Saling mencintai, namun restu tak menyertai. Tetap memaksakan untuk menjalankan pernikahan tanpa restu. Namun ternyata restu masih di atas segalanya dalam sebuah pernikahan.
Entah apa yang akan terjadi lada pernikahan Axel dan Reni, ketika mereka harus menjalani pernikahan tanpa restu. Apa mungkin restu itu akan di dapatkan suatu saat nanti. Atau bahkan perpisahan yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Pun, Semuanya Akan Tetap Sama
Saat itu Ayahnya Avinna kembali datang ke rumah orang tua Axel. Dia ingin memastikan tindakan apa yang sudah dibuat oleh Papanya Axel dalam hal ini. Karena dia juga tidak ingin terus menunggu dan membuat anaknya cemas dengan situasi saat ini.
"Apa yang sudah kalian lakukan? Apa sudah membuat anakmu menyerah dan akhirnya berpisah?"
Terlihat wajah Papa yang sedikit cemas, karena memang dia belum bisa membuat anaknya untuk berpisah dan meninggalkan istrinya itu. Axel benar-benar keras kepala.
Ayahnya Avinna menghembusan nafas kasar, lalu dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sudah bisa menebak dari diamnya Papa disini. Sebenarnya dia juga tidak ingin meneruskan pernikahan ini, jika saja anaknya tidak begitu memohon. Yang jelas Ayah tidak akan siap melihat Avinna hancur karena tidak bisa menikahi pria yang dia cintai selama ini.
"Kalau kau tidak bisa bertindak dengan tegas. Maka aku akan turun tangan. Siapkan saja semua untuk pernikahan anak kita. Urusan Axel dan istrinya biarkan aku saja yang mengurusnya"
"Saya benar-benar sudah berusaha, tapi masih belum bisa membuat anak saya meninggalkan istrinya" ucap Papa.
"Kalau begitu, kita buat terbalik saja. Biarkan istrinya yang pergi lebih dulu meninggalkan Axel. Maka semuanya akan aman"
Papa langsung terdiam, sebenarnya memang selama ini dia terlalu menekan anaknya yang keras kepala itu. Dan seharusnya dia lebih menekan istri anaknya agar bisa pergi dan meninggalkan Axel.
"Sudahlah, serahkan saja padaku. Biarkan aku yang mengurus semuanya" ucap Ayah.
Dan besok harinya, Ayah menemui kembali Reni dengan membawa surat gugatan cerai dari pengacaranya. Memberikannya pada Reni.
"Tanda tangani ini dan segera tinggalkan Axel. Kalau kamu ingin masa depan dan kehidupan adik kamu baik-baik saja. Ingat, saya bisa melakukan apa saja"
Tangan Reni bergetar saat itu, mengambil surat itu yang sama sekali tidak dia inginkan. Dia menatap Ayahnya Avinna dan juga Asistennya itu. "Berikan saya waktu, yang jelas saya akan pergi sebelum pernikahan terjadi. Mohon sekali untuk memberikan saya waktu untuk bisa menghabiskan kebersamaan dengan suami saya"
"Dua hari! Tidak ada kelebihan waktu lagi"
Reni mengangguk dengan air mata yang menetes mengenai kertas di tangannya. Nyatanya dia tetap harus menyerah. Tidak ada pilihan lain lagi untuknya. Dia yang sudah berusaha keras untuk membuat adiknya mempunyai masa depan lebih baik darinya. Dan jika dia terus egois, maka semua usahanya selama ini akan sia-sia. Terpaksa dia harus berkorban untuk hal ini.
*
Pernikahan yang memang tidak akan bisa di batalkan apapun alasannya. Apalagi sekarang ketika surat gugatan perceraian dari istrinya . Wajah pengantin pria yang seharusnya menunjukan kebahagiaan, namun ini sungguh berbanding terbalik. Setelah dia mengucapkan janji suci pernikahan untuk wanita yang sekarang berdiri disampingnya ini, dia sama sekali tidak menunjukan kebahagiaan.
Hanya wajah dingin dan datar yang terlihat di setiap kamera. Pernikahan yang benar-benar besar, dengan sengaja mengundang beberapa stasiun televisi untuk meliput langsung acara pernikahan dari dua anak pebisnis besar ini. Namun bukan aura kebahagiaan yang terlihat.
Avinna juga bukan tidak menyadari dengan ekspresi wajah pria yang sudah menjadi suaminya sekarang. "Hargailah para tamu, tersenyum sedikit"
Axel melirik sekilas pada Avinna, namun dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan istrinya itu. Sama sekali tidak menunjukan sebuah senyuman pada setiap tamu yang menghadiri acara ini.
