NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Pertarungan di Arena Batu

Kabut di pegunungan mulai menipis ketika gong besar kembali berdentum. Suara bergemanya memantul ke tebing-tebing tinggi, seakan memberi tekanan tersendiri pada ratusan murid baru yang berdiri di lapangan.

“Ujian tahap pertama selesai,” suara berat Tetua Mo kembali terdengar. “Kini kita lanjutkan ke tahap kedua. Persiapkan hati dan pikiran kalian. Kalian akan memasuki Formasi Batu Ilusi, tempat di mana kelemahan sejati kalian akan terungkap.”

Bisik-bisik segera memenuhi barisan.

“Formasi Ilusi? Katanya itu bisa membuat orang gila kalau tak sanggup menahannya.”

“Benar. Ada yang pernah terjebak di dalamnya selama berhari-hari, lalu keluar dengan jiwa rusak.”

“Kalau begitu… lebih mengerikan daripada duel biasa.”

Lin Feng menelan ludahnya pelan. Ia pernah mendengar sekilas tentang formasi ilusi, tapi belum pernah mengalaminya. Rasa sakit fisik sudah ia kenal dan tahan sejak kecil, tetapi ujian terhadap hati dan jiwa… itu hal lain.

Di sisi arena, beberapa batu hitam besar yang tersusun melingkar tiba-tiba menyala dengan garis-garis rune berwarna merah darah. Cahaya itu merambat ke udara, membentuk kubah tipis yang bergetar halus.

Tetua Mo mengangkat tongkat kayunya dan menunjuk ke formasi.

“Setiap murid akan masuk ke dalam. Formasi ini akan membaca ketakutan terdalam kalian, lalu menguji apakah kalian sanggup menaklukkannya. Waktu maksimum: satu jam. Jika kalian belum keluar setelah waktunya habis, kalian dianggap gagal.”

Satu per satu murid dipanggil.

Ada yang keluar dengan wajah pucat pasi, tubuh gemetar, bahkan ada yang langsung jatuh pingsan. Beberapa berhasil bertahan dengan baik, keluar dengan tatapan lebih mantap.

Mei Xue maju lebih dulu dibanding Lin Feng. Tubuhnya sempat bergetar ketika masuk, tapi hanya lima belas menit kemudian ia keluar dengan wajah serius, keringat membasahi pelipisnya. Matanya semakin tajam, seakan pengalaman itu malah mengasah tekadnya.

“Bagus,” ujar Tetua Mo sambil mengangguk.

Zhao Liang maju tak lama setelah itu. Ketika masuk, senyum percaya dirinya masih melekat. Dua puluh menit berlalu, ia keluar dengan tawa kecil, seakan ingin menunjukkan bahwa formasi tidak bisa mengguncangnya.

“Hmph, mudah saja,” katanya keras-keras, membuat beberapa murid terkesan. Namun Lin Feng yang memperhatikannya samar-samar melihat tatapan Zhao Liang yang sedikit bergetar. Seolah tawa itu hanyalah topeng.

Giliran Lin Feng

“Lin Feng.”

Nama itu dipanggil. Suasana langsung hening. Banyak mata tertuju padanya, sebagian penuh rasa ingin tahu, sebagian lagi sinis.

Lin Feng menarik napas dalam, lalu melangkah masuk ke dalam lingkaran batu. Begitu kakinya menginjak permukaan tanah di dalam formasi, cahaya merah segera menyala terang dan menutup kubah ilusi.

Sekejap, dunia di sekitarnya berubah.

Ia tak lagi berdiri di arena sekte, melainkan di sebuah tempat gelap dengan udara berat. Angin dingin menerpa, membawa suara-suara aneh—tangisan, teriakan, bahkan bisikan-bisikan asing.

“Lin Feng… kau kutukan…”

“Tubuhmu hanya akan membawa kehancuran…”

“Kau akan mati sendirian…”

Suara-suara itu menyerang dari segala arah, menusuk pikirannya. Gambar-gambar kabur muncul: bayangan dirinya berlumuran darah, tubuhnya pecah akibat energi yang tak terkendali, wajah gurunya yang pertama-Qingyun menatap dirinya dengan raut kecewa, wajah orang-orang dari Desa Han yang dulu pernah menjadi keluarganya, wajah Mei Xue yang menjauh dengan dingin, bahkan sosok gurunya yang sekarang-Yunhai yang berbalik pergi tanpa menoleh.

Dada Lin Feng terasa sesak. Napasnya terputus-putus. Rasa sakit di tubuhnya muncul lebih nyata, kali ini disertai tekanan psikologis yang nyaris membuatnya jatuh berlutut.

Namun di tengah kegelapan itu, ia teringat kata-kata Yunhai:

“Jangan pernah biarkan orang lain menentukan takdirmu. Kau yang memilih jalannya sendiri.”

Lin Feng menggertakkan giginya. “Aku bukan kutukan… Aku akan membuktikan bahwa tubuhku adalah kekuatan!”

