Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang saja ke ayahku!
-"Langit... " panggil Anggi sambil menggoyang goyang badan Langit. Langit tidak bergerak.
Bagaimana ini.. aku nggak mungkin mengangkatnya kan? Apa dia pingsan? badannya panas sekali? Anggi kebingungan.
Dengan perlahan, Anggi meletakan kepala Langit di lantai. Ia bergegas keluar memanggil satpam.
"Pak.. tolong saya. Tuan Langit pingsan di paviliun! "
Anggi dan Pak Satpam segera bergegas ke paviliun.
Pak Satpam mengangkat (setengah menyeret sih) Langit dan membaringkannya di sofa.
"Apa nggak sebaiknya dibaringkan di kamar, Mbak? " tanya Pak Satpam.
"Mm.. nggak perlu, Pak. Saya rasa di sini sudah cukup. " jawab Anggi.
"Baiklah, Mbak. Saya kembali ke tempat jaga. Oh ya kalau ada perlu Mbak Anggi telpon saja. Saya beri nomor ponsel saya. " kata Pak Satpam menuliskan nomor ponselnya di kertas yang ada di meja.
"Terima kasih, Pak. " jawab Anggi.
Anggi mengambil air untuk mengompres Langit. Ia letakkan handuk basah di kening Langit. Ia terus berjaga di sisinya
Apa aku ke rumah utama dan memberi tahu Oma ya. Tapi tengah malam begini Oma pasti sudah tidur. Kalau kubangunkan, yang ada seluruh isi rumah bangun. Kalau dia disini, rasanya kok nggak pantas. Ya Allah bagaimana ini?
Anggi lalu menelpon Pak Satpam.
"Assalamualaikum, Pak. Pak Satpam ada no ponsel Mbak Nani. Boleh diinfokan ke saya Pak?"
Setelah mendapat no ponsel Nani, Anggi mencoba menghubunginya.
Ah ponselnya dimatiin
"Eemmm.....aahhh.. " Langit mengerang.
Anggi langsung mendekat dan memeriksanya.
"Langit.. apa kau sudah sadar? " ia bertanya sambil mengambil handuk yang ada di kening Langit. Dimasukkannya handuk itu ke baskom berisi air lalu ia tiriskan dan menaruhnya kembali di kening Langit.
Langit masih mengerang dengan gelisah. Sepertinya ia sedang kesakitan.. tubuhnya sudah berpindah posisi. Sekarang ia bergelung sambil menekan perutnya dengan kedua tangannya.
"Aahh sakit sekali. " pekik Langit. Badannya gemetar menahan sakit.
"Langit, kau dengar aku? Apa yang kau rasakan? " tanya Anggi cemas.
Perlahan Langit membuka matanya. Ditatap nya Anggi yang nampak cemas. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Dia merasakan kepalanya sangat pusing hingga dahinya berkerut menahannya
"Jangan bangun dulu. Berbaringlah. Kau masih sakit. "
"Aku tidak apa apa. Maaf sudah mengganggumu. " kata Langit. Ia juga tidak. mengerti kenapa tadi malah ke paviliun Anggi dan bukannya langsung ke rumah mamanya.
Langit berusaha berdiri dan berjalan. Anggi mendekatinya, Ia ingin memapahnya berjalan. Tapi ia urungkan. Namun baru beberapa langkah Langit berjalan, ia kembali ambruk. Anggi segera menahannya, tapi kekuatannya tidak mampu menahan tubuh Langit. Akhirnya mereka berdua terjatuh di sofa dengan posisi yang membuat Anggi berdebar.
"Maaf.. " kata Langit. Ia berusaha bangkit dan duduk di sebelah Anggi. Langit memijit kepalanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memegang perutnya.
"Iya.. " jawab Anggi gugup "Apa yang kau rasakan? Apa perutmu sakit? Apa kau punya obat khusus untuk sakitmu ini? Apa kau sering sakit begini? " Anggi memberondong Langit dengan pertanyaan. Ia sangat cemas.
Langit tersenyum sambil menahan sakit.
"Kamu lebih cerewet daripada dokter. Dokter saja nanyanya satu satu.Kamu nanya kayak shotgun."
Anggi cemberut.
Melihat itu Langit berkata, " Perutku sakit, kayaknya maagku kambuh. Belakangan aku banyak pikiran dan kerjaan. Suka lupa waktu. Kalau kamu ada obat maag, boleh aku minta? "
Anggi ke kamarnya mengambil obat maag.
Ia kembali ke ruang depan sambil membawa obat dan segelas air.
Langit meminumnya.
Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Maaf" ucapnya.
"Untuk apa? " tanya Anggi.
"Karena telah lancang melamarmu. Ku pikir itu yang kamu inginkan. Membuatmu halal bagiku sehingga kita bisa berdekatan tanpa takut dosa. Tapi aku tidak sadar diri. Aku pria yang sudah memiliki anak dan pernah gagal." kata Langit sambil tersenyum masam. Ia lalu meringis menahan sakit. Baik sakit di perut dan di kepalanya.
Anggi diam lalu meninggalkan Langit. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa bantal dan selimut. Ia juga membawa obat penurun panas.
Anggi menyerahkan bantal dan selimut ke Langit
"Istirahatlah. Jangan banyak pikiran jika ingin cepat sembuh. "
Langit merebahkan tubuhnya. Ia menyelimuti badannya.
"Minumlah! " Anggi menyerahkan obat dan air. Langit meminumnya.
Anggi beranjak meninggalkan Langit.
