NovelToon NovelToon
Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.7
Nama Author: Dewi rani

Alana seorang gadis cantik penderita Tryphanophobia atau takut akan jarum suntik.

Menikah dikarenakan perjodohan

Dengan dokter muda yang bernama Dava Agatha mahesa
Dava tidak mungkin menolak keinginan ibu tersayang nya sehingga dia menerima perjodohan ini

Dia si gadis polos pecinta coklat dan warna pink.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Rintik hujan mengguyur membasahi bumi dengan tetesan-tetesan airnya. 

Alana berjalan bolak balik dari depan pintu ke ruang tamu, jam menunjukkan pukul 9 malam tapi belum ada tanda-tanda Dava akan menjemput nya. 

Susah payah Alana menahan kantuknya, ia sangat khawatir. Handphone Dava tidak aktif dari tadi sore. 

"Alana kamu tidur aja, nanti Dava pasti jemput kok."

Dari tadi Sari melihat Alana yang sedang gelisah terlihat dari pancaran matanya bahwa ia begitu khawatir dengan Dava. 

"Iya bun, nanti aku tidur. Aku mau nunggu mas Dava dulu sebentar lagi."

Alana duduk di kursi ruang keluarga, matanya tak kuat menahan kantuk. Tifak sepertu biasanya Dava tak mengabari Alana.

Alana sudah terlelap, jam menunjukkan pukul 12 malam Malvin terbangun karena haus. Matanya yang masih sayu menatap Alana dengan buram. 

"ni bocah kenapa tidur di sini kek anak tiri." gumam Malvin menatap Alana yang tertidur.

Malvin mengangkat tubuh mungil Alana. Berjalan menaiki tangga satu persatu, Malvin sedikit heran kenapa Dava belum menjemput Alana. 

Malvin meletakkan Alana dikamarnya. Malvin menatap Alana lama, lumayan lama ia tak bisa meluangkan waktu berdua. 

Malvin menyadari bahwa Alana kini sudah bukan tanggung jawabnya lagi. Cukup berat bagi Malvin untuk menyerahkan adik satu-satunya itu kepada orang lain. 

Malvin menutup pintu kamarnya oerlahan agar Alana tak terusik. Malvin kembali ke kamarnya. 

Saat Malvin hendak menutup pintu kamarnya ia mendengar ketukan pintu di depan. Dengan segera Malvin langsung turun ke bawah dan berjalan membuka pintu. 

"Assalamuallaikum."

"Waalaikumsalam, tumben Dav pulangnya malem banget." tanya Malvin sambil memberikan jalan untuk Dava masuk.

"Tadi ada korban mutilasi, karena yang tadi tugas cuma saya sama perawat terpaksa harus mengurus jenazah."

Ucapan Dava membuat Malvin bergidik ngeri membayangkan tubuh yang terpotong-potong.

"Lu ngga ngeri?"

"ngeri juga, tapi ya gimana sudah jadi tugas para dokter." ucap Dava sambil duduk dikursi tamu.

"udah berapa kasus yang kayak gini?"

"Setahu saya baru dua."

"Pembunuhan?"

"para polisi sedang mencari dalang dari kasus ini yang sepertinya seorang psikopat."

Malvin jadi ngeri, menurutnya lebih serem seorang psikopat dari oada hantu. Mengapa ada orang yang senang ketika melihat daging manusia di cincang-cincang. 

"Oh iya Alana mana?" tanya Dava.

"Tadi dia ketiduran di sini nunggu lo, baru aja gue pindahin ke kamar." jawab Malvin.

"yaudah saya ke atas dulu selamat malam." ucap Dava sambil meningggalkan Malvin.

Dava berjalan ke kamar Alana, membuka pintunya perlahan supaya Alana tak terbangun. 

Dava tersenyum melihat Alana yang tidur dengan kaki yang menjuntai kebawah. Dava membenarkan posisi tidur istrinya agar saat bangun badannya tak sakit. 

Dava membuka jas dokternya, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini ia sangat lelah, berangkat pukul 7 pagi pulang jam 12 malam. 

