NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Hari Kamis yang dinanti-nantikan itu pun akhirnya tiba. Pagi ini, atmosfer di sekitar PAUD Desa Sukamaju terasa berbeda sejak fajar menyingsing. Tidak seperti biasanya, Santi—yang terkenal sebagai guru yang paling jarang datang ke sekolah dan sering kali datang saat mepet dengan jam masuk kelas—kini justru sudah berdiri tegap di teras sekolah. Ia datang jauh lebih awal, bahkan mendahului kedatangan Tina.

Dengan wajah yang berseri-seri, pipi yang merona karena bedak yang sengaja dipulas sedikit lebih tebal dari biasanya, dan setelan baju terbaiknya, Santi berdiri gelisah menunggu Tina datang untuk membuka pintu utama.

Dari kejauhan, susunan langkah kaki Tina yang teratur mulai terdengar. Begitu sosok Tina muncul di belokan pagar bambu, Santi langsung melambaikan tangannya dengan heboh.

"Tina! Ayo cepat buka pintunya! Kita harus bersih-bersih sebelum Pak Andry datang!" Seru Santi dengan nada suara yang melengking riang, sarat akan antusiasme yang meluap-luap.

Tina yang berjalan dengan tas kain rajutnya sempat tertegun sejenak. Ia menatap tingkah laku seniornya itu dengan dahi berkerut. Perubahan sikap Santi yang tiba-tiba mendadak jadi sangat rajin dan perfeksionis ini terasa sangat aneh dan tidak wajar di matanya. "Iya, iya, tunggu dulu, San. Ini kuncinya baru aku ambil," jawab Tina tenang, sembari merogoh tas rajutnya.

Setelah pintu kayu berderit terbuka, mereka berdua segera masuk ke dalam kelas. Tanpa diperintah, Santi langsung menyambar sapu bulu dan mulai membersihkan lantai dengan gerakan yang sangat cekatan, seolah-olah setiap butir debu di ruangan itu adalah musuh besarnya.

"Assalamu’alaikum, Ibu Guru..." sebuah suara polos terdengar dari ambang pintu.

"Eh, Fatih! Waalaikumsalam, ayo masuk sayang," sambut Tina hangat".

Fatih berjalan masuk melintasi teras, namun langkah kecilnya sempat terhenti. Anak laki-laki itu memandangi Ibu Guru Santi dengan tatapan yang heran dan bingung. Sebagai anak-anak, Fatih pun bisa merasakan keanehan dari kelakuan Ibu Guru Santi yang pagi ini mendadak sangat ramah, bergerak ke sana kemari dengan senyum yang dipaksakan melebar.

Bukan hanya Fatih, Tina yang sejak tadi memperhatikan gaya Santi dari ujung kepala hingga ujung kaki juga merasa aneh dengan tingkah seniornya itu. Santi hari ini mengenakan bros jilbab yang berkilau, sapuan lipstik merah muda yang segar, dan aroma parfum melati yang cukup menyengat—sebuah persiapan yang terlalu matang hanya untuk menyambut seorang perwakilan yayasan.

Waktu berjalan merayap tanpa terasa di antara riuh tawa anak-anak yang mulai berdatangan, hingga jarum jam dinding kelas menunjukkan tepat pukul sembilan pagi.

Tidak lama setelah itu, suara deru halus mesin yang sangat familier kembali memecah keheningan halaman sekolah. Mobil SUV hitam mewah milik Andry tiba dan perlahan berhenti di bawah keteduhan pohon beringin tua.

Andry mematikan mesin mobilnya. Pria kota itu turun dari dalam kabin yang sejuk dengan gurat wajah yang dihiasi sedikit senyuman tipis. Di dalam dadanya, ada sebersit rasa tidak sabar yang menggelitik; ia sangat menanti untuk mendengar keputusan dari Tina. Dari balik kacamata hitamnya, Andry melihat sosok Tina sudah berdiri anggun di selasar teras kelas untuk menyambutnya.

Melihat pemandangan itu, imajinasi Andry mendadak melompat jauh ke depan. Sebuah kilasan fantasi yang indah melintas di benaknya. Seketika itu juga, ia membayangkan suatu hari nanti, saat Tina sudah resmi menjadi istrinya, berdiri dengan keanggunan yang sama di teras rumah mewah mereka di kota, tersenyum tulus sedang menunggunya pulang dari lelahnya bekerja seharian. Senyuman itu terasa begitu nyata dalam benak Andry, membuat dadanya menghangat.

Namun, lamunan indah itu mendadak buyar dan terhenti seketika saat seorang anak kecil berbaju kaos merah berlari kencang dari arah halaman tanpa melihat jalan, lalu... *Bruk!* Anak itu menabrak kaki tegap Andry hingga hampir terjatuh.

Andry tersentak, refleks memegang pundak kecil anak itu agar tidak terjungkal ke tanah. "Ya ampun... kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Andry, mencoba melembutkan suara baritonnya yang biasanya terdengar dingin.

