Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Menangkap Penyusup
Hari sudah mulai gelap, dan matahari semakin lenyap di ufuk barat. Malam membawa kegelapan yang dingin dan mencekam, tapi bulan memberikan sinarnya pada dunia.
Malam yang dingin pun terasa hangat berkat sang bulan.
Sementara itu, di bangunan belakang rumah...
Di kamar pelayan, Siria sudah memakai piyama bermotif bunga mawar. Bantal yang lembut pun juga sudah ada di tangan, dan ia hanya perlu menjatuhkan dirinya di kasur.
Namun situasinya berbeda dengan yang sebelumnya.
"B-bagaimana ini ...?!" gumamnya dengan nada lumayan gugup sambil beberapa kali melirik ke arah kamar mandi.
Jantungnya berdetak dengan kencang saat mendengar suara air berjatuhan di kamar mandi. Wajahnya gelisah setelah melihat tempat tidurnya yang kecil serta sempit.
Siria kemudian memegangi kepalanya sambil berpikir.
'A-aku lupa kalau aku hanya punya satu tempat tidur! Apa aku perlu tidur di lantai dan menyerahkan kasurnya pada nona Alexia? T-tapi, malam ini udaranya terasa menusuk.'
Tidak mungkin juga Siria membiarkan Alexia untuk tidur di lantai. Malam memang sedikit lebih hangat, tapi tidur di tempat yang keras dapat berakibat buruk pada tubuh.
Selain itu, Alexia mungkin tidak terbiasa tidur di lantai.
'Aku ingin pergi dari sini, tapi siapa yang akan melindungi nona Alexia nanti?' batinnya, kebingungan dan bimbang.
Dengan berat hati, Siria memutuskan untuk mengalah.
"Sebelum nona Alexia keluar, lebih baik aku menyiapkan selimut di lantai." ucapnya sembari berdiri dan bergegas menuju ke arah lemari untuk mencari selimut tambahan.
Saat dia sedang sibuk mencari selimut, tidak lama Alexia keluar dari kamar mandi. Ia menghela nafas ringan dan merasa nyaman setelah mandi air hangat di malam hari.
"Sebaiknya aku lekas tidur agar tidak bangun kesiangan."
Alexia mengatakan hal itu sambil menyibak rambutnya.
Namun pada saat mendongak ke depan, Alexia melihat Siria sedang mencari sesuatu di lemari. Ia masih belum tahu apa yang sedang dia cari, tapi setelah melihat satu kasur di kamar, Alexia tahu apa yang sedang dia lakukan.
"Apa yang sedang kau cari di lemari baju?" tanya Alexia.
Siria tersentak dan tidak berani menoleh ke belakang.
"S-saya... itu ..." dia tergagap karena sangat kebingungan.
Alexia pun menghela nafas sekali lagi dan berkata,
"Aku tidak keberatan jika kita tidur bersama, jadi berhenti untuk mencari selimut lagi. Aku tidak sejahat itu untuk membiarkanmu tidur di lantai yang dingin." jelas Alexia.
Siria yang mendengar hal itu pun langsung berbalik dan bertanya, "A-apa anda yakin? Tapi saya merasa bersalah karena kita tidur bersama. Lebih baik saya tidur di lantai."
"Kenapa kau merasa bersalah?" Alexia lalu duduk di tepi kasur dan menepuk sebelahnya. "Aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, ini adalah kamar dan juga kasurmu."
Melihat Alexia yang sudah mandi dan tercium bau sabun yang menempel di tubuhnya membuat Siria tidak bisa tenang. Ia ingin menumpang tidur di kamar pelayan lain, tapi semua kamarnya dikunci rapat dan tidak ada orang.
Itu sungguh suatu kebetulan yang sangat tidak terduga.
'A-aku tidak masalah karena kita sama-sama wanita, tapi tidur di sebelahnya ...' pikir Siria sambil memperhatikan dari rambut sampai kaki. 'Aku pasti tidak akan bisa tidur!'
Siria selalu berkeinginan untuk menyentuh Alexia setelah melihat kulitnya yang putih dan lembut. Dia tidak pernah memiliki ketertarikan seperti ini sebelum bertemu Alexia.
Dia memang menyukai barang-barang yang sangat lucu serta lembut seperti boneka dan gaun, dan penampilan Alexia saat ini sangat mirip dengan boneka yang cantik.
"Ada apa? Kenapa kamu hanya berdiri di sana?"
"M-maafkan saya, nona Alexia. Tolong tunggu sebentar."
Jalan keluar sudah tertutup dan tidak ada lagi.
Siria menutup lemari dan mengambil nafas panjang. Dia mengatakan pada dirinya sendiri agar tidak melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan rasa ketidaknyamanan.
