Kemuning Senja tak mengira akan mengalami malam kelam bersama pria yang tak dikenal.
Kalandra, pria impoten yang telah menikah tetapi tak mampu memberikan nafkah batin kepada istrinya. Dia terus berusaha menjalani pengobatan dan terapi karena mengalami difungsi ereksi.
"Pelukan saja tanpa bercinta, kecut Mas!" protes sang istri.
Sudah banyak wanita yang Kalandra pesan demi bisa memulihkan kejantanannya tetapi tak kunjung mendapatkan hasil. Sampai dimana dia bertemu dengan Kemuning Senja.
Malam indah yang mampu membuatnya normal.
"Jangan Tuan! Saya mohon lepaskan saya!"
"Tidak akan, karena kamu membuatku begitu menginginkan."
Bagaimana nasib Kemuning setelah mahkotanya terenggut paksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kebusukan
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Kalandra dengan wajah panik. Dokter baru saja keluar dengan peluh yang membasahi kening beliau. Terlihat sekali kepenatan di wajah beliau.
"Pasien mengalami pendarahan yang membuatnya membutuhkan banyak darah, kondisinya pun menurun dan saat ini masih belum sadarkan diri. Bayi yang dikandungnya juga kritis. Maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Semoga keduanya bisa kembali pulih. Terutama bayi yang ada dalam kandungan istri Bapak. Detak jantungnya sangatlah lemah."
Kalandra mengusap kasar wajahnya. Langkahnya perlahan mundur hingga tubuh menabrak dinding. Kondisi keduanya sangat memperihatinkan. Setengah nyawanya seakan melayang mendengar kabar demikian.
Semua atas kesalahannya, pertemuan yang sangat tak terduga hingga menumbuhkan sebuah nyawa demi obat baginya.
Setelah Kemuning dipindahkan ke ruangan rawat inap. Kalandra serta Mamah dan Papah ikut masuk ke dalam sementara yang lain menunggu di luar karena tak ingin menganggu Kemuning.
Perlahan langkah Kalandra membawanya mendekati Kemuning yang terlelap dengan wajah pucat. Rasanya ingin mendekap tetapi tak ingin mengganggu sang istri yang masih harus banyak beristirahat.
"Kuat! Jangan menangis, An!" ucap sang Papah kemudian menepuk pundak Kalandra. Beliau tau betul jika ini sangatlah berat untuk putranya. Melihat sang istri terbaring lemah di rumah sakit dengan alat bantu medis. Andai dirinya yang mendapatkan ujian sebesar ini pun belum tentu mampu melewati semuanya dengan kuat.
Kalandra menganggukkan kepalanya. Menatap wajah sang istri lalu mengecup kening Kemuning begitu dalam. Dia baru sadar jika ada bekas tamparan di pipi Kemuning. Belum lagi kedua pergelangan tangan sang istri yang memerah dan tentu kakinya pun juga.
Tatapan Kalandra turun ke perut Kemuning, dalam hati dia berharap agar bayinya kuat dan bisa tetap hidup dengan nyaman di rahim sang istri hingga waktunya tiba mereka akan berjumpa.
Mamah Kaira pun tak kuasa menahan air mata. Begitupun Papah Regan yang menatap iba. Mereka menghela nafas berat lalu kembali melangkah menuju sofa.
"Besok adalah sidang perceraianku dengan Luna, Mah. Bisakah Mamah menggantikanku untuk menjaganya. Banyak juga yang harus aku urus. Saat ini Yuta belum menemukan barang bukti apapun. Mereka sangat pintar, Si Mbok dan Pak Danang belum ditemukan."
"Kebusukan akan segera terbongkar, bersabarlah An! Jika tidak hari ini, besok pasti akan tercium. Kita semua sudah berusaha dan ketatkan lagi penjagaan. Dugaan kita pada satu orang, tetapi harus ada bukti yang jelas karena orang tersebut saat ini ada di dalam penjara. Kemungkinan sangat kecil jika dirinya yang melakukan," ujar Papah Regan.
"Iya Pah, aku akan berusaha sabar. Malam ini biar aku yang menjaga Kemuning. Anak buah Opa pun ada di luar. Sebentar lagi juga Yuta datang. Sebaiknya Mamah dan Papah pulang. Sampaikan salamku juga pada yang lainnya. Terimakasih sudah datang. Maaf aku mengecewakan. Doakan aku agar cepat menyelesaikan semua masalah ini," ucap Kalandra dengan kalem.
"Kamu baik-baik ya, Nak. Semoga Kemuning akan segera sadar dan bisa cepat sembuh," sahut sang Mamah.
"Terimakasih Mah, Pah."