"Tidak apa-apa, Om! Maaf!" Jawab anak itu dengan napas terengah-engah, memberikan cengiran polos sebelum akhirnya kembali berlari kencang bersama teman-temannya untuk melanjutkan permainan kejar-kejaran mereka.

Andry mengembuskan napas pendek, merapikan kembali letak kemeja katunnya yang sedikit kusut akibat tabrakan tadi, lalu melanjutkan langkah kakinya yang mantap menuju teras kelas tempat Tina berada.

"Assalamu’alaikum, Tina," sapa Andry, melepaskan kacamata hitamnya dan menatap langsung ke dalam sepasang mata jernih gadis di hadapannya.

"Wa’alaikumussalam, Pak Andry," jawab Tina dengan nada suara yang formal dan sesopan mungkin, mencoba menyembunyikan debar gugup di dadanya.

Tiba-tiba, sebelum obrolan mereka berlanjut, pintu kelas terbuka agak kasar dan Santi keluar dengan gerakan yang dibuat-buat anggun, langsung memposisikan dirinya berdiri tepat di belakang bahu Tina.

"Tina... ini orangnya?" Bisik Santi setengah menyenggol lengan Tina, matanya berbinar-binar tanpa berkedip menatap ketampanan fisik Andry yang begitu memikat di dunia nyata, jauh lebih mengesankan daripada gosip ibu-ibu wali murid kemarin.

Tina mengangguk kecil, lalu kembali menatap Andry. "Ah, Pak Andry... perkenalkan, ini teman mengajar saya di PAUD ini. Beliau juga guru di sini, namanya..."

Sebelum Tina sempat menyelesaikan kalimat perkenalannya, Santi sudah lebih dulu melangkah maju satu langkah, mengulurkan tangannya yang lentik dengan senyuman paling manis yang bisa ia pamerkan. "Ah, nama saya Santy, Pak Andry. Saya guru senior di sini," potong Santi dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan.

Andry menatap tangan yang terulur itu dengan pandangan yang datar. Dengan sikap yang terasa dingin dan formal, ia menerima salaman dari Santy secara singkat. "Saya Andry," jawabnya pendek, hampir tanpa ekspresi, lalu pandangannya langsung kembali beralih mengunci wajah Tina.

Sadar bahwa teras kelas bukan tempat yang tepat untuk urusan dinas, Tina segera memberikan isyarat tangan. "Silakan lewat sini, Pak," ucap Tina menunjukkan jalan untuk masuk ke dalam ruangan kantor kecil di sudut sekolah yang biasa mereka gunakan untuk menerima tamu.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi setelah mereka bertiga mengambil posisi duduk mengelilingi meja kayu, pembicaraan penting itu pun dibuka. Tina dengan sikapnya yang tenang dan runut mulai menjelaskan semuanya secara detail kepada Andry. Ia memaparkan bahwa pihak pengelola PAUD dan pihak desa dengan sangat gembira menerima tawaran bantuan renovasi fisik serta pengadaan fasilitas yang diajukan oleh Yayasan Nirwana Utama.

Andry yang mendengar penjelasan awal dari bibir Tina itu pun perlahan tersenyum puas. Di dalam hatinya, ia bersorak kemenangan. Ia merasa rencana besarnya untuk mengikat gadis desa ini melalui jalur profesional telah berhasil sepenuhnya. Bayangan untuk membawa Tina ke kota kini sudah berada di depan mata.

"Tapi... Pak," jeda Tina tiba-tiba, membuat kurva senyum di bibir Andry tertahan. Tina menatap Andry dengan tatapan meminta maaf namun tegas. "Saya pribadi tidak bisa menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti pelatihan intensif selama satu bulan di kota karena kendala urusan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan. Tapi, Bapak tidak perlu khawatir..."

Tina menggeser selembar dokumen yang sudah terisi rapi ke hadapan Andry. "...karena Ibu Santi yang akan pergi menggantikan saya untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Dan Ibu Santi juga sudah menandatangani berkas kesediaannya di atas meterai kemarin siang di kantor desa."

Andry yang mendengar kalimat tersebut seketika tersentak hebat. Jantungnya bagai berhenti berdetak sesaat, dan raut wajahnya berubah kaget luar biasa. Rahangnya mengeras. Ia selama ini mengira dan berasumsi mutlak bahwa Tina lah yang akan pergi untuk mengikuti pelatihan tersebut—karena seluruh draf kontrak itu sengaja ia rancang khusus dengan kualifikasi yang menyasar diri Tina.

Andry langsung menyambar dokumen di atas meja dengan gerakan yang kasar. Ia baru benar-benar memperhatikan lembar persetujuan itu dengan mata kepalanya sendiri. Benar saja, bukan nama 'Nur Amelia Tina' yang tertera dengan tinta hitam di atas kertas putih itu, melainkan nama 'Santy'.

