Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Delima sekarang berada di ruangan CEO di perusahaan tempat kerjanya. Ia berdiri di ruangan itu dengan menundukkan kepalanya, dan menyilangkan jari tengah ke jari telunjuknya.
Jika ia seperti itu, pertanda ia dalam keadaan takut, gelisah atau menyembunyikan suatu masalah. Sungguh pikiran buruk yang selalu terngiang- ngiang di kepalanya.
Bagai mana tidak, ia di panggil dengan bossnya dengan masalah yang belum ia ketahui, atau masalah yang terjadi tadi.
Sungguh saat ini ia berharap, itu semua tidak berpengaruh dengan pencapaian yang ia dapatkan dengan sudah payah.
"Apakah anda tidak mendengar yang saya ucapkan?" Lamunan Delima bunyar dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Derel.
"Maaf pak Derel, saya--" Belum selesai Delima berucap, terpotong dengan ucapan Derel
"Duduk.." Ucapan tegas dan tak ingin di bantah sedikitpun.
"Ba--baik pak." Dengan patuh Delima mengikuti apa yang di katakan Derel walau sedikit gugup.
Delima duduk di kursi yang disediakan di depan meja Derel, mereka saat ini duduknya sedang berhadapan. Hanya di batasi oleh meja kerjanya Derel, yang ada di ruangannya itu.
"Anak penurut." Suara yang keluar dari mulut Derel, tapi itu terdengar seperti bisikan. Seolah ia berkata hanya ke pada dirinya sendiri.
Setelah cukup lama mereka terdiam, Delima memberanikan dirinya untuk bertanya ke bosnya itu. Berharap pikiran buruk yang berkecamuk di kepalanya tidak terjadi.
Apalagi di tambah, ia semakin dekat dengan orang yang ia sukai. Semakin membuat hati dan pikirannya tidak karuan, sungguh ia di liputi antar senang sekaligus kecemasan yang tak menentu menjadi satu.
"Permisi pak, ada apanya bapak menyuruh saya kemari." Menundukkan kepalanya, merasa takut dan tak ingin melihat respon apa yang di berikan oleh bosnya itu.
"Kalau bicara sama saya jangan nunduk, tatap lawan bicara kamu." Ucapnya ketus, karna dari tadi Delima menundukkan kepalanya.
"Yaampun, bagai mana ini. Berbicara dengan menatap wajahnya itu bisa buat gue tambah gugup dan buat hati gue seakan lari maraton." Monolang dalam hatinya.
"Ngak Delima, lo pasti bisa." Masih bermonolog di dalam hatinya, menyemangati dirinya sendiri.
"Kamu malah bertanya sama saya, bukankah kamu yang membuat ulah tadi?" Ucapnya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Mendengar ucapan dari bosnya itu, Delima menaikkan wajahnya dan memprotes apa yang di katakan aleh Derel. Membuat ia menjadi kesal sendiri.
"Loh, kan bapak yang nyuruh saya kemari." Menampilkan raut wajah tak percanyanya.
"Lagian masalah tadi, bukan salah saya kok pak, yang salah itu calon tunangan bapak juga. Dia yang duluan menabrak saya, ya jelas saya tidak terima dong." Ucapnya panjang kali lebar dengan mode ngadu ke bosnya.
Bahkan melupakan kalau ia tengah berbicara dengan bosnya yang terkenal dingin dan aura yang menakutkan. Apalagi yang ia bicarakan orang yang spesial di hati bosnya. Tanpa sadar ia mengoceh terus tanpa henti.
Derel hanya melihat kelakuan dari karyawannya ini, bagaimana tidak yang tadinya seperti kucing yang takut kena pukul. Sekarang seperti kucing yang sangat cerewet.
Sungguh ini membuat Derel menggelengkan kepalanya, seperti ia mendapatkan hiburan yang gratis.
"Maksud kamu apa, saya tidak mengerti." Merubah wajah datarnya lagi, menjadi serius.
"Loh, bukankah bapak membahas masalah kejadian tadi." Delima kaget, kalau yang ia pikirkan itu semuanya tidak benar. Ia menjadi malu sendiri, karna apa yang ia pikirkan itu salah.