Dava membuka tas kerjanya, menatap dua lembar tiket miliknya. Dava tersenyum, esok ia akan menunjukkan tiket itu pada istrinya. 

Dava ikut merebahkan dirinya bersama Alana, menatap lekat wajah cantik Alana. 

Cup

"Selamat malam." ucap Dava mengecup pipi kiri Alana dan ikut menyusul Alana ke alam mimpi. 

®®®®

"Eunghh." Alana mengusap matanya pelan, mencoba menerima cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamarnya 

Alana heran, Dava pulang jam berapa? Apa Dava yang membawanya kemari?.  Alaba melihat jam disamping kasurnya, ia terkejut saat melihat jam. 

Bukannya bangun Dava malah semakin menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Alana dengan manja. 

"udah tidur aja." ucap Dava serak khas orang bangun tidur.

"ini udah jam delapan."

"Hari ini aku bebas dan libur selama lima hari kedepan."

"Tap-" belum sempat Alana menolah Dava sudah memeluk Alana dengan erat.

"jangan bawel, biarin aku kayak gini dulu oke."

Alana tak bisa menolak permintaan suaminya yang super manja ini. Sekarang Dava sudah menunjukkan sifat manjanya yang selama ini hanya ia tunjukan kepada ibunya saja. 

"Semalem pulang jam berapa?" tanya Alana masih memeluk Dava.

"Jam dua belas."

"Kok lama banget?"

"Semalem pas aku mau pulang ada korban mutilasi." ucap Dava membuat Alana langsung bangkit dari tidurnya.

"Apa? Berarti badannya dipotong-potong dong?"

Dava ikut bangkit dari tidurnya, muka kaget Alana sungguh sangat  menggemaskan dimatanya. 

"ya namanya mutilasi ya dipotong, masa di panggang." Canda Dava.

"Jangan bercanda!" Ucap Alana ganas.

"Ya maaf. Kamu mau lihat fotoya gak? Semalem ada perawat yang foto dan aku dikirimin." Tanya Dava sambil menggoda Alana.

"NO!" Ucap Alana cepat.

"jangan berani kirim foto berdarah itu ke aku." Ancamnya membuat Dava mengangguk pasrah.

"Aku punya hadiah buat kamu. Ayo tebak."

"Coklat?" Tebak Alana.

"Bukan."

"Boneka?"

"Bukan."

"Hmm mobil?"

"kamu pendek gitu mana sampe naik mobil." Ucap Dava bergurau, membuat Alana cemberut.

"jangan bawa-bawa tinggi badan!" Ucap Alana kesal.

"iya maaf, mau tau gak?"ucap Dava membuat Alana mengangguk antusias.

"Tara!" Dava menunjukkan dua buah tiket liburan kepada Alana membuat Alana berbinar.

"Itu buat aku mas?" tanya Alana.

"Bukan ini tiket liburan aku sama Derry."

"Oh." jawab Alana singkat lalu berjalan menuruni kasur.

"pake nanya lagi. Yha, ini buat kita dong." ucap Dava saat Alana hendak keluar kamar.

Mendengar itu Alana langsung berlari memeluk Dava erat membuat Dava hampir saja kehabisan nafas.

"Kita liburan kemana mas?" tanya Alana duduk besila di atas kasur.

"ke lombok." ucap Dava.

Mata Alana semakin berbinar mendengar hal itu, sudah lama ia menantikan jalan-jalan ke lombok. 

"Akhirnya Alana bisa kesana, apalagi bareng sama orang istimewah." ucap Alana sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Jadi aku istimewah?" tanya Aldi sambil menaik turunkan alisnya.

"iya kamu istimewah banget!" ucap Alana dengan Senyuman yang dibuat semanis mungkin.

"Giliran ada hadiah aja manis banget senyumannya." gumam Dava pelan namun Alana maish bisa mendengarnya walaupun samar.

"Ngomong apa kamu?" tanya Alana menatap Dava lekat.

"kamu cantik. Makin cantik lagi kalo kamu mandi sekarang." Dava mencolek pipi Alana.

"Aku mandi dulu yah."

Alana berjalan ke kamar mandi,  sedangkan Dava berjalan keluar kamar setelah mencuci wajahnya. 

