Teruntuk kau yang terlambat mengatakan cinta.
Aku di sini, di tempat tanda cinta berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: The Story (2)
Keduanya pun melihat Ji Yeon Dan Dong Soo yang tengah duduk terdiam menatap dua cangkir teh hangat di hadapan mereka. Tak ada kata yang pasangan ini lontarkan, keduanya diam dalam bahasa kalbu masing-masing.
"Sudah lama menunggu?" tanya Sun Woo duduk di salah satu kursi kosong yang mengelilingi meja berwarna putih itu.
"Oh kau sudah datang? Kami juga baru tiba, Oh? Min Joon?" ujar Dong Soo berdiri dari kursinya terkejut melihat seseorang yang tak seharusnya hadir dalam rapat ini.
"Kenapa?" jawab Min Joon santai sembari duduk di salah satu kursi.
"Ayahmu menanyakan padaku kapan kau akan kembali bekerja?" kata Dong Soo terdengar ragu.
"Aku tak akan kembali ke sana, aku dan Sun Woo menemukan tempat untuk kami sewa! Tapi, kenapa kau tegang sekali? Apa terjadi sesuatu?" Min Joon menatap Sun Woo yang duduk di sampingnya.
"Oh ya, kenapa kalian ingin bertemu kami?" sela Sun Woo.
"Oh ... itu tentang... tentang...," jawab Dong Soo terbata-bata.
"Tentang Jin Hee!" sela Ji Yeon yakin sambil menyentuh telinga cangkir tehnya.
"Ada apa?" tanya Sun Woo akhirnya.
"Kau tahu? Pelukis Kim yang akan menyelanggarakan pagelaran seninya besok?" lanjut Ji Yeon mengangkat cangkir teh dan meneguknya perlahan.
"Kenapa?" tanya Min Joon.
"Itu ... itu ...," ucap Dong Soo masih dengan keragu-raguan.
"Orang itu adalah Jin Hee!" sela Ji Yeon disela minum tehnya.
"Apa maksudmu? Apa kalian sudah mengetahui sesuatu?" Sun Woo lekas berdiri. "Siapa yang memberikan informasinya?" lanjutnya penasaran dengan ucapan kedua sahabat.
"Kim Jin Hee! Informanku adalah Jin Hee," jawab Ji Yeon lantang.
"Apa katamu?" sela Min Joon. "Kim Jin Hee? Apa maksudmu Lim Jin Hee? Jin Hee-ku?" lanjut Min Joon tertawa ragu.
"Bagaimana bisa? Apa kalian berdua nekad memeriksa tempat pagelaran seni? Kalian berdua sangat lucu, itu tidak mungkin 'kan?" ujar Sun Woo menghibur dirinya sendiri, mencoba untuk meragukan kedua sahabatnya.
Ji Yeon pun menceritakan semuanya. Semua yang duduk di sana sangat terkejut mendengar kabar itu, bahkan Jung Hee yang tengah menyajikan teh bagi Sun Woo dan Min Joon hanya bisa terdiam di depan meja.
Mendadak tempat ini hening. Penangkap mimpi di jendela samping bergerak pelan tertiup angin. Semuanya tak tahu haru bicara apa. Jin Hee benar-benar berhasil membuat semuanya kebingungan.
"Jadi maksudmu, Jin Hee ada di sini sekarang? Gadis yang waktu itu diberitahukan oleh informanku benar-benar Jin Hee?" sela Jung Hee mencairkan suasana.
"Di mana dia ... katakan padaku di mana dia?" teriak Sun Woo emosi.
"Tenanglah Sun Woo, tenang! Kami juga tidak tahu di mana dia sekarang, tapi Jin Hee berkata akan memberitahukan sesuatu kepadamu besok. Untuk itu, dia meminta kami menyampaikan hal ini," ungkap Dong Soo.
"Bagaimana keadaannya? Apa yang kau lihat? Seperti apa dirinya? Hah?" cecar Sun Woo. Min Joon masih terdiam tidak percaya dengan semua ini.
"Dia baik-baik saja. Dia semakin cantik!" jawab Ji Yeon.
"Benarkah? Syukurlah! Syukurlah adikku baik-baik saja," ucap Sun Woo.
"Aku ingin bertemu dengannya!" potong Min Joon.
"Kau bisa saja bertemu dengannya. Tapi, Min Joon ...," cegah Ji Yeon membuat Min Joon mengangkat wajah yang tertunduk pasrah. "Dia mengatakan sesuatu yang aneh tentangmu. Dia juga bilang tidak ingin menemuimu!"
"Apa?" seru Min Joon bingung, hatinya tertusuk sesuatu yang sangat kecil saat mendengar pernyataan Ji Yeon, itu terasa sedikit pedih.
"Aku juga tidak tahu kenapa, dia terlihat aneh saat aku menyebut namamu!" lanjut Ji Yeon.
"Dia pasti marah," gumam Min Joon.
"Apa?" tanya Sun Woo mendengar gumaman Min Joon.
"Tidak!" jawab Min Joon. "Apa kau tahu sekarang dia di mana? Atau sesuatu yang lain tentangnya?" lanjut Min Joon bertanya.
"Tidak! Ah, sebentar ...," ucap Ji Yeon saat menyadari sesuatu, dia lekas menghubungi nomor yang diberikan Yoon kepadanya. "Halo?" ucap Ji Yeon di telepon.
"Ya, halo," jawab suara wanita yang ada di telepon memaksa mata yang ada di tempat ini terbelalak menuju harapan.
