NovelToon NovelToon
WARIS [ END ]

WARIS [ END ]

Status: tamat
Genre:Roh Supernatural / Horor / Tamat
Popularitas:36.9k
Nilai: 5
Nama Author: siyuk sie

Novel ke.12 Judulnya = TERROR.

Kematian Eyang yang kuanggap wajar, ternyata menyimpan rahasia nan kelam.
Turut membawaku ke dalam ambang kematian. Menarikku semakin dalam, seolah cahaya tak dapat lagi terlihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN

Telah berulang kali Mayang pikirkan. Bahkan, telah berdiskusi dengan mbak Yanti dan juga Bayu juga. Mayang merasa segan jika terus menumpang. Sementara ekonominya, termasuk berkecukupan. Alhasil, Mayang putuskan untuk mencari kontrakan. Ketiganya berpencar dan didapatlah beberapa kontrakan sesuai kriteria yang diinginkan. Ketiganya kembali berdiskusi hingga diputuskanlah salah satu rumah untuk disewa. Setelah itu, barulah Mayang mengatakannya kepada budhenya.

"Kalau memang hendak tinggal sendiri lagi tapi tidak mau balik ke rumah orang tuamu, kenapa tidak langsung beli rumah yang lain saja? kontrakan kan.. gak seberapa besar, kamu sudah biasa hidup nyaman loh May."

Mayang menanggapi santai ucapan budhenya.

"Ini kan masih sementara budhe. Untuk ke depannya mau balik lagi ke rumah itu atau beli rumah baru, Mayang belum memikirkannya."

"Hemm.. coba budhe lihat foto rumah yang mau kamu sewa."

"Ini budhe," jawab Mayang sembari menunjukkan beberapa potret dari galery ponselnya.

"Emmm... hemm.. emm.. kamu yakin mau pindah?" tanya budhenya seraya mengulurkan kembali, ponsel Mayang.

"Yakin budhe."

"Ya sudah, besok budhe bantuin tata-tata kontrakanmu yang baru!"

"Iya budhe terima kasih!"

"Iya."

...🌟🌟🌟...

Keesokan harinya, Mayang pindah. Budhe beserta anaknya, mas Galang turut membantu juga. Lepas tengah hari, semua telah selesai. Perabotan yang dibutuhkan telah diisi semua. Setelah beristirahat sesaat sembari makan siang, budhe dan mas Galang berpamitan untuk pulang. Kini, tinggallah mbak Yanti, Mayang dan juga Bayu.

"Alhamdulillah, rasanya lega bisa tinggal sendiri meski di rumah kontrakan begini," celetuk Mayang.

"Iya non, saya juga gak enak kalau tinggal lama-lama di rumah budhenya non Mayang. Mau ngapa-ngapain segan."

"Iya, alhamdulillah dan bismillah, semoga semuanya lancar untuk ke depannya!" sahut Bayu.

"Ohya mbak Yanti, hari minggu saya mau ke luar. Ada perlu sama ustad Fahri juga. Kemungkinan akan pulang malam atau malah esok harinya. Mbak Yanti jaga rumah ya!"

"Loh, mau ke mana non?"

"Ke rumah temannya ayah sama ibuk. Ada urusan yang belum mereka selesaikan. Ustad Fahri mau membantu menyelesaikannya juga."

"Oh begitu, iya non."

Mayang enggan menjelaskan lebih dalam lagi. Mbak Yanti pun menganggap kalau kedua orang tua Mayang memiliki hutang bisnis pada seseorang yang belum sempat dilunasi. Selebihnya, mbak Yanti tidak menanyakan lagi selain berpesan agar Mayang berhati-hati.

"Buk Inah mau dipanggil lagi ke sini atau enggak non?" tanya mbak Mayang kemudian.

"Emmm.."

Mayang tampak berpikir sejenak sebelum kemudian, memberikan jawaban.

"Untuk sementara ini, enggak dulu deh mbak. Rumah juga jauh lebih kecil dari sebelumnya, mbak Yanti saja bisa handle kan? bisa masak juga kan?"

"Bisa non, tenang saja!"

"Iya, nanti deh aku telepon buk Inah untuk ngabarin soal ini!"

"Iya non."

...🌟🌟🌟...

