NovelToon NovelToon
Cinta Pak Bos

Cinta Pak Bos

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Tamat
Popularitas:569.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Siapa yang mengira.
Pertemuanku dengan seorang pria di sebuah vila, mengubah kisah cintaku.

Dalam sekejap statusku berubah, menjadi pacarnya pak bos. Oh Tuhan... aku hanya meminta bantuannya kenapa menjadi seperti ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang Berterus Terang

Revan terus menarikku, Aku tidak bisa melepaskanya. Mataku sibuk menatap sekelilingku. Melewati tangga, sofa, meja, lemari.. dan..

"Dug.." Aku menabrak punggungnya.

"Auu.." Teriakku.

"Kenapa berhenti tiba-tiba sih?" Tanyaku kesal sambil mengusap usap keningku sendiri.

"Kamu semangat sekali mengikutiku." Ucapnya sambil tertawa senang.

"Eh.. sembarangan, kamu yang semangat banget narik aku tadi." Belaku.

Revan sedikit membungkuk dan mengarahkn wajahnya tepat di depan wajahku. Oh tidak.. apa yang mau dilakukan Revan. Matanya jelas tertuju ke kening ku yang sejak tadi ku usap. Dia ikut mengusapnya perlahan dan meniupnya.

Jantung tiba - tiba berdetak cepat. Bibirnya jelas terlihat. Apa yang sedang ku fikirkan sekarang. Aku mendorong tubuhnya. Menjauhi tubuhnya dariku.

"Hei.. apa yang kamu lakukan." Ucapnya kesal sambil memegang dadanya yang barusan ku dorong dengan kekuatan penuh.

"Jangan dekat.. dekat.." Pintaku.

"Aku hanya membantumu." Belanya.

"Aku bisa sendiri, terima kasih." Jawabku cepat.

"Ya sudah, ayo ikut.." Pintanya lagi dan mencoba meraih tanganku kembali. Tapi kali ini aku menepisnya.

"Aku bisa sendiri mas." Jawabku.

Dia menatapku kemudian dan melangkah kembali.

"Ok, ayo.." Pintanya lagi.

Kupun melangkah mengikutinya. Beberapa menit kemudian aku tersadar. Kenapa aku jadi menurutinya sekarang. Padahal jelas tadi aku panik dia mengajakku.

"Ayo masuk." Ajaknya lagi.

Revan membuka pintu besar yang ada di hadapan kami. Aku menatap dari kejauhan isi di balik ruangan ini.

"Ada apa di dalam sana?" Tanyaku menyelidikku.

"Kamu akan tahu, saat kamu masuk ke dalam."

Revan masuk terlebih dahulu, mencari saklar lampu di balik tembok ruangan ini. Ruangan menjadi terang sekarang. Hampir terlihat jelas isi ruang ini. Aku makin penasaran dibuatnya. Sampai akhirnya kakiku telah melangkah masuk lebih dalam.

"Waw.." Teriakku.

Revan masih sibuk, membuka tirai - tirai jendela besar yang menutupi hampir seluruh permukaan ini. Sinar matahari mulai masuk perlahan, memberikan suasana hangat. Tanaman yang berbaris rapih di pinggir luar jendela seperti menari mengikuti irama angin yang berhembus pelan.

Aku kembali menatap sekelilingku dan Revan. Ia tengah duduk di sebuah kertas besar di hadapanya. Ada sedikit ukiran yang belum tuntas ia kerjakan. Ehm.. seperti sebuah cangkir namun belum sempurna terbentuk. Aku hanya mengira dan menyimpulkannya saja. Banyak sekali warna di ruangan ini. Mereka melekat indah membentuk arti di setiap ukiran yang terjadi.

"Ini ruangan apa?" Tanyaku sambil menatap sekelilingku.

"Ruang kerjaku." Jawabnya.

"Kamu seniman?"

Revan tidak menjawab, hanya tersenyum.

"Kamu menyukai seniman atau pembisnis?" Tanyanya tiba - tiba.

"Aku suka tunanganku." Jawabku tersenyum menang.

Diapun tersenyum menatapku. Aku kembali melangkah menyusuri setiap lukisan yang terpampang rapi di ruangan ini. Ku menatapnya dan sesekali menyentuh lukisan miliknya.

"Aku tidak paham dengan lukisan, menurutku ini indah, aku menyukainya." Tunjukku kepada salah satu lukisan miliknya.

"Itu bisa menjadi milikmu jika kamu menyukainnya."

"Oh.. bukan itu maksudku." Jawabku cepat.

"Aku menyukainya bukan berarti aku harus memilikinya?"

