NovelToon NovelToon
Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Gundik Bercadar Dinikahi Pria Sholeh

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:451.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: kisss

"Menikahlah dengan ku selama 99 hari! Setelah itu aku akan menjadikanmu janda dan semua harta ku akan menjadi hak mu!"

Teuku Muhammad Al-Ghazali melamar Laras si wanita malam yang nakal dan genit. Kata orang Laras adalah wanita yang jelas neraka nya, sebab secara terang-terangan dia menjajakan dirinya.

Namun, percayalah, kalau Laras tidak pernah jatuh cinta seumur hidupnya, banyak sekali luka yang di torehkan oleh orang yang ia sayangi, tak terhitung pengkhianatan yang ia dapatkan. Oleh karena itu, dia tidak percaya lagi pada agama.

"Bila Allah itu nyata, mengapa dia tidak pernah mendengar doaku? Kenapa dia membiarkan ku di sakiti oleh hamba-Nya? Siang malam aku menangis, tetapi, tak ada satupun pertolongan yang ku dapat dari Allah!"

Lantas, mengapa pria sholeh seperti Teuku Muhammad Al-Ghazali, pria berdarah Arab-Aceh itu melamar wanita yang berbeda jauh dengannya? Padahal begitu banyak Cut (sebutan untuk wanita di Aceh, biasanya pasangan Teuku) dan Syarifah yang mengejarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanikan Laras

Laras bersiap-siap untuk jalan-jalan bersama sang suami. Mereka berniat untuk mencari takjil untuk bukaan mereka. Laras memandangi dirinya di depan cermin, sungguh penampilannya sekarang sangat adem dilihat. Dulu Laras mengira memakai pakaian syar'i akan terasa panas. Nyatanya tidak, malah kulitnya semakin glowing, karena tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

Dia memakai gamis berwarna mocca dengan jilbab panjang menutupi dada senada dengan warna gamisnya.

Al-Ghazali memeluk sang gadis dari belakang. Dia mengecup pipi Laras dengan lembut membuat hati Laras lagi dan lagi bergetar seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta. Dia mengelus lengan sang suami yang berada di perutnya.

"Kamu cantik sekali, Ras. Beruntungnya aku memiliki kamu," bisik sang suami pelan.

Laras mengelus puncak kepala suaminya. Al-Ghazali mengecup pundak sang istri yang berlapiskan kain.

"Aku yang lebih beruntung, karena dapat suami sebaik kamu, Mas. Kecantikan ku ini kelak akan memudar, kulit mulus ku ini kelak akan keriput, wajah glowing ku akan menghilang, digantikan dengan wajah tuaku. Tapi, kebaikan mu? Tidak akan mudah seperti kecantikan ku. Itulah sebabnya aku cinta sama kamu."

Laras berkata bijak layaknya seorang penyair yang sedang menenangkan hati sang pujangga.

Al-Ghazali tersenyum tipis. Dia merasa senang punya istri yang memiliki pikiran luas seperti Laras. Tak sadar dirinya lah yang membuat pikiran istrinya semakin luas.

"Ayo, kita cari takjil. Ngomong-ngomong takjil kesukaan kamu apa, Ras?" tanya sang suami seraya berjalan berdampingan dengan Laras.

"Aku pengikat kue basah dan manis-manis, Mas. Tidak terlalu suka gorengan, palingan cuma risol dan tempe goreng, itupun tidak banyak ku makan," balas Laras membuat Al-Ghazali manggut-manggut.

"Kalau kamu, Mas?" tanya Laras balik.

"Aku malah lebih suka gorengan daripada kue yang manis-manis. Rasanya nggak pas kalau buka puasa tanpa ada gorengan di piring ku," jawab Al-Ghazali membuat Laras terkekeh geli.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Al-Ghazali memasangkan istrinya sabuk pengaman. Setelahnya dia menancapkan gas, sekuriti segera membuka gerbang.

Al-Ghazali membunyikan klaksonnya untuk menyapa penjaga rumahnya itu.

"Pergi dulu, Pak."

"Enggeh, Bang. Hati-hati."

Al-Ghazali tersenyum tipis, dia menutup jendela mobilnya kembali. Lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Waw … indahnya," gumam Laras terpana melihat banyak sekali penjual takjil. Lama sekali dirinya berdiam diri di penjara dosa milik keluarga angkatnya, sampai-sampai dirinya tidak punya waktu untuk melihat indahnya suasana bulan puasa.