"Apa ini Jin Hee?" kata Ji Yeon mengejutkan Sun Woo dan Min Joon.
"Tidak, saya Yoon! Aah ... kau pasti Nona Choi 'kan?" lanjut Yoon terdengar ramah menerima telepon itu.
"Iya ini aku! Boleh aku tahu Jin Hee di mana? Aku ingin bicara dengannya," kata Ji Yeon yang terus saja diperhatikan semua yang berada di sini.
"Kami masih berada dalam perjalanan, sepertinya nona tertidur karena belum sarapan! Kami berencana mampir ke restoranmu dulu ...," jawabnya pelan.
"Matikan," tandas seseorang dari dalam telepon itu dengan lembutnya.
"Iya Kak! Maafkan aku Nona Choi, sepertinya Nona sedang tidak ingin bicara, sebaiknya kita bertemu di pagelaran seni besok!" ucapnya mematikan panggilan.
"Siapa itu?" tanya Min Joon dan Sun Woo bersamaan.
"Yoon, dia adalah asisten pribadi Jin Hee!" jawab Dong Soo membantu.
"Kemungkinan, mereka akan mampir ke restoran tempatku bekerja. Katanya Jin Hee belum sarapan!" ungkap Ji Yeon.
"Aku pergi!" seru Min Joon bergegas. Ji Yeon terkejut melihat Min Joon yang langsung beranjak pergi begitu saja dan tak mendengarkan ucapannya. Mencoba menahan kepergiannya.
"Biarkan! Biar mereka selesaikan dulu masalah mereka berdua!" kata Sun Woo.
"Bagaimana jika Jin Hee marah? Dan tidak ingin bertemu denganmu besok? Bagaimana jika Min Joon menemukannya? Sepertinya aku melakukan hal yang salah," ungkap Ji Yeon terlihat khawatir, ketika melihat perilaku Min Joon itu.
"Dong Soo, tenangkan dia!" pinta Sun Woo melepaskan tangan Ji Yeon, Dong Soo segera memegang tangan Ji Yeon dan mencoba menenangkan.
"Jung Hee, aku akan pergi ke suatu tempat! Jika Min Joon kembali hubungi aku!" ucap Sun Woo pamitan kepada Jung Hee, Ji Yeon dan juga Dong Soo.
***
27 November 2013
Langit terlihat begitu mendung, angin yang bertiup dengan damainya menandakan salju akan segera datang. Dua orang perempuan muda itu tampak tengah duduk di sebuah restoran yang terlihat cukup sepi. Mereka menikmati makan paginya yang terlewat, mungkin telah digabungkan dengan makan siangnya juga.
Waktu menunjukkan pukul 10:18 KST, keduanya telah selesai menikmati makanannya.
"Aish! Dia benar-benar menyebalkan. Bagaimana dia bisa menemukan email dan nomor ponselku?" gerutu Jin Hee
"Aku rasa Professor yang memberikannya."
"Kau baca ini," ucap Jim Hee memperlihatkan email dari Richard Lee
~Karena kau tidak berada di Jepang, maka aku mengirimkan foto dan pesan ini ke emailmu~
Lalu, menampakkan foto pria berkulit putih dengan senyumab manis.
"Dia manis sekali!" seru Yoon merasa gemas.
"Apa ini manis? Dia terlalu mengganggu."
"Hey, kau ini!" goda Yoon menahan tawa.
"Hah, ayo kita pergi!" perintah Jin Hee kepada Yoon dan bergerak dari duduknya.
"Iya, Kak!" jawab Yoon ringan mengikutinya, mereka menuju kasir untuk membayar pesanan.
"Permisi, apa hari ini Choi Ji Yeon tidak bekerja? Aku sudah menunggu sedari tadi, tapi kenapa dia tidak terlihat? Bukankah dia bekerja di restoran ini mulai dari pagi hingga sore hari?" tanya Jin Hee tiba-tiba.
"Tadi pagi dia menelpon, katanya akan sedikit terlambat, kemungkinan besar dia akan datang sore hari. Kudengar suaminya sedang sakit!" ungkap pegawai restoran itu dengan santainya.
"Sakit? Tapi tadi ... ah, baiklah. Pukul berapa biasanya dia bekerja pada sore hari?" lanjut Jin Hee sedikit bergerak ke sisi kiri mempersilakan orang lain yang ingin membayar.
"Seingatku, kata manager dia tidak pernah datang terlambat. Tetapi semenjak menikah, punya anak dan tinggal di tempat yang cukup jauh dia jadi sering terlambat bahkan terkadang dia mengganti shiftnya pada malam hari."
"Sepertinya kau pegawai baru ya? Aku ini adalah teman lama Choi Ji Yeon. Bolehkah aku menitipkan sesuatu untuknya? Sejujurnya, tadi pagi aku sudah bertemu dengannya, tapi aku melupakan sesuatu?" tanya Jin Hee.
"Iya, aku baru bekerja di sini. Apa yang ingin kau titipkan untuknya? Biar kubantu!"
"Apa kau punya kertas?" tanya Jin Hee pada Yoon.
"Oh, kau ingin meninggalkan memo? Gunakan ini saja ...," ucap pegawai restoran itu sambil memberikan setumpuk kertas kecil.
"Terima kasih," kata Jin Hee sambil mengeluarkan sebuah pena dan lekas menuliskan kata-perkata di kertas. Setelah menuliskan sesuatu, Jin Hee bergegas pergi dari restoran tempat Ji Yeon bekerja dan menitipkannya di bagian kasir tadi.
***
Bersambung
cerita yg menarik karena kekuatannya ada pada kata2 yg indah