NovelToon NovelToon
Captain Reira

Captain Reira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:695.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Bang_JAI

Jika kau menyebut rasa sepi merupakan suatu hal yang harus kaubunuh, lalu membuangnya di riang tawa yang paling dalam, berarti itu tidaklah berarti bagiku.



Aku memeluk rasa sepi seakan rasa itu diciptakan Tuhan hanya untukku sendiri. Separuh hatiku mati oleh sunyi yang bersiul dengan irama yang lambat.




Semuanya berubah ketika aku menemukan wanita tergila yang pernah aku temui di dalam hidup.




Wanita dengan impian gila untuk memberi makan pinguin di Antartika, melihat naga di Laut Cina Selatan, lalu mencari kodok sebesar kucing di daratan Afrika.




Wanita yang berani menyelam di laut lepas






Wanita yang membawaku bersampan di danau, serta mengarungi lautan luas.







wanita yang berani menemuiku dengan cara memanjat gedung fakultas.












Aku tidak tahu momen gila apa lagi yang akan menyeretku.




Tunggu saja, wahai kawanku. Kau akan melihatnya nanti.




"Hei, kau yang sedang berdiri! Sikat kapal ini, pemalas!!!" Ia berteriak memerintah padaku






Ia adalah Reira.




Oh ... bukan.





Ia adalah Captain Reira.





























"Gue mau merasakan betapa indahnya menunggu pagi dari ketinggian segitu. Di saat itu, lo bakal sadar jika dunia itu terlalu sempit jika lo hanya berjalan di satu titik. Dunia bisa lebih dari itu."

Beberapa jam sebelum kami bertemu di puncak Bromo.


*Mari taburkan komentar dan like teman-teman :)

UPDATE SETIAP HARI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang_JAI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Seluruh pasang mata di bengkel Dika melihatku dengan tatapan aneh. Para pegawainya berhenti bekerja sesaat karena melihatku yang sedang dalam keadaan berantakan. Wajahku kembali dihiasi dengan luka lebam. Kemeja yang kupakai terlihat kusut dan dua buah kancingya terlepas akibat perkelahian tadi. Satu hal yang membuat Dika khawatir ialah bagian samping Vespa yang penyok akibat ditendang oleh Bagas.

"Lo kenapa? Siapa yang buat lo begini? Bilang sama gue!" kata Dika setelah menyentuh bagian penyok pada Vespa.

"Gue tadi kelahi sama teman kampus," balasku. "Kayanya Vespa lo haru diperbaiki. Susah banget buat hidup."

Aku melangkah menuju rumah.

"Lo ada masalah apa? Bilang siapa orangnya. Biar gue datangin rumahnya." Tanganya mengambil tang bengkel.

"Urus aja urusan lo. Lo enggak perlu ikut campur." Aku menatapnya sekilas. "Lagian, ini juga karena salah gue." Aku meninggalkannya.

Di depan cermin, terlihat pipiku yang membiru. Segera aku jerang air panas untuk mengempiskannya.

Balkon kamar cukup bagus untuk menenangkan diri. Suasannya sunyi dan aku bisa melihat hamparan atap-atap rumah di komplek. Mentari terlihat jelas condong ke langit barat. Cahaya senja langsung berpapasan denganku. Berbunyi tetesan air panas yang bercampur obat merah ketika kuperas. Lukaku semakin berdenyut ketika aku letakkan kain perasan air panas itu.

Pintuku terdengar dibuka dari luar. Langkah pada kakinya terasa mendekat. Aku menoleh ke belakang. Kudapati Fasha sedang menenteng tas gitarnya. Tidak ada senyum yang ia sampaikan sebagai tamu, namun wajah khawatir yang kulihat.

Hatiku sebenarnya masih sakit dengan kalimat yang ia katakan waktu itu. Memintaku untuk menjauh? Baiklah akan aku sanggupi itu. Jarak yang ia minta akan aku bentang. Sudah cukup berurusan dengan alur cinta yang aku ikuti untuk mendapatkannya.

"Kamu sama dengan Reira., enggak pernah mengetuk sebelum masuk kamar," kataku. Kain basah itu kembali aku letakkan.