"Makanya dengarin dulu saya ngomong sampai habis, ini enggak malah di potong." Baru saat ini Derel bicara agak panjang lebar dengan orang lain, apalagi mereka belum saling kenal.
"Maaf pak saya sudah lancang." menundukkan kepalanya lagi, Delima takut kalau omongannya bisa buat pekerjaannya dipertaruhkan.
Apalagi ia kini telah denah lancangnya menjawab perkataan CEO di perusahaan ini.
Bisa tamat karirnya di perusahaan ini.
Derel menghiraukan permintaan maaf dari karyawannya itu. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan Apa yang sedang dilakukan oleh gadis yang berada di hadapannya ini .
Derel terus saja memandang gadis yang sedang berada di hadapannya itu. Melihat gadis itu yang menunduk dan seolah entah ia sedang memikirkan hal yang berat atau mungkin merasa bersalah atas apa yang ia katakan tadi padanya.
"Sudahlah lupakan, saya menyuruh kamu datang kesini untuk mencari panti asuhan yang kamu ketahui di dalam kota ini. Itu di khususkan untu panti asuhan dalam ibu kota." Ucap Derel panjang lebar.
"Saya pak." Dengan tampang yang tak percanyanya, jari telunjuknya menunjuk ke dirinya, sambil Delima berucap.
"Iya siapa lagi, kamu keberatan." Menggerutkan keningnya, pertanda tak habis pikir dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh karyawannya ini.
"Baik pak, saya akan urus." Dengan wajah tersenyumnya tapi terpaksa.
Bangai mana tidak, setaunya yang menjadi tanggung jawab ini adalah sekretarisnya. Sekarang di limpahkan ke Delima, apalagi masih banyak karyawan lain yang lebih mampu dari ia.
"Gue rasa ini bukan hal yang baik deh, terutama untuk jantung gue. Membayangkannya saja itu membuat gue gak habis pikir. Bisa berdekatan dengan sang pujaan hati, tapi gue harus jaga jarak sama pak Derel, karena ada ratu harimau yang menjaganya." Delima merasa bergidik ngeri dengan apa yang ia pikirkan.
"Ok kalau itu, anda harus laporkan sama saya langsung, tentang lokasi panti asuhan itu. Saya nanti juga mempercayai ke anda uang yang akan di berikan ke masing-masing panti asuhan."
"Yahkan baru juga gue pikirkan, eh malah sudah tak bisa terhindar. malah harus lapor langsung lagi ke pak Derel. Gue harus bisa memilah mana perasaan dan mana urusan pekerjaan. Gue pasti bisa semangat." Sedikit tersenyum, setelah berkata dalam hatinya.
"Baik pak, saya akan menjaga kepercayaan dari bapak dengan sebaiknya." Sedikit memberikan senyum, dan merubahnya kembali ke mode awal.
"Silahkan keluar." ucapan yang langsung ke intinya. Tanpa menghiraukan keterkejutan dari karyawannya itu.
"Baik pak, permisi pak." Berdiri dari tempat duduknya dan berlalu dari sana menuju pintu keluar.
Setelah karyawannya itu keluar, Derel langsung menghubungi seseorang. Ia bicara seperti sangat serius, seketika suasana berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Ok, saya akan tunggu laporan baiknya. Jangan biarkan dia yang melangkah duluan, tetap pantau dan awasi. Satu lagi biar urusan dia saya yang urus." Memutuskan sambungan sepihak.
"Bagaimana bisa kalian bisa keluar dari ruangan labirin yang sudah gue buat khusus untuk kalian." Memasang senyum licik yang ia tampilkan.
Berbeda dengan orang yang menerima telephon dari Derel tadi. Ia malah merasa kesal, bangai mana tidak sambungan telephonnya ia putuskan secara sepihak.
"Untung gue mempunyai sedikit sabar, kalau enggak. Huff sudah kelar gue buat tuh orang." Dengan gerutuan yang ia ucapkan, dan untungnya ia sendiri di sana. kalau tidak pasti sudah banyak orang mengatakannya orang yang tak waras.