"Pelangi! " panggil Langit. Anggi memejamkan mata mendengar namanya disebut. Hanya Langit yang memanggilnya dengan nada seperti itu. Lembut.. dalam.. dan penuh rasa sayang.
"Ya? " Anggi menjawab sambil memutar badannya.
"Apa ini tidak apa apa kalau aku tidur disini? Apa ini tidak termasuk khalwat? "
Anggi diam..
"Apa kau ingin ke rumah utama? Aku akan menelpon Pak Satpam untuk memapahmu ke sana. "
"Apa kau membenciku, Pelangi? " tanya Langit sambil menatap Anggi yang selalu menunduk.
Anggi menggeleng. Langit tersenyum.
"Kenapa kau menolak lamaran ku? Apa memang kau berpikir aku tidak pantas buatmu? "
Mendengar Langit bertanya begitu.. Anggi kaget. Spontan ia menjawab " Tidak!" lalu dia diam. "Bukan begitu. Aku hanya kaget dan bingung saat itu. " lanjutnya dengan suara lebih rendah.
"Apa yang membuatmu bingung? " tanya Langit. Ia sudah tidak begitu kesakitan karena obat yang ia minum mulai bereaksi.
Melihat itu Anggi berkata.
"Kalau kamu sudah mendingan, kamu bisa ke rumah utama. Maaf bukan ngusir, tapi seperti yang kamu bilang tadi lagian nggak enak kalau ada yang tahu kamu tidur disini. Bisa jadi fitnah. "
"Aku akan pergi bukan hanya dari paviliun ini tapi juga dari hadapanmu selamanya. Tapi jawab dulu pertanyaanku tadi. Apa yang membuatmu bingung? apa statusku yang duda beranak dua? atau... " Langit belum menyelesaikan ucapannya dan Anggi sudah memotongnya.
"Tidak, bukan itu. "
Anggi nampak ragu ragu hingga akhirnya ia memberanikan diri berkata
"Kau dan wanita itu. "
"Wanita yang mana? " tanya Langit.
"Yang malam itu kamu bawa ke pesta. Wanita yang memanggil Oma dengan mama. " kata Anggi. Ia semakin dalam menundukkan wajahnya.
"Oh.. itu Helen. Ia teman SMA dan juga teman kuliahku. Ia memang sangat akrab dengan mama. Saking akrabnya ia memanggil mama juga. Hubungan mereka bagai mama dan anak. "
"Lalu hubungannya denganmu? "
"Teman." jawab Langit pendek. Jawaban itu tidak memuaskan Anggi.
"Kenapa kau membawanya ke pesta? Bukankah nanti bisa membuat orang orang salah paham atas hubungan kalian? " kata Anggi sedikit kesal.
Langit tersenyum.
Mungkinkah kau cemburu Pelangi? Cemburumu lucu.
"Mereka nggak akan salah paham.. karena mereka mengenal Helen, suami Helen dan juga aku. Apa kau tidak melihat suaminya Helen di acara hari itu? "
Jadi ia sudah bersuami dan ternyata mereka datang bertiga bukan hanya berdua. bodoh bodoh
Anggi berkata dalam hati sambil menjitak kepalanya berkali kali
"Kamu kenapa? " tanya Langit melihat kelakuan Anggi.
Anggi gelagapan karena malu. Ia lalu menggeleng.
"Nggak papa. "
"Lalu? " Langit kembali bertanya.
"Apanya? " Anggi balik bertanya.
"Ya jelaskan padaku. Kenapa Helen membuatmu bingung? "
"Ku kira saat itu kalian adalah pasangan dan aku nggak mau jadi orang ketiga diantara kalian. Dan aku sempat berpikir kamu melamarku hanya karena aku dekat dengan anak anak dan anak anak menyukaiku. Sedangkan untukmu kamu sudah ada pilihan sendiri. "
Langit tertawa.
"Kenapa kau tertawa? " tanya Anggi dengan kesal.
Langit menghentikan tawanya sekarang ia tersenyum. Meski ia tahu Anggi nggak akan lihat senyuman itu.
'Kau lucu. Kau pikir aku akan mengorbankan diriku begitu? Kalau aku harus menikah, maka aku akan menikahi wanita yang kusukai dan sekaligus disukai oleh anak anakku juga mamaku. Karena hanya dengan begitu kami bisa bahagia bersama. Apa kau sudah mengerti? "
Ingin sekali Langit mengusap kepala Anggi karena gemas. Namun ia tahu, Anggi tidak bisa diperlakukan seperti itu.
"Mengerti apa? " tanya Anggi polos.
"Oh Tuhan.. apa kau mengerti kalau aku menyukaimu Pelangi. Aku ingin kau jadi Pelangi ku. Yang akan selalu menghiasi hidupku sampai aku tua nanti. Bahkan sampai aku mati. ' tegas Langit.
Anggi sangat kaget.
Ia bilang ia menyukaiku
Anggi merasakan kebahagiaan. Tiba tiba ia merasa pipinya panas. Ia tidak tahu bahwa sekarang mukanya sangat merah. Dan bibirnya sudah mengulas senyuman tanpa ia sadari.
Langit memperhatikan semua itu.
Dia tersenyum apa itu artinya dia juga menyukaiku
"Istirahatlah.Aku juga akan tidur. " lalu Anggi bergegas ke kamarnya.
"Pelangi, lalu bagaimana dengan lamaran ku? " Langit bertanya setengah berteriak.
"Datang saja ke ayahku. " jawab Anggi dari dalam kamarnya..
Langit tersenyum, lalu ia menarik selimut dan mencoba tidur.
mngkin Amelia anak temannya mama senja