Takdir seakan mempermainkan kehidupan Lintang Arjuna, ia yang dulu harus merelakan Danuar Anggara, kekasihnya untuk menikahi Libra, sang kakak, kini ia harus terlibat hubungan kembali dengan pria di masa lalunya.
Awalnya Lintang pikir Danuar datang menawarkan sejuta harapan dan cinta terpendam. Namun, siapa sangka Danuar justru kembali dengan misi membalas dendam atas rasa sakit yang Lintang torehkan di masa lampau.
Hari-hari bersama Danuar begitu menyesakkan. Dia bukan sekadar istri di atas kertas, dia adalah pengasuh kedua anak kembar Danuar yang harus selalu menuruti perintahnya tanpa dihargai sedikitpun.
Hingga akhirnya Lintang begitu sakit hati dan tidak tahan oleh perbuatan Danuar yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan serta merasa seperti istri murahan, ia memutuskan untuk diam-diam pergi dari kehidupan Danuar, saat itulah Danuar menyadari kesalahannya terhadap sang istri.
Bagaimana Kehidupan mereka ke depannya? Apakah ada kata damai atau justru perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Berkelahi
"Sudah mengucapkan belasungkawa? Kamu tidak mengincar apapun kan, di sini?tanya Mas Danu sarkasme. "Kali ini aku pastikan kamu tidak akan pernah menang dariku," lanjut pria yang duduk di sampingku ini. Aku menggaruk kepala bingung, masih tidak bisa memahami situasi ini.
Aku melihat Pak Samuel menyikapi perkataan Mas Danu dengan begitu santainya. "Calm down Bro, aku ke sini hanya ikut berkabung, bukan untuk mengusik hidupmu. Apa yang kamu takutkan dariku? Apa kamu nggak sebegitu percaya diri?"
Rahang Mas Danu mengeras lalu berdiri. "Kalau urusanmu sudah selesai pergilah!"
Aku menganga mendengar Mas Danu mengusir Pak Samuel. Bisa-bisanya pria ini melakukan hal ini di hari kematian ibuku.
"Mas Danu apa-apaan sih?" Aku tidak terima dengan sikap Mas Danu yang arogan. Bagaimana kalau dia didengar orang lain? Selain itu Pak Samuel adalah atasanku dan orang yang banyak membantuku dalam pekerjaan.
"Lintang kamu masuk!" Mas Danu menunjuk diriku dan wajahnya merah menahan amarah. Aku mendengus kesal, bukannya menghibur dia malah memarahiku.
"Mas, Pak Samuel tamuku, hargai dia Mas, lagipula dia juga atasanku di kantor. Pak Samuel untuk beberapa hari ini saya tidak bisa masuk kerja kembali, tolong bantu saya untuk–"
Kali ini tatapan intimidasi Mas Danu berikan padaku. Apa yang bisa aku harapkan? Mas Danu memang egois tidak peduli dengan perasaan orang lain.
"Tenanglah Lintang aku akan selalu ada saat kamu butuh bantuan, kebetulan aku lagi dekat dengan Bu Ceo, jadi semua akan baik-baik saja. Kamu bisa ambil cuti seminggu lagi."
"Lintang! Lihatlah si kembar!" perintah Mas Danu lagi.
"Dia ada pengasuhnya Mas!" tolakku. Dia berdecak kesal.
"Baik aku ke kamar, tapi tolong bersikap baiklah pada Pak Samuel." Aku bangkit lalu menuju kamar. Sempat kulihat Mas Danu menghela napas panjang.
"Mbak tolong ambilkan aku teh hangat ya, kepalaku masih pening." Perintahku pada pengasuh anak-anak lalu mendekati keduanya. Kedua bayi memandangku dengan mata berkaca-kaca. Apakah mereka juga merasa kehilangan atas kepergian neneknya? Sekarang benar-benar hanya aku keluarga mereka yang wanita." Aku menghela napas yang tertahan, sesak masih bergelayut di dada.
"Baik Nyonya." Punggung si Mbak berlalu dari hadapanku.
Aku masih termenung menatap kedua keponakanku dengan gamang hingga si Mbak masuk dengan tergesa-gesa.
"Nyonya! Nyonya!"
Aku berbalik dan menatap si Mbak dengan kening mengkerut. "Ada apa sih Mbak? Kayak dikejar setan saja," ucapku dengan nada kesal karena telah mengagetkanku.
"Itu ... itu ...."
"Jangan bilang kamu melihat hantu ibuku, ini belum malam juga." Entah kenapa aku sensitif hingga menebak-nebak sembarangan.
"Bukan Nyonya, itu ... itu ... Tuan Danu dan Tuan yang satunya berkelahi."
Aku langsung mengingat pada Pak Samuel. Apa dia belum pulang. "Maksudnya Pak Samuel?"
"Saya tidak tahu Nyonya."
"Pria berjas merah maroon di bawah."
"Ya, dia."
"Astaga!" Aku segera berdiri lalu menuruni tangga dengan setengah berlari.
"Pergi, kau tidak ada hak di sini!" Aku kembali mendengar nada suara Mas Danu yang meninggi.
