Perbedaan strata seseorang selalu dilihat dari beberapa aspek. Harta lebih sering dijadikan alasan untuk menentang hubungan percintaan dua anak manusia. Saras anak seorang pengusaha mencintai Indarto yang hanya seorang guru SMA. Perbedaan ekonomi menjadikan Tuan Haidar sang ayah menjadi murka. Namun berkat hati seorang ibu, akhirnya Saras boleh merasakan kebahagiaan hidup bersama Indarto...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXVII
Waktu terus berjalan, tak terasa Indarto bisa melewati waktu mengajarnya di tengah-tengah murid nya. Setelah sesi perkenalan, Indarto mencoba menyelami isi hati dan keinginan dari murid-murid nya. Dengan bercerita dan mengadakan permainan, Indarto bisa menguasai kelas VIII.
Kriiiiinnnggg......
Bel tanda usai pelajaran berbunyi.
Semua murid bersiap-siap untuk segera pulang. Tak terkecuali semua murid. Indarto pun bersiap meninggalkan ruang kelas untuk kembali ke ruang guru.
Sesampai di ruang guru, Indarto dihampiri para guru yang penasaran bagaiman cara Indarto menaklukan kelas VIII yang terkenal dengan kenakalan nya.
"Wah, pak guru baru ini ternyata hebat ya. Anak-anak nakal di kelas VIII bisa ditaklukkan." kata pak Budi sambil tersenyum sinis.
"Iya nih pak Indarto hebat. Udah tampan pintar lagi mengambil hati anak-anak kelas VIII. Buktinya hari ini gak ada tuh suara ribut dari kelas VIII." kata Bu Eni dengan kagum.
Pak Budi yang sudah lama menaruh hati kepada Bu Eni, merasa punya saingan. Wajahnya yang pas-pasan sudah pasti kalah saing sama Indarto yang berwajah tampan. Pak Budi pun berlalu dengan meninggalkan muka asamnya.
Indarto hanya menggeleng kan kepala melihat perdebatan kecil rekan sejawat nya. Indarto lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Waktu terus berjalan tak terasa waktu hampir mendekati waktu pulang. Indarto melihat pergelangan tangannya jam sudah menunjukkan pukul 15.00 waktunya untuk pulang ke rumah. Baru meninggalkan istri dan anaknya 1 hari saja sudah membuat dada Indarto membuncah menahan rindu.
Baru sajq hendak melangkah keluar dari ruang guru. Langkah Indarto dihadang Ajeng sang kepala sekolah.
"Maaf pak Indarto, bisa ke ruangan saya sebentar. Bapak harus kasih laporan pekerjaan hari ini." kata Ajeng.
Indarto lalu mengikuti langkah Ajeng dengan lesu. Harapannya untuk berkumpul dengan orang-orang yang dikasihinya terhambat. Indarto tidak berani menolak karena ia adalah guru baru dan baru hari ini dia mulai mengajar.
"Silahkan duduk." kata Ajeng.
Indarto pun duduk menghadap ke arah Ajeng yang posisi duduk nya memamerkan pahanya yang putih mulus. Namun sayang Indarto tidak tertarik. Karena baginya Saras adalah wanita yang sangat sempurna.
"Bagaimana kegiatan belajar dan mengajar hari ini di kelas VIII, apa ada masalah Pak?" tanya Ajeng dengan suara manjanya.
"Semua nya baik Bu. Dan anak-anak semua bisa bekerjasama dengan baik. Sampai saat ini tidak ada kendala Bu. Semoga untuk ke depannya bisa lebih baik." kata Indarto tegas.
"Ah, jangan panggil ibu dong, saya kan belum ibu-ibu. Panggil saya Ajeng aja." kata Ajeng sambil mendekati Indarto duduk.
Indarto pun berusaha menghindar dengan segera berdiri.
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi undur diri Bu Ajeng. Kasihan Istri dan anak saya menunggu di rumah. Ini sudah lewat dari waktunya pulang sekolah." kata Indarto.
Ajeng mendengus kesal mendengar jawaban Indarto. Tak berapa lama kemudian Indarto keluar meninggalkan Ajeng.
"Awas kamu ya. Akan kubuat kamu menyesal." kata Ajeng.
Indarto bergegas pulang. Karena harus pulang menggunakan angkot, waktu yang ditempuh menjadi lebih lama. Kondisi jalan yang macet ditambah bunyi klakson menambah semrawut nya jalan.
Di tengah jalan Indarto melihat tukang jualan martabak manis kesukaan Lia. Terbayang di matanya wajah bahagia Lia melihat martabak manis isi kacang coklat. Indarto segera turun dari angkot dan menghampiri tukang martabak manis.
"Pak martabak manisnya 1 ya. Yang isi nya kacang coklat." kata Indarto.
"Iya Pak."