"A-aku tidak boleh menyentuhnya! Karena kasurnya kecil, kulit kita mungkin akan bersentuhan, tapi aku harus tetap menahan diri!" katanya dengan suara yang sangat pelan.
Setelah menyakinkan dirinya, Siria mendekat dan tidur di sebelahnya. Dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, apalagi dia tidur sambil membelakangi Alexia.
"S-selamat malam, nona Alexia." ucapnya dengan gugup.
"Ya, selamat malam."
Alexia bingung pada sikapnya yang aneh dan berpikir.
'Ada apa dengannya? Tingkahnya sangat mencurigakan.'
Karena malam sudah mulai larut, Alexia mengabaikan itu dan mematikan lampu. Dia juga menarik selimutnya dan berbaring di samping. Jantung Siria rasanya ingin copot.
Meski sudah yakin, tapi Siria tidak bisa tidur sama sekali.
'Kenapa aku harus tidur di sini?! Aku ingin ikut Hana dan yang lainnya berpatroli malam ini!' teriak Siria dalam hati.
****
Di waktu yang bersamaan...
Sosok bayangan bergerak dalam bayang-bayang cahaya rembulan. Jumlahnya lebih dari lima orang, dan mereka bergerak menuju ke arah kamar Alexia yang ada di ujung.
Mereka pun mendarat di balkon dan mengendap-endap.
Salah satu dari mereka memberikan isyarat maju dengan dua jari tangan, dan yang lainnya mengangguk mengerti.
Mereka menempel ke tembok dan mengintip ke dalam.
'Kenapa aku tidak bisa melihat apapun?' pikirnya.
Seluruh ruangan terlihat gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Lampu yang biasanya selalu hidup juga mati. Apalagi, suasana di dalam kamarnya terasa menakutkan.
Namun, mereka tidak mempedulikan perasaan itu.
Mereka pun masuk dan bergerak menuju tempat tidur di tengah, tapi mereka tidak menemukan siapapun di sana.
"Tidak ada siapapun di sini! Apa informasinya salah?"
"Target yang seharusnya kita eliminasi juga tidak ada."
Melihat tidak ada seorangpun membuat mereka terkejut.
Ke mana targetnya pergi?
Itu yang menjadi pertanyaan di kepala setiap orang
Jleb!
Dan tak lama setelah mereka terdiam, sebuah belati yang tajam tiba-tiba menancap di belakang kepala salah satu dari mereka. Semua orang di dalam pun langsung panik.
Dengan refleks yang cepat, orang yang ditunjuk sebagai pemimpin kelompok itu menunduk. Dan benar saja, ada hujan belati yang menyerang mereka dari arah belakang.
Arghhh!
Teriakan mereka membuat malam menjadi lebih hidup.
Lebih dari 5 orang langsung mati di tempat kejadian. Dan setelah sepuluh detik berlalu, hujan belati mulai berhenti.
Suasana yang tadi ricuh kembali menjadi sunyi.
Tak lama kemudian, beberapa wanita yang mengenakan pakaian pelayan muncul. Mereka menatap mayat yang tergeletak di lantai sambil menghela nafas cukup berat.
"Padahal kita sudah membersihkan sebagian darah yang ada di kamar ini dengan susah payah, tapi sekarang kita mendapatkan pekerjaan yang lebih berat lagi." kata salah satu dari mereka sambil menginjak mayat di bawahnya.
"Berhenti mengeluh dan segera bereskan semua ini."
Mereka pun serempak menjawab, "Baik, ketua Hana."
"Tapi sebelum membersihkan kamar ini, bukankah kita perlu bicara sebentar, tuan assassin?" kata wanita yang dipanggil Hana sambil menoleh ke mayat di atas kasur.
Hana pun mendekat dan menatapnya dengan tajam.
"Aku tahu kau masih hidup, jadi tidak perlu berpura-pura mati. Apa aku perlu memotong tanganmu agar kau mau bangun?" lanjutnya sambil mengangkat belati ke depan.
Assassin yang berpura-pura mati itu bangun dan berdiri.
"Tugasku sudah gagal! Aku tidak mau membocorkan—!?"
Sebelum menggigit racun yang terselip di giginya, Hana langsung memukul leher belakangnya. Assassin itu pun jatuh pingsan dan membuat Hana mempunyai tawanan.
"Rhea, bawa orang ini dan ikat di gudang belakang." kata Hana sambil menepuk tangannya, membersihkan debu yang menempel di telapaknya. "Besok, kita laporkan pada kakak Siria dan nona Alexia untuk segera ditindaklanjuti."
Pelayan yang bernama Rhea pun mengangguk ringan.
'Mengapa banyak assassin yang ingin membunuh nona Alexia? Apa mereka orang suruhan saudara-saudaranya?'
Hana sempat memikirkan hal itu dalam keheningan.