Revan menghampiriku dan menatapku kembali. Dia meletakkan kedua tangannya di dinding dan menutupi ruang gerak tubuhku.

"Kalau kamu menyukaiku, kamu juga harus memilikiku."

Deg.. jantungku berdetak kembali mendengar perkataannnya. Kenapa pria ini sangat berterus terang sekali dengan perasaannya. Aku menjadi canggung dalam sekejap.

Klek.. pintu terbuka.

Aku dan Revan sama - sama menatap seseorang yang membuka pintu itu. Revan segera mengangkat tangannya dan sedikit menjauhkan tubuhnya dariku.

"Ayna, Revan.." Panggilnya.

Itu bu Darma, untung saja dia cepat menemui kami. Tapi.. waktunya tidak tepat menurutku. Apa yang akan difikirkan bu Darma padaku. Aku dan Revan berada pada posisi yang bisa disalah artikan banyak orang.

"Revan menyulitkanmu kah?" Tanya bu Darma.

"Oh.. ehmm.. enggak bu.." Jawabku berbohong dan melirik Revan.

Revan memang menyulitkanku. Aku kesulitan memahami kejujurannya, keterus terangannnya. Tapi apa aku harus memberitahukan itu semua ke bu Darma.

"Ya sudah kita makan bersama ya, sudah waktunya makan siang." Pinta bu Darma.

Bu Darma menarik tanganku, mengajakku mengikuti dirinya. Aku berjalan sejajar dengannya dan Revan melangkah mengikuti kami dari belakang. Hingga akhirnya kami sampai di meja makan yang penuh dengan hidangan lezat di sana.

"Ayo makan." Pinta bu Darma.

"Kamu harus coba masakan ibuku, ini enak sekali." Ucap Revan.

Aku mulai memasuki beberapa menu ke dalam piringku, mencoba mencicipinya perlahan.

"Jadi, nak Ayna sudah lihat - lihat lukisannya Revan?"

Ku mengangguk dan sambil memasukan kembali makanan ke dalam mulutku.

"Revan ini hobi sekali melukis."

Aku menatap Revan sesaat. Bu Darma sangat menyanjung anaknya ini. Tapi ku akui aku menyukai lukisanya. Indah dan penuh arti.

"Stop bu, kita bahas yang lain, jangan bahas diriku." Pinta Revan.

Kami mulai membahas yang lain. Lebih tepatnya membahas diriku kembali. Tak terlalu berat hanya membahas seputar pekerjaanku saja.

Makan siangpun berakhir lebih lama dari biasanya. Aku merasa lebih banyak berbicara dibandingkan menikmati makananku.

Siang itu, bu Darma pergi meninggalkan kami kembali dan ku melangkah ke sebuah sofa kecil menghadap jendela besar dengan tirai putih yang sempurna menari tertiup angin yang tak sengaja masuk melewati pintu besar tepat bersebelahan dengan jendela ini.

Pemandangan di luar sana terlalu indah. Aku tak berkedip menatapnya. Hanya sebuah bunga dan kupu - kupu yang hinggap di atasnya. Kenapa aku menikmati sekali menyaksikan kupu-kupu itu.

"Minumlah." Pinta Revan.

"Vanilla Late." Lanjutnya.

Ku menatap sebuah cangkir kecil yang sedang ia letakan di meja berbentuk lingkaran di hadapanku.

"Terima kasih."

Revan kemudian duduk tepat di depanku. Ikut memandang ke arah yang sejak tadi ku menatapnya.

"Mereka saling membutuhkan dan menyempurnakan." Ucapnya tiba-tiba.

"Hah.." Ku tak paham maksud perkataannya.

"Bunga dan kupu - kupu itu." Ucapnya kemudian.

"Oh.." Manis sekali kata - katanya terdengar. Aku mentapnya, sambil ku menyeruput kopi yang yang telah dibuatkannya untukku.

"Ehmm.. Aku harus pulang, di mana ibumu?" Tanyaku.

"Sekarang?"

"Ya.." Jawabku cepat.

"Habiskan dulu kopimu." Pintanya sambil menatapku.

"Ini buatanmu sendiri atau bibi di belakang sana?" Tanyaku.

"Bagaimana rasanya, kamu menyukainya?"

Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah bertanya balik.

"Lebih baik, dibandingkan kopi di bandara waktu itu"

"Mampirlah kapan - kapan ke cafe ku, banyak kopi enak di sana."

"Owh.. kamu punya cafe juga?"

"Ya.. Tidak terlalu besar, hanya beberapa puluh karyawan."

"Hanya beberapa puluh, kamu bilang tidak terlalu besar." Ulangku.

"Jadi ini pekerjaanmu?"

