Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembuhkan Seorang Anak
Melihat kepergian para eksekutor, bu Lasmi dan semua warga merasa lega. Namun kejadian kendaraan terbenam ke dalam tanah, akan selalu membekas di hati mereka. Karena mereka berfikir zaman sudah modern, tapi masih ada orang memiliki kekuatan super.
"Wow, sungguh luar bisa, hanya sekali gerak bisa menghancurkan traktor sedemikian rupa".
"Benar apa yang kamu katakan, orang itu hebat"
"Iya, bahkan mereka ketakutan".
"Bukan hanya hebat, tapi tampan, seandainya aku perempuan, aku siap jadi istrinya walaupun yang ke sepuluh".
"Cih.. Meskipun kamu jadi perempuan, mana mungkin dia mau, lihat saja wajahmu itu hitam legam".
"Benar sekali, kalau mau ngomong tuh ngaca dulu..Ha..ha..ha.."
Warga saling menimpali satu sama lain, gelak tawapun terjadi.
Mang Diman berjalan, ke arah Bima dan rombongan. "Terima kasih den telah menolong kami." Mang Diman membungkukan badan.
"Tidak perlu membungkuk seperti itu, aku bukan menolong tapi membantu. karena bu Lasmi telah menceritakan kronologinya". Bima tetersenyum. Lalu melanjutkan pertkataannya; "Kemungkinan ini hanya sementara, tapi tidak perlu khawatir, aku janji akan membantu semampuku. lebih baik untuk saat ini kembali kerumah masing-masing, namun sebelumnya bantu anak-anak, kembali masuk ke rumah bu lasmi."
"Baik den." mang Diman mengangguk. Lalu segera memerintahkannya; "Ayo bawa anak-anak kembali masuk, untuk yang sakit tolong di bopong."
Bima juga melihat anak yang sakit sedang di gotong, dengan menggunakan mata malaikatnya dia sudah mengetahui jenis penyakitnya.
Anak-anak sekitar dua puluhan, akhirnya di masuk kembali. Setelah beberapa waktu lalu terpaksa keluar, karena atas persetujuan dari syarat perjanjian. Antara warga dengan eksekutor.
Bu Lasmi melihat anak-anak asuh, telah masuk bernapas lega. Lalu berkata; " mari masuk den, maaf telah membuat aden di buat repot".
"Tidak ada yang di repotkan", ucap Bima.
Bima, Wira serta sopir utusan dari Jatmiko, ikut masuk ke rumah bu Lasmi.
"Kalian silakan masuk duluan" aku mengangkat telefon dulu. Sopir itu mendadak berhenti, Bima dan yang lain mengangguk, lalu masuk kerumah bu Lasmi. Setelah melihatnya masuk, sopir itu memasukan tangannya ke saku celana, mengambil ponsel; ingin lihat siapa yang menelfon, ternyata yang menelfon adalah, pengawal pribadi Jatmiko, Darma. Lalu hpnya ditempelkannya"
"Kemana saja kamu..!! kenapa belum kembali juga. padahal tugasmu sangat sederhana!!" Darma memarahi sopir.
"Maaf Pak Darma, bukan karena melalaikan tugasku, akan tetapi dia memintaku untuk mengantarkan ibu Lasmi; yang dia tolong. Jadi aku tidak bisa membantahnya, meskipun aku telah memberi alasan". Ucap sopir.
"Sekarang ada di mana, sebaiknya secepatnya kembali" bentak Darma di ujung telfon
"Maaf pak Darma, sepertinya akan sedikit terlambat. karena rumah bu Lasmi sedang ada masalah, jadi dia sedang membantunya". balas sopir
Terdengar suara helaan napas di sebrang ponsel.
"Memangnya ada masalah apalagi..!! usahakan secepatnya antara mereka bedua, karena Tuan telah menerima telfon dari Tuan Jaya, menanyakan mereka" Darma sedikit melunak.
