Bagaimana rasanya jika kau menyukai sahabatmu sendiri, namun saat sahabatmu tahu, dia malah pergi menjauh? Apa yang akan kau lakukan?
Itu yang terjadi pada Veli. Gadis remaja yang baru mengenal cinta dan menyukai sahabatnya sendiri, yaitu Fikri.
Mereka bersahabat sejak kecil sampai mereka beranjak dewasa. Sebagai gadis normal lainnya, Veli mulai mengenal kata cinta dan orang yang pertama kali dia sukai adalah Fikri.
Disaat yang sama, Fikri juga mengenal jatuh cinta. Tapi orang yang dia cintai bukanlah Veli, melainkan Mia.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta segitiga antara ketiga remaja tersebut?
Saksikan ceritanya di sini..
Menghilang.
❗Akan segera dirilis, ayo buruan BACA sebelum diHAPUS❗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
...Baca part ini sambil dengerin lagu Risalah hati - cover Hanin Dhiya ya guys...
...'''...
"Vel, kita gak pa-pa balik ke sekolah?" tanya Emma menatap khawatir Veli.
"Hm, gak pa-pa kok. Kalian jadi gak belajarkan gara-gara gue," jawab Veli sambil tiduran di ranjang rumah sakit yang dingin itu.
"Oke gue keluar duluan ya." Emma mengerti dan keluar untuk membuat Veli dan Fikri hanya berdua di sana.
Veli menatap Fikri yang melihatnya khawatir, ia tersenyum. "Gue gak pa-pa kok Fik. Cuma pusing aja,"
"Tapi tadi lo sampe mimisan gitu, lo kenapa sih Vel sebenernya? Bilang sama gue, bilang sama Fikri lo." ujar Fikri sambil mengelus rambut Veli yang kini sudah ditambahi penghubung rambut.
Veli hanya diam saja sambil menatap manik mata yang indah itu.
"Vel, asal lo tau. Gue tuh sayang banget sama lo, sayaaaang banget. Ngelebihin sayang gue sama Mia."
Veli mengerjap, dan menatap ke bawah. Air matanya berlinang di bawah mata sendunya itu. "Terus kenapa lo malah lebih milih dia buat jadi pemilik hati lo? Kenapa bukan gue?" pada akhirnya air mata itu jatuh, membuat Fikri menjadi sakit hati melihat sahabatnya ini menangis.
"Kenapa?"
"L-lo tau kan betapa sayangnya gue sama lo Fik? Gue rasa, gue perlu pelukan lo setiap hari. Gue takut suatu hari nanti gue bakal pergi sebelum meluk lo terakhir kali, Fik. Hiks~" Veli tersendu sendu. Fikri menggeleng.
"Shhuut, lo jangan ngomong aneh aneh Vel. Jangan ngomong gitu, lo bakal selalu ada di hati gue Vel." Fikri tidak bisa menahan tangisnya.
Lo gak tau Fik, apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi Mia? Sebenernya hati lo buat siapa? Siapa yang abadi Fik? Hiks, sakit Fik nahan ini semua sejak lama. Sakiit~" Veli meremas selimutnya dengan keras, menahan sesak di dada.
"Vel, sahabat itu selalu abadi. Sedangkan kalau pacaran bisa aja putus dan hilang di hati. Lo bakal selalu ada di hati gue Vel. Selalu. Pasti." Fikri mengangguk meyakinkan.
Veli mengangguk mengerti dengan mata yang masih berlinang-linang. Ia sedikit tersenyum, Veli menarik Fikri sedikit dan memeluknya. Ia menumpahkan semua rasa takutnya di dekapan sana. Fikri pun juga membalas pelukan itu.
"Ekhe hiks, g-gue gak mau jauh dari lo Fik~ gak mauu~"
Fikri mengangguk. "Gue gak bakal jauh kok dari lo,"
Gue janji Fik, gue bakal berjuang sekuat tenaga buat sembuh, supaya bisa bertahan hidup demi lo. Demi rasa ini, gue bakal berjuang Fik. Gue sayang lo.
.
.
................
