Happy Ending Love Story adalah sebuah novel dengan berbagai cerita cinta di dalamnya. Setiap judul akan memiliki episode singkat.
Happy Ending Love Story memiliki tema acak dan berfokus pada cerita romansa manis yang pastinya berakhir bahagia.
"Cerita cinta itu memang harus berakhir bahagia, sesuai dengan judulnya Happy Ending Love Story." Eva IM.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Game of Hearts #13
"Jangan coba-coba kamu pergi dariku!" Suara Hwan menggelegar. Dia mengagetkan dua bayi yang sedang tidur pulas.
Kedua kompak menangis.
Amarah Seokyung ikut meledak. "Apa-apan kamu ini. Kamu membangunkan meraka." Naluri keibuannya tumbuh. Dia ingin melindungi anaknya.
"Sayang. Sayang." Seokyung memeluk salah satunya. Sedangkan salah satunya ada ditangan Hwan.
Tak berapa lama tangis mereka berdua mereda. Jika dia sendiri Seokyung tak mungkin bisa mengatasi ini.
"Pelankan suaramu Hwan. Kamu mengganggu mereka." Ucap Seokyung. "Kamu bahkan belum memberi nama mareka tapi kamu malah membuat mereka menangis." Lanjutnya.
Suasana kembali melunak. Dua bayi meraka kembali tenang dan dengkuran halus terdengar. Bayi perempuan mereka tampaknya lebih tenang daripada bayi laki-laki. Hati Seokyung penuh melihat wajah mereka.
"Jika boleh, apakah aku bisa mengunjungi mereka beberapa kali nanti? Aku pasti akan merindukan mereka."
"Kemana kamu akan pergi? Kamu tidak akan kemana-mana."
Seokyung mendongak. Hwan mendekatinya kemudian duduk ditepi kasur.
"Jangan bicarakan perjanjian itu lagi. Sora belum kembali jadi kenapa kamu sudah berencana untuk pergi hmm?" Suara Hwan rendah.
Seperti disiram oleh air dingin saat dipadang pasir, hati Seokyung berdesir. Suara Hwan menyentuh hatinya.
"Tapi perjanjian itu?"
"Sssstttt, aku yang akan mengurusnya. Fokus saja pada pemulihanmu. Jangan berpikir macam-macam. Apalagi berpikir untuk pergi dari bayi kita." Hwan menarik tangan Seokyung kemudian memeluknya.
Air mata Seokyung tumpah.
"Kemana saja kamu selama ini? Aku merindukanmu."
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku datang terlambat. Terima kasih telah bertahan. Terima kasih telah melahirkan mereka."
Isak tangis berubah menjadi nafas yang lemah. Hwan membaringkan Seokyung dengan hati-hati. Tangannya menarik selimut hingga leher Seokyung. Mencium keningnya sekilas kemudian beralih ke dua bayi yang juga pulas didalam lindungan selimut. Hwan bergantian memandang wajah ketiganya dalam kedamaian. Mereka menjadi orang terpenting dalam hidupnya saat ini.
Hwan meraih ponsel disakunya. Sebuah panggilan datang dari sambungan internasional.
"Halo?" Jeda sejenak. "Laporkan segera."
"Kami sudah menemukannya. Dia ada di Hongaria. Tempatnya telah berubah. Berdasarkan bukti transaksi terakhir sepertinya tujuan mereka selanjutnya adalah Perancis melalui Austria dan Swiss. Dua tiket pesawat telah dipesan."
Dahi Hwan berkerut. Dia menjauh dan memilih berdiri dekat jendela. "Berikan aku laporan rincinya."
"Berdasarkan data transaksi yang dilakukan, pertama memang di Italia. Sepertinya dia menetap lama karena jumlah transaksinya paling banyak. Kemudian bergerak ke Austria, Hongaria dan yang selanjutnya tadi ke Perancis. Semua penerbangan dipesan untuk dua orang."
"Lanjutkan." Titah Hwan.
"Itu saja yang kami dapat dari analisis transaksi yang dilakukan."
"Setelah mereka tiba di Perancis segera bekukan rekening itu. Kalian bisa kembali dan sampai jumpa di Seoul."
"Baik Tuan." Sambungan telepon dimatikan.
Tangan Hwan mengepal kuat. Dadanya membusung karena amarah yang naik ke permukaan. Firasatnya tidak salah. Memang ada yang tidak beres.
Hwan mencari Sora bukan untuk menemukan kenyataan ini. Tapi semuanya mengarah ke arah yang mengejutkan. Tiba-tiba insting memburunya bangkit. Dia menyuruh dua orang staffnya untuk mencari Sora ke Italia karena dia tidak bisa menghubunginya dan juga tidak bisa mencarinya sendiri. Maka dari itu beberapa bulan ini waktunya terbagi antara pekerjaan dan pencarian. Akibatnya dia menjadi jauh sengan Seokyung.
'Ahn Sora.' Geram Hwan dalam hati.
Hwan kembali meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Aku butuh bantuan."