Seketika, darah Andry mendidih. Amarah yang besar bergejolak di dalam dadanya. Di dalam benaknya yang murka, ia menggebrak meja kayu itu dan berteriak: *“Apa-apaan ini?! Yang saya tawarkan ikut pelatihan kan kamu, Tina! Bukan dia! Mana bisa diubah-ubah begini secara sepihak?! Pokoknya saya tidak mau tahu, kalau bukan kamu yang pergi, maka seluruh penawaran bantuan untuk sekolah ini batal! Titik!”*

"Pak... Pak... Pak Andry?"

Sebuah panggilan lembut yang berulang dari suara Tina mendadak menembus gendang telinga Andry, menarik kesadarannya kembali ke realitas.

"Ah... iya?" Sahut Andry gelagapan. Ia mengerjapkan matanya, napasnya agak memburu.

Andry terbangun dari lamunannya yang mengerikan tadi. Ternyata, semua emosi meledak-ledak dan bentakan membatalkan kontrak itu hanyalah sebuah bayangan kemarahan yang terjadi di dalam kepalanya sendiri. Di dunia nyata, ia masih terduduk kaku di kursi kayu, memegang dokumen bertandatangan Santi di bawah tatapan bingung dari Tina dan Santi.

"Bagaimana, Pak Andry? Semuanya sudah selesai, kan? Sudah tidak ada syarat atau berkas lain lagi yang kurang, kan?" Tanya Tina memastikan, menatap Andry dengan pandangan mata yang penuh harap agar urusan sekolah ini bisa segera selesai.

Andry menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga menguasai gemuruh amarah dan kekecewaan yang bergejolak di dalam dadanya. Ia menatap wajah Tina yang polos tanpa dosa, lalu melirik Santi yang duduk di sebelahnya dengan senyum sumringah yang membuat Andry merasa muak.

"Ah... iya, sudah. Sudah tidak ada yang kurang lagi," jawab Andry dengan suara yang terdengar agak serak dan dipaksakan rata.

"Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Pak Andry. Bantuan ini sangat berarti bagi masa depan anak-anak di desa kami," ucap Tina dengan tulus, kedua tangannya merapat di depan dada menunjukkan rasa syukur yang amat sangat.

"Ah, iya... sama-sama," sahut Andry pendek, senyumnya kini terasa begitu hambar dan getir.

Andry duduk dengan sisa harapan yang telah pupus total di dalam dadanya. Rencana yang ia susun dengan begitu rapi dan matang untuk membawa Tina dekat dengannya di kota kini telah patah di tengah jalan. Padahal, ia sangat membayangkan gadis itulah yang akan menandatangani formulir tersebut. Namun, pada akhirnya, Andry terpaksa harus menerima kenyataan pahit ini dan menandatangani berkas persetujuan dari sisinya. Ia terpaksa melakukan itu semata-mata karena ia masih harus mempertahankan reputasi, nama baik, dan gengsi profesionalnya di hadapan Tina. Ia tidak ingin terlihat sebagai pria kota yang picik dan tidak konsisten dengan janji yayasannya jika tiba-tiba membatalkan bantuan hanya karena masalah personal.

"Kalau begitu... berkas kerja sama ini akan saya bawa kembali ke kantor pusat," ujar Andry dengan nada suara yang mendadak kehilangan wibawa enerjik seperti biasanya. Ia melirik sekilas ke arah lembar kontak. "Dan... nomor telepon Ibu Santi sudah ditulis di sini dengan benar, kan?"

"Iya, Pak, sudah saya tulis dengan sangat lengkap dan jelas!" Jawab Santi dengan penuh semangat, matanya berbinar-binar membayangkan petualangan barunya di kota kabupaten nanti.

"Baiklah... kalau begitu, Ibu Santi tunggu saja informasi lanjutan dan jadwal keberangkatan dari tim sekretariat kami minggu depan," tutur Andry formal, merapikan dokumen-dokumen itu masuk ke dalam map kulit cokelatnya dengan gerakan yang terasa lesu.

"Baik, Pak Andry. Saya akan selalu siap menunggu kabarnya," sahut Santi dengan senyuman terbaiknya.

Andry bangkit berdiri dari kursi kayunya, menatap Tina untuk terakhir kalinya pada pertemuan hari ini dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Kalau begitu... saya pamit dulu karena masih ada urusan lain di kota. Mari, Tina... Mari, Bu Santi."

"Iya, mari Pak Andry. Hati-hati di jalan," jawab Tina, ikut berdiri dan mengantarkan langkah tamu besarnya itu hingga ke pintu luar.

Andry pun berjalan melangkah pergi meninggalkan kantor PAUD menuju mobil SUV hitamnya dengan langkah yang terasa berat. Wajah tampannya kini tampak putus asa, lesu, dan muram. Siasat licik yang ia bawa dengan penuh percaya diri dari kota besar ternyata harus tunduk dan gagal total di tangan keputusan sederhana seorang gadis desa. Di dalam mobil yang mulai bergerak menjauh, Andry mencengkeram kemudi dengan erat, menyadari bahwa perjalanan untuk menaklukkan hati Tina ternyata akan jauh lebih berliku dari yang pernah ia duga.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!