Renata, seorang ibu muda yang harus berjuang mencari kebahagiaan untuk anak serta dirinya, di tengah-tengah keluarga suaminya yang mempunyai sifat toxic. Mampukah Renata mendapatkan kebahagiannya? Sementara sang kakak yang awalnya ia pikir dapat membantunya agar bahagia, ternyata juga sama saja seperti keluarga suaminya yang toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss 'R', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Emm... aku sudah pisah sama papanya Alif." Renata memutuskan untuk bicara apa adanya. Tapi yang pasti ia tak akan memberitahu secara detail alasan dia berpisah dengan Fahmi, pada Nova.
"Ya ampun, maaf ya, Ren. Aku kira kamu tinggal di sini sama suami." Nova memegang telapak tangan Renata. "Tapi kamu jangan khawatir, sekarang kita bisa berteman. Biar kamu nggak merasa kesepian berdua aja sama Alif." sambungnya seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Iya, makasih ya." Renata menepuk punggung tangan Nova dan balas tersenyum juga.
"Mungkin lebih baik, aku juga tak perlu memberitahu Nova jika aku dan Mas Deon adalah adik kakak. Aku cukup trauma dengan watak orang-orang sekitarku. Semua yang awalnya aku nilai baik, ternyata itu hanyalah topeng. Dimana pada akhirnya mereka menunjukkan perangai buruknya." Renata membatin dalam hati.
"Terus kamu kerja apa sekarang, Ren?" tanya Nova yang semakin kepo dengan kehidupan tetangga barunya. Karena baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang merantau tapi dengan membawa seorang bayi.
"Aku mau nyoba jadi reseller baju anak-anak, Nov."
"Oh, gitu. Ya semoga usahamu nanti lancar ya. Nanti kalau kamu butuh bantuan, bilang aja sama aku. Siapa tau aku bisa bantu. Pokoknya jangan sungkan ya,"
Renata mengangguk. Meskipun ia bertekad tak akan meminta bantuan pada Nova nantinya. Renata ingin kedepannya ia hanya akan mengandalkan dirinya sendiri serta Tuhan.
"Kalau kamu sendiri kerja dimana?" Renata mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku kerja di toko kosmetik deket sini. Jadi pulang pergi aku bisa jalan kaki. Oh iya, misal kamu butuh bedak, lipstik, maskara, masker, atau apapun itu, bilang aja ke aku ya. Nanti aku bawakan buat kamu."
"Wah, makasih banget sebelumnya. Tapi aku dah biasa beli di online." Renata semakin merasa tak nyaman kalau Nova bersikap seperti itu.
"Kalau beli di online pasti mahal. Lebih baik ambil di aku. Aku kasih harga miring nanti. Ngomong-ngomong kamu pakai merek apa sih bedakmu? Pasti di tokoku juga ada. Soalnya toko tempatku kerja itu lumayan lengkap produknya."
Bruuttt...
Tiba-tiba terdengar suara buang angin. Gegas Renata pura-pura melihat ke popok Alif.
"Ya ampun, ternyata Alif poop. Maaf ya Nov, aku tinggal masuk dulu mau bersihin poopnya Alif sekalian aku mandiin." pamit Renata seraya berdiri.
"Oh, okeh deh. Nanti kita sambung lagi ya ngobrolnya setelah kamu selesai mandiin Alif. Aku libur kok hari ini." jawabnya lalu ikut berdiri juga dan kembali masuk ke kamarnya.
sontak Renata bernafas lega. "Huh, akhirnya bebas juga aku dari dia. Makasih ya Sayang, kamu udah bantuin mama lepas dari tante kepo itu." bisik Renata tatkala pintu sudah ia tutup.
Padahal saat ini Alif hanya sekedar buang angin aja. Tapi kalau Renata tak mengatakan Alif poop, pasti Nova masih berusaha mengajaknya ngobrol terus.
"Ya Allah, lepas dari Fahmi dan keluarganya, tapi kini aku harus menghadapi kakak serta tetangga yang... Entahlah!" berulang kali Renata mengelus dadanya.
##
"Duh, capek sekali ternyata proses untuk jualan nasi campur ini! Dari kemarin rasanya kepalaku pusing." sungut Dita sambil terus mengupas bawang dan berbagai macam sayuran.