"Jangan bicarakan dia waktu kita berdua, bisa?" jawab Fasha. "Biar aku yang mengompres luka kamu. Aku merasa bersalah karena perlakuan Bagas."

"Dari mana kamu tahu?" tanyaku.

Ia duduk di sampingku dan mencelupkan air pada air panas.

"Yang kamu lawan itu Bagas, Dave. Apa pun yang terjadi dengan dia, satu fakultas pasti tahu." Tangannya menyentuh wajahku. "Lebih baik, kamu menghindar dari dia."

Aku sedikit mengerang sakit ketika kain basah itu menempel pada wajahku. Sedikit canggung, namun aku masih bisa menahan sikap.

"Bagas mengibus Reira. Makanya Reira bisa tertangkap," kataku.

Ia menggeleng. "Dia berbohong."

"Kamu selalu membelanya. " Aku melepaskan tangannya.

"Kasus perusakan gedung rekorat sedang diurus oleh papaku. Aku sempat membaca list nama-nama mahasiswa yang ingin ditangkap, salah satunya Reira. Bahkan, itu sekitar seminggu yang lalu."

Kepalaku kembali tegak. Ini merupakan titik terang keberadaan Reira kini.

"Sekarang, kamu tahu Reira ada di mana?"

Fasha mengangguk. Ia mengeringkan tanganya menggunakan jeans yang ia pakai. "Paling tidak, ia berada di kantor papaku. Dia cuma dalam proses pemeriksaan. Belum menjadi tahanan."

"Oh, iya. Kamu bilang aku harus menjauh, kan? Kenapa kamu ke sini? Aku enggak butuh orang seperti itu," pungkasku.

"Tapi─" Kalimatnya terhenti ketika aku berusaha beranjak. "Maksudku bukan seperti itu."

"Itu sudah jelas, Fash. Kita memang butuh jarak."

Aku berdiri. Tidak aku pedulikan Fasha yang baru saja tiba. Tujuanku sudah jelas, semoga aku bisa menemukan Reira di sana.

Vespa 50 milikku kembali menapaki jalanan beraspal, walaupun bagian kirinya terlihat penyok. Tujuanku ialah kantor papa Reira yang berjarak tiga puluh menit perjalanan dari rumahnya.

Aku tiba di kantor polisi di mana tempat papa Fasha bertugas. Beberapa polisi tampak berjaga di depan pos. Gerbangnya hanya dibuka setengah, di sana juga ada seorang polisi berkacamata hitam sedang berdiri. Aku melangkah masuk, namun salah satu polisi memanggilku untuk melapor dulu. Aku ditanyai banyak hal dan tanda pengenal milikku dititipkan dulu selama mengunjungi kantor polisi. Itulah peraturan bagi orang luar yang ingin masuk.

Dua orang polisi wanita berdiri di lobby. Aku menanyai nama Reira pada mereka. Namun, mereka menggeleng tidak tahu. Aku sudah yakin, Reira pasti berada atau pernah berada di sini. Pernyataan Fasha pasti tidak sia-sia. Papanya yang mengurusi kasus perusakan rektorat itu.

Dua orang mahasiswa dari kampusku tampak berjalan ke luar kantor. Kami saling menyapa, walau tidak saling mengenali. Identitas dari kemeja yang mereka bawa cukup memberikan informasi jika mereka berasal dari kampusku.

Dua puluh menit menunggu membuatku sedikit jenuh. Kepalaku mulai diserang kantuk. Aku menunduk, melihat keramik yang berdebu itu. Suara langkah yang lalu-lalang semakin merdu sebagai pengantar tidur. Perlahan, mataku tertutup.

"David!" panggil seseorang. "Lo kok ke sini? Emang lo ikut demo waktu itu?"

Aku membuka mata. Kudapati wanita berambut terikat itu tengah tersenyum padaku. Tatapan sebening laut itu menyorot bahagia atas kehadiranku. Tidak kulihat wajah yang lusuh akibat berurusan dengan polisi, semangatnya melebihi ombak laut yang menerjang. Selalu membara, walaupun dalam suasana sepelik apa pun. Aku memeluknya erat, kuharap ia tidak bisa bernapas akibat pelukanku. Wangi rambutnya menyeruak di balik ikatan warna merah itu. Aku menutup mata sembari mengingat kalimat yang ingin aku katakan.

