Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan Mario dan Ziya
"Ampun, ampun... dek. Lepasin, sakit..." Mario meringis menahan tangan Ziya. Berusaha melepaskan cubitan di perutnya. Tanpa sadar Mario menyebut Ziya dengan sebutan 'dek'.
"Rasakan!" Ziya semakin menekan cubitan di perut Mario.
Tangan Ziya terlepas, tidak sulit untuk melepas cubitan Ziya baginya. Kekuatan Ziya tidak ada apa-apanya bagi Mario, hanya saja Mario senang melihat senyum Ziya. Karenanya dia pura-pura kesulitan melepas cubitan Ziya.
"Cantik." Satu kata yang mampu membuat Ziya menghentikan tawanya.
Ziya tersipu, ini pertama kali Ziya di katakan 'cantik' oleh seorang pria. Ziya mengalihkan pandangan ke sembarang arah, pura-pura tidak mendengar. Dia tidak tahu harus menimpali seperti apa.
"Kata Bapak mau cari sesuatu? jadi tidak?" tanya Ziya, mengalihkan pembicaraan.
"Saya mau cari makan. Ayo, kita makan!" ajak Mario, menarik tangan Ziya dan jalan beriringan. Dengan Mario memegang tangan Ziya.
Ziya bergerak kaku. Tangannya terasa dingin, perasaan gugup membuat dia berkeringat. Sedangkan Mario bersikap biasa seolah tidak tahu.
Mereka sudah berada di tempat makan. Makanan sudah di pesan, hanya tinggal menunggu pelayan mengantar ke meja. Mario tampak sibuk dengan ponselnya, sementara Ziya mengedarkan pandangannya, mengusir perasaan gugup dalam dirinya.
Makanan di sajikan, mereka makan dalam diam. Mario terbiasa makan tidak bersuara, itu kebiasaan yang di tanamkan orangtuanya sejak Mario kecil. Sementara Ziya makan dengan malu, dengan posisi duduk berhadapan dengan Mario, Ziya merasa tidak bebas menyuap dan mengunyah makanan.
Ziya tidak nyaman. Meski begitu dia berusaha membuat dirinya nyaman. Berusaha bersikap biasa, begitu sulit menutupi keadaannya. Dia merutuki dirinya yang tidak mampu berinteraksi dengan lawan jenis seperti kebanyakan orang.
Selalu seperti ini ketika duduk berdua dengan pria. Entahlah Ziya bingung akan dirinya yang sulit percaya diri ketika bersama seorang pria. Kecuali dengan ayah dan adiknya.
Ziya sudah kembali seperti dulu. Ziya dengan sikap baik, ramah, pemalu dan pendiam. Meski sempat bersikap dingin ternyata tidak mampu menghilangkan sifat aslinya.
Mario sesekali melirik Ziya yang tampak kurang nyaman.
"Nyamankan dirimu, aku tidak akan memakanmu," ujar Mario menggoda ziya di sela makannya.
"Lihatlah, wajahmu lucu bertingkah seperti ini," Mario sedikit tertawa.
Ziya mencibir. "Teruslah tertawa. Nanti kalau bapak tersedak, aku gantian tertawa," ucap Ziya mencibik.
"Saya sudah selesai. Tidak akan tersedak," balas Mario.
"Bapak curang, itu makanan belum di habiskan. Kenapa sudah berhenti?"
"Bisakah kamu tidak memanggil saya dengan sebutan Bapak. Kesannya saya terlalu tua,"
"Bapak atasan saya, direktur perusahaan. Memang begitu seharusnya saya memanggil bapak,"
"Iya kamu benar. Tapi itu tidak berlaku di luar kantor. Mulai sekarang jika di luar jam kantor jangan sebut saya bapak,"
"Terus saya sebut apa?"
"Apa saja selain bapak. Kakak mungkin, mas atau abang juga boleh," ujar Mario enteng.
"Itu semua tidak cocok. Kesannya aku lebih tua. Bagaimana bisa aku memanggil bapak yang pantas di panggil om dengan sebutan itu."
Mario tersedak ludahnya sendiri. Pernyataan Ziya yang mengatakan dia pantas menjadi om, membuatnya terperanjat.
"Apa saya setua itu, sampai kamu sebut saya om."
Ziya memandang Mario, memindai wajah pria di hadapannya. Ziya manggut-manggut dengan telunjuk mengetuk-ngetuk dagu. Tatapannya menilai setiap inci wajah Mario.
