Cinta seperti angin. Datang tiba-tiba tanpa permisi. Cinta bagaikan penyihir yang memiliki kekuatan dahsyat. Menarik dua hati yang berbeda menjadi satu.
Ellery Anka (Anka), seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta. Beruntungnya, cinta yang ingin dia raih menyambut cintanya dengan ramah. Harvin Nolan (Harvin), seorang CEO yang terkenal dingin dengan siapa pun. Kehangatannya hanya untuk Anka.
Namun, kebahagiaan Anka tidak berlangsung lama. Tanpa disengaja, Anka mengetahui rahasia kekasihnya yang membuat perasaan Anka perih dan hancur.
Disaat Anka dirundung kesedihan, masa lalu Harvin hadir. Menyusup dan meretakkan kehidupan asmara mereka.
Mengapa dulu Harvin melabuhkan cintanya pada Anka yang merupakan gadis biasa saja?
Apakah Harvin akan kembali pada masa lalunya?
Berhasilkah Anka meraih kembali cinta CEO dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triple.1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Damar versus Liza.
Damar tidak tahan dengan kehebohan di meja makan pagi ini. Pria itu memutuskan untuk segera menyudahi sarapan. Setelah Noah undur diri, pria khas Asia tenggara itu mengikuti Noah.
"Eh, elu mau ke mana, Mar?" tanya Liza sesaat setelah mendengar ucapan pedas dari Noah.
"Ke depan," jawab Damar sambil membenarkan posisi kursi.
"Ngapain?"
Sungguh pertanyaan yang tidak berbobot. Lagipula sejak kapan sahabatnya itu memiliki ucapan yang berbobot. "Mancing," jawab Damar asal.
"Mancing apaan?" Liza menyuap sesendok nasi goreng tanpa melihat piring makannya. Potongan cabe rawit turut serta ke dalam sendok yang baru saja di masukkan Liza ke dalam mulutnya. "Aah, air, air!" teriak Liza saat tergigit potongan cabe rawit yang rasanya aduhai.
Damar dengan cepat memberi Liza sebotol saos cabe ke tangan Liza. Kedua mata gadis itu merem melek saat kepedasan. Liza terkenal suka makanan pedas. Akan tetapi, jika termakan cabe tanpa dia tahu takarannya, gadis itu akan menjerit kepedasan. Sungguh tabiat yang cukup aneh.
"Nih, ya! Ini tu harus diisap. Soalnya model tabung," ucap Damar tanpa melepaskan tangannya dari botol plastik saos cabe.
Liza yang ingin segera menyudahi rasa pedas yang sudah membakar rongga mulut dan tenggorokannya langsung saja mengikuti perintah Damar. Gadis itu langsung menghisap botol saus itu dengan kuat.
Anka terlambat mencegah Damar karena mulutnya penuh dengan makanan. Bahkan, Anka hampir tersedak menahan tawa melihat ekspresi Liza yang gelagapan. Harvin segera membantu istrinya..Dia mengambil tisu dan meminta Anka untuk mengeluarkan makanan dari dalam mulutnya.
"Keluarkan sayang!" perintah Harvin sambil menepuk pelan punggung Anka.
Anka refleks memuntahkan sisa makanan dari dalam mulutnya. Para pelayan yang berada di sekitar mereka tersenyum malu saat melihat keromantisan tuan dan nyonya mereka.
"Damar!" Kedua mata Liza terbelalak saat rasa pedas kembali menghantamnya. "Gila lu, ya!" rengek Liza.
Bi Emma segera memberi Liza air susu. Gadis itu langsung mengambil gelas dari tangan bi Emma tanpa melihat isinya. Baru satu tegukan, Liza langsung memuntahkan isinya. "Huueee... apes banget sih nasib gue pagi ini," rengek Liza.
"Lho, kenapa non?" tanya bi Emma bingung.
Anka tertawa sambil memegangi perutnya. Air matanya keluar gara-gara menertawai sahabatnya itu. Bagaimana tidak, nasib Liza pagi ini cukup tragis. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sebuah pepatah yang cocok untuk Liza. Harvin diam saja melihat kelakuan istrinya itu. Sedangkan Damar segera melarikan diri menuju ruang tamu.
