"Awas ya kamu! Kalau aku udah gede nanti, aku bikin kamu melongo sampai iler kamu netes!" teriak Mita.
" Hee… najisss! Ihh! Huekk" Max pura-pura muntah sambil pegang perut.
Maxwel dan Mita adalah musuh bebuyutan dari kecil sayangnya mereka tetangga depan rumah, hal itu membuat mereka sering ribut hampir tiap hari sampai Koh Tion dan Mak Leha capek melerai pertengkaran anak mereka.
Saat ini Maxwel tengah menyelesaikan studi S2 di Singapura. Sementara Mita kini telah menjadi guru di sma 01 Jati Miring, setelah hampir 15 tahun tidak pernah bertemu. Tiba-tiba mereka di pertemukan kembali.
Perlahan hal kecil dalam hidup mereka kembali bertaut, apakah mereka akan kembali menjadi musuh bebuyutan yang selalu ribut seperti masa kecil? Atau justru hidup mereka akan berisi kisah romansa dan komedi yang membawa Max dan Mita ke arah yang lebih manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juyuya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 jam yang lalu
Brummm…
10 jam yang lalu
suara mobil hitam meraung seperti sedang dikejar ajal. Kecepatannya gila terlalu gila untuk jalan kampung yang biasanya cuma dilewati ibu-ibu naik motor matic sambil bawa sayur.
Mita dan kedua siswinya, Nia dan Arim, masih asik bercanda.
Sampai—
"Bu mita awasss!!" teriak Nia tiba-tiba, matanya membesar melihat siluet mobil yang melaju seperti peluru.
Refleks, tangan Nia berusaha menarik lengan Mita, tapi tubuh Arim yang ada di tengah menghalangi. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.
"Hah… kenap—"
BARAAKKK!!
Benturan keras menggema. Tubuh Mita terpental beberapa meter sebelum jatuh menghantam aspal kasar.
"BU MITAAAA!!" jerit dua siswi itu bersamaan, suara mereka pecah, histeris, bergetar.
Mobil itu tidak berhenti.
"WOIII!! ANJIRRR JANGAN LARI WOOIII!!!"
Nia berteriak sampai suaranya serak, tapi mobil hitam itu makin jauh, makin kecil, sampai nyaris hilang di tikungan.
Arim sudah berlari duluan ke arah guru mereka.
Mita terkapar di tengah jalan, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah. Darah merembes dari sudut bibir, mengalir tipis di dagu. Tangannya lecet parah, kulitnya terkelupas. Sepatu pantofelnya terlempar ke samping, kaos kakinya sobek hingga menganga.
"Ibuu!!"
Arim lututnya gemetar saat memegangi bahu Mita.
"Rim, gimana ni?!" Nia panik, hampir menangis.
"A-aku juga nggak tau!! Ya Allah, gimana ini Niaaa!!"
"Astaghfirullahhh!! Ada apa inii!!!"
Seorang lelaki turun dari motor yang baru berhenti beberapa meter dari mereka.
"Pak Hermannn!!" jerit Arim lega.
Wajah Herman langsung pucat melihat Mita.
"Ya Allah, Mita… astaghfirullahh!"
"Iya pak! Tolong bawa ibu Mita ke rumah sakit!!" ujar Nia hampir memohon.
Herman mengeluarkan ponselnya, tangannya bergetar.
"Ba-baik! Bapak telpon ambulan dulu!"
TIIINNNN!!
Sebuah mobil hitam mengkilat berhenti tepat di depan kerumunan. Suara klaksonnya tajam, tergesa-gesa.
"Pak! Gak ada waktu nunggu ambulan dari kota! Kelamaan!"
Arim menunjuk mobil itu "Mending kita minta tolong mobil itu!!"
"Biar aku yang minta bantuan!!" Nia sudah berlari kecil ke arah mobil.
Di dalam mobil, seorang lelaki memandang jam tangannya dengan kesal. Tangannya sibuk balas chat dengan wajah sedikit frustasi.
"Haduhhh… apalagi itu di tengah jalan…" gumamnya.
