Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kidung Kegelapan
Berinteraksi lama dengan Tyas semakin menguatkan Mbah Priyo untuk menyudahi semua urusan dengan berandalan lebih cepat dari jadwal yang sudah dibuat. Lebih cepat lebih baik, dan Mbah Priyo bisa langsung fokus mengurus kondisi putrinya yang masih trauma.
"Bapak nanti nggak nginep sini ya, Nduk?"
"Kenapa, Pak? Apa ada masalah dengan Bambang?"
Mbah Priyo tertegun mendengar nada khawatir dalam pertanyaan putrinya. "Bukan itu, bapak mau ada urusan nanti malam, kamu sama ibumu dulu. Besok pagi-pagi bapak kesini. Kamu mau dibawakan bubur ayam atau yang lain?"
Tyas menggeleng samar. "Bapak hati-hati di rumah sendirian. Tyas khawatir sama bapak!"
Mbah Priyo tersenyum menenangkan. "Tidak ada yang bisa menakuti bapakmu, Nduk! Rumah kita sangat aman, kamu nggak usah khawatir!"
Malam adalah teman terbaik bagi orang seperti Mbah Priyo, dan kegaiban adalah makanan pokoknya. Bahkan Mbah Priyo sudah tak sabar menunggu matahari tenggelam, menunggu gelap tiba karena ada hajat yang akan dikerjakan.
Ya, malam ini semua kerisnya harus kembali pulang ke tangannya, dengan bermandikan darah korban. Tidak perlu ada yang namanya rasa manusiawi ketika hati dipenuhi dendam. Apa yang dilakukan Mbah Priyo tidak jauh beda dengan kejahatan yang dilakukan para berandalan saat melukai korbannya. Bengis dan tanpa perasaan.
Adil, itu adalah kata paling tepat yang dipilih Mbah Priyo saat membuat penghakiman. Amarahnya kembali menggelegak karena air mata putrinya, dan melampiaskan pada para berandalan adalah jalan aman.
Keputusannya menghabisi Salman dan kawan-kawan memang tidak akan mengembalikan situasi Tyas seperti semula, tapi jika tidak dihentikan, bukan mustahil akan ada Tyas-Tyas lain yang menjadi korban.
Mbah Priyo keluar rumah sakit saat hari hampir petang, meninggalkan Tyas yang masih berwajah muram bersama istrinya. Mbah Priyo yang semula ingin menginap mendadak membatalkan rencananya karena tidak kuasa menahan rasa bersalahnya sebagai orang yang tidak becus melindungi keluarganya.
Sampai rumah, Mbah Priyo membuat hitungan. Pacek hari jatuh pada awal malam, yaitu antara jam sepuluh sampai jam dua belas. Masih terlalu sore, tapi memang begitulah perhitungan dalam ilmu perdukunan. Mantra apapun yang dilepasnya akan memiliki waktu terbaik untuk bekerja sesuai hitungan hari dan jamnya.
Setelah menghabiskan kopi pahit, Mbah Priyo masuk ke ruang khususnya. Lima belas menit lagi jam sepuluh, Mbah Priyo harus membuat persiapan. Mengisi ulang teluh yang dicabutnya tadi pagi dari tubuh Rido, juga menambah jumlah lelembut yang akan menjemput Salman dan Ratno.
Kemenyan ditabur perlahan di atas tunggu yang bersebelahan dengan tampah berisi jajan pasar. Hidangan sesajian malam ini tidak selengkap kemarin. Mbah Priyo hanya menyediakan air kembang tujuh rupa dan jajan pasar yang dibelinya sepulang dari rumah sakit, di pasar sore. Sebagai pelengkap kecil-kecilan, Mbah Priyo tidak meninggalkan candu dan minyak wangi di atas cawan.
Braung (lelembut berbulu seperti genderuwo) peliharaan Mbah Priyo akan berkolaborasi dengan para siluman buaya untuk mempercepat hajatnya membunuh preman-preman yang sudah berani menantangnya melalui Tyas dan Wisnu.
Mbah Priyo yakin, tidak akan butuh waktu lama untuk mengakhiri tiga manusia durjana yang tersisa. Maksimal jam dua belas malam mereka semua pasti sudah pulang ke asal mula kehidupannya.
Namun, Mbah Priyo tidak janji kalau prosesnya akan halus. Mengerikan adalah gambaran tepat bagaimana anak-anak muda itu saat meregang nyawa nanti. Yang jelas, mereka pasti mati mengenaskan.
Suara-suara geraman aneh mulai mengisi ruangan khusus Mbah Priyo seiring mantra yang dikidungkan perlahan. Lalu, asap kemenyan menyebar ke seluruh ruangan, berhembus kian kemari seolah ada yang menerbangkan.
KEAK! KEAK!
Sebelum memberangkatkan para braung, tak lupa Mbah Priyo menghembuskan sirep terlebih dahulu ke penjuru desa. Menyisakan tiga rumah yang menjadi target buruannya. Biarlah keluarga para berandalan ikut menyaksikan bagaimana mereka yang dituju akan berpulang. Biar mereka juga ikut merasakan sakit yang Mbah Priyo rasakan.
Suara gagak yang dari awal kepindahan sering sekali terdengar di atap rumah, malam ini seolah menjadi pertanda lain bagi Mbah Priyo. Ada sesuatu yang sangat mengganjal hatinya.
Sebagai pelaku spiritual, Mbah Priyo tidak bisa mengabaikan perasaan tidak nyaman yang menggerogoti pikirannya. Ada hal yang tidak beres telah terjadi, tapi masih belum diketahui secara pasti.
***
apa ini sukma bambang