menginjak usia pernikahan ke tahun ke lima. aku dan suamiku masih tinggal dirumah orang tua dari suamiku.
bersama dengan dua saudara ipar yang setiap hari tiada henti nya merengek pada suamiku untuk memenuhi gaya hidup mereka.
padahal mereka tau suami ku hanya seorang buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa, bahkan uang dapurpun aku hanya diberi separuh dari gajinya. itu pun masih untuk jajan anak anak kami juga untuk membeli listrik.
mau tau gimana kelanjutannya, ikutin terus ceritanya yaa .
terus dukung outhornya dengan like dan komen ya readers😋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.
"hehehe bisa aja Mpok, namanya juga orang tua Mpok biasalah kaya gitu. apalagi anaknya laki-laki kepala rumah tangga yaa sudah biasa kan bersikap begitu sama menantu perempuannya" jawabku dengan tenang, tapi aku yakin jika ibu mendengar pasti ibu akan marah besar padaku.
"iyaa kamu benar sar, padahal loh ya Bu Ningsih itu anaknya perempuan dua ya. apa ngga takut nanti dapat mertua juga zholim sama mereka" kata Bu Sholeh yang diangguki oleh Mpok Juleha.
"iyaa bener ya Bu, dih aku sih amit amit kalo anak ku dapat mertua modelan sama Bu Ningsih. bisa mati gaya aku!" kata Mpok Juleha.
"sudah Mpok, Bu biarin aja nanti juga kan dia ngerasain sendiri gimana sakitnya kalo anaknya dizholimi sama mertuanya sendiri" jawab dengan tenang dan lugas.
"iyaa sar, amiiinn semoga aja berlaku buat anak-anak Bu Ningsih biar dia juga sadar kalo apa yang dia lakuin salah" kata Bu Sholeh, aku dan Mpok Juleha hanya mengaminkan.
setelah la berbincang-bincang Mpok Juleha dan Bu Sholeh pun pamit pulang kerumah mereka, aku mengantar kan mereka sampai halaman depan rumah. kemudian aku kembali masuk dan berpapasan dengan ibu mertua yang akan duduk diteras depan rumah.
"udah pulang tuh orang-orang udik, eh sari kamu tuh jngan kebanyakan bergaul dengan orang-orang tukang gosip itu. ga bagus, jadinya kamu ngelunjak mulu sama mertua. mau jadi apa kamu!" kata ibu mertua yang membuatku mengerti kan kening.
"harusnya kamu bersyukur menikah dengan Radit, kamu tuh cuma orang desa! Radit memberikan nafkah yang layak makanya kamu bisa hidup enak dikota ini, dan Radit itu anakku jadi kamu ga boleh memisahkan aku dengan Radit. ngerti kamu!" kata ibu mertua dengan nada setengah membentak.
"pertama, Bu aku memang orang kampung dan aku bersyukur bertemu dengan mas Radit bahkan menikah dengannya. jika memang ibu tak suka dengan statusku yang orang kampung, kenapa ibu mau menikahkan anak ibu dengan anak kampung ini?. kedua Bu, aku ga pernah mau memisahkan ibu dengan mas Radit. seharusnya ibu sadar kenapa sampai mas Radit menjauh dri ibu. semua ini atas dasar kesalahan konyol ibu, selama ini aku diam bukan berarti ibu seenaknya bisa menginjak injak aku Bu. sudah cukup aku tak melawan empat tahun lebih Bu, ibu buat aku seolah tak ada didalam rumah ibu. jadi biarkan aku dengan mas Radit menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan baik tanpa campur tangan ibu!" kataku dengan tegas pada ibu mertua.
ibu mertua pun terkejut dengan perkataanku, beliau menatapku dengan tatapan tak suka. aku pun tak peduli setelah menyelesaikan kalimat demi kalimat yang memang sudah seharusnya dari dulu aku keluarkan aku langkah kan kaki menuju kamar dan mengikuti Aska untuk tidur siang.