"Kita cari penjual takjil yang sepi dulu," ujar Al-Ghazali pelan membuat sang istri langsung menoleh ke arahnya.

"Kenapa harus di tempat sepi, Mas?" tanya Laras polos.

"Boleh jadi mereka berdagang untuk menyambung hidup, ada anak yang susunya habis dan harus di beli, ada juga keluarga yang tidak tahu apakah bisa makan saat sahur dan makan bila berbuka. Jadi, alangkah baiknya kita membeli di tempat mereka, Ras."

Sang suami menasehari istrinya dengan lembut. Hati Laras tersentuh mendengarnya, tidak menyangka kalau sang suami punya pemikiran luas seperti itu.

"Ya Allah … entah bagaimana proses penciptaan suamiku ini, bagaimana bisa harinya begitu mulia," batin Laras takjub dengan kebaikan sang suami.

Matanya berkaca-kaca menatap Al-Ghazali. Dia teringat tentang suatu hal yang terus menghantui pikirannya.

Tadi selepas makan sahur, Al-Ghazali keluar dari kamar. Laras mengikutinya dari belakr, dia melihat Al-Ghazali meneguk beberapa butir obat.

Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa suaminya minum obat. Tanda tanya.besar dalam benak Laras, apakah Al-Ghazali sakit? Teringat rambut pria itu rontok. Pikiran buruk segera menghantui pikirannya.

"Apa jangan-jangan, Mas Al. Punya penyakit mematikan." Laras berusaha menerka dalam hatinya.

Mobil berhenti di pinggir membuat Laras tersadar dari lamunannya. Segera sang gadis menoleh ke kanan, ternyata terdapat ibu-ibu sedang berjualan, namun, dagangannya sepi.

"Ayo turun," ajak sang suami disetujui oleh Laras. Segera sang istri turun dari mobil mengikuti jejak suaminya.

"Selamat datang, Mas, Mbak. Mau beli apa?" tanya sang ibu ramah dengan wajah cerah, sepertinya dia telah lama menunggu pelanggan datang. Tersenyum manis Laras melihatnya.

Terdapat banyak kue manis dan gorengan di atas meja Dagang ibunya. Mata Laras berbinar terang saat melihat onde-onde, klepon, nagasari dan kue manis lainnya.

"Kamu mau yang mana, Ras. Pilih aja sesuka mu, tapi harus habis," titah sang suami membuat wajah Laras berbinar terang. Sang gadis menganggukkan kepalanya semangat, dia dengan senang hati memilih kue yang ia suka.

"Ini kantong plastik dan jepitannya," ujar sang ibu seraya menyerahkan dua benda itu pada Laras.

"Terima kasih, Bu."

Laras menerima nya, dia segera memilih kue manis yang dia sukai, masing-masing di antaranya dua.

"Boleh minta kantong satu lagi, Bu," pinta Laras.

"Boleh, Mbak." Segera sang ibu menyerahkan kantong satu lagi untuk Laras. Hatinya teramat senang dagangannya laku.

"Mas, mau yang mana? Risol semua atau gorengannya di campur dengan risol, bakwan dan tempe?" tanya sang istri pada suami tercintanya.

"Campur saja, Sayang. Tapi, banyakin risol nya."

Laras segera memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik. Setelah membayar, mereka berdua berjalan kaki menuju pria tua yang menjual es kelapa.

"Es kelapanya berapa sebungkus, Pak?" tanya Al-Ghazali sopan.

"Tujuh ribu, Mas," jawab sang bapak tak kalah ramah.

"Gimana, Ras? Kamu mau es kelapa atau es tebu?" tanya Al-Ghazali pada istri tercintanya.

"Aku es kelapa aja, Mas."

"Berarti es kelapanya dua, Pak."

Segera pria tua itu menyiapkan pesanan Al-Ghazali. Wajahnya sumringah, memang benar apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali. Sangat banyak pedagang kaki lima yang berdagang demi menyambung hidup mereka, bukan untuk kaya.

"Ini, Pak. Kembaliannya ambil buat bapak aja," ujar Al-Ghazali sopan membuat pria tua itu terharu.

"Terima kasih banyak, Mas. Semoga Allah membalas kebaikan, Mas dan Mbak." Pedangan kaki lima itu berdoa dengan ikhlas membuat hati Laras dan Al-Ghazali hangat mendengarnya.

Jangan pernah remehkan kekuatan doa yang ikhlas. Efeknya benar-benar hebat, seperti anak panah yang melesat tepat sasaran.