"Ya sabar lah, Dit. Kita ini kan mulai dari awal, banyak bahan yang harus kita kupas dan bersihkan untuk stock di showcase. Di lain sisi, kita juga belum terbiasa sama rutinitas ini. Jadi wajar aja kalau terasa banget capeknya. Mungkin seminggu aja, kita bakal terbiasa nanti." sahut Deon yang juga tak kalah sibuk dengannya. Tapi ia sangat menikmati kesibukannya.
Sedangkan Zafir dan Via masih belum pulang dari sekolah.
"Sabar sih sabar, tapi kita ini udah mulai kegiatan dari jam 5 subuh tadi loh, Mas! Dan sampai jam 10 siang gini masih aja banyak yang belum selesai. Mau sampai jam berapa kita di sini?" Dita melempar pisau yang ada di tangannya. Kemudian ia bangkit berdiri ke arah meja makan.
Untungnya saat mereka perjalanan ke warung nasi, sudah ada dagang nasi kuning yang sudah buka. Jadi kini Dita bisa istirahat sambil memakan nasi kuning itu sebagian. Sebagian lagi ia sisihkan untuk kedua anaknya.
"Mas! Ini banyak banget panggilan dari Pak Kumis. Pasti dia nyari mobilnya." celetuk Dita yang kini sedang memainkan ponselnya.
"Ya udah, nanti sepulang dari sini kita balikin aja mobilnya. Kan kita sudah belanja untuk stock beberapa hari kedepan. Jadi setelah ini kita usahakan belanjanya setiap hari aja. Biar bisa pakai motor." Deon berucap, kemudian berpaling menatap istrinya yang tak lagi mau melanjutkan mengupas sayuran. "Uang sewa mobilnya masih ada kan, Dit?" selidik Deon khawatir.
Dita melirik Deon dengan ekor matanya. "Masih ada sih, tapi sepertinya kurang deh, Mas."
"Kok bisa? Bukannya Renata ngasih banyak yaa kemarin?"
"Lah kan kita nambah hari buat belanja kemarin?"
Kini Deon duduk di hadapan Dita. "Terus gimana kurangnya? Banyak nggak?"
"Sekitar lima ratus ribu lagi lah."
"Pakai uang sisa belanja..."
"Nggak bisa, nggak boleh, dan nggak mau!" potong Dita cepat dengan mata melotot.
Deon menarik nafas panjang. "Terus kurangnya gimana, Dit?"
"Minta aja ke adekmu itu! Atau kalau nggak gitu, kamu cari koperasi harian lagi aja. Sekalian kamu pinjam yang banyak, biar bisa kita pakai buat beli televisi yang besar dan PlayStation juga. Kan keren tuh, Mas! Anak-anak pasti nggak bakal main hape terus." Dita tersenyum senang di ujung kalimatnya.
Lantaran ia sudah membayangkan sedang membeli televisi yang ukurannya besar. Terus membayangkan nanti anak-anaknya puas main game.
"Tapi, Dit. Kita sanggup nggak nanti bayar cicilannya? Ini kita bayarnya tiap hari loh."
"Astaga, belum apa-apa kok kamu udah pesimis gitu sih, Mas? Harus optimis dong! Jualan nasi kita nanti pasti rame banget. Pak Gustav aja penghasilan bersihnya dari dagang nasi campur sehari bisa 1juta minimal. Jadi kalau sekarang kita punya cicilan yang receh, ya pasti kita mampu bayar juga lah!" omel Dita dengan sangat yakin.
"Bukan gitu, tapi aku cuma...."
"Terserah kamu aja lah, Mas. Di ajakin optimis kok malah nggak mau!" potong Dita lalu beranjak pergi meninggalkan Deon yang masih dilema dengan keputusannya.
Sampai pukul 12.00 siang, Dita masih juga belum mau membantu Deon memotong sayuran dan berbagai macam bumbu. Terpaksa Deon menyelesaikannya sendiri. Hingga tiba-tiba ia mendengar ada suara laki-laki yang sedang berbicara dengan Dita di luar warung nasi.
Dengan cepat Deon berjalan menghampiri. Rasa penasaran dan rasa cemburu kian beradu.
hampir lupa ini alurnya..
Thor jangan kelamaan Hiatus nya..entar lupa alur ceritanya
bini Modelan begitu di turutin
karena kalian sudah menyia nyiakan adek kalian