Berawal dari seorang penulis Novel yang bernama Emily yang mendapatkan tantangan menulis cerita horor.
Dia mendapatkan ide dari temannya Vanessa yaitu, menulis kisah seorang pengusaha muda yang mati dalam kecelakaan tragis.
Ternyata arwah pengusaha muda yang bernama Harva gentayangan, Emily bisa melihat arwah itu dan berkomunikasi.
Apakah Emily berhasil menulis cerita horor?
Bagaimana Kisah Emily? Mari kita simak ceritanya🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTCM 27
Joy langsung mengusir Marcel agar pergi dan tidak mengganggu Lily lagi. "Pergi lu, dari sini! gue panggil satpam nih," ucapnya.
"Jangan ikut campur, gue gak ada urusan ma lu! Lily pacar gue," kata Marcel.
"Ini kantor punya gue! Lily disini kerja, bukan pacaran. Pergi lu!" teriak Joy mengusir Marcel.
Marcel terus berusaha hendak masuk ke dalam kantor, tetapi Joy menghalanginya hingga keributan pun terjadi. Akhirnya Lily sendiri yang mengusir Marcel, dia juga memutuskan hubungannya dengan Marcel saat itu juga. Karena Lily sudah terlanjur sakit hati dan malu, dengan kelakuan Marcel.
"Lily, serius lu putusin dia," ucap Joy saat Marcel sudah pergi dari kantornya
"Gue capek! mending jomblo aja," kata Lily.
***
Disisi lain Marcel begitu kesal karena diputuskan oleh Lily, dia menemui Raya dan menyalahkan Raya soal kejadian ini.
"Raya, gue mau bicara sama lu," kata Marcel.
"Sayang, ada apa? kenapa datang marah-marah," ujar Raya.
"Gue diputusin sama Lily, semua ini gara-gara lu," kata Marcel.
"Bagus dong! hubungan kita jadi lancar, terus kita bisa bersama terus. Gak harus capek-capek ngumpet," kata Raya.
Marcel semakin marah mendengar ucapan Raya, baginya Lily adalah wanita terbaik yang tidak pernah menuntut apa-apa. Lily juga begitu memahami kehidupan Marcel, dan kesibukannya.
"Lu, bilang gak ngumpet? Bagas gimana," ujar Marcel.
"Iya... jangan sampai taulah! akhir bulan dia mau lamar gue, dan lu harus nerima keputusan gue," kata Raya.
"Hubungan macam apa ini! kita udahan aja, gue mau balikan sama Lily," kata Marcel.
"Cel... Jangan tinggalin gue!" teriak Raya mengejar Marcel hingga keluar kantor. Kebetulan Mobil Marcel berada di seberang jalan, jadi Raya mengikuti Marcel. Tetapi nasib sial telah menimpanya, dari arah berlawanan ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga menabrak Raya.
"Raya!" teriak Marcel.
Tubuh Raya sudah tergeletak di bawah kakinya, dengan panik Marcel langsung membawa Raya ke rumah sakit terdekat dengan dibantu oleh warga yang kebetulan tadi ada di tempat kejadian.
"Raya, lu harus bertahan buat gue," ucap Marcel memegang tangan Raya yang tidak sadarkan diri.
Marcel mendapatkan sebuah pukulan dari Bagas, ternyata tadi dia melihat kejadian itu dari lantai atas sehingga Bagas mengikuti Marcel membawa Raya ke rumah sakit.
"Aw! sakit, Gas! apa yang lu lakuin?" tanya Marcel sembari memegang pipinya yang baru saja dipukul Bagas.
"Teman macam apa, lu! nikam dari belakang," kata Bagas mengepalkan tangannya, untung saja ada suster yang melerai mereka sehingga Bagas mengurungkan niatnya untuk memukul Marcel lagi.
Marcel mengatakan kalau dia bisa menjelaskan lagi, saat ini menurutnya bukan waktu yang pas karena kondisi Raya. "Nanti kalau Raya sudah sembuh kita selesaikan masalah ini, gue yang salah," ucapnya penuh dengan penyesalan.
"Lu, sadar gak udah nyakitin hati Lily. Dia sepupu gue, saudara gue," kata Bagas.
Dokter kemudian datang untuk menyampaikan tentang keadaan Raya, sehingga mereka berdua berebut untuk mendengarkan penjelasan Dokter.
"Jangan berebut! silahkan kalian berdua masuk saja," ujar Dokter menatap Bagas dan Marcel secara bergantian.
