Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Badan, sehat Bibir
Mendengar sang istri yang memanggil dirinya, membuat Raja menoleh ke arah Adifa yang masih menatap kakinya dengan khawatir .
"Kenapa, Dek?" tanya Raja, suara lirihnya terdengar lemas.
"Kakinya membengkak. Mas, kita ke rumah sakit sekarang!" Adifa dengan wajah panik bergegas membalik badan. Namun, langkahnya terhenti saat Raja menggelengkan kepala.
"Kompres saja, Dek. Hanya bengkak biasa." Raja meyakinkan istrinya bahwa ia baik-baik saja.
"Sampai demam begitu loh, takutnya ada sesuatu yang berbahaya, Mas."
Seulas senyum menghiasi wajah pria itu, perhatian Adifa membuat hatinya menghangat. Seperti ada yang mekar di hatinya.
"Mas hanya butuh kompresan dan kamu saat ini," ujar Raja.
"Huh, oke lah. Tunggu sebentar ya, Mas." Adifa meninggalkan suaminya untuk menyiapkan sesuatu.
Tangan Adifa bergerak dengan lincah, ia membuat bubur nasi untuk sarapan suaminya. Gadis itu juga menyiapkan 2 bowl ukuran sedang yang digunakannya sebagai penampung air hangat.
Ia menekan tombol dispenser di bagian logo hot, dengan sabar Adifa menunggu hingga air panas itu mengisi 1/4 dari ukuran bowl yang digunakannya. Saat kedua wadah sudah terisi dengan air panas, barulah ia menuangkan 1/2 air biasa ke dalam bowl-nya.
Adifa mencari kain yang bisa digunakannya sebagai kain pengompres, tapi ia tidak menemukannya. Dari pada membuang waktu, gadis itu langsung saja membawa kedua wadah yang berisikan air ke dalam kamarnya.
Mata Adifa menangkap wajah sang suami yang berbaring dengan gelisah. Namun, begitu sadar akan kehadiran istrinya, Raja langsung berlagak seakan dirinya sehat-sehat saja.
Kaki Adifa melangkah masuk, ia meletakkan dua bowl itu ke atas nakas yang letaknya tidak jauh dari ranjang mereka. Adifa kembali meninggalkan sang suami untuk mengambil kain yang berada di lemari.
Gadis itu membuka lemari baju, ia menarik 2 helai kain yang merupakan tanktop. Begitu mendapatkan apa yang ia butuhkan, kaki Adifa segera melangkah menuju Raja. Dengan telaten Adifa mencelupkan 2 kain itu ke dua wadah yang berbeda. Satu akan ia gunakan untuk mengkompres kaki, dan satunya lagi untuk mengkompres kening suaminya.
Adifa m e m e r a s kain itu, lalu menempelkannya di atas kening Raja. Mata pria itu terbuka, mereka saling bersitatap. Tangan Raja terangkat, telapak tangan yang hangat milik pria itu menyentuh pipi Adifa.
"Terima kasih," ucap Raja.
Kepala gadis itu mengangguk, ia merasa canggung saat Raja menatapnya dengan serius. Adifa membuang muka karena tak tahan akan situasi ini. Ia beralih ke salah satu bowl, tangan Adifa m e r e m a s salah satu kain yang tersisa.
Ia mengompres kaki suaminya yang bengkak. Tiba-tiba gadis itu teringat akan bubur yang ia masak.
"Oh iya, Difa lagi masak bubur untuk Mas. Sepertinya sudah matang." Adifa berlari menuju dapur.
Adifa membuka tutup panci untuk memeriksa bubur buatannya. "Sedikit lagi matang," kata Adifa, lalu ia mulai menyiapkan mangkuk dan sendok. Tidak lupa, gadis itu juga menyiapkan air hangat untuk minum suaminya.
Saat Adifa sudah selesai menyiapkan segala perlengkapan makan, ia langsung mematikan alat bantu memasaknya dan memindahkan sebagian bubur itu ke dalam mangkuk.
Berkat bantuan nampan, gadis itu bisa membawa mangkuk yang masih panas dan juga air hangat sekaligus. Raja yang berbaring seraya memejamkan tidak menyadari kehadiran istrinya.
"Mas, makan dulu yuk." Adifa duduk di tepian ranjang, tepatnya berada di dekat sang suami.
Raja melepas kain yang berada di keningnya, melihat hal itu, Adifa peka dan mengambil tanktop yang ada di tangan Raja, lalu meletakkannya ke dalam bowl.
