Cerita sedang Hiatus, tidak diperkenankan untuk dibaca.
Bagaimana jadinya ketika Anak baik-baik yang begitu tahu akan adab tiba-tiba berpindah ke tubuh gadis Antagonis?
Yup! Alvina memasuki tubuh seorang gadis yang terkenal dengan nama Bad Gueen, pembully yang sangat jahat di sekolah Antareksa. Begitu memasuki tubuh sang gadis antagonis, hidup Alvina berubah 100 derajat dari kehidupannya sebagai Alvina, gadis sopan dan tahu adab.
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Alvina? Yuk saksikan kelanjutannya!
SELAGI LAGI CERITA INI HANYA UNTUK BERSENANG-SENANG UNTUK MELEPAS BOSAN AUTHOR, SEKIAN DARI ZEN. TERIMA KASIH 🥂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosalyn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SHOPIA VS MILA
Tepat pukul 3 sore, akhirnya mereka semua memutuskan untuk ke Vila dan melanjutkan kemping besok harinya. Austin dan Mila berjalan lebih dulu mendahului yang lainnya untuk pergi ke Vila.
Shopia yang melihat kelicikan Mila pun langsung maju sambil tersenyum penuh siasat.
*Bruk....Shopia menabrak bahu Mila sehingga Mila dan Austin terpisah karena Shopia.
"Au... Shopia lo apa-apaan sih..." jengkel Mila tanpa sadar berteriak pada Shopia.
Semua orang kaget, termasuk Austin yang kaget karena Mila berteriak pada Shopia.
"Aku gak sengaja, maaf kalau kamu marah," ucap Shopia membuat wajah memelas.
"!!" Mila segera sadar begitu melihat suasana yang mulai memanas itu.
"Gak perlu teriak juga, bisa?" tegur Kelvin berjalan menuju Shopia dan kemudian merangkul Shopia.
"Ga-gak gitu, aku .." belum sempat Mila menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Shopia memotong sambil membuat ekspresi sedih.
"Papa, maaf ya. Shopia gak sengaja nyenggol bahu Anak kesayangan Papa," ucap Shopia lagi dengan nada sedih namun diselipkan kalimat sindiran.
"Ke-kesayang apa yang kamu mak...." belum sempat Austin menyelesaikan perkataannya itu, dia segera tersadar dan memahami jika sindiran Shopia itu tertuju padanya.
Austin merasa tidak nyaman mendengarnya, dia gelagapan dan merasa sedikit merasa bersalah pada sindiran yang diberikan oleh Anak yang bahkan tidak pernah dia perhatikan itu.
"M-Mila, Kakak kamu juga gak sengaja. Gak perlu sampai teriak seperti itu. Yaudah, kita buruan balik ke Vila," ucap Austin berjalan terlebih dahulu meninggal kan yang lainnya.
Kini, hanya tinggal Shopia, Kelvin, Mega, Erlan dan Mila yang ada disana. Seketika semua atensi mengarah ke Mila sehingga membuat gadis 16 tahun itu tidak nyaman dan pada akhirnya memutuskan untuk pergi dengan angkuh.
"Papa kamu masih belum sadar, dia bahkan masih mempertahankan egonya," ucap Mega dengan ekspresi kecewa memandang Austin yang semakin menjauh darinya.
"Gak apalah Mah, mungkin Papa bakal sadar secara perlahan asal kita sabar nunggu aja," sahut Erlan berusaha untuk berpikir lurus.
Ya, yang lainnya mengangguk dan membenarkan perkataan Erlan. Mereka pun pergi menuju Vila dengan membawa perasaan kecewa mereka.
...****************...
Malam harinya, semua sudah selesai bersih-bersih dan kemudian hendak mempersiapkan makan malam bersama.
"Mama, Papa mana?" tanya Shopia yang tidak menemukan keberadaan Austin di manapun.
"Biasalah Nak, lagi nyantai di dekat kolam berenang bareng Mila," jawab Mega.
Shopia mengerutkan keningnya, dia dengan cepat melihat pada mesin kopi dan memikirkan sesuatu diotaknya.
"Papa udah minum kopi?" tanya Shopia.
Mega bergeleng "Belum," jawabnya.
Mendengar jawaban Mega, Shopia tersenyum memiring dan kemudian mendekati mesin kopi dan mulai melakukan sesuatu pada mesin kopi tersebut. Shopia mau membuat kopi untuk Austin dan nampak merencanakan sesuatu dari segelas kopi itu.
"Mah, Shopia udah selesai buat kopi. Shopia mau ke Papa dulu," ucapnya sembari membawa segelas kopi.
Dengan heran Mega memperhatikan Shopia dan kemudian menjawab dengan nada gagu "I-iya sayang, hati-hati bawa kopinya," jawab Mega.
