Setelah terpeleset kulit pisang, Nadia pindah memasuki dunia sebuah novel. Ia menempati tubuh kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Kakak tiri ini tokoh jahat yang tergila-gila pada Pemeran utama pria. Memaksa pemeran utama pria menjadi tunangannya, Mengatur kegiatan, membuntuti, mempermalukan, dan melabrak semua teman wanita yang mendekati tunangannya. Perilakunya membuat semua orang termasuk keluarganya membencinya.
Pemeran utama pria muak padanya dan diam-diam jatuh hati pada pemeran utama wanita yang lembut. Mengetahui hubungan mereka, Kakak jahat merencanakan kecelakaan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Tapi rencananya terbongkar. Tak hanya diusir dari keluarga, wanita jahat itu dijebloskan ke penjara selama 10 tahun, lalu mati dan mayatnya dimakan anjing.
Nadia bertekad untuk merubah nasibnya. Memutuskan pertunangan lebih awal dan ingin membalas dendam pada mereka yang menyakitinya.
Tapi paman pemeran utama pria mulai mengganggunya.
"Gadis, ayo kita menikah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismasama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU MERTUA
Nadia selesai mandi dan mengenakan hoodie longgar yang nyaman di badan. Ia membuka balkon kamarnya dan melihat pemandangan di bawahnya.
Pemandangan malam dari balkonnya selalu menjadi favorit Nadia. Ia senang memandangi gedung-gedung yang bercahaya dan lampu-lampu dari mobil yang bergerak. Tampak berkelip-kelip dan hidup. Setiap memandangi pemandangan ini Nadia tak pernah merasa kesepian.
Tercium bau cerutu yang lembut. Nadia berbaling dan melihat sisi balkon tetangganya. Di sana ada sesosok lelaki yang termenung sembari menghisap rokok di lengannya. Tampak serius memperhatikan pemandangan di bawah sana. Perawakan tubuhnya bagus dan wajah sampingnya cukup tampan. Kecamata yang dipakainya..... Tunggu!
Mengapa Nadia merasa sosok itu familiar????
Merasa ada yang memperhatikannya, Liam mendongak dan mendapati Nadia yang terkejut melihatnya. Matanya terbuka lebar dan mulutnya terbuka. Ekspresinya tampak mengerikan seperti tupai.
Bibir Liam terangkat. Ekspresi konyol itu, seperti yang diharapkan.
"Tuan Liam??? Mengapa anda di sana???" Nadia tergagap. Kejutan di depannya sangat diluar harapannya. Mengapa lelaki itu di sana?
"Ini rumahku. Tentu saja aku tinggal di sini." Liam kembali menghisap rokoknya.
Nadia: "Tapi aku tak tau... Tuan Liam tetanggaku?"
"Mm"
Nadia masih tak percaya. "Mengapa kau tak mengatakannya?"
Liam menggelang. "Kau tak pernah menanyakannya."
Nadia terdiam. Yah, tidak salah.
Nadia melemparkan pertanyaan lagi. "Mengapa aku tak pernah melihatmu di sana?" Nadia fikir itu apartemen kosong karena tak pernah melihat penghuninya.
Liam mematikan rokok ke pagar pembatas dan berbalik. "Aku akan ke tempatmu." lalu menghilang.
Nadia masih diliputi kejutan. Mematung di balkon.
Terdengar suara bel pintu. Nadia buru-buru berlari dan membukanya. Wajah tersenyum Liam muncul.
Tadi Nadia terlalu kaget hingga tak memperhatikan. Sekarang ia baru sadar bahwa pertama kalinya ia melihat lelaki itu tidak memakai pakaian formal. Liam hanya mengenakan celana rumahan panjang dengan kaos hitam. Kulit perunggunya tampak kontras dengan warna pakaiannya. Agak sembrono tapi cukup, ukhm. Berbahaya.
Nadia mempersilahkannya masuk.
"Apa rumahmu baik-baik saja? Apakah ada masalah?" Liam memasuki rumah dan melihat sekeliling.
"Ya ini bagus tuan. Tidak ada masalah. Aku menyukainya."
Liam mengangguk. Pandangannya menatap gundukan di meja makan.
"Apakah kamu akan memasak?"
Nadia juga melihatnya. "Ya, tuan. Apa tuan sudah makan?"
"Belum." Begitu terus terang.
Nadia berdehem. "Kalau begitu aku akan memasak. Ayo makan bersama?"
Liam mengangguk.
"Aku akan memasak. Tuan tunggulah." Nadia menuju dapur.
"Tidak. Aku ingin membantumu. Apa yang bisa aku lakukan?" Liam menyingsingkan lengan bajunya. Menatap bahan-bahan di atas meja yang melimpah.
Nadia mengikat rambutnya dan mengenakan celemek gambar kucing.
"Aku akan melakukannya." Liam muncul.
Tubuhnya membungkus Nadia. Mengikat tali celemek di belakangnya. Jarak mereka sangat dekat hingga Nadia bisa mencium aroma di leher lelaki itu. Ia menahan nafas.
"Selesai." Liam menjauh dan kembali ke tempatnya.
"Apa yang bisa aku bantu?" Liam kembali bersuara. Meninggalkan Nadia yang masih mematung.
"Ah?" Nadia tersadar. "Tuan... Tuan Liam bisa mencuci sayur itu." menunjuk sayuran di meja.
Liam mengangguk dan membawa sayur untuk membilasnya di wastafel. Nadia mulai membongkar kresek daging tapi matanya menatap Liam dengan ngeri.
"Tuan! Tunggu... Jangan diremas. Bukan seperti itu. Kau akan menghancurkannya." Nadia segera mengambil alih sayur itu.