Detik berikutnya, cahaya biru-ungu tiba-tiba menyala dari dalam tubuhnya, mendorong kabut ilusi menjauh. Suara-suara bisikan menghilang, digantikan keheningan.

Ketika ia membuka mata kembali, ia sudah berdiri di arena. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, tapi tatapan matanya tajam, jauh lebih mantap dari sebelumnya.

Penonton bergemuruh.

“Dia keluar… tapi auranya berbeda!”

“Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang bangkit.”

Tetua Mo menatap Lin Feng lama, lalu mengangguk pelan. “Menarik. Sangat menarik.”

Di sisi lain, Zhao Liang mengepalkan tinjunya. Wajahnya tidak senang melihat Lin Feng lolos dengan mantap. Ia melirik ke arah Liu Tian yang duduk di kursi batu.

Liu Tian tersenyum tipis, dingin. “Semakin tinggi dia melangkah, semakin keras aku akan menjatuhkannya.”

Tahap Ketiga – Arena Batu

Setelah semua murid melewati formasi ilusi, jumlah peserta yang tersisa berkurang hampir setengahnya. Dari ratusan murid, kini hanya tersisa sekitar puluhan orang.

Tetua Mo kembali bersuara, “Tahap ketiga: pertarungan di Arena Batu. Kalian akan dipasangkan secara acak untuk duel. Tujuannya bukan saling membunuh, melainkan menguji kemampuan kalian melawan sesama murid. Namun… jika kalian lemah, jangan berharap lawan akan bersikap lembut.”

Arena Batu yang dimaksud adalah lapangan bundar dari batu-batu besar, dengan permukaan keras yang penuh bekas retakan. Di sekitarnya, murid inti dan tetua duduk mengawasi.

Nama-nama murid mulai dipanggil untuk duel. Pertarungan berlangsung sengit, ada yang kalah cepat, ada yang menunjukkan teknik menarik. Sorak-sorai bergema setiap kali serangan dahsyat diluncurkan.

Hingga akhirnya, sebuah nama membuat suasana hening sesaat.

“Lin Feng… melawan Zhao Liang!”

Kerumunan langsung bergemuruh.

“Hah! Mereka dipertemukan begitu cepat!”

“Zhao Liang terkenal licik. Apa Lin Feng bisa menahannya?”

“Ini pasti menarik.”

Lin Feng melangkah maju, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan sekadar duel ujian—ini adalah panggung di mana kebencian Zhao Liang akan meledak.

Zhao Liang menyeringai, matanya penuh ejekan. “Akhirnya kesempatan ini datang. Aku akan tunjukkan kepada semua orang betapa lemahnya dirimu.”

Keduanya berdiri di tengah Arena Batu. Cahaya sihir membentuk penghalang di sekeliling arena, menandai dimulainya duel.

Tetua Mo mengangkat tangannya. “Pertarungan… dimulai!”

Zhao Liang langsung bergerak cepat. Tubuhnya melesat seperti bayangan, tinjunya dipenuhi energi hijau yang berputar. Serangan itu diarahkan lurus ke dada Lin Feng.

“Serangan Angin Menerjang!”

Bumm! Batu di bawah kaki Zhao Liang pecah akibat dorongan energi.

Lin Feng menahan napas, tubuhnya refleks bergerak. Ia menggeser langkah, menangkis dengan lengan kirinya. Tubuhnya langsung terasa nyeri, tapi ia bertahan.

Zhao Liang menyeringai. “Hmph, masih bisa berdiri? Lihat kalau begini!”

Serangan demi serangan diluncurkan, semakin cepat, semakin berat. Lin Feng dipaksa bertahan. Penonton bersorak, sebagian berteriak mendukung Zhao Liang.

Namun, di tengah hujan pukulan itu, mata Lin Feng menyala. Ia mulai membaca pola gerakan Zhao Liang, menunggu celah.

Saat satu pukulan meluncur sedikit terlalu jauh, Lin Feng berbalik. Tinju kanannya meledak dengan energi biru-ungu, menghantam lurus ke arah perut Zhao Liang.

Bummm!

Tubuh Zhao Liang terpental ke belakang, menghantam lantai batu keras. Debu berhamburan.

Kerumunan bersorak kaget.

“Apa itu barusan?”

“Kekuatan Lin Feng… bukan main!”

Zhao Liang merintih, wajahnya merah padam. Ia bangkit perlahan, matanya penuh kebencian. “Dasar… kutukan sialan!”

Lin Feng menatapnya tenang, meski napasnya berat. “Aku bukan kutukan. Aku adalah aku.”

Tetua Mo mengangkat tangan. “Pertarungan, lanjutkan!”

Zhao Liang menggeram, tubuhnya bergetar dengan energi yang lebih kuat. “Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau kau tak bisa berdiri lagi!”

Arena Batu bergetar, dua murid itu kembali berhadapan. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!