"Iya Mah,"
Mega masih memperhatikan Shopia dengan heran. Dia awalnya berpikiran jika Shopia akan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Namun ternyata, tujuan Shopia membuat kopi itu karena dia ingin membuatkan untuk Austin.
"Tumben..." gumam Mega terheran-heran.
...****************...
...Di teras belakang Vila...
Shopia berjalan mendekati Austin dan Mila berada, dengan membawa segelas kopi itu tentunya. Namun sebelum dia melangkah menuju ke dekat kolam berenang, tiba-tiba Shopia mendengar suara Mila yang sedang merengek pada Austin.
"Papa, Mila kepengen..... Bangett beli tas yang model baru itu. Tas Mila udah rusak semua, gak bisa dipake," ucap Mila sambil gelendotan pada Austin.
"Beneran? Tapi kan kemaren papa udah kasih 10 juta ke kamu? Udah habis ya?" tanya Austin sedikit terkejut.
"Ih Pa..10 juta mana cukup buat beli tas bermerk, Papa masa gak tahu sih," ucap Mila lagi sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat hal itu tentu saja Shopia naik darah, dia berjalan mendekati Austin dan Mila sambil berkata "Kalau kamu mau tas baru, yaudah ambil aja tas aku. Aku udah kebanyakan tas yang masih belum dipakai. Gimana, mau gak?" ucap Shopia melemparkan senyuman mematikan pada Mila yang masih saja gelendotan pada Austin.
Dengan cepat Austin dan Mila menoleh pada Shopia dan saat itulah Austin mulai melepaskan tangannya dari rangkulan Mila "Shopia, kenapa kamu kesini," tanya Austin sedikit gelagapan.
Shopia tersenyum, menyodorkan segelas kopi pada Austin "Ini Pah, Shopia buatin kopi buat Papa. Diminum ya," ucapnya.
Dengan canggung Austin mulai mengambil kopi itu "Makasih ya, kebetulan Papa juga belum minum kopi," ucap Austin.
"Iya Pah," jawab Shopia sembari melirik ke arah Mila yang sedang diam dengan wajah merengutnya.
"Oh iya, kamu mau gak tas milik aku? Dari pada beli, ngabisin duit," ucap Shopia lagi, ikut duduk di sebelah Austin.
Mendengar hal itu, Mila hanya tersenyum dan nampak enggan untuk menjawab. Seolah-olah sedang tidak nyaman dengan keberadaan Shopia dan tentunya.
"Gak apalah, lagian keluarga Benson juga gak kekurangan uang. Papa bakal kasih dana buat kamu, tapi selepas kita liburan aja, gimana?" ucap Austin menyetujui sehingga wajah Mila yang awalnya kusut berubah menjadi ceria.
"Beneran Pah? Ok Mila bakal tunggu sampai liburan selesai," ucap Mila gembira sembari melirik ke arah Shopia dengan senyum sombongnya.
Shopia yang mendapatkan respon seperti itu hanya bisa bersikap santai dan tentunya tidak berhenti untuk tersenyum seolah-olah menganggap jika hal itu adalah hal bodoh.
"Ok gak masalah kalau Mila mau beli tas baru. Kalau gitu, aku juga mau minta sesuatu ke Papa," ucap Shopia dengan senyuman yang tidak pernah luntur.
Mendengar permintaan Shopia, justru Austin memberikan respon terkejut alih-alih bertanya apa yang ingin dipinta oleh Shopia darinya. Karena selama ini, Shopia sekalipun tidak pernah meminta sesuatu darinya dan bahkan meminta uang jajan sekolah saja tidak pernah.
Namun, kali ini berbeda. Shopia sendirilah yang meminta sesuatu darinya.
"Ka-kamu mau minta apa dari Papa?" tanya Austin dengan keterkejutan yang masih terasa.
"Shopia mau belajar nyetir, Papa atur ya semuanya. Dimulai dari mobil, guru menyetir dan semuanya, gimana?" ucapnya masih tersenyum.
"Apa? Kenapa Kakak mau nyetir mobil?" tanya Mila tanpa sadar bertanya dengan nada keras "Ma-maksud Mila, Kakak kan masih belum boleh nyetir Mobil," lanjutnya setelah menyadari respon Austin yang nampak tidak senang setelah Mila berbicara keras pada Shopia.
"Kenapa? Belajar dari sekarangkan tidak ada salahnya. Oh iya, pokonya Shopia mau mobil yang paling nyaman buat dikendarai, jangan lupa diatur ya Papa sayang!" ucap Shopia tersenyum mengintimidasi pada Austin dan kemudian berdiri lalu pergi dari sana.
"I-iya..." jawab Austin yang baru tersadar dari lamunannya.
"Shi* Shopia awas aja lo...!"
^^^TBC~^^^