Mengisahkan tentang seorang wanita yang rela melepaskan suaminya untuk wanita lain. Meski kini dia harus menghadapi semuanya sendiri menjadi orang tua tunggal buat ke empat anak-anaknya namun dia tetap semangat .Tidaklah mudah perjalanan hidup yang dia lewati . Dalam keadaan hamil muda dia harus berpisah dengan suami hingga dia membesarkan anak-anaknya. Namun dia beruntung memiliki Ibu dan adik yang selalu mendukungnya.Apakah dia akan bahagia setelah berpisah dengan suaminya ? Apakah Dia bisa merawat dan membesarkan keempat anaknya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Aunankia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU PERGI TANPA ADNAN
Setiba di rumah Mama aku melihat Azkia tengah menangis di gendong oleh Aulia.Orang-orang tengah berkumpul di teras.Aku bergegas turun dari motor dan mengambil Azkia.
"Kalian dari mana saja " tanya mama Nurbaya
"Dari makam bapak Ma " jawab Mas Anis
"Tadi anak-anak aku suruh panggil katanya kalian tidak ada di Makam, motor pun tidak ada " ucap Mama
"Ohhhh mungkin tadi kami sudah diluar singgah beli rokok "
"Aduh anak mami kok nangis?"tanyaku pada kia
"Mami pergi tidak bawa kia" jawabnya
"Mami pergi bentar nak"
"Huuuu huhuuuu huuu.....kia ikut mami "
"Iyya ini kita mau pulang "
"Sini nak sama papi...kia kan mau pulang " ucap mas Anis sambil meraih kia ke gendongannya.
"Aku ke kamar ambil tas dulu"
"koper kamu sudah dimobil kok nak "ucap mami ku
"Ooh kalau begitu aku cek dulu ke kamar siapa tahu ada barang yang tertinggal "jawabku
Aku pun masuk kekamar dan mengecek .Kamar sudah terlihat rapi.Aku mengambil bantal buat dipake anak-anak dimobil nanti.Setelah aku merasa semua aman tidak ada yang tertinggal ,aku keluar.Aku langsung mendekati mama mertua.
"Ma ...aku dan anak-anak pulang dulu ya "
"Iya nak ...kamu baik- baik ya...jaga anak-anakmu " jawab mama dengan lembut.
"insya Allah Ma ...mama juga jangan sampe telat makan dan minum obatnya "
"Iya nak ,kalau sampe kamu telfon kabari ya "
"Baik ma nanti saya telfon"
Aku pun memeluknya,dan sempat berfoto bersama.Entah aku merasa sangat berat meninggalkan mama.Kami pun semua berpamitan.Tetapi aku tidak melihat anakku adnan , dia dimana.
"Adnan mana mas ?"
"Ada bermain game di tetangga " jawab mas Anis
"Lhoo kok...kan mau pulang"
"Dia tidak ikut Mi..."
"Apa ????kok begitu ???" ucapku terkejut.
Aku pun teriak memanggilnya.Adnan pun datang menghampiriku.
"Nak ayo pulang "
Namun dia malah berlari ke arah Mas Anis.
"Aku tidak mau pulang ...mau tinggal disini sama papi " ucap Adnan sambil menangis.Adnan dengan erat memeluknya
"Ayo nak ..kan Adnan mau sekolah " bujukku
"Tidak mau...mau sama papi"
hikssss...hikssss...hikssssss
"Biar saja Mi Adnan tinggal, nanti pulangnya denganku " Ucap Mas Anis
"Tapi dia kan sekolah , Ayo Nak kita pulang ya " bujukku lagi
"Gak mauuu....huuuuuu huuu huuuuuu "
Adnan pun semakin histeris .Mas Anis pun menggendongnya.Adnan sedari kecil memang dekat dengan papinya.Sewaktu kecil jika ditinggal tugas Adnan pun jadi sakit.Papinya juga sangat memanjakannya.Maklum anak laki-laki satu-satunya.
"Mi biarlah...tidak apa-apa.kan sama aku disini"
"Tapi Mas apa dia tidak merepotkan mu "
"Tidak sama sekali " ucap mas Anis sambil tersenyum
"Biar saja Nak si Adnan tinggal ,nanti Mama belikan dia sepedah " ucap Mama mertua
Aku pun menyerah.Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena si Adnan yang mau untuk tinggal.Entah aku merasa takut jika suatu saat kehilangan Adnan selamanya.Aku takut dia akan memilih bersama papinya ketimbang diriku.
Aku menghapus butiran bening dari sudut mataku.Aku sangat bersedih.Aku berat jika pergi tanpa anakku Adnan.Aku tidak rela jika dia lebih memilih bersama papinya .
"Aul..turunkan tas pakaiannya adikmu nak " ucapku
Aulia pun langsung menurunkan tas Pakaian Adnan dan memberikannya kepada papinya.Ketika aku ingin memeluk Adnan dia malah menghindar dan bersikap seolah takut jika aku membawanya secara paksa.
"Cium mami dulu dong nak " ucapku sambil memaksa untuk tersenyum
"Gak mau ...nanti mami bawa pulang Adnan " ucapnya
"Tidak nak ...mami cuman mau peluk dan cium saja...tidak akan paksa Adnan pulang kok.." ucapku merayunya
"Iyya Nak ...cium dulu mami " ucap Mas Anis
Adnan pun menurut dan menciumku . Aku membalas menciumi kedua pipinya.Aku memeluknya erat dan tidak kuat menahan tangisanku.Aku tidak pernah berpisah dari Adnan sejak kecil.jadi entah mengapa terasa berat.Aku melepaskan pelukanku perlahan.
Dengan langkah teramat berat aku masuk ke mobil.Aku melihat Adnan dengan nyaman di gendongan papinya.Kami pun berangkat meninggalkan Kota XX tanpa anakku Adnan .
"Mami kakak Adnan kok tidak ikut ? " Tanya azkia
"Iyya nak ...kakak sama papi "
"Kakak Adnan nakal sudah bikin mami nangis" ucap Kia dengan lugu
"Apa kia mau tinggal sama papi juga?" tanyaku
"Tidak ...kia mau sama mami....kia mau temani mami saja, supaya mami tidak nangis " ucap kia
Akupun memeluknya dan menciumi pipi Azkia berkali-kali.Entahlah ada perasaan takut jika suatu saat anak- anak lebih memilih ikut bersama Mas Anis ketimbang aku ibu mereka.Membayangkan saja rasanya aku tidak sanggup.
NB Mohon Kritik Dan Saran
bukan pelakor
dasar aja bucin n gatal Krn lama ngga disentuh suami
percuma dan jgn bucin dg dalih anak
sdh bisa cari uang kok msh mau dg suami spt itu
perseteruan sampah dan tong sampah
gantilah no hp...
benci aku ..jadi istri kok bodoh amat
istri polisi lagi..kan kamu bisa visum bude...
bucin emang bikin bodoh