"Woy Beb!" teriak Jen sambil menenteng gitarnya.
"Eh Jentong," jawab Emma sambil menyengir.
"Jentong jentong, enak aja lo. Aku ini Jen si ganteng kaya tau gak." Jen menyombongkan dirinya.
"Bodo ah," Emma tidak memperdulikannya dan memasuki mobil Jen.
"Eh, gimana si Veli di rs?" tanya Jen sambil memakan camilan bekas paginya di mobil, yang mungkin sudah alot.
"Ih jorok anj*r," pekik Emma sambil menampol tangan Jen pelan. "Dia gak pa-pa cuma pusing aja, sama mimisan," jawabnya.
"Dia ngapa sih mimisan mulu? Sampe pucet mukanya gara-gara darahnya keluar terus, abis kali ya?" tanya Jen apa adanya.
Emma menatap sinis. "Ya gak gitu juga kali b*go, dia tuh...hm emang gitu." Emma bingung harus menjawab apa. Dan mencubit pipi Jen. "Ish kamu tuh, gemesh deh aku~"
Jen memasang baby face. "Aa, mamy mau cucu~"
Emma geli dan langsung menjauhkan wajah Jen. "Iih apaan sih, gila lo b*go! Geli tau gaa~"
"Diih apaan sih anj*r, noh di sono ada susu kotak. Ambilin woy," jawab Jen sambil ketawa tawa.
Emma juga tertawa, "Tau ah kesel, untung sayang." Emma pun mengambilkan susu kotak itu. "Ini bekas tadi pagi lagi?"
Jen menggangguk dan cengengesan, sedangkan Emma menahan geli.
"Suapin dong, aha aha aha," pinta Jen sambil berlaga seperti anjing yang menjulurkan lidahnya.
"Dih, ahaha." Emma pun menguapinya.
"Dah kan?" Jen mengangguk. "Anjing pintar...." Emma mengelus kepala Jen.
"Ahahaha, berasa jadi anjing jir." Jen geli sendiri dan tertawa.
"Kamu doang, ahaha."
Jen pun menyalakan mesin mobilnya dan menyetir dengan kecepatan normal. Pikiran Emma melayang layang karena memikirkan kondisi sahabatnya itu, ia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan itu. Ia tenggelam kedalam pikiran pikirannya. Tiba tiba saat melihat ke jalan, ia melihat Mia sedang naik motor dengan seseorang. Tapi dia lupa siapa itu, atau mungkin itu Fikri ya? Dasar! Fikri keras kepala, seharusnya dia tidak memaafkan Mia begitu saja setelah apa yang terjadi. Emma pun mengechat Fikri untuk marah marah.
FikriiiNyaVeli
^^^You^^^
^^^Heh! Udah gue bilangin juga jangan maafin si mak lampir gitu aja. Sekarang malah jalan lu sama dia.^^^
Laahh apaansi lu. Gue masih di sekolahan sama Farid.
^^^Lah, tadi siapa dong? Tadi gue liat Mia sama cowok tauu^^^
Yaelah, paling tukang ojek. Su'udzon mulu lo sama Mia. Gitu gitu dia juga masih pacar gue.
^^^Bodoamat! Iya kali^^^
Emma menyernyit kebingungan dan menaruh ponselnya. Jen melihat gerak gerik si pacarnya ini pun juga heran.
"Kamu kenapa sih? Repot amat kayaknya?"
Emma mendongak dan menggeleng. "Enggak, tadi tuh aku liat Miayam lagi naik motor," jawab Emma.
Jen menyernyit. "Hah? Mi ayam bisa naik motor!? Gimana caranya, kan benda mati Beb," balasnya.
"Mia maksudnya Beb. Gak peka banget sih ah," ucap Emma sambil memanyunkan bibirnya.
Jen mengangguk. "Ooh, eh be-te-we jadi pengen mi ayam ya? Beli yuk Beb."
"Ayo dah,"
.
.
.
.
.
.
To be continue
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karyax bagus...
walaupun sad ending, bikin nangis bombai tp puas ma endingx...
g nggantung, smua clear...
smangat selalu buat othor...