Setalah kedua orang tuanya pulang dan semua keluarganya pun meninggalkan rumah sakit. Kini Kalandra kembali mendekati Kemuning lalu duduk di samping tempat tidurnya. Kalandra menggenggam tangan Kemuning dan mengecupnya dengan lembut.
Beruntung saat ini si Joni bisa diajak bekerja sama dengan baik. Meski dekat dengan sang istri, dia tak menunjukkan reaksi yang membuat Andra semakin sulit. Obatnya sedang sakit dan harus bisa mengerti.
"Sayang maafkan, Mas. Maaf aku lalai. Aku tidak tau jika kamu pun akan diserang. Semua terjadi terlalu cepat sampai aku tidak ada kesempatan untuk melindungi kamu. Mas janji setelah ini tak akan ada yang bisa lagi menyakiti kamu."
Kalandra kembali mengecup tangan sang istri. Matanya terpejam dengan meletakkan tangan Kemuning di pipinya hingga tak sadar Kalandra pun ikut terlelap.
Hanya sebentar, karena tak lama Yuta datang dengan membawa kabar menyakitkan. Si Mbok dan Pak Danang ditemukan di tanah kosong tak jauh dari rumahnya dengan keadaan yang sudah tak bernyawa. Keduanya tampak bersimbah darah dengan luka sayatan di perut dan pukulan benda tajam di tengkuk.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un..." Kalandra mengusap kasar wajahnya. Sungguh tak disangka hal ini akan terjadi. Terlebih keduanya sudah lama bekerja dan sudah seperti keluarga. Rasa bersalah semakin mendarah daging. Ini semua karenanya, karena nafsunya pada Kemuning yang membuat semua menjadi korban, karena penyakitnya yang menuntut mendapatkan obat hingga tak kuasa menahan hasrat harus melenyapkan nyawa.
"Ini semua salah gue, Yut."
"Loe jangan gitu, semua udah takdir. Ini takdir hidup loe. Kalau pun loe nyesel, apa loe juga bakal nyesel bisa bertemu dengan Kemuning? Cuma cewek gila itu aja yang bar-bar. Sakit hatinya bikin orang pengen mencekik dia. Geregetan gue, kalau gue punya bukti udah gue tuntut hukuman mati tuh orang."
"Kita nggak boleh asal nuduh walaupun kita menduganya adalah dia. Luna jelas sakit hati sama gue, tapi kita harus ekstra usaha bagaimana caranya dapatin bukti kalau itu semua dia yang melakukan. Udah ada jejak, atau tanda-tanda yang mengarak ke pelaku?"
"Belum ada, mereka main rapi. Nggak ada jejak sama sekali. Bahkan jejak sepatu aja gue rasa nggak tercium, kecuali pelakunya menginjak taai kucing dulu sebelum masuk rumah loe!"
"CK, serius Yut!" Kalandra yang sedih malah jadi sewot mendengar ucapan Yuta.
"Iya-iya... Kuncinya ada di Kemuning. Dia yang tau kronologinya, Bro."
"Iya, tapi kondisi Kemuning tidak memungkinkan akan mendapatkan banyak pertanyaan. Itu akan membuatnya tertekan dan membuat kesehatan anak gue semakin terancam. Kondisi mereka sama-sama sedang mendapatkan perhatian khusus. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama mereka, Yut."
Yuta melirik ke arah ranjang pasien. Dia menatap wajah Kemuning dengan perasaan tak menentu. Dia yang tau betul sejak awal perjalanan cinta Kemuning dan Kalandra begitu kasian sekali melihat Kemuning harus menjadi korban.
"Gue harap Kemuning kuat. Tak seperti yang kita bayangkan," sahut Yuta.
Pagi ini Kalandra bersiap berangkat ke pengadilan. Kemuning belum kunjung sadar membuatnya sangat berat meninggalkan tetapi hal ini pun penting. Dia ingin proses segara diselesaikan dengan baik dan cepat terlepas dari Luna.
"Aku nitip istriku, Mah. Jika ada sesuatu dengannya, tolong segera kabari aku."
"Iya Sayang, ya sudah kamu cepat berangkat! Mamah doakan semoga semua diberi kelancaran dan masalahnya cepat selesai," ucap Mamah Kaira yang kemudian mengusap lembut kepala putranya. Dia terbaik dari sang Ibu pada putranya yang tengah berjuang.
Kalandra pun tak lupa pamit pada Kemuning dengan mengecup keningnya. Berangkat dengan perasaan yang entah. Berharap semua diberikan kelancaran dan kemudahan.
Sampai di pengadilan, Kalandra didampingi dengan Yuta. Mereka masuk ke ruangan yang sudah dihadiri dengan Luna.
"Mas.."
bgtu bsarkah cintamu pada luna zn