Malam harinya, Mayang tidur lebih cepat. Selain karena sudah lega sebab tidak lagi menumpang, juga karena badan telah kelelahan. Sayangnya, tidur yang seharusnya nyenyak malah dihinggapi mimpi yang jauh dari kata indah. Dalam mimpinya, Mayang mendengar suara yang sangat ia kenal yakni suara eyang Ratmi, akung beserta kedua orang tuanya merintih kesakitan. Bahkan mengiba agar diberi ampunan. Mayang membulat waspada seraya mencari arah sumber suara.

Ruang demi ruang telah ia lewati ketika ia mulai menanyakan perihal keberadaannya. Bangunan itu begitu tinggi. Jika diperkirakan, jarak antara lantai hingga plafon, sekitar delapan meteran. Belum lagi pilar-pilar megah sebagai penyangga. Sungguh terlihat bagaikan istana.

"Di mana ini?" benak Mayang.

Pertanyaan itu terabaikan ketika Mayang kembali mendengar suara keluarganya. Fokusnya kembali pada pencarian hingga ia melihat sesuatu yang sangat tidak ingin ia lihat. Ternyata, suara itu berasal dari ruangan yang sangat besar dengan banyak sekali orang yang berseliweran. Dinding-dinding didekorasi dengan beragam rangkaian bunga seolah ballroom gedung yang sedang digunakan untuk perjamuan suatu acara.

Lain di dinding, lain lagi di lantai. Jika dinding dihias sedemikian indahnya maka, bertolak belakang denganlantai terlihat sangat mengerikan. Di sana, Mayang melihat ada banyak sekali orang yang tidur telungkup seolah dijadikan karpet pijakan untuk para tamu undangan. Setiap kali tubuh mereka diinjak, mereka akan berteriak. Meski pun demikian, tak ada satu pun yang bangkit. Sekedar untuk menyampaikan rasa kecewanya atau pergi dari sana. Di antara banyak orang, keluarganya turut menjadi karpet manusia juga di sana. Mayang segera menghampiri keluarganya seraya meminta mereka untuk bangun lalu pergi dari sana. Sayangnya, baik eyang, akung maupun kedua orang tuanya hanya bisa menangis sembari menggelengkan kepalanya.

"Kenapa enggak mau? ayo! Mayang bantuin ya!"

Mayang berusaha membalik tubuh ibunya. Namun, ia gagal. Mayang merasakan kalau ada sesuatu yang menahan agar tubuh ibunya tidak dapat dibalikkan, apalagi hingga dibawa pergi.

"Ada apa ini?"

Tak mau menyerah, sekali lagi Mayang mencoba dan ternyata, hasilnya pun tetap sama.

"Buk, kenapa?"

Mayang lekas menghampiri ayahnya untuk melakukan cobaan serupa. Hasilnya masih sama, begitu pun ketika ia mencoba membalik tubuh eyang dan akungnya.

"Kenapa begini? aku harus bagaimana?"

Tepat ketika Mayang kebingungan, datang dua sosok gemuk dengan gigi taringnya yang panjang hingga melewati dagu mendatanginya. Mayang terkejut sekaligus merasa sangat ketakutan. Tanpa pikir panjang, Mayang berlari tunggang langgang tanpa tahu arah. Dalam benaknya, kedua sosok tadi berniat untuk menangkapnya. Karna itulah, ia harus berlari, bersembunyi hingga kondisi, aman kembali.

Mayang terus berlari, berlari dan terus berlari hingga kemudian, ia dapat membuka matanya. Deru napasnya masih tak beraturan tapi tubuhnya, terasa sangat lelah. Seperti benar-benar habis berlarian. Lemas adalah hal berikutnya yang ia rasakan. Ketika napasnya telah kembali normal, Mayang bisa menenangkan diri sembari mengamati sekeliling. Barulah ia sadar kalau apa yang ia alami tadi, hanyalah sebuah mimpi.

"Ya Alloh, itu mimpi! tapi.. sekedar mimpi atau.."

...Deg......

...🌟🌟🌟...