Setelah mereka berdua berada di dalam ruangan, Dokter baru menjelaskan soal keadaan Raya. Saat ini Raya tidak sadarkan diri karena kebanyakan keluar darah, tetapi tidak berbahaya. Kemungkinan Raya hanya kaget saja, nanti juga akan sadar. Dokter meminta mereka untuk menebus obat dan menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.
"Biar gue aja," sahut Bagas.
"Gue aja! kan gue yang udah bikin Raya sakit," kata Marcel.
Dokter heran dengan kelakuan mereka berdua, beliau lalu menyuruh mereka keluar dari ruangannya.
Bagas dan Marcel pergi bersama untuk menyelesaikan administrasi, mereka berebut lagi. Akhirnya ada seseorang suster meminta mereka membayar separuh-separuh biar adil.
Bagas memberitahukan pada Lily soal kecelakaan yang sudah menimpa Raya, Marcel tidak sengaja mendengar semuanya dan melarang Bagas mengatakan pada Lily namun semua sudah terlanjur karena Lily sedang berada di perjalanan hendak ke rumah sakit.
Lima menit berlalu, Lily dan Harva sudah berada di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang dimana Raya dirawat.
"Bagaimana keadaan Raya, Gas?" tanya Lily.
"Belum sadar! lihat aja tuh," ucap Bagas menunjukkan dimana Raya dirawat.
Lily kemudian melihat lebih dekat keadaan Raya, Raya mengigau mencari Marcel.
"Jangan tinggalkan gue, Cel! gue cinta sama lu," ujar Raya.
Lily memundurkan dirinya ke arah pintu keluar, lalu ia pergi meninggalkan Raya dengan menarik tangan Bagas. "Kita pergi dari sini! lu, gak pantas sama Raya," ucapnya.
"Apaan lu! pacar gue lagi sakit, main tarik aja," protes Bagas.
Lily mengatakan semua yang dilihat dari pagi soal Marcel dan Raya, tetapi Bagas tidak perduli dan tidak percaya. Dia masih nekad untuk menjaga Raya, sehingga membuat Lily marah.
"Mau sampai kapan lu kaya gini? sadar, Gas!" bentak Lily.
Bagas memang berpura-pura tidak tau soal hubungan Raya dan Marcel, semua itu dia lakukan karena saking cintanya dengan Raya.
"Lu, pulang aja duluan! gue mau tunggu sampai Raya sadar," kata Bagas.
"Harusnya lu, yang sadar bukan Raya," ucap Lily
Ust
"Lily, ini di rumah sakit! kita saja yang pulang, masalah seperti ini jangan dibuat keributan," ucap Harva.
Tak cukup disitu saja, Harva juga menasehati Lily agar tidak memaksa Bagas terlebih dahulu karena percuma. Orang yang mencintai seseorang akan sulit diingatkan dan tidak akan pernah percaya kalau belum menyaksikan sendiri. Dengan terpaksa Harva menarik Lily keluar dari rumah sakit, dia tidak peduli dengan orang-orang yang ada di rumah sakit itu.
"Bagas itu saudara gue! kenapa lu main tarik aja," kata Lily.
"Percuma lu ingetin dia, mending kita pulang dulu," ucap Harva.
"Lily!" teriak Marcel.
Lily dan Harva menghentikan langkahnya, ia berhenti karena Marcel memanggilnya. "Apa lagi? kita udah selesai," ucap Lily.
"Gue mau jelasin semuanya," kata Marcel.
"Simpan saja penjelasan lu! gue gak butuh itu semua," ucap Lily.
Marcel berusaha memegang tangan Lily, dia mengatakan kalau masih mencintainya. Raya kecelakaan karena dia memutuskan hubungannya, itulah penjelasan Marcel untuk Lily.
Harva sangat kesal dengan tingkah Marcel, apalagi pakai pegang tangan Lily. Rasanya ingin ia pukul mantan kekasih Lily yang baru diputuskan beberapa jam yang lalu.
"Harva, hentikan!" teriak Lily saat melihat Harva berusaha memukul Marcel.
"Siapa Harva? kekasih baru," ucap Marcel.
"Lu gak perlu tau, siapa dia," ujar Lily.
"Oh... jadi selama ini lu juga punya kekasih yang lain? munafik lu, Ly!" ketus Marcel.
"Jangan sembarangan kalau bicara! entar lu juga tau siapa Harva," kata Lily.
Marcel justru menuduh Lily yang tidak-tidak, bahkan dia juga marah dengan Lily. Karena tidak mau dianggap seperti yang dikatakan Marcel, ia lalu memberikan penjelasan.
lanjutin donk ..,....
kangen Ama karya author yang 1 ini