Matahari sudah sangan tinggi saat Seokyung bangun lagi. Kekuatannya telah kembali. Perlahan dia mulai pulih. Seperti kemarin tidak merasakan sakit diantara hidup dan mati, Seokyung perlahan turun dari ranjang dan mendekati tempat bayinya berada. Mereka masih terlelap. Seokyung mengamati wajah mereka satu-satu.
Seokyung memikirkan nama mereka. Tapi dia segera menepisnya. Apakah dia berhak atau tidak. Dia memikirkan Sora. Mereka juga kembar, tapi tidak dekat pada waktu yang sama. Seokyung tidak ingin anaknya nanti seperti dirinya dan Sora.
"Kamu sudah bangun?" Hwan masuk tanpa mengetuk pintu.
"Sepertinya aku sudah tidur lama."
"Tidak apa-apa, Arthur mengatakn kamu perlu banyak istirahat."
"Mereka mungkin butuh aku." Jawab Seokyung kembali melihat dua anaknya.
"Mereka hanya tidur seharian ini. Jadi tidak merepotkan." Hwan berjalan mendekati Seokyung yang berdiri di samping tempat tidur anaknya. Tangannya meraih pinggang Seokyung.
"Ya, bayi memang lebih banyak tidur."
"Aku tidak menyangka mereka akan setenang ini." Bisik Hwan ditelingan Seokyung. Tangannya menarik tubuh Seokyung mendekat kemudian memeluknya. Bibirnya mencium wajah Seokyung secara acak. "Masih marah padaku hmm?" Tanyanya dengan suara pelan. Takut membangunkan si kembar.
"Aku tidak marah." Jawab Seokyung menutup matanya. Dia menghirup aroma Hwan yang manis. Aroma yang telah membuatnya melayang. Dia takut ini hanya mimpi. Mimpi yang akan segera berakhir tinggal menunggu waktunya.
"Maafkan aku. Aku bersalah. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Hwan mengeratkan pelukannya. Wajahnya terbenam di ceruk leher Seokyung. Dia sudah cukup untuk menguji dirinya selama ini. Empat bulan lamanya. Bukan waktu yang singkat. Jika lebih lama lagi pasti akan gila. Gila karena tidak melihat dan menyentuh Seokyung.
"Hwan..." Panggil Seokyung yang memilih untuk tidak mempedulikan permintaan maaf Hwan. Dia sudah lelah mendengarnya.
"Hmm?" Ucap Hwan dengan suara yang teredam.
"Kamu belum memberi mereka nama."
"Ya?" Hwan mendongak menatap Seokyung.
"Anakmu." Tunjuk Seokyung pada si kembar.
"Bukan hanya anakku, tapi juga anakmu. Anak kita." Koreksi Hwan, tak mau jika dua makhluk kecil mereka diklaim milik orang lain.
"Tapi... mereka akan menjadi..."
"Cukup Seokyung jangan diteruskan, kita akan selalu berdebat tentang ini. Tolong jangan bahas Sora dihari-hari bahagia kita. Kita baru saja punya anak dan jadi orang tua. Mari kita lakukan peran baru kita ini dengan baik. Serahkan semuanya padaku. Kamu percaya padaku bukan?" Hwan menangkup pipi Seokyung dengan tangan besarnya. Dia mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Seokyung sekilas.
"Jangan coba-coba pergi tanpa memberitahuku. Persetan dengan perjanjian itu. Anak kita membutuhkanmu sebagai ibunya. Jangan tinggalkan kami. Aku yang akan bertanggung jawab." Tegasnya sekali lagi. Menolak pemberontakan Seokyung. Kalau bisa dia akan mengikat Seokyung jika dia mencoba untuk pergi setelah melahirkan anak mereka.
Seokyung mengangguk. Dia memilah-milah pikirannya. Untuk saat ini dia mencoba menggantungkan hidupnya pada Hwan hingga Sora kembali. Gelisah tentu. Tapi dia segera menepisnya. Dia juga ingin menikmati waktunya dengan anaknya tanpa mengkhawatirkan Sora.
****
"Ah sial! Dia memblokirnya!" Suara gebrakan meja terdengar keras.
"Apa yang terjadi?"
"Kang Inhwan berani-beraninya dia! Dia memblokir black card yang kubawa!" Teriaknya sekali lagi.
"Lalu bagaimana?"
"Aku harus kembali ke Seoul. Dia mau bermain-main denganku rupanya." Seringai muncul dibibir merahnya.
"Seoul? Lalu bagaimana denganku? Kamu akan meninggalkanku?"
"Aku harus menenangkannya dulu. Tunggu sampai aku kembali. Sepertinya bayinya sudah lahir. Dia mungkin seperti ini karena aku belum kembali. Aku akan segera mengurusnya dan kembali padamu." Bujuknya.
"Berapa lama?"
"Secepatnya. Aku sepertinya harus memberi pelajaran pada Seokyung. Kang Inhwan tidak mungkin seperti ini padaku. Ah sial!" Teriaknya sekali lagi.
Game of Hearts #14 Next...
.bikin cerita juna juga dung thor
mampir lagi ..
suka alur ya. ni aku baca karya kakak lagi.. sehat selalu