Wasiat perjodohan membuat dua insan di persatuan dalam sebuah ikatan , meski tidak ada cinta antara kedua nya , karena pria itu sudah memiliki kekasih yang cantik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 pagi pengantin baru
Mentari pagi menyelinap masuk ke kamar Ira dan Chandra—sebuah vila kecil di pinggir pantai Labuan Bajo yang katanya romantis, tapi AC-nya bunyi kayak kapal pecah.
Chandra sudah bangun duluan. Dengan gaya sok chef profesional, ia memasak di dapur mungil yang lebih cocok disebut pojok kompor. Hasilnya? Telur orak-arik yang lebih mirip telur ketakutan, dan roti panggang yang berhasil berubah jadi arang premium.
Setelah menata semuanya di nampan dengan percaya diri tinggi, ia berjalan ke ranjang sambil bersenandung, lalu berdiri tepat di depan wajah Ira yang masih tenggelam di balik selimut.
“Sayang, bangun dong... Ini bukan alarm, tapi panggilan dari masa depan. Katanya, kalau kamu nggak bangun sekarang, kamu bakal nikah sama cowok lain yang bisa masak beneran!”
Ira membuka satu mata, menatap suaminya sambil nyengir miring.
“Ciee, masa depan sok sibuk, padahal sarapannya lebih mirip upil dinosaurus kebakar.”
Chandra cengengesan, duduk di samping ranjang sambil nyodorin roti hitam gosong.
“Cinta itu buta, kan? Jadi kamu juga nggak bakal lihat bentuk sarapannya.”
Ira ketawa sambil lempar bantal ke wajah Chandra.
“Cinta gue nggak buta. Tapi selera makan gue, kayaknya udah buta, tuli, lumpuh total.”
Ira akhirnya duduk di tepi ranjang, mengucek mata, lalu mulai menyantap sarapan buatan Chandra.
Telur yang agak hangus itu masuk ke mulutnya... dan langsung membuat alisnya naik sebelah.
“Hmm... rasa cinta, dibumbui kekecewaan,” gumam Ira, lalu nyeruput kopi.
“Untung kopinya enak. Setidaknya ada yang normal dari hubungan ini.”
Chandra hanya nyengir sambil duduk di lantai, bersandar pada ranjang. Dari sudut matanya, ia menatap Ira yang kini mencibir-cibir sambil terus makan.
Dalam diamnya, Chandra bergumam dalam hati,
"Dulu... gadis mungil ini hanyalah adik ipar cerewet yang suka nyodorin tisu pas aku nangis nonton sinetron, saat istriku sibuk dengan ponselnya. Dia yang dulu bilang 'Kak, kamu tuh berhak bahagia juga.' Dan sekarang... takdir malah beneran bikin dia jadi sumber bahagia itu."
Ira tiba-tiba menoleh, memergoki Chandra yang menatapnya dalam-dalam.
“Kenapa liatin aku gitu? Takut aku beneran jatuh cinta sama sarapannya ya?”
Chandra terkejut, tertangkap basah. Ia langsung nyaut,
“Enggak, aku cuma lagi mikir... kamu tuh cantik banget pas lagi ngunyah kayak hamster kelaparan.”
Ira melempar garpu ke arahnya. “Dasar suami absurd!”
Chandra menangkis pakai bantal, lalu nyengir lebar.
“Tapi hamsternya kan sekarang udah jadi istri aku. Rezeki anak soleh!”
Selesai sarapan, Chandra berdiri sambil menepuk-nepuk perutnya yang sebenarnya nggak ikutan makan. Ia menatap Nadira dengan tatapan jahil, lalu membuka kedua lengannya lebar-lebar.
"Yuk, kita mandi bareng. Sekalian aku gendong Tuan Putri ke kamar mandi. Kan udah bertenaga tuh, abis makan sarapan rasa arang cinta," katanya sambil mengedipkan sebelah mata kayak cowok-cowok sok tampan di sinetron.
Mata Nadira langsung membelalak.
"APA?! Mandi bareng? Mas, ini Labuan Bajo, bukan adegan FTV!”
Chandra tertawa kecil. “Eh, kenapa? Kan dulu kamu sering bilang, ‘Andai abang jadi suami aku...’ Sekarang udah, ya dimaksimalkan dong fasilitasnya.”
Nadira menyipitkan mata curiga.
“Fasilitas apanya? Yang bener tuh: ‘Andai abang bisa masak bener.’ Itu doanya dulu.”
Chandra langsung cengengesan, lalu tanpa aba-aba, membungkuk dan menggendong Nadira yang masih protes setengah hati.
"Eh! Turunin! Aku belum siap mental dan rambutku belum disisir!” Nadira menepuk-nepuk bahunya.
“Justru biar mandi sekalian sisir. Ini honeymoon versi hemat air,” jawab Chandra enteng.
Nadira akhirnya tertawa juga, meskipun wajahnya merah karena kesal dan geli campur aduk.
“Mas, sumpah ya... kamu tuh romantis versi receh. Tapi anehnya, aku malah nggak mau berhenti ketawa.”
Chandra mencium cepat pipinya.
“Karena kamu udah jatuh cinta sama keanehan ini, Bu Chandra.”
Nadira akhirnya pasrah digendong ke kamar mandi, walau sepanjang perjalanan ia terus nyinyir.
