Ratna Duhita harus menerima nasib kurang baik. Niat hati ingin menghadiri pesta pernikahan sang sahabat yang sudah seperti saudara. Tapi sebelum masuk ke pintu gerbang ia diculik dan disekap hingga tak sadarkan diri.
Saat tersadar ia sudah berada di tempat asing dengan tangan terikat dan mata tertutup kain. Ketika penutup mata itu terbuka, ia terkejut bukan main ketika laki-laki yang berada dihadapannya adalah cinta pertamanya.
Bagaimana mungkin laki-laki itu berada ditempat yang sama dengannya? Apakah dia juga diculik sama seperti dirinya? Atau diakah dalang dari penculikan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Bertemu mantan suami
"Lalu?"
"Meskipun aku belum sembuh total, bukan berarti aku tidak bisa merasakan apa-apa. Sepertinya Putri dan paman saling mengenal sebelumnya. Mereka selalu berdebat dan berujung pertengkaran jika bertemu. Bahkan mereka saling menghina, mereka pasangan lucu."
"Aku dan kakek merencanakan pernikaahn Putri dan paman." Lanjut Raditya dan aku pula yang menggagalkan rencana pernikahanmu lanjutnya membatin.
Ratna terkejut mendengar cerita itu, pasalnya ia tidak ada saat Putri mengalami masa-masa sulit. Ia tahu tidak mudah menjadi Putri, tapi sekarang terabayar sudah karena suami yang begitu mencintainya.
Apalah aku yang berharap mengalami nasib sama seperti Putri. Aku hanya wanita dengan asal usul yang tidak jelas.
Tiba-tiba wajah Ratna terlihat sendu. Ia jadi pesimis.
"Kau di jodohkan kembali?" tanya Ratna menundukkan wajahnya.
"Tidak," jawab Raditya singkat tanpa mengalihkan tatapannya pada wanita itu. Ia dapat melihan kegundahan wanita itu. Boleh 'kan ia percaya diri wanita itu masih mencintainya.
"Tapi pertemuan tadi, bukankah itu pertemuan antara dua keluarga?"
"Mereka yang menginginkan perjodohan ini, tapi bukan berarti aku setuju."
"Jadi?" tanya Ratna pensaran sambil mendongak menatap pria itu. Harap-harap cemas menunggu jawaban pria yang tersenyum di hadapannya itu.
"Aku menolak karena ... sudah ada seseorang yang menungguku."
"Siapa yang menunggumu?" tanya Ratna malu sekaligus bahagia, entahlah dia merasa wanita itu adalah dirinya.
"Maksudku... aku yang menunggu wanita itu mengatakan, iya." Raditya memegang dagu Ratna membuat wajah wanita itu memerah seketika. Tanpa ba bi bu Raditya mengecup bibir itu sekilas, membuat Ratna terdiam dengan rasa hati ingin meledak.
*
*
Ratna berguling-guling di atas ranjang mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Memalukan sekali, aku bilang tidak, tapi dicium diam saja, malah ikut membalas. Bagaimana bisa aku seperti ini ?" gumam Ratna pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Raditya kembali lebih cepat karena masih ada urusan yang harus ia lakukan. Setelah menyuruh wanitanya istrahat, ia pun keluar meninggalkan apartemen.
Semalaman Ratna tidak bisa tidur karena memikirkan wajah seseorang, membuat wanita itu bangun kesiangan. Bangun tidur pun ia langsung tersenyum bahagia.
"Sungguh aku tidak menyangka, pria yang ku kejar sepenuh hati, akhirnya sekarang membalas perasaanku. Meskipun status kami sudah berubah, mungkin inilah takdir kami, harus bersama orang lain dulu sebelum bersatu."
"Putri benar hidup bahagia dan berhak untuk bahagia." Ratna bangkit dari tidurnya lalu membersihkan diri.
Hari ini ia akan belanja sekalian sarapan di waktu siang di luar. Malam ini ia ingin memasak makan malam untuk pria yang sudah membuatnya tidak bisa tidur.
Tak lama Ratna sampai di supermarket terdekat, setelah selesai belanja untuk bahan masakan nanti malam dan juga keperluan lainnya, Ratna pun mampir ke sebuah warung makan. Dia memesan nasi kuning plus ayam goreng tepung beserta teh manis hangat 2. Setelah beberapa menit pesanan pun datang. Baru dua suap ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ratna pun hanya membalas dengan senyuman, untung saja mulutnya masih kosong. Setelah memberikan senyum terbaiknya ia pun melanjutkan makannnya.
"Apa kabar?" tanya laki-laki itu yang sudah berada di hadapan Ratna dengan posisi masih berdiri.
Wanita itu tidak langsung menjawab karena masih mengunyah makanan.
