Adel dan Vano adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan mereka harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang disebabkan oleh sebuah perjanjian ibunya dan sahabat ibunya di masa Sekolah.
"Kita menikah bukan atas dasar cinta,kenapa kita harus sama seperti pasangan yang lain?,kamu boleh mengambil peran istri hanya di depan orang tua kita saja, setelah itu kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan kamu,aku tidak akan ikut campur selagi itu masih dalam batas wajar. Dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku"kata Vano
Mendengar ucapan Vano ,hati Adel sedikit nyeri entah pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya.
Hingga di awal pernikahan Vano tidak juga menyadari kalau dirinya mulai menyimpan rasa dengan istrinya.
Siapa diantara mereka yang ternyata mulai jatuh cinta duluan,,,,,yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dik Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Gara-gara parfum
"Sayang, suami tampanmu sudah pulang!" Teriak Vano saat baru membuka pintu kamarnya.
Adel yang saat itu baru selesai merias wajahnya di buat kaget dengan teriakan suaminya.
"Mas Vano ngagetin aja sih, teriaknya nggak bisa apa pelan-pelan?" Gerutu Adel.
"Kalau pelan itu bukan teriak sayang tapi bisik-bisik." Kata Vano segera menghampiri istrinya.
"Kamu udah cantik aja sih Yang," kata Vano sambil memeluk pinggang Adel dari belakang.
"Iya dong kan aku pengen menyambut suamiku yang tampan ini." Jawab Adel lalu mencium pipi suaminya dari samping.
"Aaaaa... Mas makin sayang dan cinta deh sama kamu, gimana kalau kita main dulu satu ronde Yang?", "Kan asyik sore-sore begini," rayu Vano.
"No...! Aku sudah mandi ya Mas, dan aku gak mau mandi lagi. Sekarang mending Mas Vano mandi dulu, nanti aku siapin bajunya oke!" Kata Adel (lalu membalik badan menghadap suaminya kemudian membantu Vano melepas jas kerjanya).
Setelah mengambil alih jas suaminya, tak sengaja Adel mencium bau parfum asing dari baju suaminya.
"Mas, ini bau parfum siapa?" Tanya Adel sambil mencium jas kerja Vano.
Vano yang hendak masuk ke kamar mandi di urungkan karena mendengar perkataan istrinya.
"Maksud kamu parfum apa sayang, Mas nggak ngerti deh?" Jawab Vano sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh Mas, ini buktinya aku mencium bau parfum asing di jas kamu."
"Tapi mas beneran nggak tau sayang, kenapa bisa ada bau parfum lain di jas kerja mas, apa itu parfum kamu yang nempel disana?" Jawab Vano, lalu menghampiri istrinya.
"Dasar laki-laki, sudah ada buktinya juga masih mau mengelak!" Ucap Adel lagi.
"Mengelak apa sayang, mas nggak mengelak, mas itu bener-bener nggak tau."
"Sebodoh bodohnya aku, aku masih bisa membedakan parfum pria dan wanita Mas. Dan ini juga bukan parfum aku, aku yakin kalau bau parfum ini milik seorang wanita!" Tegas Adel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maksud kamu apa sayang?" Tanya Vano yang tiba-tiba blank saat melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca.
"Maksud aku, apa Mas Vano ada main sama wanita lain?" Tanya Adel.
"Mas, pernikahan kita baru beberapa hari, tapi Mas Vano tega sama aku, katanya Mas sayang dan cinta sama aku, tapi kenapa Mas Vano malah main sama wanita lain," kata Adel yang sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes.
"Sayang mas nggak ngerti maksud kamu, dan mas juga nggak ada main sama wanita lain sayang." Ucap Vano mencoba menenangkan istrinya.
"Kalau Mas Vano nggak ada main sama wanita lain, terus kenapa ada bau parfum wanita lain di baju kerja mas?"
"Sayang, kamu harus percaya sama suamimu ini, mas hanya sayang dan cinta sama kamu saja, tidak ada wanita lain di hati mas saat ini kecuali kamu sayang, pliss percaya sama mas ya?" Ucap Vano lagi sambil memeluk istrinya.
"Jangan peluk aku Mas, aku nggak mau di sentuh sama Mas...!", "Mas Vano jahat." Teriak Adel (berlalu keluar dari kamar meninggalkan suaminya yang masih mencerna perkataan nya).
Adel keluar kamar masih dengan air mata yang berjatuhan. Adel masih mengira jika Vano berselingkuh dengan wanita lain.
