Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 27: Rekrutan Baru
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
Wedang Ketek yang sudah berdiri dengan kuda-kuda yang lebar, menarik napas dalam-dalam dengan tangan kanan ditarik menekuk ke belakang.
Saat dia menarik tangan kanan ke belakang, mendadak muncul angin dari gerakannya, sampai-sampai dedaunan kering di sekitar kakinya terbang tertiup.
“Hiaaat!” teriak Wedang Ketek sambil menghentakkan lengan kanannya ke arah depan. Dari tangan yang dihentakkan itu melesat sinar kuning berekor sebesar kepala orang, menunjukkan energi yang terkandung cukup besar.
Sess! Bluss!
Energi sinar kuning itu menghantam sebatang pohon besar yang memang ditargetkan. Batang pohon itu tidak meledak, tetapi hanya membuat kulitnya yang tebal terkelupas.
Plok plok plok!
Ada suara tepuk tangan dari samping kanan Wedang Ketek. Itu adalah pendekar berpakaian hijau dan bercaping hijau yang bernama Angger Sepakodol.
“Hebaaat! Kau berhasil, Wedang. Kau berbakat juga. Dalam waktu beberapa hari saja, ajian Lahap Nyawa bisa kau kuasai,” puji Angger.
Wedang Ketek menengok kepada Angger dengan senyuman lebar. Dia merasa tidak sia-sia ikut dengan Angger, dalam beberapa hari saja dia sudah memiliki ajian hebat.
“Semakin besar tenaga dalammu yang kau kerahkan, maka ilmu itu akan semakin dahsyat daya hancurnya,” kata Angger.
“Terima kasih, Guru,” ucap Wedang Ketek seraya berlutut satu kaki menjura hormat kepada Angger.
“Hahaha! Tidak usah berlebihan seperti itu. Kita kawan. Hanya, aku adalah pemimpinnya,” kata Angger sambil menepak-nepak bahu Wedang Ketek. “Bangunlah. Ayo kita jalan-jalan ke Pantai Segadis. Kau akan aku perkenalkan kepada rekan-rekanku.”
“Baik,” kata Wedang Ketek seraya bangun.
“Nanti kalau ada waktu dan kau menunjukkan kesetiaan yang tinggi kepada junjunganku, aku akan mengajarkan ilmu yang jauh lebih sakti. Jangankan setingkat komandan, setingkat panglima saja tidak akan bisa mengalahkanmu,” kata Angger.
“Terima kasih, Ketua,” ucap Wedang Ketek seraya tersenyum lebar.
“Nah, sebutan Ketua lebih cocok untukku,” kata Angger.
Mereka lalu pergi dengan berjalan kaki untuk meninggalkan hutan itu. Saat ini mereka sedang berada di wilayah Kadipaten Ombak Lelap, kadipaten pesisir yang memiliki Pantai Segadis dan Pantai Pendek.
“Sebenarnya rencanamu apa, Ketua?” tanya Wedang Ketek di dalam perjalanan.
“Seperti ini. Aku ingin membangun kekuatan di wilayah Pasir Langit. Namun, kekuatan yang ingin aku bangun bukanlah pasukan biasa, tapi pasukan yang luar biasa. Jika kau hanya sekedar prajurit, kau pun tidak akan pantas menjadi bagian dari pasukan yang aku pimpin. Apakah kau tahu, Wedang? Kerajaan Sanggana Kecil yang kini menguasai Pasir Langit, mereka memiliki pasukan pendekar,” kata Angger.
“Iya. Aku melihat sendiri pasukan pendekar itu. Jumlahnya sangat sedikit, tetapi bisa menghadapi ribuan Pasukan Kaki Gunung,” jawab Wedang Ketek.
“Nah itu, Wedang. Jika kita tidak memiliki pasukan pendekar juga, kita tidak akan bisa melawan pasukan pendekar Kerajaan Sanggana Kecil. Kalau untuk menghadapi Prabu Dira yang sangat sakti, itu bukan urusan kita. Prabu Dira adalah urusan junjungan kita,” jelas Angger.
“Jadi kita akan memberontak kepada Kerajaan Pasir Langit?” tanya Wedang Ketek dengan tatapan serius kepada Angger yang berjalan di sebelahnya.
“Iya. Apakah kau takut? Jika kau tidak ikut memberontak, paling ringan kau akan dipenjara dengan pemasungan. Jadi memberontak atau tidak, kau tetap akan diburu oleh Kerajaan. Namun bedanya, jika kau ikut memberontak, kau bersama orang-orang sakti seperti aku ini.”
“Baik, aku akan bersama kalian,” kata Wedang Ketek mantap. “Tapi, apakah aku bisa bertemu dengan junjungan Ketua?”
“Hahaha! Setahap demi setahap. Bukan orang sembarangan yang boleh bertemu dengan Junjungan,” kata Angger.