"Hanya hobi." Jawabnya menatapku dan tersenyum.

Aku menatapnya heran.. kenapa semua yang ia kerjakan dibilang hobi, terserahlah..

"Kenapa kamu melihatku seperti itu, sudah mulai menyukaiku." Godanya.

"Terima kasih kopinya, aku harus pulang." Ucapku tiba - tiba dan bangkit segera.

"Hei.., kamu cepat sekali marah."

Revan menarik tanganku dan ikut berdiri sekarang.

"Aku hanya ingin pulang." Belaku.

"Baiklah, aku antar kamu menemui ibuku."

Revan menarik tanganku tiba - tiba. Akupun menepis secepat yang ku bisa.

"Maaf aku bisa jalan sendiri."

Dia kembali menatapku dan kemudian tersenyum dan melangkah mencari sosok bu Darma.

Akhirnya kami menemukannya. Kami menghampirinya dan ku berpamitan dengannya.

"Datanglah kembali ke sini nanti." Pinta bu Darma.

"Ya bu.."

Aku menyukai bu Darma, tapi Revan menyebalkan. Kalau ku sering kesini akan sering ketemu Revan. Tapi aku tidak bisa bilang tidak, tapi kenapa aku harus bilang ya.

"Ibu, Revan pamit juga ya, mau antar Ayna. Sekalian mampir ke kafe."

Tunggu.. tunggu.. aku menatap mereka berdua. Sejak kapan aku menyetujui kalau aku mau diantar Revan. Belum sampai ku membenarkan situasi yang seharusnya. Bu Darma sudah berkata lebih dahulu yang membuatku harus setuju akan kemauan Revan.

"Oh.. bagus itu, lebih baik kamu bareng Revan, dibandingkan pulang sendiri."

"Tapi.." Ucapku terpotong.

"Jauh lebih aman Ayna, banyak penjahat di luar sana. Ibu merinding baca berita pagi ini."

Ku menarik nafas panjang dan menyetujui akhirnya. Revan menatapku senang. Tersenyum menatap ketidakberdayaanku.

.

.

.

.

Lanjut episode berikutnya ya dears😘.. semoga menikmati ceritanya.

dilike ya 😘dan dijadikan favorite

jangan lupa bintang dan vote yang banyak

komentar dan masukan yang baik ditunggu😇

terima kasih..

tetap setia menunggu upnya ya😊😊

1
EmbunCahaya
HP
Alya Yuni
Dah salah alamat msih mau blng di cukai ya dia cukai kenl kmu Nayna jdi prmpuan jngn terllu bego
hafid nadhif
trima kasih
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ: terimakasih kembali kak🤗🙏
total 1 replies
Gina Maria
makasih bgt novel mu bagus bgt...romantis & swett..🥰
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ: terimakasih kembali kak🤗🙏
total 1 replies
Alhafiz Rayyansah
sedikit2 teriakku sendiri.
lah ngapain teriak2,gak capek teriak2 mulu
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
apa Adit anak dari kluarga Pak Darma ya...
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
otw jatuh cinta nih si Ay.. makanya mendadak lola dan salting
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
😂😂😂Adit ngeliat barang berharga ny Ayna berwarna merah jd malu sendiri.. muka nya jd ikut2an merah
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
😂😂hanya dikening ya... kirain dibibir.. udh deg2an aja tuh si Ayna
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
Adit tau bae rumahnya Ayna..
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
ihiy mulai nyaman nih... dah g usah pulang Ay...
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
hmmm Jahat bngt Rafka....
dah lah lebih baik putus aja dan jadian ma Adit...
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
Adit baik n perhatian bngt sih ke Ayna... penasran nih sbnrnya siapa Adit.. knp dia nanyain perusahaan tempat Ayna bekerja
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
cieee deg2an nih yee.. Ay inget Rafka Ay..
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
masih ngikutin alurnya nih gmn.. knp Rafka ga nongol2 lgii.. siapa sbnrnya Adit ini..
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
untung Ayna nyasarnya kerumah orang baik ganteng pula ya mas Aditnya.. jd betah deh nyasar lama2
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
apa bner Ayna salah alamat ya... 🙈
ˢ⍣⃟ₛ🕊ᶜᵒᵐᵉˡ🐾M⃟3💋
aku sih milih HP thor... klo mslh dompet kan ada pacar yg nanggung🙈🙈

ish ish baru awal msih nyimak perlakuan Rafka ke Ayna.. mungkin cuek krn sibuk..
🐝𝓢𝓐𝓓🌷 rindu ғᶻ⁺🕸️♋
semangat
🦋 165
ko jd degdegan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!