"Jangan buat gue khawatir!" kataku dalam peluknya.

Ia menambah erat rengkuh peluk yang kuawali. "Jangan khawatirkan gue. Khawatirkan saja diri lo sendiri. Gue ini Reira, bukan Fasha si gebetan lo itu. Polisi belum ada apa-apanya dengan ombak laut yang mengamuk."

Aku melepas peluk. Kutatap wajahnya dalam-dalam. "Lo bakal di penjara?"

"Enggak, ini masih pemeriksaan. CCTV memang menunjukkan kalau gue merusak mobil milik pejabat rektorat," balasnya. Ia berjalan menuju pintu keluar. "Setelah mendengar kalau gue anaknya Alnord Bernardo, polisi itu sedikit melunak. Dia terpaksa datang jauh-jauh buat mengurusi kasus ini."

"Lo bisa kena penjara, tahu! Bagaimana bisa wajah lo setenang itu," balasku.

"Kadang, dunia itu tidak adil. Semua bisa diatur," katanya sembari mendekatkan wajahnya ke telingaku. Ia melangkah dengan sedikti melompat ke depan. Ia terlihat bahagia hari ini. "Sepertinya ada yang lagi sensitif karena anaknya baru dipeluk sama orang lain."

"Maksud lo?" tanyaku.

"Lihat ke belakang. Itu papa gue," pungkas Reira.

Aku menoleh ke belakang. Bapak Arnold Bernardo sedang mengikuti langkah kami dari belakang. Aku tahu wajahnya melalui foto yang kulihat sewaktu menyelinap ke rumahnya bersama Reira. Wajahnya tampak mirip dengan Reira. Matanya sipit dan hidungnya yang mancung. Namun, Reira sedikit lebih gelap darinya. Bagaimana tidak, siang hari Reira selalu menghabiskan waktu berpanas-panasan untuk mencari serangga.

Wajahnya garang, aku tidak sanggup menatap lama-lama.

***

1
Siti Arbainah
giliran sama Mawar gak nolak sama sekali tpi saat sama Reira selalu ada aja alasan .
Sheety Saqdiyah
Luar biasa
tom sudiyanto
cerita terbaik saat ini, dari semua cerita yg pernah saya baca di sini. pemilihan kata dan kalimatnya puitis.
Ayuw Cyntha
baca Ampe sini,,yg jadi pertanyaan kalo David masih ❤️ reira knpa sulit ninggalin mawar? kalau waktu itu reira dak ngilang,apakah bola panas masih dmainkan ma david n mawar dblakan reira?n knpa masih ngeganja aja,pdhal udah ada obat sakit hatinya yaitu mawar
Ayuw Cyntha
karna ada moment special pada minerva
Ayuw Cyntha
sedikit banyak itu jga ulah reira..
Ayuw Cyntha
penyesalan selalu datang dakhir
Ayuw Cyntha
siapa suruh nitip2 ma org pa lagi lawan jenis...dak novel dak nyata...ati2 kalo nitip🤣,mereka ada rasa karena terbiasa bersama,sentuhan2 kecil bisaendatangkan rasa yg TK biasa..
Ayuw Cyntha
Raira jga salah...udah tau mawar ada rasa ma david,,malah disuruh deket2...mereka sering ber2 mestilah ada moment2 yg bikin suasana awkk....
Ayuw Cyntha
Mereka lama2 terbiasa bersama
Ayuw Cyntha
kyk nya jodohin mawar ma david
kavena ayunda
david rasain uda kegoda mawar jd siap2.patahhati😂
kavena ayunda
lanjut
kavena ayunda
abimana lebih pantes dr.david yg uda.kotor
kavena ayunda
dsvid uda kegoda.jalang
kavena ayunda
satu kata kec3wa bgt sama.david
kavena ayunda
slaah sndiri lu tergoda sama.jalang david rasain
kavena ayunda
kn bner mawar gatel
kavena ayunda
mawar semakin gatel berani pegang paha pcr temen😂😂 pelacur kalah ama lu neng
kavena ayunda
mawar si.penggoda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!