Keesokan harinya, Mayang menceritakan hal itu kepada Bayu dan juga mbak Yanti. Ini adalah kali pertama, Mayang menceritakan perihal sisi kelam dari keluarganya kepada mbak Yanti. Reaksi mbak Yanti cukup tenang meski batinnya bergejolak hebat. Tentu hal yang wajar jika muncul ketakutan pada dirinya. Setelah mengetahui kebenarannya, mbak Yanti khawatir kalau dirinya akan dijadikan tumbal selanjutnya. Bahkan, ia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri saja. Namun, sudut hatinya yang lain merasa tidak tega. Bagaimana pun, Mayang tinggal sebatang kara usai kedua orang tuanya meninggal. Ia pun belum menikah. Meski Mayang masih memiliki saudara dari keluarga besar tapi mbak Yanti, tetap tidak tega. Dua malam lamanya, mbak Yanti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya kacau, melayang ke mana-mana. Alhasil, ia mencari ketenangan hati dengan khusuk beribadah dan berdoa. Pagi di hari ketiga, mbak Yanti mantap untuk tetap menemani Mayang. Setidaknya turut membantunya untuk mencari solusi atas kepelikan keluarganya. Setidaknya, dia akan berusaha maksimal untuk membantu dan menemani Mayang atas dasar rasa kemanusiaan. Perihal kapan batas akhirnya, mbak Yanti belum dapat memastikan.

"Ya Alloh! tolong bantu kami, khususnya non Mayang untuk keluar dari masalah ini! ridhoi usaha kami dan bukakan jalan keluar untuk kami! bebaskan kami semua dari jerat iblis! biarkan kami hidup bebas dan damai seperti orang-orang yang lain!"

Itulah sebait doa yang mbak Yanti ucapkan berulang-ulang.

...🌟 BERSAMBUNG 🌟...

1
siyuk sie
Hallo kak apa kabar?
Saya barusan rilis judul baru tapi genre romance.

Dinda Di Ujung Senja.
Jangan lupa mampir ya...
Makasih ☺️
Fatimah Bibi
baguuuss..seru
siyuk sie: terima kasih kak
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒓𝒆𝒏𝒏𝒏𝒏𝒏𝒏𝒏𝒏 𝒕𝒉𝒐𝒓 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
siyuk sie: Terima Kasih kak
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒍𝒉𝒂𝒎𝒅𝒖𝒍𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒆𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓𝒏𝒚𝒂 🤲🤲👏👏
siyuk sie: ikut seneng ya.. 😁
total 1 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒐 𝒎𝒂𝒔 𝑮𝒂𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒅𝒓 𝒊𝒃𝒖 𝒎𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒆𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈 𝒈𝒊𝒕𝒖 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒋𝒅 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕𝒊 𝒍𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒓𝒂𝒎
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒈 𝒋𝒅 𝒑𝒆𝒏𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒐𝒓𝒕𝒖𝒏𝒚𝒂 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂 🤔🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒕𝒂 𝒊𝒔𝒕𝒊𝒒𝒐𝒎𝒂𝒉 𝒚𝒂 👍👍
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒂𝒍𝒖𝒕 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒎𝒃𝒂𝒌 𝒀𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒉 𝒌𝒆𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂𝒂𝒏 𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒔𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒏𝒈𝒏 𝒈𝒐𝒚𝒂𝒉 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒉𝒓𝒔𝒏𝒚𝒂 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒌𝒊𝒕" 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒊𝒏 𝒔𝒉𝒐𝒍𝒂𝒕 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒏𝒂𝒉 𝒈𝒊𝒕𝒖 𝒅𝒐𝒏𝒌 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒐𝒍𝒖𝒔𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒌𝒏 𝒅𝒊𝒂𝒎 𝒂𝒋𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒂𝒍𝒖𝒕 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑩𝒂𝒚𝒖 👍👍👏👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒈𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒌𝒍 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒆𝒌𝒖𝒕𝒖 𝒅𝒏𝒈𝒏 𝒔𝒆𝒕𝒂𝒏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒏𝒚𝒂 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒍𝒊𝒏𝒈𝒍𝒖𝒏𝒈 𝒚𝒂 🤔🤔🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓 𝒂𝒋𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑩𝒂𝒚𝒖 𝒔𝒊𝒉 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒅 𝒚𝒈 𝒅𝒊𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒕𝒅 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂 🤔🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒈 𝒅𝒊 𝒃𝒊𝒔𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒎𝒂 𝒏𝒚𝒂 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆 𝒎𝒂𝒌 𝑹𝒖𝒎𝒊𝒕 𝒚𝒂 🤔🤔🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒏𝒚𝒌 𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒑 𝒈𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒊𝒏𝒅𝒂𝒌
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒚𝒐 𝑴𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒕𝒉 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒏𝒈𝒏 𝒕𝒂𝒌𝒖𝒕 𝒎𝒆𝒍𝒖𝒍𝒖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!