Karina Devita seorang gadis berumur 25 tahun yang harus menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Arfan untuk mengantikan sang Kakak yang tiba-tiba kabur satu minggu sebelum acara.
Di hari resepsi, Karina dikejutkan oleh kehadiran seorang pria dari masalalunya, pria itu bernama Argantara yang tidak lain adalah Kakak dari suaminya sendiri. Karina tidak habis pikir kenapa takdir malah mempertemukannya dengan Argantara dengan situasi seperti ini.
Situasi antara Karina dan Argantara begitu canggung, mereka memilih untuk bersikap seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Karina memutuskan untuk fokus kepada pernikahannya, namun nyatanya sang suami memperlakukan ia dengan tidak baik. Bukannya bersikap sebagai sumi yang baik, Arfan malah menghina dan menyiksa Karina.
Karina harus menerima kenyataan bahwa suaminya membenci perjodohan ini. Di saat itulah Argantara hadir sebagai seorang penyelamat. Bagaimanakah kisah cinta terlarang mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27
Karina masih nampak berpikir, sebelum memutuskan. Hingga detik selanjutnya, dering ponsel memecah keheningan. Karina pun segera mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Hallo, Bu. Kenapa?"
[Ayah kamu kecelakaan di tempat proyek, Karin kamu kerumah sakit sekarang ya, ibu tunggu.]
"I-iya, Bu. Aku segera kesana." Karina hendak berbalik namun dicegah oleh Argantara.
"Ada apa?" tanya Argantara yang terlihat bingung.
"Aku harus segera kerumah sakit, Mas. Ayah kecelakaan," ucap Karina. Dia tidak lagi bisa menahan kesedihannya, dia juga nampak sanga panik, hingga lupa jika dia datang ke tempat itu bersama Argantara.
"Aku akan mengantar kamu, ayo." Argantara segera menuntun Karina agar masuk ke dalam mobil.
Karina tak lagi sempat berpikir untuk menolak, yang dia inginkan hanyalah bisa sampai ke rumah sakit secepatnya.
***
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Argantara dan Karina sampai di rumah sakit. Mereka segera bergegas menuju UGD.
"Ibu," ucap Karina dan langsung memeluk ibunya. "Bagaimana keadaan Ayah?"
Ibu terlihat masih sangat syok hingga tidak bisa menjawab langsung pertanyaan sang putri. "Ayah kamu, Karin ... Ayah mengalami pendarahan kepala yang cukup berat. Bagaimana ini, Ibu takut Ayah kamu kenapa-napa."
Karina kembali memeluk sang Ibu. "Tidak, Bu. Ayah pasti akan baik-baik saja. Aku percaya Ayah adalah orang yang kuat."
Di pelukan Karina, Ibu terus menangis tersedu-sedu. "Kakak kamu Karita mana, kenapa dia tega sekali. Sampai sekarang belum pulang juga, dia tega sekali sama kita."
"Sudah, Bu. Jangan pikirkan Kakak dulu, kita harus fokus keAyah sekarang," ucap Karina mencoba untuk menenangkan sang Ibu.
Argantara yang berdiri tak jauh dari Karina tak bisa bicara apapun. Dia tiba-tiba menjadi asing diantara keluarga itu. Ya, dia siapa? Dia hanyalah seorang Kakak ipar, dan seharusnya yang menemani Karina sekarang adalah Arfan.
Tak lama, seorang dokter keluar dari UGD. Ibu, Karina dan Argantara segera menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Ayah saya Dok?" tanya Karina yang tetap mencoba untuk kuat, meski sebenarnya rasa khawatir itu sudah memenuhi pikiran sejak tadi.
"Pak Indra, harus di operasi untuk menghentikan pendarahan di bagian kepalanya. Tapi ... bukan hanya itu saja, beliau juga membutuhkan transfusi darah AB+, sementara persendian darah AB+di rumah sakit kami sedang kosong."
Tiba-tiba Ibu kembali menangis. Dia memeluk sang putri, erat. "Bagaimana ini, Karin. Hanya Karita yang mempunyai golongan darah sa seperti Ayah kamu," ucap Ibu sesegukan.
"Saya saja," sahut Argantara tiba-tiba. Membuat Ibu dan Karina melihat kearahnya. "Kebetulan golongan darah saya AB+, saya akan mendonorkan darah untuk, Pak Indra."
***
Hari semakin gelap, Karina duduk sendiri di kursi tunggu. Sementara sang Ibu menjaga sang Ayah di ruang rawat sebelum jadwal operasi.
Tak lama dia segera berdiri ketika melihat Argantara keluar dari ruangan khusus untuk transfusi darah. "Mas Arga, sudah selesai?"
Argantara tersenyum sembari mengangguk. "Hm, baru kali ini aku mendonorkan darahku. Aku pikir akan sakit, ternyata tidak."
Karina menggerakkan tangannya, menyentuh bagian pergelangan tangan Argantara yang terdapat bekas suntikan donor darah. "Bagaimana ini." Dia kembali menatap Argantara lekat. "Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu, Mas. Bahkan situasi segenting ini, bukan Kakak atau suamiku yang ada di sisiku, tapi kamu."
Melihat Karina kembali menangis, Argantara segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. "Sudah aku bilang, kamu bisa mengandalkan aku, aku akan menjaga kamu, dan terus mencintai kamu sampai kapanpun. Sekarang cukup lihat bagaimana caraku membuktikan semuanya."
Karina memejamkan matanya sambil menenggelamkan wajah didada bidang Argantara. Pelukan itu membuat dia merasa terlindungi dan mempunyai tempat ternyaman di dunia.
Di tengah keromantisan keduanya, tiba-tiba terlihat seseorang mendekat, melangkah sambil mencengkram erat kedua tangannya. "Ck, apa-apaan ini, Karin?"
Bersambung 💕
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya gaess...
ucapan arga ambigu banget...bikin basah katanya...😆😆😆
Lalu arfan ini apa...???
jadi mungkin arfan ada maksud untuk menguasai warisan makanya dia g akan melepaskan karin krn karin adalah senjatanya arfan.mungkin ibunya arga mengancam arfan kalo arfan g berubah dia g akan dapat warisan.
jadi mungkin arfan ada maksud untuk menguasai warisan makanya dia g akan melepaskan karin krn karin adalah senjatanya arfan.mungkin ibunya arga mengancam arfan kalo arfan g berubah dia g akan dapat warisan.
Tapi Arga sukanya cuma sama Karina...Ayo Arga pepet terus karinanya..kalian masih sama sama ada rasa tuh jadi g masalah balikan lagi daripada mempertahankan pernikahan palsu...tinggalin arfan,karin...biar dia tau rasa....😎😎😎