tepat pukul empat sore aku terbangun, lumayan juga aku tidur sudah sangat lama. kemudian keluar dari kamar dan melihat keseluruh rumah, tak ku dapati ibu mertua. sepertinya beliau didalam kamar Aska atau mungkin pergi keluar, aku tak terlalu menghiraukannya. kemudian aku bergegas membersihkan diri dan melaksanakan sholat asar, setelah itu aku membangun Aska dan menyuruhnya sholat asar sendiri karna aku sudah selesai sholat.
tak lama aku dan Aska pun selesai membersihkan diri dan sholat, sambil menunggu mas Radit pulang kerja kami menonton tv diruang keluarga serial kesukaan Aska.
pukul lima lewat lima belas menit mas Radit pulang dengan menggoncang ibu mertua yang wajahnya terlihat sembab, mungkin ibu mertu habis menangis.
aku pun menghampiri mas Radit ingin menyalami tangannya namun ditepis dengan kasar oleh mas Radit, aku pun heran dibuatnya.
"mas" kataku saat melihat mas Radit berlalu meninggalkan ku masuk kedalam rumah, terlihat jelas ibu mertua menyunggingkan senyum kemenangan karna sikap mas Radit. pasti ibu mertua sudah berkata atau mengadu yang tidak-tidak lagi pada mas Radit,. dasar ibu mertua; pikirku.
aku pun mengikuti langkah mas Radit memasuki rumah tanpa menghiraukan tatapan ibu mertua padaku, ku lihat mas Radit memasuki kamar aku pun mengikutinya.
"ada apa mas? kenapa dengan sikap kamu?" tanyaku pada mas Radit dengan lembut.
"gaada apa-apa, tolong siapkan pakaianku. nanti kita bicara lagi setelah aku selesai mandi" kata mas Radit dengan ekspresi datar.
"baiklah mas" jawabku sambil menyiapka pakaian ganti, sedangkan mas Radit keluar dari kamar sambil membawa handuk yang dililitkan dilehernya bermaksud untuk mandi karna hari sudah semakin sore. sambil menunggu mas Radit selesai mandi aku pun memasak menu makan malam untuk kami. karna semua bahan sudah aku siapkan, aku hanya tinggal mengolahnya saja.
aku menggoreng ikan Sam membuat sambal serta lalapan dengan sayur tumis kangkung yang dicampur dengan udang rebon,mas Radit sangat suka masakan ini.
setelah selesai aku siapkan hasil masakanku kemudian aku kembali kekamar, disana mas Radit sudah menunggu dengan bersandar pada sandaran kasur.
"ada apa mas?" kataku memulai pembicaraan.
"sholat Maghrib lah dulu, tdi sudah azan"kata mas Radit,aku langsung melangkahkan kaki mengambil air wudhu kemudian sholat Maghrib.
setelah itu, aku kembali lagi duduk disebalah mas Radit.
"kenapa kamu mempermasalahkan hutang ibu lagi sari? kenapa kamu mengungkit itu lagi? apa kamu ga ikhlas uang tabunganmu aku gunakan untuk membayar hutang ibuku" kata mas Radit yang langsung menuduhku.
"astagfirullah, aku mengungkit bagaimana mas? aku ga pernah sama sekali mengungkit soal itu, siapa yang bicara kaya gitu mas?" jawabku dengan lantang pada mas Radit.
"sudahlah sari, memang aku menggunakan uang mu untuk membayar hutang ibu nanti juga pasti aku ganti kok. ngga usah takut ga diganti kaya begitu" lanjut mas Radit.
aku pun semakin terperangah dengan perkataan mas Radit, aku dibuat terkejut dengan ucapannya. padahal sama sekali aku ga pernah mengungkit segalanya sama sekali. tapi hari mas Radit menuduhku tanpa bertanya kebenarannya.