Mereka terus berjalan. Sesekali mereka berbincang di dalam perjalanan. Sesekali mereka kehabisan topik pembicaraan. Pada kesempatan itu, Wedang Ketek banyak curhat kepada Ketua Angger. Sebagai orang yang sedang merekrut, Angger pun harus berlapang hati menampung curhatan mantan perwira itu.
Setelah berjalan cukup jauh, kedua lelaki muda itu akhirnya tiba di Pantai Segadis yang ramai seperti pantai tempat wisata.
“Tunggu, tunggu, Ketua!” kata Wedang Ketek tiba-tiba. Dia terkejut dengan tatapan memandang ke arah seorang yang sedang berkuda santai seorang diri.
“Siapa yang kau lihat?” tanya Angger.
“Komandan Ati Urat. Dia dulu adalah temanku. Tapi kenapa dia ada di sini tanpa pasukannya?” jawab Wedang Ketek.
Ternyata, orang yang dimaksud oleh Wedang Ketek tanpa sengaja juga melihat keberadaan Wedang Ketek.
Orang berkuda yang dimaksud Wedang Ketek memang adalah Komandan Ati Urat, tapi dia tidak berpakaian ala militer atau menunjukkan keperwiraannya. Dia berpakaian biru gelap seperti seorang pendekar.
Komandan Ati Urat memandang Wedang Ketek dengan kerutan kening, mencoba memastikan bahwa wajah agak ganteng itu adalah Wedang Ketek yang dikenalnya.
Dipandangi dari jarak lebih dari lima tombak, Wedang Ketek cepat lambaikan tangan sambil tersenyum. Wedang Ketek jelas sangat senang bertemu dengan temannya yang pangkatnya lebih tinggi darinya.
“Ketek?” tanya Ati Urat dengan setengah berteriak.
“Iya! Aku Wedang Ketek, Komandan!” teriak Wedang Ketek.
Ati Urat lalu menjalankan kudanya mendekati posisi Wedang Ketek dan Angger Sepakodol. Ati Urat menghentikan kudanya satu tombak di depan Wedang Ketek. Dia tetap duduk di punggung kudanya.
“Sedang apa kau di sini, Ketek?” tanya Ati Urat heran.
“Komandan, apakah kau tidak tahu apa yang terjadi denganku?” tanya balik Wedang Ketek.
“Jangan menyebutku Komandan. Aku sedang dalam penyamaran,” kata Ati Urat.
“Oh, iya,” ucap Wedang Ketek.
“Apa yang terjadi denganmu, Ketek?” tanya Ati Urat.
“Aku diburu pasukan Kerajaan karena dianggap membuat onar,” jawab Wedang Ketek. “Sekarang aku buronan Kerajaan.”
“Oh. Lalu siapa yang bersamamu?” tanya Ati Urat.
“Ini Ketua Angger. Orang yang menolongku dari kejaran pasukan Kerajaan,” jawab Wedang Ketek.
“Berarti kalian berdua adalah pemberontak!” kata Ati Urat menyimpulkan.
Perkataan Ati Urat itu membuat Wedang Ketek terkejut di saat Angger Sepakodol bersikap tetap tenang. Wedang Ketek sampai memandang ke sekeliling, khawatir ada orang yang mendengar perkataan Ati Urat.
“Bu-bukan seperti itu,” sangkal Wedang Ketek, sampai-sampai tergagap. Dia khawatir komandan itu justru menangkapnya.
“Aku juga buronan Kerajaan,” ujar Ati Urat.
“Hah!” kejut Wedang Ketek. Dia cepat bertanya, “Apa maksudmu, Komandan?”
Ati Urat lalu turun dari kudanya.
“Aku menaruh racun di air kembang yang untuk menyiram Gusti Ratu dan Prabu Dira,” kata Ati Urat.
“Hah! Komandan meracuni Gusti Ratu dan Prabu Dira?” Wedang Ketek kembali terkejut. “Itu hukuman mati hukumannya, Komandan.”
“Aku tahu, makanya aku melarikan diri,” kata Ati Urat.
“Bergabunglah bersamaku seperti Wedang Ketek bergabung,” ujar Angger tiba-tiba.
Ati Urat pun memandang serius kepada pemuda bercaping hijau itu.
“Benar, Komandan,” kata Wedang Ketek setengah berbisik. “Tanpa bergabung dengan kami ikut memberontak, Komandan tetap akan menjadi buruan Kerajaan dan pasti akan dibunuh. Namun, jika bergabung dengan kami, Komandan Ati akan memiliki banyak rekan yang ikut melindungi.”
“Sepertinya kau orang berkesaktian tinggi, Kisanak?” kata Ati Urat kepada Angger.
“Karena itulah aku pantas memimpin pasukan pendekar untuk merongrong Kerajaan Pasir Langit dan kemudian merebutnya,” kata Angger.
“Siapa sebenarnya orang di belakang kalian?” tanya Ati Urat. (RH)