"Ini sedikit rumit, masalahnya panjang. aku ceritakan ketika aku kembali, akan aku usahakan secepatnya kembali" Balas Sopir.
"Ya sudah kabari aku, kalau terjadi sesuatu" Darma menutup terlfonnya.
Sopir menghela napas, lalu berjalan masuk ke rumah bu Lisma.
Bima dan yang lainnya masuk, namun bisa tidak langsung duduk, malah terus melangkah ke arah anak perempuan yang sakit. Tujuannya sudah pasti berniat ingin menyembuhkannya, bu Lasmi juga mengikuti dari belakang di papah oleh Wira.
Wira menengok ke belakang, lalu berkata; "untuk yang lainnya jangan mengikuti kami bertiga, kalian duduk dan tunggu."
Mang Diman dan lainnya menggangguk, lalu duduk.
"Tinggalkan anak itu di situ dan kalian boleh pergi". Bima tersenyum ke dua orang yang telah membantu anak perempuan yang sakit di tidurkan.
Ke dua orang mengangguk, lalu pergi.
"Inilah kondisi anak asuhku!! kata dokter. Kalau tidak segera di obati dengan resep darinya, anak asuhku tidak akan bertahan lama". Bu Lasmi sudah sedih, matanya membengkak merah. karena tidak tahan melihat anak asuhnya sedang sakit keras."
"Aku yakin adikku bisa menyembuhkannya" Wira menghiburnya.
Bima memegang tangan yang kurus, wajah sudah pucat, akibat dari penyakit yang di deritanya. Kemudian Bima menyalurkan energi penyembuhan, dari elemen kayu. Dari tangannya keluar cahaya hijau dan menjalar masuk, mulai dari tangan yang di pegang oleh Bima dan terus masuk ke seluruh tubuh, tiba-tiba anak itu mulai mengejang dan ada teriakan kecil.
"Sakit...sakit...sakit"
Bu Lasmi ketika melihat anak asuhnya mengejang kesakitan, membuat hatinya cemas, Wira berada di sampingnya tahu, bu Lasmi sangat cemas.
"Ibu tidak perlu cemas, apa lagi takut. Tunggu sebentar dan lihat apa yang akan terjadi selanjutny." Wira menghiburnya.
"Tahan rasa sakit itu sebentar nak, maka kamu akan sembuh dengan segera." Bima memberi dorongan penyemangat.
Beberapa saat kemudian yang tadinya kejang-kejang kesakitan, mulai mereda dan akhirnya berhenti. Si anak sakit langsung tertidur, namun telihat jelas wajah kecil yang awalnya pucat sudah kembali normal, menandakan anak itu sudah sembuh.
"Bagaimana ke adaan anak asuh ibu. Nak Bima" bu Lasmi segera bertanya.
"Ibu tenang aja, anak asuh ibu sudah sehat kembali, dia hanya tidur kecapean karena tadi menahan rasa sakit saat aku menyembuhkannya." ucap Bima.
"Terimakasih nak, Ibu selalu merepotkanmu." Bu Lasmi sangat gembira.
"Tidak perlu berterimakasih, dari awal aku berniat membantu menyembuhkannya." Bia menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita kembali ke ruangan, biarkan dia beristirahat." ucap Bima lalu berdiri. Akhirnya mereka bertiga berjalan keluar.
Ketika sopir utusan dari Jatmiko masuk.
Dia tidak melihat Bima dan Wira, "Apa dari kalian tahu kemana dua pemuda itu.??" Sopir bertanya ke Mang Diman dan lainnya.
"Lagi mengobati anak asuh bu Lasmi, mungkin sebentar lagi kemari." Jawab mang Diman.
Sopir mengangguk lalu duduk.
"Tuh dia sudah keluar dar kamar" Sabri menunjukya.
"Bagaimana den, keadaanya anak itu" Mang Diman buru-buru bertanya, ketika Bima sudah duduk.
Akan tetapi sebelum Bima menjawabnya, terdengar suara teriakan dari luar.