“Kalau aku kepleset gara-gara kamu, Mas, judul berita besok pasti: 'Istri manis tergelincir karena suami terlalu niat romantis’,” katanya sambil mencubit pipi Chandra.
Chandra cuma ketawa. “Kalau kamu kepleset, aku ikut jatuh biar kita jatuh cinta bareng lagi.”
Sampai di kamar mandi, Chandra menyalakan air hangat di bathtub. Busa sabun mulai memenuhi permukaan, dan Nadira sudah bersandar santai, rambutnya dililit handuk kecil.
“Ini niat mandi atau photoshoot iklan shampoo, Bu?” ejek Chandra sambil ikut masuk ke bathtub.
Mereka mulai rebutan sabun.
“Eh, sabunnya buat aku dulu! Tangan kamu masih bau telur gosong!”
“Justru itu kenapa aku butuh sabunnya, Dek!”
“Jangan Dek-Dek-an! Kita udah halal, Mas!”
“Waduh, makin gemas ini istri aku…”
Mereka tertawa, air cipratan ke mana-mana. Tiba-tiba, pintu kamar mandi diketuk dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
“MAS!!! KAMU NGAPAIN DI DALAM?!”
Suara itu membuat keduanya langsung terdiam. Chandra memelototkan mata, Nadira refleks menarik handuknya lagi.
“Eh… itu siapa?” bisik Nadira panik.
Chandra berbisik ketus.
“Itu… adikku. Si Rio. Lupa bilang dia ikut nginap semalam.”
Nadira langsung menutup wajahnya dengan busa.
"YA ALLAH, MALU!"
Rio masih di luar sambil ngomel,
“Aku cuma mau ambil charger! Tapi kenapa suara air kayak tsunami, sih? Kalian mandi atau buka cabang kolam renang?”
Chandra berteriak sambil menahan tawa.
“LAGI WISATA DALAM NEGERI, DEK! JANGAN GANGGU!”
Rio mendengus.
“Ih jijik, udah tua masih romantisan kayak bocah SMA!”
Setelah suara langkah Rio menjauh, Nadira menatap Chandra dengan wajah merah padam.
“Mas… next time, tolong kasih pengumuman dulu ya kalau ada orang di rumah. Aku hampir tenggelam karena malu.”
Chandra nyengir nakal.
“Tenang, sayang. Kalau kamu tenggelam, aku bakal jadi pelampung cinta kamu.”
Nadira mencipratkan air ke mukanya.
“Cinta apaan, bentuknya kayak perahu bocor!”
Setelah suara Rio benar-benar menghilang, keheningan kembali memenuhi kamar mandi. Air hangat di bathtub masih mengalir pelan, menyelimuti tubuh mereka berdua dengan busa dan aroma sabun yang lembut.
Nadira bersandar di dada Chandra, matanya setengah terpejam, menikmati degup jantung yang terasa begitu dekat.
Chandra melingkarkan lengannya pelan, mencium puncak kepala istrinya.
“Gila sih, kamu tuh makin cantik aja pas diem begini,” bisiknya lembut.
Nadira tertawa kecil, suaranya renyah. “Lah, jadi selama ini aku jelek pas ngomong?”
“Bukan gitu, maksudnya… ya, kalau kamu diam, aku bisa denger hatiku sendiri yang ngomong, dan katanya aku lagi jatuh cinta lagi. Sama istri aku. Lagi dan lagi.”
Nadira memutar tubuhnya pelan, berhadapan dengan suaminya. Matanya menatap dalam, tak lagi menyembunyikan rasa.
“Chandra…”
“Hm?”
“Kalau hari ini jadi hari terakhir kita di dunia, aku nggak nyesel nikah sama kamu. Walau sarapanmu gosong, dan gayamu kadang kayak badut keliling... tapi cuma kamu yang bisa bikin aku lupa kalau aku pernah disakiti.”
Chandra terdiam sesaat. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dulu, aku cuma bisa lihat kamu dari jauh. Kamu gadis mungil yang selalu tersenyum… padahal aku tahu kamu juga pernah patah. Tapi sekarang kamu di sini. Sama aku. Di pelukanku. Dalam hidupku.”
Tanpa banyak kata lagi, mereka saling mendekat. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang tenang, bukan terburu-buru—seolah tubuh mereka bicara sendiri, meleburkan luka masa lalu dan menyatu dalam hangatnya air dan perasaan yang dalam.
Ciuman itu bukan sekadar fisik, tapi seolah menyegel janji yang pernah terucap tanpa suara: *Kita dua jiwa yang pernah retak, dan kini menyatu dalam satu takdir yang sama.*
Chandra menarik napas dalam, menatap wajah istrinya dengan senyum penuh rasa.
“Udah sah ya. Ini namanya penyatuan jiwa. Sekarang kamu udah resmi... cucu Papa.”
Nadira tergelak.
“Cucu papa apaan? Ini konsep keluarga atau MLM cinta sih?”
Chandra mengangkat bahu.
“Yang penting, mulai besok kamu panggil aku ‘Mas’ pake getar. Soalnya kamu udah upgrade jadi istri plus-plus.”
Nadira mencubit perut suaminya sambil tersenyum malu. Tapi ia tahu, di balik candaan dan sentuhan hangat itu, ada cinta yang sungguh-sungguh. Bukan cinta yang buru-buru, tapi cinta yang bertumbuh. Yang saling sembuhkan.
semangat thor.. mampir juga dong ke ceritaku..