Alena gadis tangguh penuh tekad, dia adalah seorang Mahasiswi semester 5 disebuah universitas di Jakarta, suatu hari nasib buruk menimpa dirinya saat ayahnya yang gila judi itu terlilit begitu banyak hutang akibat hobi gilanya itu.
Alena dijadikan taruhan kepada seorang Mafia kejam dan menjadi tumbal keserakahan ayahnya sendiri.
Alena terpaksa harus menjadi tawanan sang Mafia karna ayahnya ternyata kalah dalam permainan judi bersama sang Mafia.
Dalam semalam hidupnya berubah, dia terpaksa harus menikah dengan laki laki asing yang terkenal berdarah dingin bernama Raka Bumiatmaja, namanya harum dikalangan para penjahat kelas kakap, tak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Dia Mafia yang menangani penyelundupan senjata api untuk negara negara besar. Kekayaannya mungkin hampir separuh negri, dengan kuasa dan uang yang dia miliki apapun bisa di dapatnya hanya dengan menjentikkan jarinya.
Akan kah Alena bahagia dengan kehidupan barunya sebagai istri seorang Mafia kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lela W.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Jam 19.00 tepat
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di dalam Paviliun, Darren merentangkan tangannya ke depan dada, lalu setelah itu di pijatnya bahunya yang terasa pegal.
Netra coklatnya menatap jam dipergelangan tangannya, sudah waktunya makan malam.
Dia pun kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah besar.
Darren berjalan ke melewati ruang keluarga, dia menaiki tangga menuju kamarnya, sempat melirik sebentar ke arah meja makan, makanan sudah tersaji diatas meja namun tidak ada siapa pun disana, hanya ada beberapa pelayan yang sedang sibuk menatap beberapa hidangan disana.
Mereka membungkuk saat melihat Darren menghentikan langkahnya di tengah tangga.
"Kemana Alena?"
"Nona belum keluar dari kamarnya Tuan Muda, Bu Lastri sedang memanggilnya di dalam." Jawab salah seorang dari pelayan itu.
Kepalanya mendongak ke atas, buru buru dia mempercepat langkah kakinya.
Dia melihat Lim baru keluar dari kamar Jasmin, Lim menunduk saat melihat Darren hendak menuju kamarnya.
"Tuan, gadis yang Tuan minta sudah menunggu di dalam bar, saya menyuruhnya tidak melakukan apapun sampai Tuan menemuinya." Kata Lim memberi laporan ketika berpapasan dengan Darren.
Darren tidak menggubrisnya, dia malah fokus memperhatikan tingkah kepala pelayannya Lastri yang baru saja keluar dari kamarnya, wanita paruh baya itu tampak panik berdiri di depan pintu kamarnya.
Lim yang juga melihat keanehan itu ikut mengernyitkan keningnya.
"Ada apa?" Darren menghampiri.
Lastri membungkukkan badannya saat melihat kedatangan Darren.
"Tuan Muda, sepertinya terjadi sesuatu pada Nona Alena, saya memanggilnya untuk makan malam tapi tidak ada jawaban, saat saya masuk untuk memeriksa hanya ada suara shower di dalam kamar mandi, saya hanya khawatir terjadi sesuatu pada Nona Alena di dalam kamar mandi."
Mendengar penjelasan itu tanpa membuang waktu Darren langsung masuk ke dalam kamarnya, dia menuju kamar mandi di pojok kamar.
Mencoba membuka pintu tapi terkunci.
"Saya akan mengambil kunci cadangannya Tuan Muda." Kata Lastri yang berdiri di belakangnya.
"Tidak perlu, aku akan mendobraknya."
Darren mundur beberapa langkah lalu kemudian menabrakkan dirinya sendiri dengan pintu kamar mandi di depannya.
Brak
Dengan sekali hentakan keras, Darren berhasil membuka daun pintu.
Sepasang matanya seketika membulat sempurna saat dia melihat keadaan di dalam kamar mandi.
Lastri dan Lim yang ikut masuk ke dalam ikut terkejut, Lim buru buru keluar dan menjaga penglihatannya.
"Alena!" Teriak Darren dengan suara serak.
Alena bersandar di tembok kamar mandi dengan kondisi mengenaskan, dia pingsan di bawah guyuran air shower yang jatuh ke atas tubuhnya.
