Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Setelah membersihkan tubuh, ku rebahkan tubuhku diatas kasur sambil menatap langit-langit kamarku. Namun meski tubuhku terkesan relaks, Otakku tak hentinya memutar rekaman ucapan Vino saat berada di Danau tadi.
Rasanya tidak mungkin dan sulit untuk ku percaya. Jika selama ini Vino memiliki perasaan lain padaku. Bukankah selama ini kami hampir tak pernah Akur, bahkan di setiap hariku di sekolah selalu diisi perdebatan dan kejahilan absurd Vino, seolah Ia tak pernah rela melihatku hidup tenang di sekolah.
"Kayanya Vino udah mulai ga waras, Apa mungkin ketularan Rayyan? Tapi bukankah mereka berdua ga sedekat itu. Entahlah, kenapa Aku malah jadi pusing karena mikirin mereka berdua." Gumamku sendiri.
********************
Minggu pagi yang cerah, secerah hariku yang tampak sumringah.
Hari ini Aku dan Anis berencana untuk pergi ke Toko buku yang terletak di kawasan Sebuah Mall di tengah Kota.
Aku bahkan sudah bersiap sejak pagi, rencananya Aku ingin menghabiskan waktu libur hari ini untuk sedikit menyegarkan pikiran sebelum menghadapi kesibukan dalam menghadapi ujian yang sudah dekat.
"Alya, Cie tumben tuh rambut ga di kepang ekor kuda." Ucap Anis yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Anis tampak berjalan mendekat sambil memperhatikanku dari atas kebawah.
"Bisa pakai rok juga Lo" Seloroh Anin sambil menarik-narik pakaian yang ku pakai hari ini.
Hari ini memang tak seperti biasanya, hari ini Aku memakai dress selutut berwarna merah muda pemberian Tante dewi. dan kali ini Aku pun sengaja tak mengikat rambut panjangku. Aku hanya menyisir rambut panjang tebal ku dan memakai jepit rambut kecil agar terlihat rapih dan segar.
"Tapi ada yang kurang tuh." Ucap Anis. Belum sempat Aku bertanya. Ia terlihat mengeluarkan sebuah alat make up dari tas yang dibawanya. Dan mengoleskan pewarna bibir di bibir tipis ku.
"Kalo gini kan kelihatan lebih seger liatnya." Ucap Anis sumringah.
Setelah meminta izin pada Ibu, Aku dan Anis pun pergi bersama menuju tempat yang kami tuju.
Sekitar setengah jam berkendara, kami pun sampai di Mall. bergegas kami pun berjalan menuju Toko buku yang dimaksud. Aku sudah tak sabar untuk membeli sebuah buku yang sudah ku incar sejak lama. Bahkan Aku sampai menyisihkan uang sakuku untuk bisa membawa pulang buku itu hari ini.
"Al, masih pagi banget ga sih. Makan dulu yu." Ucap Anis yang tiba-tiba berhenti, padahal jarak menuju toko buku masih cukup jauh. Kami bahkan masih harus menaiki sebuah eskalator menuju lantai 3.
"Lo belum sarapan?" Tanyaku yang dijawab dengan Anggukan kepala oleh Anis. Dan dengan terpaksa Aku pun menuruti permintaannya untuk singgah terlebih dahulu ke sebuah restoran cepat saji terdekat.
Memasuki salah satu restoran cepat saji, Aku di kejutkan dengan keberadaan seseorang yang ku kenal. Pemuda yang sudah satu minggu menghilang dari kelas dan dari absen ponselku.
Tampak Rayyan tengah duduk mengobrol dengan seorang gadis seumuran kami.
"Bukannya itu Rayyan." Ucap Anis sambil menunjuk kearah Rayyan yang tampak sedang asyik mengobrol.
lantas Anis menarik lenganku untuk berjalan lebih cepat menuju tempat Rayyan duduk.
" Hai Rayyan, Lo ada disini juga." Sapa Anis ketika kami sampai di dekat meja Rayyan.
Rayyan tampak terkejut dengan kedatangan kami yang mungkin terkesan tiba-tiba.
"Kalian ada disini juga." Ucap Rayyan. Yang kemudian tampak tegang ketika menatapku.
"Boleh ikut gabungkan?" Tanya Anis yang kemudian duduk disalah satu kursi kosong meja Rayyan. Melihat Anis yang berbuat semaunya membuatku jadi merasa tak enak hati.
"Al,. Ayo sini duduk. Malah bengong disitu." Ucap Anis.
"Kalian teman sekolah Rayyan?" Tanya Gadis yang sejak tadi duduk bersama RAyyan.
"Gue Anis, dan ini Alya, kita berdua temen sekelas Rayyan." Jawab Anis yang kemudian menarik lenganku untuk duduk di kursi kosong di sampingnya.
"Oh, Hai juga, Aku Mika teman Rayyan dari kecil." Ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya. Yang tentu saja ku sambut baik uluran tangannya. berbeda dengan Anis yang menyambut uluran tangannya dengan tampak terpaksa.
"Kalian pacaran? Pagi-pagi udah nongki aja disini." Ucap Anis.
UCapan Anis barusan, membuatku ingin menyumpal mulutnya yang suka asal ceplas-ceplos itu. Meskipun sebenarnya Aku juga penasaran.
"Kita cuma temenan kok" Jawab Gadis bernama Mika tersebut sambil tersenyum kearah Rayyan.
Gadis bernama Mika tersebut terlihat sangat cantik dengan wajah kebule-bulean yang dimilikinya. Kulitnya tampak sehat dan pakaian yang dikenakannya semakin membuatnya terlihat bersinar. Pastinya Ia bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja bukan.
Kami berempat mengobrol cukup lama, namun lebih tepatnya Hanya Anis dan Mika lah yang banyak mengobrol, sementara Aku dan Rayyan lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar saja.
sebenarnya Aku benar-benar merasa tidak nyaman berada diantara mereka. Apalagi obrolan mereka membahas tentang Universitas luar negeri yang akan menjadi tujuan mereka nanti. Membuatku semakin tak nyaman. Ditambah lagi dengan Rayyan yang terus saja menatap ke arahku dengan tatapan tak biasanya.
"Udah siang nIh. kalo gitu kita permisi duluan ya" Ucap Anis akhirnya.
Aku dan Anis pun segera berdiri untuk pergi.
"Kamu bisa ke Toko buku bareng Mika, Aku ada perlu sama Alya." Ucap Rayyan tiba-tiba.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.