Hatinya sudah terlanjur membeku sekarang, sudah tidak ada lagi kehangatan dalam dirinya. Axel sudah berada dalam titik hancur dalam hidupnya. Hingga dia tidak bisa lagi untuk biasa saja. Semuanya sudah kacau. Dan Axel yang dulu, entah bisa kembali lagi atau tidak. Sekarang dai benar-benar berubah menjadi Axel yang dingin.
Di tempat dan daerah yang berbeda, seorang wanita menangis tersedu-sedu melihat tayangan di televisi saat ini. Pernikahan yang sangat mewah dan megah. Pernikahan pria yang dia cintai.
"Kakak baik-baik saja?"
Rezka datang menghampiri Kakaknya, lalu dia duduk di kursi samping Kakaknya. Meraih tangannya dan mengenggamnya dengan lembut. Kehancuran Kakaknya seperti ini, sungguh membuat Rezka tidak pernah bisa menahan diri lagi.
Kenapa harus Kakaknya? Dia adalah wanita yang hebat dan kuat untuk Rezka. Namun, sekarang melihatnya seperti ini benar-benar membuat Rezka merasa gagal untuk menjadi seorang adik.
"Seharusnya Kakak tetap mempertahankan pernikahan Kakak. Jangan mengorbankan semuanya demi aku"
Reni menoleh pada adiknya, tangan satunya terangkat untuk mengelus kepala adiknya. "Semuanya akan tetap sama meski Kakak terus berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini. Rezka, ternyata restu itu memang masih menjadi tahta tertinggi untuk terjadinya sebuah pernikahan. Dan Kakak yang salah karena sudah berani melawan restu"
Rezka berdiri dan langsung memeluk Kakaknya dengan erat. Membiarkan dia menangis dalam pelukannya. Sekarang ini yang perlu diperhatikan adalah kesehatan Kakaknya. Karena pastinya dia sangat terluka dengan semua ini.
"Sekarang kita jalani saja kehidupan kita dengan berdua saja ya, Kak. Jangan terus bersedih seperti ini, jika memang semua ini sudah menjadi keputusan untuk Kakak"
Reni mengangguk, dia melerai pelukannya. Mendongak dan menatap adiknya dengan matanya yang basah. Rezka pun langsung menghapus air mata Kakaknya itu. Lalu, dia mengecup kening Kakaknya dengan lembut.
"Kakak aku ini cantik, pastinya akan mudah untuk mendapatkan yang baru" ucap Rezka dengan tersenyum.
Reni ikut tersenyum, dia tahu jika adiknya sedang mencoba untuk menghiburnya saat ini. "Hari wisuda kamu itu kapan ya? Kakak lupa lagi. Akhirnya Kakak bisa hadir di acara wisuda kamu. Gak nyangka kalau adik Kakak yang tampan ini, sekarang sudah dewasa"
"Masih dua hari lagi, Kak. Pokoknya Kakak harus hadir. Semua ini adalah perjuangan besar Kakak, sampai aku bisa lulus kuliah"
Reni memegang tangan adiknya, dia mengenggamnya lembut. Dia menggantikan peran kedua orang tuanya sejak adiknya masih duduk di kelas dua SMU. Hingga dia yang harus mengalah dan tidak melanjutkan kuliah, mencari pekerjaan dan membiayai sekolah adiknya. Dan sekarang semua perjuangannya itu berakhir cukup memuaskan. Melihat adiknya bisa menyelesaikan kuliah, sudah menjadi kebanggaan terbesar untuknya.
"Lalu, rencanamu apa setelah ini? Apa sudah terpikirkan untuk pergi bekerja kemana?" tanya Reni.
"Sepertinya di tempat aku magang kemarin, memberikan aku tawaran pekerjaan. Tapi masih belum pasti. Semoga saja aku diterima disana ya Kak. Soalnya cari Perusahaan yang cocok sekarang susah. Kalau disana kan aku sudah pengalaman saat magang"
Reni mengangguk mengerti, dia menatap foto kedua orang tuanya yang berada di atas nakas. Setidaknya dia bisa bangga menunjukan semua ini pada mendiang kedua orang tuanya. Dia sudah berhasil memberikan yang terbaik untuk adiknya, menggantikan peran kedua orang tua.
"Kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu mendapatkan kesuksesan ya, Dek"
Rezka tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Kakaknya, mencium pipinya dengan penuh kasih sayang. Jika tidak ada seorang Kakak yang kuat seperti Reni, maka dia tidak tahu hidupnya akan seperti apa.
"Terima kasih untuk semuanya ya, Kak. Aku menyayangi Kakak"
Reni hanya tersenyum dengan mengelus punggung lebar adiknya yang memeluknya ini. "Besok kita ke makam Ayah dan Bunda ya. Kakak sudah lama tidak kesana, rindu juga"
Rezka mengangguk saja.
Bersambung
Ngak ada extrapart gitu kak 😁😁😁
lanjut kak semangat 💪💪💪