Lastri langsung membantu menyerahkan handuk ke hadapan Darren.
Darren mematikan kran shower, membalut tubuh polos Alena dengan handuk dan menggendongnya keluar kamar mandi.
"Lim, cepat panggil Josua kemari."
"Baik, Tuan Muda."
Lim langsung keluar kamar untuk mencari Dr. Josua.
Darren dengan hati hati meletakan tubuh Alena ke atas kasurnya.
Darren cemas karna merasakan tubuh Alena begitu dingin dan pucat.
"Sudah berapa lama dia pingsan di dalam sana?" Darren menatap Lastri.
Lastri hanya menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Maafkan saya Tuan, tapi sejak sore Nona Alena memang tidak keluar kamar." Jawab Lastri.
Darren mengepalkan tangannya, gemuruh kemarahan juga kecemasan menyatu di dalam dadanya.
Dia melihat tubuh Alena yang terbaring kaku mulai membiru, gadis ini jangan jangan semenjak dia tinggal sore tadi sudah berada di dalam kamar mandi dan pingsan tanpa sepengetahuan siapapun.
Tak lama Lim datang membawa Josua ke kamar utama.
Darren berdiri dan langsung menyuruh Josua untuk memeriksa kondisi Alena.
Betapa terkejutnya Josua ketika melihat sekujur tubuh Alena dipenuhi tanda tanda merah.
"Sejak kapan Nona Alena terkurung di dalam kamar mandi?" Tanya Josua.
Dia masih menatap miris tanda tanda memar di tubuh Alena, sepertinya sebelum gadis ini pingsan dia telah menerima penyiksaan fisik yang kasar di sekujur tubuh mulusnya.
Tanpa bertanya pun Josua sudah tahu apa yang telah terjadi. Alena telah digagahi.
"Mungkin sejak sore Tuan." Jawab Lastri.
Sepasang mata Lim juga sempat melihat banyak tanda merah dileher juga di sekitar bahu Alena.
Di dalam hati, Lim bertanya tanya, apakah itu bekas ciuman Darren? jangan jangan yang dimaksud Darren di ruang kerjanya waktu itu, Alena terisak karna Darren habis berbuat sesuatu dengannya, apakah mereka sudah melakukan hubungan suami istri layaknya pasangan normal?
Dia kenal Darren, meskipun banyak wanita datang silih berganti menemaninya minum dan menghabiskan malam, tapi Darren tidak pernah sampai tidur dengan mereka. Dia sangat membatasi dirinya karna dia tidak ingin jatuh cinta, menurutnya jika dia sampai jatuh cinta, dia akan menjadi orang yang lemah. Apakah Darren sudah melupakan prinsipnya sendiri?
Banyak pertanyaan mendadak berputar di kepala Lim.
"Kondisi Nona Alena sangat lemah Tuan Darren, denyut nadi dan tekanan darahnya sangat rendah, nona membutuhkan beberapa cairan infus untuk membuat kondisinya pulih."
Darren tampak kaget tapi dia tetap berusaha menetralkan wajahnya.
"Kalau begitu lakukan, tunggu apalagi!" Perintah Darren.
Meski Darren berusah bersikap setenang mungkin, Lim sebagai orang terdekatnya bisa melihat ada kecemasan yang tersirat dimata Tuan Mudanya itu.
Josua bergegas keluar, tak lama dia kembali bersama seorang perawat yang membawa sebuah tiang infus dan sebuah koper medis ke dalam kamar.
Sebelum memasang selang infus, perawat itu dibantu lastri memasangkan baju ke tubuh Alena.
Baru setelah itu, Josua langsung memasang sebuah infusan di salah satu lengan Alena.
"Apakah dia akan baik baik saja?"
Lastri dan Lim terkejut. Apakah barusan Tuan Mudanya sedang bertanya tentang kondisi seseorang? tidak pernah mereka melihat Darren peduli pada kondisi orang lain selain adiknya Jasmin.
Lastri menatap Alena yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Sepertinya ada sesuatu dalam gadis ini yang membuat Tuannya Darren bersimpati padanya.
Dia harus lebih bersikap baik pada Alena jika tidak mau ada masalah ke depannya.
Josua berdiri setelah selesai memberikan beberapa suntikan ke tubuh Alena.