"Enggak tua sih, tapi apa ya... Em... dewasa. Ya, bapak terlihat dewasa, tapi tidak setua umur bapak. Ya, sekilas terlihat umur 25 tahunan. Lebih muda dari usia sesungguhnya,"
"Saya terlihat lebih muda, tapi kenapa kamu mengatakan saya lebih pantas di sebut om?"
"Kalau dengan aku, jelas bapak terlihat seperti om om. Usia aku 17 tahun dan bapak 28 tahun. selisih 11 tahun, terpaut jauh bukan. Lalu kalau aku sebut bapak 'kakak', kesannya aku yang tua,"
Mario terkekeh, "kamu takut di kira tua, wajahmu polos begitu. Siapa yang akan mengatakanmu tua. Dandan saja tidak, tampak seperti anak sekolahan," ledek Mario.
Ziya merengut. Memang dia tidak suka di kira tua, bukan berarti dia suka di katakan anak sekolahan.
Mario terawa kecil, wajah Ziya yang cemberut nampak lucu di matanya.
"Duh... anak ABG ngambek," sindir Mario meledek Ziya.
Mata Ziya melotot, "terus saja bapak meledek aku,"
"Aku pergi nih," gertak Ziya siap akan melangkah.
Dengan cepat Mario meraih pergelangan tangan Ziya.
"Becanda, gitu aja ngambekan. Dasar anak kecil," ujar Mario.
"Benaran pergi nih," timpal Ziya.
"Baiklah, kita pergi." Mario menggandeng Ziya menuju kasir lalu melakukan pembayaran.
Mario mengantar Ziya pulang. Tepat pukul 21.00 mereka tiba di depan rumah Ziya. Mario mengantar Ziya ke dalam lalu pamit pulang.
Di jalan pulang Mario tak henti tersenyum. Wajah Ziya terbayang memenuhi benaknya. Gadis itu benar-benar membuat Mario seperti orang gila, tersenyum sendiri. Mario sudah jatuh, jatuh dalam pesona Ziya. Gadis pemalu dan pendiam, namun tertutup sikap dingin.
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" ibu bersidekap dengan tatapan mengintimidasi.
"Maafkan Ziya, tidak izin. Tadi niatnya cuma mau mampir sebentar ke Mall Surya. Ternyata Mario ngajak makan dulu. Sebenarnya Ziya pulang terlambat karena jalanan macet, kalau tidak Ziya pasti tidak kemalaman sampai di rumah,"
"Lain kali kalau mau pergi main, pulang dulu. Ibu cemas menunggu kamu, bagaimana kalau terjadi sesuatu. Ibu tidak akan tahu keberadaan kamu,"
"Iya, Bu. Maafkan Ziya membuat ibu cemas."
Ziya memasuki kamar, lalu membersihkan diri dan beristirahat.
Pagi menyising. Ziya sudah siap berangkat kerja. Saat ke luar rumah, Ziya melihat mobil Mario terpakir di depan halamannya.
Mario membuka kaca mobil menampakkan senyum manis menambah ketampanannya. Mario turun mendekati Ziya.
"Pagi ini biar saya antar kamu ke kantor, kita berangkat bersama oke," ajak Mario.
Ziya mengangguk. Ziya dan Mario memasuki mobil, mobil melaju menuju kantor.
"Mulai hari ini setiap pagi aku akan menjemputmu, kita berangkat ke kantor bersama," ujar Mario terdengar seperti perintah.
"Kebenaran. Aku akan lebih irit jika ikut dengan dia. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos," bisik hati Ziya.
Siapa yang tidak ingin menerima tawaran yang menguntungkan. Berangkat kerja dengan Mario, tentu mengurangi pengeluaran Ziya. Tidak ada kesempatan baik yang ingin di sia-siakan.
"Bapak serius ingin berangkat bersama denganku?" meski Ziya senang dengan tawaran Mario, tetap saja dia harus memastikan kebenaran dari perkataan Mario.
"Apa kamu lihat saya sedang bercanda,"
"Saya hanya memastikan. Saya tidak mau nantinya bapak tidak datang, setelah saya tunggu-tunggu,"
"Saya akan datang. Saya tidak akan lupa. Kamu tunggu saja di rumah,"
"Baiklah. Aku akan menunggu bapak. Kalau begitu aku tidak perlu naik angkutan umum lagi,"
"Benar. Bukankah dengan begitu gajimu tidak banyak berkurang."
Tidak lama mobil terhenti di parkiran kantor. Ziya turun bersamaan dengan Mario. Mereka jalan beriringan. Saat memasuki lobi, Semua mata menatap Ziya dan Mario.
Bersambung...
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