"Pergilah potong kentang."
Liam berjalan ke meja. Mengambil benda bulat d atas meja "Apakah ini kentang?"
Nadia melihat bawang bombay di tangannya. "Tuan, kentang di samping kananmu."
Liam mengangguk dan mengambilnya. Tangannya sudah memegang pisau. "Bagaimana cara memotongnya?"
Nadia terdiam mulai frustasi. Baiklah. Ia lupa bahwa lelaki itu adalah CEO yang tak pernah memasuki dapur. Lihat, bahkan dia memegang pisau terbalik dengan wajah yang serius. Nadia menahan diri untuk menendangnya.
"Tuan. Duduklah di ruang tamu. Aku akan memasak dengan cepat dan memanggilmu saat selesai. Oke?"
Liam mengkerut tak senang. Mengapa ia merasa gadis didepannya sedang menganggapnya beban?
Liam menghela nafas. Dengan sedih berjalan dan rubuh di kursi ruang tamu. Pertama kali dalam 30 tahun hidupnya lelaki itu melihat dirinya sebagai sosok tak berguna.
Saat Liam sedang merenungi hidupnya, Nadia dengan sigap mulai memasak. Dua hidangan vegetarian, sup iga sapi, daging pangggang, tumis bola-bola bakso, kerang saus padang, dimsum nasi putih, satu persatu hidangan itu tersaji di meja. Wanginya mengundang sosok lelaki yang pergi itu kembali. Menatap hidangan di meja dengan takjub.
Tentu saja wangi itu akan mengundang sosok lain.
DING DONG
Nadia menyerai. Itu dia.
"Siapa itu?" Liam melihatnya. Memiliki firasat buruk.
"Tetanggaku." Nadia berjalan membuka pintu. Serena muncul dan Langsung bergelayut di pundak Nadia.
"Sayaang... Aku sangat merindukanmu. Berpisah denganmu satu jam saja rasanya berat sekali." Serena merajuk. Ujung matanya menangkap sosok lelaki di meja makan.
Langkahnya terhenti. "Tuan Liam?"
Liam mengangguk. "Halo." Ia mengenali gadis itu. Liam sering melihatnya mengekori Hans ke club tempat mereka berkumpul. Kalau tak salah profesinya artis.
Serena: "Aku tidak tau kalau tuan Liam ada di sini."
"Dia tetangga di sebelah kita. Apa kau tak tau?" tanya Nadia.
"Yah... Aku tak tau." Setaunya dulu Liam tinggal di sini. Di rumah ini. Serena pikir ia pindah. Nyatanya ia hanya pindah ke sebelah?
Serena menatap Liam menilai. Liam tak menghindarinya. Mereka saling pandang. Serena mendapat wahyu yang membuatnya merinding.
Tidak mungkin, kan?
Ia memalingkan pandangannya pada temannya yang cantik. Lalu kembali memandang Liam. Bibir laki-laki itu terangkat. Lalu segera memalingkan wajahnya.
Serena melongo.
"Ayo makan. Masakan sudah siap." Nadia tak menyadari interaksi batin antara keduanya. Menyerahkan piring pada mereka lalu mulai menyendok nasi.
Liam mengarahkan sumpit menuju iga bakar. Sebuah sumpit memblokir dan mengambilnya terlebih dahulu.
"Ups. Aku tak tau kalau Tuan Liam akan mengambilnya." Serena memasukan iga ke mulut. Menatapnya dengan pandangan provokasi.
Liam menggelang. Mengarahkan sumpitnya ke bakso. Sebuah sumpit terulur lagi.
"Ups, salahku." Serena menyeringai.
Kejadian itu terulang beberapa kali. Liam akhirnya menatap dingin wanita itu. Mengapa dia bertindak seperti ibu mertua menyebalkan?
"Apa yang kalian lakukan?" Nadia mulai melihat keanehan. Ia menatap keduanya dengan bingung.
"Haha... Tidak tidak. Kami sedang bercanda." Serena mengelak. Setelah itu tak mengganggu Liam dan mulai fokus pada piringnya.
Tapi kecepatan tangan mereka berdua mulai terlihat. Keduanya menyambar makanan di piring secepat peserta lomba tingkat internasional. Melotot satu sama lain dan tak membiarkan lawan mendapat hidangan. Pada akhirnya makanan di meja kandas dengan kecepatan kilat.
Nadia menatap keduanya dengan bingung. mendapat firasat bahwa keduanya memiliki dendam pribadi. Ia mengingat isi novel tapi tidak mendapati apapun.
"Tuan, aku akan membantu Nadia membereskan dapur. Kamu pulanglah dan beristirahat." suara Serena.
Nadia mengangguk setuju. "Ya tuan. Kamu pasti lelah. Pulanglah."
Liam: "Aku..."
Serena memotongnya. "Ini sudah larut malam. Tak baik seorang lelaki terlalu lama di rumah gadis lajang."
Kedua gadis itu bahu membahu mengusirnya. Akhirnya Liam mengangguk dan berterima kasih. Lalu berbalik pergi.
Saat pintu tertutup, Liam bisa mendengar tawa kemenangan dari gadis licik itu.
Bagus... Bagus... Liam menghitung satu dendam di hatinya. Memikirkan apakah harus mengirim gadis pengganggu itu syuting di antartika.
Liam kembali ke apartemennya. Karena ia makan dengan tergesa-gesa perutnya kini tak nyaman. Lelaki itu membuka laci di dapur dan menelan sebuah obat.
Lanjut dong kk🙏🙏
dalangnxa...🙄🙄
lumyn buat nmbh model usaha..😁😁