Gadis itu membantu Raja untuk duduk, ia merasa tak tega melihat sang suami jatuh sakit. Apa lagi saat Raja mau duduk, terlihat garis halus menghiasi keningnya, lengkap dengan wajah menahan nyeri di kepala.
Tangan Adifa mulai menyendokkan bubur yang masih panas, ia menunggu bubur itu hangat, barulah gadis itu menyulangkannya kepada sang suami.
"Aaaa ...." Adifa menggerak-gerakkan sendoknya bak pesawat terbang.
Raja tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. "Mas sudah besar, Dek," kata Raja.
"Bubur siap mendarat, hap!" Satu sendok makan bubur masuk ke dalam mulut Raja dengan sempurna.
Adifa terus mengulangi hal itu sampai suapan bubur terakhir. "Wah, Mas hebat. Buburnya sudah habis." Gadis cantik itu mengancungkan satu jempolnya.
"Sekarang minum dulu, habis itu istirahat." Adifa membantu suaminya memegangi gelas yang berisikan air putih.
Gadis itu meletakkan gelas itu kembali ke atas nakas. Adifa menggeleng-gelengkan kepala saat sudut bibir Raja terdapat sisa bubur.
Tangan Adifa terulur membersihkan sudut bibir sang suami dengan mmenggunakan ibu jarinya. Raja yang diperlakukan seperti itu, spontan memejamkan mata. Ia menikmati sapuan lembut dari tangan Adifa.
Momen seperti ini semakin membuat rasa sukanya terhadap Adifa kian bertambah. Ada rasa manis yang membalut sudut hatinya.
"E-eh, maaf." Adifa menarik tanganya untuk menjauh. Namun, Raja malah menahannya dan mengecup punggung tangan Adifa.
Deg!
Adifa jadi salah tingkah, gadis itu menarik tangannya, ia berdiri merapikan surai hitamnya dengan cara menyelipkan rambut yang panjang itu ke belakang telinga.
Raja hanya bisa tersenyum kecil, pria itu kembali membaringkan tubuhnya dengan perlahan. Adifa memasang kompres ke atas kening sang suami. Ia juga mengganti air yang ada di dalam bowl karena suhu airnya sudah berubah menjadi dingin.
Begitu perhatian Adifa dalam mengurus Raja yang tengah sakit. Ia mengompres kaki pria itu dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
Ia beralih ke kepala Raja. Punggung tangannya menyentuh kulit wajah pria itu. Masih terasa hangat.
"Sakitnya berkurang saat disentuh seperti itu, " kata Raja dengan memejamkan mata.
"Seperti ini?" Tangan Adifa mengusap kepala Raja.
Pria itu mengangguk pelan sebagai jawaban. Mata Raja terbuka dengan perlahan. Entah setan dari mana yang menghasutnya, tangan Raja meraih wajah sang istri.
Kepala Adifa mengikut pergerakan tangan suaminya yang membawanya semakin dekat dengan wajah pria itu. Bibir bertemu bibir, berawal dari saling menempel, lama kelamaan benda kenyal itu bergerak menjadi gerakan m e l u m a t.
Ritme yang pelan membuat Adifa terbawa suasana, dan secara naluri wanitanya ia membalas belitan lidah Raja.
Sepasang insan berbeda gender itu menikmati decapan demi decapan yang mereka lakukan. Kening keduanya menyatu, Adifa menindih separuh tubuh Raja.
Tangan Raja mengusap punggung istrinya yang terasa begitu lembut. Tiba-tiba rasa nyeri di kepalanya kembali hadir, dengan terpaksa dirinya menyudahi aksi membelit lidah itu, dada Adifa dan Raja naik turun. Napas mereka berdua tersenggal-senggal.
Ibu jari Raja mengusap bibir Adifa yang basah karena sisa saliva. "Terima kasih," ucap Raja dengan lembut.
Pipi gadis itu memerah seperti buah tomat. Ia menundukkan kepalanya karena tidak nyaman diperhatikan seintens itu oleh suaminya.
Di tengah ketersipuan Adifa, tiba-tiba suara bel apartemen mereka berbunyi. Membuyarkan suasana yang terlihat lucu di mata author.
`
`
`
Bersambung ....
Kira-kira siapa yang datang ya?
He Mas Raja-_- sakit ya sakit, tapi kok bisa aciciyut sama Dek Difa. Inilah yang dinamakan dengan kesempatan di dalam kelebaran.
Tenang readers, Raja belum mau meninggoy kok. kalau meninggoy judulnya bukan Terjerat Cinta Pria Nakal. Tapi ... Pesona Janda Kembang.