"Kabarku baik, Mas. Sendirian?"
Kemudian laki-laki itu melihat ke arah pintu yang menampilkan seorang wanita dengan pakaian modis berjalan menghampirinya.
"Bersama isriku," jawabnya lirih.
"Mas Dani, Siapa?" tanya wanita itu sebelum melihat wanita yang sedabg duduk. "Oh ... mantan istri, Mas, toh," lanjut wanita itu yang tak lain istri Dani yang bernama Melani dengan ketus.
Tentu saja wanita itu mengenal dengan jelas sebagai pengambil suami orang harus tahu lebih dulu wanita yang menjadi istri sahnya.
"Bolehkah kita duduk di sini?" tanya Melani pada Ratna.
"Kita cari tempat duduk lain saja." Dani mantan suami Ratna menimpali. Dia tidak mau terjadi pertengkaran antara mantan istri dan istri barunya itu. Bukan tanpa alasan ia berpikir seperti itu, istri barunya selalu saja cemburu pada Ratna padahal mereka tidak pernah lagi bertemu.
"Silahkan saja. Aku tidak masalah, ada teman makan lebih menyenangkan." Ratna pun tersenyum setelah mengucapkannya.
"Tuh, Ratna saja tidak keberatan. Nanti kita yang bayar makanannya." Lalu keduanya pun duduk di hadapan Ratna. "Aku yang traktir," lanjut wanita itu menatap Ratna.
"Terima kasih."
"Hitung-hitung kau bisa hemat untuk pengeluaran uang makan," ucap istri Dani itu sedikit menyindir. Ratna hanya tersenyum saja sembari melanjutkan makan.
Wanita ini ingin mulai perang denganku. Padahal aku sudah memberikan suamiku dengan ikhlas. Lihatlah, wajahnya licin sekali. Berapa uang yang harus di keluarkan Mas Dani untuk skincare. Ah, aku lupa kalau gajinya sangat besar, dulu menghidupiku dan dia saja cukup.
Ratna mencebikkan bibirnya.
Tak lama pesanan pasangan suami istri itu pun datang.
"Jika kau ingin bungkus, silahkan saja, aku yang akan bayar," kata Dani tulus.
"Terima kasih, Mas. Aku sudah belanja untuk nanti malam, aku akan masak saja." Keduanya melihat ke arah kantong belanjaan Ratna.
"Banyak sekali," celetuk Melani. " Kau tinggal dimana? Masih dikontrakan? Seharusnya kau berhemat agar bisa punya rumah sendiri."
"Tidak. Aku tinggal di apartemen teman dan gratis tidak perlu bayar sedikitpun. Entahlah kebaikan apa yang aku lakukan hingga mendapat keberuntungan seperti itu. Mungkin aku pernah ikhlas memberikan sesuatu yang aku anggap berharga, namun, biasa saja," ucap Ratna telak membuat wakah Melani kesal.
"Milik teman, berarti tidak selamanya kau bisa tinggal di sana. Jika temanmu datang dan menikah, kau harus pergi dan mencari tepat baru lagi."
"Kau terlalu perhatian. Sayangnya temanku sudah menikah dengan pria kaya raya. Jadi, dia tidak akan kembali menggunakan apartemen itu. Awalnya aku takut karena gedungnya sangat tingi, ternyata lama-lama menyenangkan, kita bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian." Ratna semakin membuat hati wanita itu panas.
"Sayang, kenapa tidak bilang mau makan di sini?" tanya Raditya lalu langsung duduk di samping Ratna sembari memeluk pinggang wanita itu erat. Kedatangan tiba-tiba pria itu tentu saja membuat Ratna terkejut. Kedua pasangan di hadapannya pun tak kalah terkejut melihat laki-laki di hadapannya.
"Aku minta sedikit saja." Raditya makan sisa makanan di piring Rtana tanpa rasa jijik sedikitpun.
"Ih, kau selalu makan makananku. Aku pesankan saja." Ratna bicara sedikit marah.
"Kau itu pelit sekali sama pacar sendiri. Ntar aku nikahi, loh." Spontan ucapan pria itu membuat Ratna tersipu malu.
"Makanlah!" Raditya kembali menyuapi mulutnya.
Kedua pasangan itu masih diam memperhatikan pasangan mersa di hadapannya.
"Kau sudah punya kekasih?" tanya Dani penasara dengan perasaan tidak suka melihat pria di samping Ratna yang sepertinya melebihi dirinya.
"Aku calon suaminya." Raditya yang menjawab pertanyaan mantan suami wanitanya. "Sayang, kau tidak mau memperkenalkanku pada temanmu." Raditya bersikap sok imut membuat Ratna tertawa dalam hati. Wanita itu tersenyum lalu menatap kembali pada pasangan suami istri itu.