Dava melihat Malvin yang sedang mencuci vespa miliknya. Tak lupa ditemani dengan lagu aku rapopo yang mengalun kencang. 

"Aku rapopo, aku rapopo." Ucap Malvin sambil bergoyang mengikuti irama lagunya.

Dava terkekeh melihat Malvin yang semangat, saking semangatnya ia tak melihat bahwa Dava dari tadi berdiri sambil tersenyum menatapnya. 

"Malvin! Beli sayur sana. Jangan aku rapopo mulu!" Teriak Sari berjalan keluar untuk menyuruh Malvin.

"Eh Dava tumben disini." Tanya Sari menatap Dava yang dari tadi berdiri saja.

"Iya bun, iseng aja keluar. Eh liat Malvin lagi asik nyanyi." Kekeh Dava melihat Malvin yang masih asik dengan vespanya.

Sari mengangguk lalu berjalan ke arah keran, dan ia langsung mematikan airnya. 

"lah kok mati? Bunda belum bayar listrik?" Gumam Malvin menatap selang yang tak mengeluarkan air.

Saking tak percaya nya Malvin mendekatkan selang ke wajahnya. Sari yang melihat itu pun Langsung mendapat ide jahil. Sari membuka kerannya dan.. 

Byur.

"Allah huakbar! Kenapa airnya tiba-tiba keluar." Muka dan rambut Malvin basah semuanya, ia langsung berlari ke arah keran. Ia tersenyum tak jelas melihat Sari. 

"Eh bunda."

"Kenapa kamu belum beli sayur?" Tanya Sari sambil melotot.

"Astaga Malvin lupa bun." Ucap Malvin menggaruk tengkuknya.

"udah jomblo pelupa lagi!" Ucap Sari membuat Malvin cemberut.

"Ya ampun bun, gitu Amat sama anaknya yang paling ganteng sekomplek ini." Ucap Malvin dengan muka Sok imutnya.

"Sekarang kamu orang paling jelek, karena udah ada Dava disini." Ucap Sari membuat Malvin menatap Dava garang.

Malvin merasa kedudukannya sebagai 'orang ganteng sekomplek' di renggut begitu saja oleh Dava. 

"ngapain mata kamu melotot gitu? Minta bunda colok?" Ucap Sari mengangkat jari telunjuknya ke depan wajah Malvin.

"Enggak bun. Baperan amat." Ucap Malvin sinis.

"Cepat beli sayur sana!"

"iya bun iya," ucap Malvin pasrah lalu pergi.

"bang mau kemana?" Teriak Alana memanggil Malvin yang sudah keluar gerbang.

"Mau kepasar. Apa? Mau ikut?" Tanya Malvin.

"Akhirnya Sukirman pergi ke pasar." Ucap Alana sedikit berteriak.

"Hahaha," semuanya tertawa mendengar Jones Alana.

"Dasar adik durhaka! Bully aja terus bully. Untung gue ganteng."

1
Manga2dew
nyimakkk....
yingbidew
BAGUS
yingbidew
good
yingbidew
bagus
rill store
KEREN BANGET
rill store
keren banget
Manga1
seru
Manga1
waw
Manga1
seru
Manga1
bagus
Manga1
keren
romi franisko
bagus sekali
Dewi Maharani
penuh dengan romansa dan pengetahuan
Dewi Maharani
alana trlalu polos
Lia Shechibie'slove
yaAllah enak banget punya rumah sakit sendiri
Lia Shechibie'slove
dokter kerokan jugak ya😂😂😂
Lia Shechibie'slove
hehehe pahlawan jemuran, tapi memang gitu Alana klw ninggalkn jemuran gitu jadi fikiran takut hujan, Mala nyucinya ngebrusss 😂😂😂😂
Lia Shechibie'slove
Rakha, Aldi,& Alvano, mereka cinta sama Alana tulussss,
Lia Shechibie'slove
bayangin z klw dokternya bengkak gtu, org masuk rumah sakit betah kaleeeee,,,,,
Lia Shechibie'slove
tak elahhhh polosnya kebangetan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!