Di lantai bawah Lisa yang hendak menuju kamarnya tiba-tiba mengurungkan niatnya, saat melihat menantunya yang berjalan cepat di tangga dengan berderai air mata.
"Adel sayang, kenapa kamu menangis nak, apa Vano menyakiti kamu?" Tanya Lisa lembut lalu menghampiri Adel di ujung tangga.
Adel yang sudah menganggap Lisa seperti ibu kandungnya sendiri tidak ragu lagi untuk memeluk wanita paruh baya itu.
"Mama, mas Vano Ma," tangis Adel semakin pecah dalam pelukan ibu mertuanya.
"Iya Vano kenapa sayang, apa dia menyakiti kamu?" Jawab Lisa (mengulang pertanyaannya sambil membalas pelukan Adel mengusap lembut punggung menantunya itu).
"Mas Vano tega sama Adel Ma, Mas Vano ada main sama wanita lain di belakang aku Ma."
Lisa yang tidak percaya dengan perkataan Adel, mencoba menenangkan Adel terlebih dahulu dan mengajaknya ke dapur.
"Sini sayang kamu minum dulu biar tenang, setelah itu kamu bisa cerita sama mama masalah apa yang terjadi antara kamu dan vano."
"Tadi pas aku bantu mas Vano buka baju, nggak sengaja aku nyium bau parfum perempuan di jas kerjanya mas Vano Ma. Mas Vano tidak menjelaskan itu parfum siapa, dia malah mengelak padahal sudah jelas-jelas ada buktinya tapi Mas Vano tidak mau mengakui semuanya." Adel menjelaskan pada mertuanya masih dengan air mata yang menetes di pipi mulusnya.
Lisa tersenyum mendengar penjelasan dari menantunya.
"Apa kamu yakin kalau bau parfum itu milik seorang perempuan sayang..?" Tanya Lisa masih dengan senyum di wajahnya.
"Iya Ma. Adel yakin banget. Adel bisa membedakan dari baunya."
"Sayang mama kasih tau kamu ya, Vano itu anak mama, mama sangat mengenal banget Vano. Vano nggak mungkin sampai tega melakukan itu sama kamu sayang. Meskipun kalian menikah karena perjodohan tapi sekarang mama bisa melihat dari cara Vano menatap kamu, memperlakukan kamu, mama tau kalau Vano bukan hanya menerima kamu jadi istrinya tapi karena dia juga sudah sangat mencintai kamu sayang."
"Mas Vano ngomongnya juga seperti itu Ma, katanya sayang dan cinta sama Adel, tapi nyatanya kenapa di jas kerjanya ada nempel parfum perempuan?", "Apa salah kalau Adel cemburu ma?" Lanjut Adel dengan malu-malu karena menceritakan tentang perasaan nya.
"Kamu nggak salah sayang, cemburu itu tanda sayang, kalau kamu diem aja itu baru salah." Jawab Lisa masih dengan senyum di wajahnya.
"Terus aku harus gimana ma..?"
"Kalau menurut mama, sebaiknya kamu tanyakan dulu baik-baik sama Vano sayang jangan langsung emosi, karena dengan emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah."
Adel hanya mengangguk mendengar nasehat dari mertuanya.
Dikamar
Setelah kepergian istrinya dari kamar, Vano mencoba mencerna maksud dan tuduhan Adel tentang parfum di pakaian kerjanya.
Vano mengingat aktifitas apa yang di kerjakan hari ini. Hingga beberapa menit kemudian dirinya mengingat kejadian di proyek bersama Ayu yang mencoba menggodanya.
"Sial..!", "Ini semua pasti gara-gara perempuan kurang ajar itu." Ucap Vano dengan menjambak rambutnya.
"Ok. Gue harus mandi biar ganteng, lalu gue harus jelasin sama Adel tentang parfum yang nempel itu."
"Tapi tunggu....!", "Adel kok bisa semarah itu ya cuma gara-gara parfum yang nempel di baju gue, apa mungkin dia cemburu?" Tanya Vano pada dirinya sendiri.
"Iya dia pasti cemburu, berarti dia sudah cinta banget dong ya sama gue, kalau nggak cinta ngapain coba sampai nangis-nangis kayak tadi." Vano tersenyum bangga mengetahui perasaan Adel yang begitu takut kehilangannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Vano keluar kamar guna mencari istri nya.
Hingga Vano menemukan Adel yang masih sesenggukan di meja makan dengan ditemani oleh mamanya.
"Sayang....."