Suzie masih setia menunggu tuannya menyelesaikan sarapan dengan nyonya. Dia maklum karena mereka pengantin baru. Namun, sesuatu membuatnya sedikit risih. Dia harus ke kamar mandi. Duh, kebelet lagi! Bodo amat deh. Sakit perut bisa ditahan. Buang aer kecil ngga boleh ditahan. Bisa bahaya. Suzie bermonolog di dalam hati.
Sekretaris itu tidak enak harus menganggu tuannya tapi mau bagaimana lagi, dia harus meminta ijin terlebih dahulu untuk menggunakan toilet. Suzie langsung berdiri, dia melangkahkan kakinya setengah berlari menuju ruang makan.
Di saat yang bersamaan, Damar datang dari arah ruang makan dengan tergesa untuk menyelamatkan diri. Tabrakan di antara mereka pun tidak terelakkan. Beruntung Damar dengan sigap menahan tubuh Suzie agar tidak terpental ke belakang. Pria itu memeluk erat pinggang Suzie.
Tatapan mata Damar dan Suzie saling bertemu. Kedua saling terpana satu sama lain. Bagai ada sengatan listrik di antara mata mereka, Damar semakin mengeratkan rangkulannya.
Liza yang baru saja sembuh dari rasa pedas tak ingin melewatkan kesempatan emas. Gadis itu menangkap pemandangan Damar bertabrakan dengan seorang wanita. Posisi mereka saat ini kurang baik. Damar dengan posisi membungkuk dan si wanita dengan posisi baring melayang. "Senggol dikit jatoh nih!" seru Liza.
Liza berdiri dari kursi makannya. "Mau kemana lo?" tanya Anka saat melihat sahabat wanitanya perlahan bangkit dari kursi.
"Sstt!" seru Liza. Gadis itu meminta Anka untuk tidak bersuara. Liza mengambil selebaran seukuran majalah di atas meja dan menggulungnya.
Damar dan Suzie masih setia dengan posisi mereka saat ini. Mereka saling terpana satu sama lain. Cantik. Batin Damar.
Siapanya tuan ya! Ganteng banget. Suzie bermonolog dalam hati.
Liza sudah siap dengan gulungan selebaran yang akan dia jadikan sebagai pengeras suara buatan. Damar dan Suzie tidak menyadari kehadiran Liza yang sudah berdiri di samping Damar. Gadis itu menaikkan gulungan selebaran dan meletakkan di antara dia dan Damar.
Anka hanya bisa menyaksikan aksi Liza dan reaksi Damar. Meski kasihan pada mereka nantinya tapi Anka tetap penasaran. Beda halnya dengan Harvin, pria itu justru menatap lekat wajah istrinya. Menanti suara tawa atau senyum lepas Anka.
"Satu, dua, ti-" Hitungan Anka terhenti bersamaan dengan teriakan Liza
"KECOAK!" teria Liza penuh semangat.
Damar refleks melepaskan Suzie. Pria itu langsung berlari ke ruang tamu untuk menyelamatkan diri. Dia langsung naik ke atas sofa tunggal.
"Auw!" Suzie mengadu kesakitan sambil mengusap bokongnya yang sakit karena mendarat bebas di atas lantai ubin tanpa karpet.
"Di mana kecoaknya, Liz? Udah lu usir belom?" Damar berteriak. Meski sudah berada di tempat yang tinggi tetap saja pria itu kegelian. Mungkin dia membayangkan si kecoak merayap ke kakinya.
Liza tertawa sambil terduduk melihat tingkah Damar yang super konyol. Dia melupakan Suzie yang terduduk di sampingnya. Anka tak ketinggalan ikut menertawakan Damar. Pria itu mengoceh tanpa henti. Dia melompat-lompat di atas sofa seperti anak kecil.
Harvin tersenyum melihat Anka yang tertawa lepas. Tersirat kebahagiaan di raut wajahnya. Merasa di perhatikan, Anka menghentikan tawanya dan menoleh menatap Harvin. "Maaf, apa kau terganggu?" tanya Anka.