"Kau juga sama, ayo pergi sama-sama." Aku mendengar nada suara Pak Samuel begitu datar.
"Enak saja, jangan samakan aku denganmu ya, aku itu menantu di sini, kau yang bukan siapa-siapa!"
"Halah kau cuma mantan menantu, ingat! Cuma Mantan!" sahut Pak Samuel dan itu membuat Mas Danu meradang.
Apa-apaan sih mereka, seperti anak kecil saja. Ayah juga tidak ada bedanya, dia hanya melihat keduanya dalam diam seperti patung. Apakah tidak ada sedikitpun tenaga untuk melerai mereka?
Eits, apa itu tandanya Pak Samuel belum tahu kalau Mas Danu sudah menikah denganku? Oh ya, aku lupa menyampaikan ini padanya. Aku dulu cuti dengan alasan lain. Tadinya aku ingin mengabarkan pada semua rekan bahwa aku pulang kampung karena menikah, tetapi melihat niat Mas Danu aku jadi tidak ingin banyak orang yang tahu bahwa aku sudah menjadi istrinya.
Mas Danu mendorong Pak Samuel menuju pintu. Pak Samuel tidak terima dengan perlakuan kasar Mas Danu, dia balik mendorong tubuh Mas Danu dengan kuat. Lalu Mas Danu hendak melayangkan bogem pada wajah Pak Samuel.
"Hentikan!" Aku berteriak lalu berlari ke arah mereka. Aku menangkap tangan Mas Danu dan menariknya ke belakang.
"Apa-apaan sih kalian? Berkelahi seperti anak kecil berebut permen. Sebenarnya apa yang kalian perdebatkan?"
Mas Danu menatapku lekat. "Menurutmu?!"
"Aku bertanya bukan mau menjawab pertanyaan," sahutku geram.
"Kami di sini sedang berduka, tetapi kalian main emosi tanpa memikirkan perasaan kami. Daripada kalian berdua menganggu ketentraman semua orang, lebih baik kalian berdua keluar!" Aku berteriak seraya menunjuk pintu.
"Pergi!" teriakku lagi lalu berbalik dan kembali berlari menapaki tangga. Sampai di atas aku menatap ke arah mereka yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya. Aku masuk kamar, terduduk lemas di samping kedua keponakanku.
"Lihat ayah kalian! Jangan sampai Mama gila melihat tingkahnya yang tidak masuk akal," ucapku pada bayi yang belum mengerti apa-apa. Baru kali ini aku melihat ada orang yang ingin melayat malah di usir dan ini dilakukan oleh pria yang memiliki jabatan seperti Mas Danu. Apa dia tidak takut orang mengatakan dirinya sebagai pria yang tidak bermartabat?
Pintu kamar terdengar dibuka dan suara langkah kaki menyentuh pendengaran. Aku tidak berniat sedikitpun untuk melihat siapa orang yang kini berdiri di belakangku.
"Lintang!"
Tenyata itu Mas Danu, masih tidak malu dia menunjukkan muka di depanku setelah membuat keributan di hari kematian ibuku.
"Ada apa?" tanyaku dengan suara datar tanpa menoleh sedikitpun.
"Maafkan aku telah membuat kekacauan."
"Hmm." Aku enggan bicara.
Mas Danu menghela napas kemudian aku mendengar suara langkah kaki menjauh. Ketika aku berbalik Mas Danu sudah keluar.
"Nyonya diminum tehnya dulu," ucap si Mbak seraya mendekatkan gelas padaku. Aku menerima teh yang hampir dingin itu lalu meneguknya hingga tandas. Setelahnya aku menuju jendela dan melihat keluar. Orang-orang masih ramai, mereka tidak pulang dan membantu menyiapkan makanan untuk acara tahlilan.
Aku merasa tidak nyaman jika harus berdiam di kamar sementara aku adalah tuan rumahnya.
"Eh Mbak Lintang, kalau nggak enak badan tidak apa-apa istirahat saja dulu," ucap seorang ibu muda dengan wajah pias karena kepergok membicarakan tentang Mas Danu.
"Tidak apa-apa, aku sudah lebih baikan. Oh ya, tadi kalian bicara tentang Mas Danu, kan? Bisa kalian bicarakan padaku?"
Semua orang terkejut, saling pandang lalu memberikan kode agar salah satu membuka mulut.
"Apapun itu, percayalah aku tidak akan marah," ucapku memastikan agar mereka tidak takut.
"Mbak Lintang janji ya, tidak akan sedih." Aku mengangguk mantap.
"Itu, kami hanya mengobrol bahwa dulu mereka juga sempat terlihat bertengkar gara-gara Mbak Libra. Sepertinya mereka menyukai wanita yang sama, tapi itu dulu loh Mbak Lintang, sekarang kami yakin Mas Danu hanya mencintai Mbak Lintang." Ada raut tidak nyaman di wajah mereka.
Aku mengangguk paham dan mencoba tersenyum meskipun hati bagai tersayat belati.
"Terima kasih atas informasinya, saya suka orang-orang yang jujur," ucapku ramah.
Mereka tersenyum kaku.