"Aamiin Allahumma aamin, doa yang baik akan balik lagi pada orang yang mendoakan," balas Al-Ghazali ramah.

Setelah itu keduanya beranjak pergi dari sana. Mereka kembali masuk ke dalam mobil.

"Kamu mau makan rendang daging sapi di rumah atau mau beli lauk lagi, Ras?" tanya sang suami pada istri tersayang nya.

"Nggak usah, Mas. Kita makan rendang saja, biar nggak mubazir, lain kali kita beli ayam geprek buat bukaan," balas Laras santai diangguki oleh Al-Ghazali.

Mereka berdua segera pulang ke rumah. Tiba-tiba kepala Al-Ghazali terasa sangat sakit, pria itu meringis kesakitan.

"Akkk …" Al-Ghazali segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Laras gemetar mengkhawatirkan suaminya yang tiba-tiba meringis kesakitan.

"Mas, kamu kenapa?" tanya Laras panik saat melihat wajah Al-Ghazali pucat pasi.

*

*

Yuk komentar yang banyak, biar author semangat crazy up hari ini 🥰💪💪

Bersambung.

Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️

1
komalia komalia
😭😭😭😭😭
komalia komalia
😭😭😭😭😭😭
komalia komalia
ko menikah berkali kali apa menolak berklai kali
komalia komalia
kerja nya apa si al ya
komalia komalia
engga makan pun kuat aah,saya mah puasa sunat mana pernah saur kalau udah biasa mah engga ada nama.nya lapar atau haus
komalia komalia
jadi baca novel sama dapat ilmu juga
komalia komalia
kasihan kamu al si laras udah banyak pengalaman bahkan deoan belakang udah engga ori lagi
komalia komalia
wanita malam berjodoh sama laki laki alim
Wahyu Kasep
rukun Islam ada enam
syahadat
sholat
zakat
puasa
naik haji Mun kawasa di jalana
terakhir yang ke enam ( pulang lagi
☠️⃝🖌️M⃤ Muppin🍓: Halo sahabat pembaca ✨
Aku baru merilis cerita terbaru berjudul RUSH WEDDING 💍
Sebuah kisah tentang pernikahan yang datang tiba-tiba, rasa yang tumbuh perlahan, serta luka dan rahasia yang pelan-pelan terbuka.
Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
Dukung dengan like ❤️ & komentar 🤗, karena setiap dukunganmu berarti sekali buatku.
total 3 replies
Catur Rini
maaf sebelum,kalau dlm dunia nyata,orang yg bener2 sdh paham dan tau ilmu agama, walaupun gak suka sama istri saudaranya gak akan ngomong cerai semudah itu....ini tadi kan ceritanya keluarga Al kan pada paham agama ya....
Bahari Sandra Puspita
Luar biasa!!!!!
keren banget ceritanya kak, tapi mengandung banyak bawang terutama di akhir2 cerita..
apakah idenya dari kisah nyata jg kak?
semoga masih ada manusia2 seperti Al-Ghazali ya kak, baik laki2 maupun perempuan..
yg masih mau peduli pada orang2 yg butuh pertolongan untuk hijrah..
terkadang para pendosa bukan tidak mau taubat, namun tidak mendapat uluran tangan untuk membantu mereka keluar dari kubangan dosa..
tidak ada manusia yg sempurna kecuali Rasulullah, maka dari itu jgn merasa bersih dari dosa setinggi apapun ilmu agama yg dimiliki..
justru biasanya orang2 yg paham akan ilmu agama, semakin banyak ilmunya maka akan semakin merasa banyak dosa dan tidak gampang menghakimi orang lain..

udah ketar ketir takutnya sad ending..
tapi finally happy ending, jadinya lega banget..
makasih banyak kakak sudah menghadirkan kisah singkat namun sangat inspiratif..
semoga sehat selalu dan tetap semangat untuk berkarya..
semoga sukses selalu dimanapun kakak berada.. 🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕
Savitri Eka Qodri
Luar biasa
Fitra Briana
ahhkan,, tambah mewek nih/Sob//Sob//Sob/
Fitra Briana
ahh,, thor
ni part banyak banget bawangnya/Sob//Sob//Sob/
Mu Fidah
😭😭q merasakan seperti ini di titik terendah rasanya nano nano
bundha novita
Luar biasa
Sri Puryani
/Cry//Cry/
Gadis Puspa Kartika
perjuangan dan ketegaran seorang wanita dalam menjalani kehidupan
Budi Hari Molyono
Luar biasa
Budi Hari Molyono
laras mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!