"Alena akan baik baik saja Tuan, sepertinya dia mengalami kelelahan dan syok berat. Tubuhnya mungkin akan mengalami demam setelah ini, tapi Tuan tidak perlu khawatir, saya akan terus memantau keadaannya." Kata Josua pada Darren.
Darren mengusap wajahnya, apa sekaget itu dia dengan First Seksnya?
Sedikit rasa bersalah muncul di dada Darren. Netra coklatnya terus menatap tubuh gadis yang sedang di balut selimut putih tebal di atas ranjangnya.
Ah, lagi lagi dia membawa sendiri Alena ke atas ranjangnya.
"Baiklah kalau begitu, kalian semua boleh keluar."
Josua dan yang lainnya mengangguk patuh. Mereka keluar satu persatu dari kamar besar itu. Tapi sebelum menutup pintu, Lim teringat sesuatu dan berbalik menghadap Tuannya lagi.
"Tuan, gadis di dalam bar itu.."
"Antar dia pulang ke klub, aku sedang tidak berselera minum.." Potong Darren sebelum Lim menyelesaikan kalimatnya.
Lim melihat Tuannya itu duduk di pinggir ranjang Alena dengan memunggunginya.
"Baik Tuan Muda, saya akan berjaga di depan jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu." Lim membungkuk setelah dia melihat Darren hanya mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Lim segera keluar.
Di Kamar Josua.
Josua membanting bantal ke atas kasurnya, dia menarik seprei lalu ikut melempar benda itu lantai.
"Kurang ajar!" Pekiknya pelan.
Dadanya bergemuruh hebat, entah kenapa saat melihat banyak tanda merah di tubuh Alena dia merasa sangat marah pada Darren. Dia yakin Darren sudah memaksa Alena untuk melayaninya.
Sebagai seorang Dokter yang berpengalaman dan sering menemui kasus serupa, dia tahu betul tanda tanda merah di tubuh Alena adalah bekas sesapan sebuah bibir.
"Cih, aku sangat marah pada Darren, tapi aku lebih marah pada diriku sendiri karna tidak bisa berbuat apa apa untuk gadis itu. Dia pasti dipaksa melayaninya. Kasihan Alena."
Josua terduduk di atas kasurnya yang sudah tidak berbentuk.
Entah sejak kapan dia mulai menyukai Alena, sepertinya istri Darren itu membuatnya tertarik sejak pandangan pertama.
Josua juga tidak mengerti kenapa dia bisa tertarik pada gadis yang telah menjadi istri dari seseorang itu.
Josua menarik nafas dalam dalam, mencoba mencari ketenangan lewat udara yang dihisapnya. Dia berpikir banyak hal, jika Alena menolak melakukan hubungan badan berarti gadis itu tidak mencintai Darren, begitu bukan?
Tanpa sadar salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas sambil bergumam pelan.
"Berarti masih ada kesempatan."
Jam 21.00.
Setelah mengganti botol infus yang kosong, perawat bergegas keluar dari kamar Darren.
Darren sudah mengganti bajunya dengan piyama hitam. Dia membatalkan semua urusan pekerjaan, padahal jadwalnya malam ini adalah memantau klub Devil yang sudah dua hari dia tinggalkan.
Tapi entah kenapa dia berat meninggalkan Alena sendiri dalam kondisi sakit begini.
Lim sampai di buat kebingungan saat Darren tiba tiba membatalkan jadwalnya tiba tiba. Akibatnya Lim harus mengatur ulang seluruh jadwa untuk pertemuan dengan salah satu pembeli senjata dari negara X yang rencananya akan dilakukan malam nanti.
Darren naik ke atas ranjang, dia berbaring disamping Alena. Gadis itu masih belum sadar dari pingsannya.
Berberapa kali dia merintih dalam tidurnya ketika terusik dengan gerakan Darren yang beberapa kali membetulkan posisi selimutnya.
Darren menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya, tubuhnya menghadap Alena, dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan gadis itu.
Tanpa sadar tangannya membelai pipi Alena, Alena terusik lagi, kali dia berpindah posisi dan tiba tiba dia berbalik mengahadap Darren, Alena memeluk tubuh Darren layaknya guling.
Darren tersentak tapi dia tidak bergerak atau berusaha mengusir tubuh gadis itu dari dekapannya, sesaat kemudian dia malah membalas pelukan Alena dan menepuk nepuk bahu gadis itu agar terlelap kembali dalam tidurnya.
bersambung