasi hingga kerumunan siswa di koridor otomatis terbelah memberi jalan.
"Gue denger Alice beneran dikeluarin hari ini. Suratnya langsung dari yayasan," bisik seorang siswi di balik loker.
"Bukan cuma dikeluarin, bokapnya kabarnya juga kena kasus korupsi yang tiba-tiba mencuat. Kayaknya keluarga Arga bener-bener 'ngerain' mereka," sahut temannya dengan suara gemetar.
"Tapi yang paling gila... soal Freya. Jadi bener mereka udah nikah? Dan Freya... hamil?"
Langkah kaki Arga terhenti tepat di depan sekumpulan siswa yang sedang bergosip itu. Suasana seketika hening, bahkan suara napas pun seolah tertahan. Arga menoleh perlahan, menatap mereka satu per satu.
"Kalau kalian punya pertanyaan soal istri gue, tanya langsung ke gue. Jangan di belakang," suara Arga rendah namun bergema di koridor yang sunyi itu.
Siswa-siswa itu menunduk dalam, tidak berani menatap mata Arga. "Ma-maaf, Ga..."
"Satu hal lagi," Arga mendekat, suaranya kini lebih dingin. "Siapa pun yang gue denger nyebut nama Freya dengan nada merendahkan, atau bikin rumor sampah soal kehamilannya... kalian bakal berurusan sama pengacara keluarga gue. Paham?"
Anggukan serentak menjadi jawaban mereka. Arga berlalu tanpa kata lagi, meninggalkan ketakutan yang nyata di sana.
Di sudut kantin, Danu duduk bersama beberapa teman sekelas mereka. Meja yang biasanya penuh tawa itu kini terasa berat.
"Gue nggak nyangka Arga bisa se-nekad itu demi Freya," ujar salah satu teman mereka, Rian. "Dulu kan dia kayak nggak peduli banget, malah sering ninggalin Freya sendirian."
Danu menyesap minumannya, lalu menatap Rian dengan serius. "Manusia bisa berubah saat dia hampir kehilangan sesuatu yang paling berharga, Yan. Arga yang sekarang bukan lagi cowok egois yang cuma mikirin balapan. Dia punya tanggung jawab besar."
"Tapi apa nggak sayang? Karir basketnya, masa depannya..."
"Masa depannya itu Freya dan anaknya," potong Danu tegas. "Dan jujur, gue lebih hormat sama Arga yang sekarang. Dia berani pasang badan buat istrinya di depan komite kemarin. Dia nggak malu ngakuin kalau dia udah nikah, meskipun risikonya dia bakal jadi bahan omongan satu sekolah."
Tiba-tiba, Dirly muncul di ambang pintu kantin. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kuyu. Kakak dari Alice itu berjalan menuju meja Danu.
"Mana Arga?" tanya Dirly singkat.
"Lagi di ruang kepala sekolah, urus dokumen Freya," jawab Danu waspada. "Kenapa? Mau belain adek lo lagi?"
Dirly menggeleng lesu. Ia duduk di kursi kosong, menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Gue ke sini bukan buat berantem. Gue cuma mau titip pesan buat Freya melalui Arga. Gue... gue malu atas apa yang dilakuin Alice. Gue gagal jadi kakak."
Ruang Kepala Sekolah: Deklarasi Arga
Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, Arga duduk dengan tenang di hadapan Kepala Sekolah. Di atas meja, tertumpuk dokumen cuti akademik untuk Freya.
"Kami mengizinkan Freya untuk mengambil ujian secara mandiri dari rumah, Arga. Mengingat kondisinya dan... tekanan sosial yang mungkin ia terima di sini," ujar Kepala Sekolah dengan nada hati-hati.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya ingin meluruskan satu hal," Arga menyandarkan punggungnya. "Saya tidak ingin Freya merasa seperti orang yang bersembunyi. Dia tidak melakukan kesalahan. Kami menikah secara sah, dan anak yang dia kandung adalah berkah bagi saya."
Arga berdiri, merapikan jas almamaternya. "Jadi, kalau ada guru atau staf yang ikut-ikutan menyudutkan dia, saya tidak akan segan untuk bertindak melalui jalur hukum seperti yang saya lakukan pada keluarga Alice."
Kepala Sekolah hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sadar, Arga yang ada di depannya bukan lagi siswa yang bisa ia gertak dengan poin pelanggaran.
Sore Hari: Pulang ke 'Rumah'
Arga kembali ke rumah dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia menemukan Freya sedang duduk di balkon, memandang taman kecil mereka.
"Gimana di sekolah?" tanya Freya saat Arga memeluknya dari belakang.
Arga mencium puncak kepala Freya, menghirup aroma ketenangan yang hanya bisa ia dapatkan dari istrinya itu. "Biasa aja. Cuma sedikit 'bersih-bersih' hama."
Freya berbalik, menatap mata Arga yang tampak lelah. "Mereka... mereka bicarain aku, ya?"
Arga terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis sambil mengusap pipi Freya. "Biarkan mereka bicara, Re. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Yang penting bagi aku sekarang cuma satu, kamu sehat, anak kita kuat, dan kita tetep bareng-bareng. Besok-besok, kalau mereka masih berisik, aku bakal beli sekolah itu sekalian biar mereka diem."
Freya tertawa kecil mendengar nada posesif nan sombong khas Arga yang kembali muncul. "Dasar Arga. Jangan aneh-aneh."
"Aku serius," bisik Arga, kini suaranya melembut. Ia berlutut di depan Freya, menaruh kepalanya di pangkuan istrinya. "Aku nggak butuh dunia yang bangga sama aku, Re. Aku cuma butuh kamu yang bangga punya suami kayak aku."
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga