Dia adalah gadis yang bernasab pada ibunya, satu satunya orang yang sangat mengasihinya di keluarga besar yang terhormat itu.
ia tak pernah dianggap ada, kehadirannya hanyalah aib yang memalukan bagi keluarganya.
hidupnya semakin hancur ketika satu satunya pelita dan sumber kasih sayang dalam hidupnya harus pergi selamanya.
naasnya...ia sama sekali tak di perkenankan melihat sang ibu untuk terakhir kalinya. bahkan ia tak tahu di mana sang ibu di makamkan.
dan malam dimana sang ibu tiada, di usianya yang masih menginjak remaja. ia harus menerima pelecehan dari seseorang yang seharusnya merangkulnya guna sedikit mengurangi beban kesedihan akibat kepergian sang ibu.
kakak sepupunya berniat merenggut mahkotanya sebagai seorang wanita.
ia berlari dan berlari dengan kaki berdarah pergi menjauh dari istana kelam itu.
mencoba menyelamatkan kehidupannya yang penuh dengan luka dan cemoohan.
dia....Izhayana Namira Shafeea.
seorang gadis tak bernasab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 Shafeea yang rapuh ( revisi )
Perlahan Farugh melepaskan pelukannya kepada Shafeea.
Dengan cepat gadis itu memanfaatkan keadaan dengan segera berlalu meninggalkan Farugh yang masih berdiri terpekur seperti mayat hidup.
Ucapan Shafeea bagai belati tajam menghujam ulu hatinya.
Ia ingin membunuhnya katanya...prasangka macam apa itu, tidakkah kau bisa merasakan cintaku kepadamu.
Rintih Farugh dalam hati.
Namun ia sadar....ia telah melukai gadis itu dengan begitu dalam.
Beberapa detik kemudian, pria tampan itu merosot ambruk kelantai dengan menggunakan lututnya sebagai tumpuan tubuhnya.
" Shafeea...." desisnya.
Dadanya sesak bagai terhimpit batu besar.
Sungguh kerapuhan Farugh dapat di rasakan oleh dua orang pria berbeda generasi di tengah ruangan sana.
Tak ada yang bersuara, dan tak ada yang bergerak...mereka larut dalam pemikiran masing masing.
🌿🌿🌿
Jam dinding yang menggantung di sebuah kamar asrama menunjukkan angka 9 malam.
Telah hampir tiga jam lamanya sejak ia pulang dari pertemuannya dengan orang orang yang seharusnya lebih tepat di sebut sebagai keluarganya, Shafeea duduk meringkuk di sudut kamarnya.
Tatapan matanya kosong, wajahnya nampak pucat pasi.
Hembusan nafasnya terdengar begitu berat.
" mamy...kenapa kau tak membawaku turut serta bersamamu ?! " bisiknya, perlahan ia yang duduk meringkuk sendirian dalam gelap karena ia memang tak menghidupkan lampu kamarnya, memeluk tubuhnya sendiri.
" aku sendirian mamy, ini begitu berat bagiku...." Shafeea larut dalam kerapuhannya
" ku mohon bawa aku bersammu " rintihnya lagi.
Shafeea benar benar larut dalam kesedihan. Ia sungguh bingung dan tak tahu harus bagaimana.
Ketika ia tengah larut dalam kesedihan, tiba tiba ada yang bergetar di atas ranjang sana.
Dert...dert....
Sebuah panggilan terdengar masuk berkali kali. Shafeea diam tak bergerak.
Think....
Pesan masuk.
Shafeea menyeret tubuhnya yang terasa berat mendekat ke arah tempat tidur.
( keluarlah...aku di depan asramamu ) satu pesan ter terbaca oleh Shafeea. Gadis itu hanya diam tak berniat membalas pesan itu.
Pesan itu terkirim dari sebuah nomor tak bernama. Namun dari bahasa tulisannya dapat ia pastikan siapa yang mengirim pesan itu.
( aku tahu kau di dalam, kau yang keluar atau aku yang masuk ?! )
( ya...) satu balasan dari Shafeea.
Tak ingin membuat keributan, gadis itu akhirnya mengiyakan saja permintaan itu.
Shafeea meraih hijab instannya berwarna hitam, dan tanpa membenarkan penampilannya sedikitpun. Ia memutuskan untuk menemui seseorang yang telah mengiriminya pesan.
Wajahnya terlihat begitu kusut dan awut awutan.
Shafeea baru saja keluar pagar asrama ketika tiba tiba seseorang menarik lengannya dan membawanya dalam pelukannya.
Pelukan itu terasa begitu kuat, namun itu terasa berbeda bagi Shafeea. Tadi Farugh juga memeluknya...namun ketakutan yang begitu besar yang ia rasakan, kini Axel juga memeluknya. Tapi....ini berbeda, Entahlah kenapa ia tak tahu.
Axel semakin erat memeluk gadis yang nampak begitu rapuh itu.
" jangan lakukan ini lagi kumohon....aku bisa gila karenamu, beri tahu kamanapun kamu pergi " desis Axel di atas kepala Shafeea karena posisinya ia yang jauh lebih tinggi dari Shafeea dan karena tinggi Shafeea yang hanya sampai dadanya saja,
Lengan Axel memeluk erat Shafeea seolah begitu takut kehilangan sementara dagunya berada di atas kepala Shafeea.
Tangan Shafeea sedikit terangkat keatas seolah ia hendak membalas pelukan pemuda tampan berkulit putih itu.
Sejenak kedua tangan itu melayang di udara sebelum akhirnya kembali jatuh di kedua sisi tubuh Shafeea.
Tadinya ia seolah ingin membalas pelukan Axel, namun ...ia mengurungkannya.
Ia merasa tenang dalam dekapan Axel, ia merasa di lindungi...namun, gelar yang selama ini di sematkan keluarganya kepada dirinya seketika menghancurkan batinnya.
Ia tak pantas untuk siapa pun di dunia ini...
Tiba tiba bahu Shafeea yang berada dalam dekapan Axel naik turun, gadis itu terisak.
Rasanya begitu besar beban hidup yang harus ia tanggung.
Ia yang sejak kelahirannya harus selalu di cemooh. Kini...untuk menentukan kehidupannya saja ia seolah tak berhak.
Menikah....melahirkan pewaris....
Ya Tuhan.....rintihnya dalam hati.
" apa yang kau rasakan ?! dari mana saja kau tadi
aku sudah seperti orang gila karena mencarimu " Axel menggenggam jemari Shafeea.
Kini kedua remaja itu tengah duduk di sebuah bangku taman yang ada di area komplek asrama itu.
Shafeea hanya diam tak menjawab pertanyaan Axel.
Seolah paham dengan beban yang di tanggung gadis itu Axel tak memaksa Shafeea untuk menjawab.
Ia sadar betul, gadis di sisinya itu berbeda....ia jarang sekali berkata panjang lebar. Kalimat yang keluar dari bibirnya hanya satu dua.
Senyum apa lagi tawa hampir tak pernah ia lihat. Entahlah...apa yang di lihat dari seorang Axel hingga ia bisa jatuh cinta sejatuh jatuhnya kepada gadis pendiam itu.
" setelah kelulusan nanti ayo kita menikah, aku akan membawamu pergi jauh dari sini...lupakan semua beban dalam hidupmu, hanya lihatlah kepadaku " kata Axel begitu yakin.
Ia tahu meski ia tak tahu yang sebenarnya, karena mencari tahu tentang Shafeea ia tidak bisa.
Namun...ia seolah bisa merasakan jika hidup Shafeea tak jauh beda dengan dirinya. Penuh tekanan.
" hanya akan ada aku dan kamu...hanya kita berdua " lanjut Axel dan kali ini kata kata Axel mampu membuat Shafeea mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu.
Sejenak keduanya saling menatap, dan Shafeea tak menemukan yang lain selain kejujuran di mata Axel.
Sementara Axel....di mata Shafeea ia bisa melihat selaksa duka di sana.
Perlahan Axel menarik tubuh Shafeea dan menyandarkannya di bahunya kemudian ia sendiri memeluk bahu ringkih itu dengan lengan kokohnya.
Shafeea sekali lagi menjatuhkan kepalanya di dada Axel yang bidang.
Bolehkah ia berlindung di dada ini....bolehkah ia mencari kenyamanan di dalam pelukan Axel.
kruk kruk kruk....
Suara durjana yang membuat Shafeea malu bukan main, ia semakin menundukkan dan menyembunyikan wajahnya.
Axel tersenyum tipis, rasanya ia tak ingin malam ini cepat berakhir. Malam ini...ia seolah merasa sangat di butuhkan oleh gadis di dalam dekapannya itu.
Tapi...suara yang ia dengar dari perut Shafeea, bisakah ia mengabaikannya.
Jawabnya adalah tentu saja tidak...
" ayo kita cari makan...." ajaknya kemudian
" tapi ini sudah malam...." cukup panjang kata yang keluar dari bibir gadis cantik berhijab itu.
Sekali lagi Axel tersenyum.
Di raihnya dagu gadis itu agar melihat kepadanya.
" dengarkan aku...aku berjanji, suatu hari nanti aku akan selalu membuat bibir cantikmu ini selalu tersenyum bahagia. Aku juga berjanji...suatu hari nanti aku akan membuat bibir ini banyak mengeluarkan kata kata yang hanya kau berikan untukku....cup " terakhir Axel melayangkan kecupan di bibir Shafeea membuat gadis itu seketika mendelik karena kini mereka berada di taman kompleks.
Axel tertawa lebar melihat ekspresi Shafeea.
" gak papa, kalau ada yang tanya akan aku jawab...kamu istriku..." jawab Axel sok dewasa.
Tanpa menjawab Shafeea memukul lengan Axel.
Masih dengan tertawa Axel berdiri kemudian menggandeng tangan Shafeea menuju motor yang ia parkir tak jauh dari sana.
Dengan lembut Axel menakaikan helm juga jaket yang memang sengaja ia bawa pada Shafeea.
Tak lama keduanya nampak berboncengan meninggalkan tempat itu.
Pemandangan yang begitu menenangkan.
Axel menyetir motor sportnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia memegang lengan Shafeea yang ia lingkarkan di pinggangnya.
Ia bukan tak tahu....ia tahu, dan ia bisa merasakan. Tangan Shafeea masih terasa gemetar meski tak sehebat dulu.
" tenangkan dirimu....ini hanya aku..." bisik Axel menenangkan Shafeea.
Perlahan Shafeea semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Axel sementara kepalanya ia sandarkan di punggung kokoh pemuda itu.
Untuk pertama kalinya ia merasa tenang bersam orang lain selain ibunya.
" jika ini mimpi, sungguh aku tak ingin bangun Tuhan..." bisik Shafeea dalam hati.
kasihan bayimu klo tanpa nasab😊