"Gak bisa apa minggir dulu? Ini malah rame-rame kayak lagi kerja kelompok…"
Tuk tuk…
Nia mengetuk kaca mobil, hampir putus asa.
Kaca perlahan turun.
Max menatap gadis SMA itu dengan alis naik. "Ada apa?"
"Bang! Tolongin kami! Ada tabrak lari! Guru saya ditabrak bang… tolong bangg plisss!!" suara Nia pecah.
"Kalau nunggu ambulan dari kota… kelamaan bang. Bu Mita butuh pertolongan sekarang!!"
"Guru?"
"Iya bang, guru saya—"
"…Siapa namanya?"
"Bu Mita!"
Max spontan mencondongkan tubuh ke depan, matanya melebar seketika.
"Apa!!! MITA??!!"
"I-iyaa pak!! Eh, bangg!!"
Max tak menunggu satu detik pun.
Dia membuka pintu mobil secepat kilat dan langsung berlari ke arah kerumunan, napasnya memburu, wajahnya panik tak karuan.
"MITAA!!"
Tanpa aba-aba, Max langsung meraih tubuh Mita, tanpa pikir panjang, tanpa ragu. Dia menggendong Mita dan berlari menuju mobilnya. Nafasnya terengah, tapi genggamannya tidak goyah sedikit pun.
"Bang, hati-hati ya… tolong bu Mita…" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca.
"Nia, Arim! Kalian lanjut ke sekolah. Biar Bapak ikut bantu bawa bu Mita ke rumah sakit!" titah Herman tegas.
Kedua siswi itu mengangguk cepat walau muka mereka masih shock.
"Nanti kabarin kami ya pak, gimana kondisi bu Mita selanjutnya…" pinta Arim parau.
"Iya, Bapak kabarin. Udah, kalian hati-hati di jalan."
"Iya pak…"
Begitu mereka pergi, Herman berlari kecil ke mobil hitam itu.
Tanpa ragu ia membuka pintu depan dan nempel duduk di jok penumpang.
Max yang baru saja menidurkan Mita di kursi belakang langsung menatap dengan alis hampir nabrak atap mobil.
"Eh? Ngapain lo masuk mobil gue?"
"Saya ikut!" jawab Herman cepat.
"Memangnya gue izinin lo ikut? Keluar! Cepetan turun!" bentak Max sambil menggoyang badan Herman.
"Enggak!! Pokoknya gue ikut!"
"HEH! TURUN NGGAK LO?! TURUN—TURUN!"
Max mendorong bahu Herman sampai orang itu hampir nempel ke pintu.
"WOIII!! Lo niat nolong Mita apa enggak sih?!" Herman membentak balik, wajahnya merah.
"Kalau lo terus ngundur waktu begini, nyawa Mita bisa terancam!!"
Max membeku.
Kepalanya langsung menoleh cepat ke kursi belakang.
Mita terkulai.
Wajah pucat.
Bibirnya luka.
Tangan lecet.
Napasnya pelan dan pendek.
Seketika seluruh amarah Max lenyap.
Tanpa berkata apa-apa, dia menarik sabuk pengaman, menghidupkan mesin, dan menginjak gas.
Mobil langsung melesat seperti peluru.
Saat mobil sudah sampai di jalan raya, max membawa gila-gilaan berasa lagi ikut bapak internasional.
"WOII!! PELAN-PELAN LAHH!!"
Herman menjerit, tangannya langsung mencengkeram pegangan kayak orang naik wahana ekstrem.
"Diam! Gue ni mantan pembalap!"
Max tak mengalihkan pandangan, tatapannya fokus dan rahangnya mengeras.
"Dasar tolol! Ini jalan raya anjirr!!" Herman makin pucat, suara bergetar.
"Diam gue bilang!! Mulut lo kebanyakan cincong!"
Max melirik sekilas "Kayak emak-emak komplek ribut karena sandal ilang!"
"ANJIRRR LO NI ORANG!!!"
"Diam! Nyawa mita lagi di pertaruhkan di sini!!"
bolak balek bukak😄😄
udah kemana mana mimpi mu Mita