"Tidak," jawab Harvin santai.
"Terus mengapa kau menatap aku seperti itu?"
"Aku senang melihat kau tertawa lepas. Sudah lama aku merindukan suara tawamu."
Aneh. Ucap Anka dalam hati. Anka hanya membalas ucapan Harvin dengan senyuman. Namun, saat berpaling untuk melihat kelanjutan adegan Damar, Anka menangkap sesuatu yang membuatnya penasaran.
Harvin menaikkan kedua kakinya di atas kursi dengan melipatnya seperti duduk bersila. Seingat Anka, kedua kaki pria itu masih berada di bawah sesaat sebelum kejadian. Bukannya Anka memperhatikan tingkah Harvin. Akan tetapi, saat Harvin memperhatikannya terus dari tadi, Anka hanya bisa memandangi bagian bawah meja makan. Dari situlah dia tanpa sengaja melihat kaki Harvin.
"Ah, kau juga takut dengan kecoak, ya?" tanya Anka dengan wajah polisnya.
Harvin langsung berdehem. Pria itu mulai salah tingkah. "Tidak," jawab Harvin tegas.
"Terus, mengapa kau menaikkan kakimu?" tanya Anka sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin saja," elak Harvin.
"Hmm, kau takut kecoak." Anka bersikeras dengan asumsinya.
"Tidak sayang."
"Kalau begitu turunkan kakimu!" tantang Anka.
Harvin terdiam tidak berani meneruskan perdebatan dengan Anka. Bagaimanapun asumsi Anka seratus persen benar. Harvin geli dengan kecoak, bukan takut. Tidak mungkin dia mengatakan langsung seperti itu pada Anka. Bisa jatuh harga dirinya sebagai laki-laki.
Pria itu menurunkan sebelah kakinya lebih dulu. Kemudian, diikuti dengan kaki sebelahnya. Kaki yang pertama telah berhasil menjejak ke lantai tapi belum sampai kaki kedua jejak ke lantai, Anka sudah berteriak "Kecoak!"
Sontak Harvin langsung menaikkan kembali kedua kakinya. Teriakan Anka berhasil.menarik perhatian Damar, Liza, dan Suzie. Pandangan mereka langsung beralih pada sumber teriakan.
Anka tertawa hingga mengeluarkan airmata. Begitu pula dengan Liza. Damar dan Suzie tidak akan berani menertawakan Harvin. Alasan Damar karena mereka berdua memiliki ketakutan yang sama dan Suzie tidak berani menertawakan Harvin karena dia adalah bosnya di kantor. Suzie tidak akan menggadaikan profesinya hanya untuk menertawakan sang bos.
"Benar kan kataku! Kau juga takut dengan kecoak," ucap Anka sambil tertawa.
Harvin menatap lurus istrinya itu. Setelah Anka mulai bisa mengatur dirinya barulah Harvin berkata, "Sudah puas?"
"Banget," jawab Anka sambil mengarahkan dua jempol pada Harvin.
"Bagus jika kau sudah puas," ucap Harvin sambil tersenyum licik. Pria itu langsung berdiri dan langsung menggendong Anka ala bridal.
"Harvin, apa yang kau lakukan?" tanya Anka bingung dan khawatir.
"Melanjutkan malam pertama," jawab Harvin sambil mengedipkan sebelah mata.
"Aaa! Lepaskan aku!" Anka berusaha melepaskan diri dari Harvin.
"Sayang, jika kau bertingkah seperti itu. Apa kata pelayan nantinya? Harga diriku sudah hancur gara-gara kecoak. Bekerjasamalah denganku sebentar!" bisik Harvin.
Anka terdiam karena yang membuat Harvin sepeti ini juga karena ulahnya sendiri. Mau tidak mau dia mengikuti permintaan Harvin. Membawanya kembali ke kamar dengan digendong ala bridal.
banget nie evan, tapi seru si ceritany lanjut terus thour....!!!
Semangat ✊